Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Penguasa Dimensi 1


__ADS_3

Gurunya Yuangu Mowang merasa heran, ia tidak mempercayai seorang pemuda bisa begitu cepat meningkatkan kekuatan jiwa. Bahkan muridnya sendiri Yuangu Mowang hampir mati terkena serangannya.


"Anak ini sungguh ajaib, ia bisa merubah kondisi sulit menjadi sesuatu yang menguatkan jiwanya" ucapnya.


Guru Yuangu Mowang menjadi tertarik dengan pemuda yang dihadapinya, selama ini ia tidak pernah menemukan adanya iblis yang sanggup membuatnya begitu senang bahkan murid satu-satunya yang menjadi penguasa alam iblis tidak membuatnya senang.


Ia yang menjadi pencipta alam Siksa Raja membuat pengecualian dengan aturan yang ia buat sendiri. Jingga akan diloloskannya tanpa harus membunuhnya.


"Iblis muda, bangunlah!" Pintanya.


Jingga yang masih duduk bermeditasi membuka kedua matanya, ia langsung berdiri menuruti permintaan gurunya Yuangu Mowang.


"Tunjukkan dirimu bocah" balas Jingga kembali mengejeknya.


Tampak wujud bayangan kakek iblis yang begitu menyeramkan menghampirinya.


"Ha ha ha, pantas saja Yuangu Mowang begitu jelek, gurunya sendiri sangat jelek. Kau sebaiknya tidak menunjukkan diri, sungguh tidak enak dilihatnya" kekeh Jingga.


Iblis tua berpenampilan kucel dengan kerutan layaknya seorang kakek-kakek, kulitnya putih pucat kebiruan seperti tubuh mayat yang lebam. Kedua matanya yang sepenuhnya merah terlihat menonjol keluar, ia juga memiliki satu mata vertikal di keningnya yang menonjol keluar.


"Benar kata pepatah. Buah jauh, tak jatuh dari pohonnya" imbuh Jingga sambil terus terkekeh.


"Bodoh! Salah ucapanmu itu, yang benar adalah buah jatuh dari pohon tak jauh" balas si kakek membenarkannya.


"Kau yang bodoh. Buah dari pohon tak jauh jatuhnya" balas Jingga tak mau kalah.


"Jangan dibalik. Pohon jatuh tak jauh dari buahnya" balas si kakek merasa yakin.


"Hei kakek bodoh. Kau yang membalikkan pepatah. Bukan pohon yang jatuh, tapi buahnya. Dasar bodoh!" Ucap Jingga.


"Kau yang membuatku salah, sudahlah! Sekarang kau mau lanjut naik ke atas atau bertarung denganku sampai mati" timpal si kakek menawarkan pilihan.


"Ha ha ha, dasar bodoh! Tangga akan muncul ketika aku membunuhmu, Kakek bocah" tanggap Jingga merasa heran diberikan pilihan.


"Aku yang menciptakan alam ini, kalau kau tidak mau ya sudah, mati saja" balas si kakek lalu merentangkan tangannya bersiap menghancurkan arena pertarungan.


"Eh, eh. Tunggu! Betulkah ucapanmu itu kakek?" Tanya Jingga mengkonfirmasi.


Kakek iblis menurunkan kembali kedua tangannya yang merentang memancarkan energi, ia menatap pemuda di depannya dengan bibir mengkerut.


"Jawablah, jangan mengkerutkan bibirmu yang keriput, sudah jelek jadi makin jelek saja dirimu itu, Kakek bocah" imbuh Jingga tidak menyukai ekspresi wajah kakek iblis.


"Bawel betul mulutmu itu, bocah iblis. Walau iblis, aku tidak berbicara bohong padamu, kau bisa langsung meneruskan ujian berikutnya tanpa harus membunuhku" ujarnya menjelaskan.


Jingga sedikit senang mendengarnya, tapi namanya iblis tetaplah iblis, ia tidak ingin menelan mentah-mentah ucapan kakek iblis di depannya.

__ADS_1


"Aku yakin, ada udang di dalam mangkuk. Pasti ada sesuatu yang kau inginkan dariku. Betulkan?" Ucap Jingga dengan menaikkan kedua alis matanya berkali-kali.


Kakek iblis yang mendengarnya langsung menepuk keningnya, ia begitu kesal dengan pemuda yang tidak bisa mempercayainya.


"Bocah gila, lihatlah di depanmu, tangganya sudah bisa kau naiki. Kalau kau tidak segera melangkahkan kakimu kau tidak akan pernah bisa keluar dari alam Siksa Raja. Pergilah!" Usir kakek iblis yang begitu kesal.


Betul saja ucapan kakek iblis, tangga terlihat di depannya. Tanpa berpikir panjang, Jingga langsung berlari menaikinya.


Tap! Tap!


Baru beberapa langkah Jingga melangkah di anak tangga, ia lalu berbalik kembali menghampiri kakek iblis.


"Kakek bocah, aku ingin bertanya satu hal padamu. Berapa tahapan lagi ujianku?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Sisa enam lagi, dan pastinya lebih sulit. Kau bisa menjadi penjaga alam Siksa Raja kalau kau tidak ingin mati" jawabnya.


Jingga menghempaskan napas mendengarnya, tiga ujian pertama saja sudah membuatnya seperti orang gila yang mana pakaiannya sudah tidak berbentuk lagi, sekarang ia harus menghadapi enam ujian lagi yang pastinya akan semakin sulit.


Kakek iblis yang melihatnya termenung langsung melempar Jingga ke arah tangga.


"Aah!" Jerit Jingga terkejut dirinya melayang membentur anak tangga.


Dugh! Dugh! Dugh!


"Syukurlah, tangganya tidak lagi ambruk" gumamnya.


Jingga berdiri lalu melangkahkan kaki menaikinya selangkah demi selangkah lalu semakin cepat melangkah menaiki anak tangga sambil menghitungnya.


Sudah lebih dari lima puluh ribu anak tangga yang ia lalui, namun terlihat masih sangat jauh dari pandangan mata iblisnya.


"Sialan! Ternyata kelipatan jumlah dari sebelumnya yang harus aku lalui" keluh Jingga memperhatikan anak tangga di atasnya.


Ia kembali berjalan cepat menaikinya sambil melanjutkan hitungannya.


"Tujuh puluh sembilan ribu sembilan ratus" ucapnya menghitung anak tangga yang dipijaknya, ia memperhatikan anak tangga terakhir di atasnya.


"Betul-betul kelipatan jumlah anak tangga. Dasar Kakek gila" sungutnya menyalahkan si kakek iblis.


Jingga melanjutkan kembali langkahnya sampai pada hitungan ke delapan puluh ribu. Barulah ia menginjakkan kakinya di area luas.


Tampak seorang pria tua duduk melayang di tengah arena. Jingga langsung menghampirinya dengan begitu penasaran akan sosok yang akan dihadapinya.


Wuzz!


Tanah yang dipijaknya miring, Jingga mencoba melayang dengan energinya. Namun naas, Jingga tertarik gaya gravitasi. Ia langsung terjatuh ke tanah lalu mengeluarkan Jianhuimie Yuzhou dan menancapkannya ke tanah.

__ADS_1


Jingga berusah berdiri kembali dengan menopang pada gagang pedangnya.


Tanah yang dipijaknya kembali bergerak, sekarang posisi arena berputar seratus delapan puluh derajat, Jingga menggelantung di atas pedangnya.


Pria tua melayang menghampiri dirinya, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Ia terus menatap Jingga yang kedua tangannya menggantung pada pedang.


"Sialan! Bagaimana aku bisa bertarung dengan posisi begini? Aku harus menemukan cara untuk menghadapinya" gumam pikir Jingga sambil terus menatap pria di depannya.


"Selamat datang iblis muda, kau ingin mati dengan cepat atau mati dengan lambat" sapa pria iblis memberikannya pilihan.


"Kau mau membunuh lawan yang tidak bisa berbuat apa-apa? Dimana serunya? Sebaiknya kau kembalikan posisi tanah seperti semula, hadapi aku dengan kemampuan terbaikmu" balas Jingga.


"Hem, betul juga katamu. Baiklah. Kita akan bertarung dengan seru" timpal pria tua lalu membentuk pola di kedua tangannya.


Jingga menyeringai tajam dengan tatapannya yang dingin, ia merasa iblis di depannya bisa menuruti keinginannya. Namun apa yang dipikirkannya salah.


Tiba-tiba saja tanah arena berputar cepat, Jingga yang menggelantung jadi terombang ambing di arena yang berputar.


"Aah!" Pekik Jingga merasa pusing.


Arena pertarungan semakin cepat berputar, Jingga harus memanjangkan pedangnya lalu melingkarkan kaki ke bilah pedang.


Siu!


Dhuar!


Seberkas energi menyerangnya, Jingga masih bertahan di pedangnya.


Dhuar! Dhuar!


Serangan energi terus menyambarnya semakin keras, walaupun tidak sampai melukai tubuhnya yang terlindungi oleh api semesta. Namun kondisi Jingga yang tidak bisa membalasnya sangatlah memprihatinkan. Ia terlihat seperti seekor kera yang melingkar di batang pohon membiarkan serangan terus menghantamnya bertubi-tubi.


Pupil mata Jingga berubah warna menjadi hitam pekat, ia begitu marah dipermainkan oleh pria tua yang terus membombardirnya.


"Aku tidak bisa begini terus" geramnya.


Emosi Jingga sudah mencapai di ubun-ubun kepalanya, tubuhnya bergetar hebat.


"Haaaaa!" Teriaknya lalu mencabut pedangnya dan berlari cepat dengan posisi mengikuti alur tanah menyerang pria tua yang melayang.


Wuzz!


"Hiaat!"


Jingga menebaskan pedangnya ke arah tubuh pria tua yang langsung menjauhinya. Namun gaya gravitasi di arena membuat Jingga harus terlempar jatuh dan kembali terombang ambing membentur tanah yang berputar.

__ADS_1


__ADS_2