
Jingga berjalan menghampiri ayahnya yang sedang menepuk-nepuk lembut punggung Bai Niu.
"Kenapa kedua adikmu sampai seperti ini?" Tanya Zhen Lie ingin mengetahuinya.
"Maaf, Ayah. Aku hanya tertawa saja, eh keduanya malah menyerangku ... dan seperti yang Ayah lihat, seperti itulah kenakalan anak gadis Ayah," akunya menjelaskan.
Zhen Lie mengangguk-anggukan kepala memercayai pengakuan Jingga. Namun, Bai Niu yang menyembunyikan wajahnya di balik kain tebal yang dipakai oleh Zhen Lie menggelengkan kepala tidak menerimanya.
"Ayah! Aku tidak senakal itu!" protesnya.
"Ha-ha. Anak-Anak ayah tidak ada yang nakal. Ayo keluar! Jangan bersembunyi terus." Balas Zhen Lie memintanya untuk keluar di balik kainnya.
"Aku malu, Ayah." Timpal Bai Niu masih bersikukuh tidak ingin menunjukkan wajahnya.
"Dih! Kenapa mesti malu? Aku yakin orang-orang akan langsung bubar begitu melihat kamu. Ha-ha," ejek Jingga lalu bersembunyi di belakang punggung Luo Xiang.
Bai Niu langsung merasa cemas di hatinya, ia tahu pasti ada hal yang tidak beres yang dilakukan Jingga padanya.
"Awas saja kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi padaku, akan aku cincang dirimu."
Ia lalu keluar dari persembunyiannya, namun apa yang terjadi, semua orang tampak kaget melihatnya. Wajahnya terlihat seperti gadis opera yang menor dan penuh dempul. Sayangnya bukanlah warna putih yang melekat di wajah Bai Niu, melainkan warna hitam pekat.
Melihat pandangan aneh dari orang-orang yang melihatnya, Bai Niu langsung mengambil cermin kecil dari cincin spasialnya.
"Kakaaak!" Pekik lantang Bai Niu terdengar seperti gelegar petir yang menyambar.
Jingga yang mendengarnya tak bisa menahan diri untuk tertawa, ia pun tertawa terpingkal-pingkal di belakang punggung Luo Xiang.
Bai Niu yang mendengar tawa Jingga langsung menoleh ke arah ibunya, ia lalu berlari untuk menerkam Jingga yang bersembunyi di belakang ibunya.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi di lokasi penampungan. Keduanya terlihat seperti dua kucing yang berlarian memutari orang-orang di sekitarnya.
Namun, Jingga langsung menghentikan larinya tatkala muncul puluhan orang bermantel putih memasuki ruang pengungsian. Bai Niu yang melihat Jingga berhenti tak melewatkannya, ia lalu melompat sambil melayangkan pukulannya.
Bag, bug, bag, bug!
Jingga terus dipukuli oleh Bai Niu yang tidak memedulikan kedatangan puluhan orang yang terlihat mengintimidasi.
"Naninu, berhenti!" Tegur Jingga yang langsung menahan kedua tangan Bai Niu.
"Lepaskan! Aku tidak peduli siapa mereka, aku hanya ingin menghajar Kakak," balasnya terus meronta untuk bisa melepaskan diri dari cengkraman tangan Jingga di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Lihatlah mereka, mainan yang bisa kamu mainkan," ucap Jingga sedikit berbisik.
Bai Niu langsung menoleh ke arah puluhan orang bermantel putih. Ia lalu menyeringai dingin dengan tatapan ingin mencabiknya.
"Kak, mereka kultivator ranah Master Emas. Biar aku saja yang menghadapinya," ujar Bai Niu memintanya.
"Mereka menekan tingkatan sebenarnya, aslinya mereka berada di ranah Warrior Perak. Tapi itu bagus untuk menguji kemampuanmu ... sekarang tenang dulu, kita cari tahu siapa mereka,"
"Baik, Kak. Tapi, bisakah wajahku dikembalikan seperti semula. Ini sangat jelek!"
"Tidak!"
Jingga menolaknya lalu menariknya berjalan kembali ke barisan orang tuanya.
"Ibu, siapa mereka?" tanya Jingga ingin tahu.
"Mereka orang-orang dari aliansi Es Utara. Mereka yang menyelamatkan sebagian besar orang-orang di pengungsian,"
"Lalu apa yang mereka inginkan? Kenapa begitu mengintimidasi?"
"Mereka menagih upeti atas jasa yang mereka lakukan. Kalian tunggu di sini, ibu akan membantu ayah kalian bernegosiasi dengan mereka."
"Baik, Ibu." Sahut Jingga lalu mengajak kedua adiknya untuk duduk memperhatikan Zhen Lie yang tampak alot berdebat dengan orang-orang dari aliansi Es Utara.
"Iya, Kak." Sahut keduanya sambil menoleh ke arah Jingga.
"Aku akan ke alam jiwa memberi tugas pada teman-teman iblisku. Kalian berdua perhatikan gelagat orang-orang dari aliansi Es Utara, kalau sampai mengancam nyawa orang tua kita. Habisi semuanya!"
"Baik, Kak." Balas keduanya dengan pasti.
Jingga lalu menutup kedua matanya dalam posisi lotus.
Memasuki alam jiwa, Jingga langsung bergegas menghampiri Zilla yang masih terkapar lemas di pembaringan.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Kenapa kau begitu lambat pulih? Ada apa?" lontar tanya dilayangkan Jingga setelah mengamati kondisi Zilla yang masih memprihatinkannya.
Zilla yang dalam kondisi lemah langsung beranjak duduk dan menatap sayu Jingga di depannya.
"Maaf, Kak. Kondisiku begini karena Ratu Iblis menghisap habis energiku,"
"Kenapa baru bilang sekarang?" tegur Jingga kembali bertanya.
"Aku sendiri baru tahu setelah memasuki alam jiwa, aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya." Sergah Zilla yang memang tidak mengetahui sebelumnya.
__ADS_1
Jingga sedikit kecewa, namun ia merasa karena dirinya pula yang terlalu meremehkan kemampuan Ratu Iblis dari sanbuqu Lima itu. Seperti sebuah pepatah, "Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih." Begitulah dengan apa yang sedang dihadapi Jingga, sikapnya yang terlalu merendahkan orang lain menjadi simalakama untuk orang-orang di sekitarnya. Namun apalah daya, ia harus menerima konsekuensinya.
"Ya sudah, setidaknya dirimu masih hidup. Fokuslah pada pemulihan dirimu, Zilla." Ujarnya lalu berbalik ke arah teman-temannya yang lain.
Zilla hanya mengangguk saja, ia lalu kembali berbaring dan menutup kedua matanya untuk melanjutkan pemulihan dirinya.
"Di alam fana, aku melihat banyak iblis yang berkeliaran. Dari gelagatnya, mereka adalah iblis-iblis yang berhasil menyelamatkan diri dari badai api. Aku ingin kalian memaksa mereka kembali memasuki alam iblis atau musnahkan sekalian apabila mereka menolaknya." Ujar Jingga menyampaikan temuannya.
"Siap, kami laksanakan, Yang Mulia." Sahut para iblis serentak.
"Maaf, Yang Mulia."
"Katakan saja, Jenderal Jieru." Pinta Jingga menatapnya dengan serius.
"Bagaimana dengan para dewa? Mereka tidak akan membiarkan kita dengan bebas untuk mengendalikan para iblis di alam fana. Ada kemungkinan kita yang akan disalahkan mereka atas kehadiran bangsa iblis yang melarikan diri ke alam fana. Mohon, Yang Mulia untuk memikirkannya kembali!"
Jingga terdiam memikirkan apa yang disampaikan oleh Jenderal Jieru kepadanya. Cukup lama ia memikirkan solusinya, namun, masih belum juga bisa mendapatkan solusi yang tepat agar tidak ada pergesekan di antara dua ras bersebrangan tersebut.
"Kita bangsa iblis, kita lakukan dengan cara kita, apa kalian semua mengerti maksudku?" tanya Jingga kepada semua bawahannya.
"Kami mengerti, Yang Mulia."
"Bagus ... Jenderal Jieru, kita fokuskan aksi kita di benua Matahari. Aku ingin kau yang atur pembagiannya,"
"Baik, Yang Mulia."
Jingga mengedarkan pandangannya memperhatikan sikap para iblis yang akan melaksanakan perintahnya.
"Kalian semua akan dipimpin oleh Jenderal Jieru, bagi yang keberatan. Hadapi aku!"
Deg! Para iblis tersentak mendengarnya, selain yang berasal dari kerajaan, sebagian besar memang menolak dipimpin oleh jenderal wanita yang terkenal otoriter. Namun, karena yang memutuskan adalah Jingga, mereka terpaksa harus mengikutinya.
"Tidak, Yang Mulia. Kami bersedia mengikuti arahan sang jenderal."
"Terima kasih, semuanya. Mulailah!"
Semua iblis langsung berkelebat meninggalkan alam jiwa dipimpin langsung oleh Jenderal Jieru. Sementara yang tersisa kini hanya tinggal Jingga, Jirex, dan Zilla yang terbaring.
"Jirex, jagalah Zilla. Aku akan memanggilmu ketika aku butuhkan,"
"Baik, Kak."
Setelahnya, Jingga langsung pergi meninggalkan keduanya untuk kembali ke alam fana.
__ADS_1