
Ratu Kreya kembali mengayunkan cambuknya dengan cepat dan bertalu-talu hingga membuat kilatan dan bunyi yang menggelegar di atas badai api. Namun hal itu tidak membuat nyali Jingga menciut. Ia malah semakin melebarkan bibirnya, sorot matanya pun tampak bersinar menyaksikan atraksi yang diperagakan oleh sang Ratu yang berasal dari sanbuqu lima.
"Ini baru hebat!" Jingga memujinya sambil bertepuk tangan.
"Jianhuimie Yuzhou ..., tarian pedang Asura."
Wuzz!
Jingga melesak menyerang Ratu Kreya.
Duar! Duar! Duar!
Benturan dari logam pedang dengan duri logam cambuk hitam menciptakan percikan api yang indah di udara.
Jingga semakin intens terus menebaskan pedangnya menguji kekuatan dan ketahanan ayunan cambuk yang semakin cepat berayun.
Seiring waktu berjalan, gelombang aura iblis yang terpancar dari keduanya membuat retakan di langit alam iblis semakin menganga.
"Dasar bodoh! Kau terus saja menguji ketahanan cambukku dengan kekuatanmu yang lemah," gumam batin sang Ratu mengomentari upaya lawannya.
"Kalau begitu akan kupaksa kau mengeluarkan seluruh energimu. Ha-ha-ha!" imbuhnya lalu membentuk replika dirinya menjadi tujuh bayangan.
Ketujuh bayangan Ratu Kreya langsung berputar mengelilingi Jingga yang langsung menggunakan mata iblisnya untuk mewaspadai kemungkinan serangan cepat sang ratu.
"Kepancing juga kau, Nyonya bodoh!" kelakar Jingga yang memang sedari tadi sengaja membuat sang ratu berpikir untuk mengeluarkan kemampuannya yang lain.
"Shashou Shouzhi ..., Longjuanfeng."
Jianhuimie Yuzhou terbagi dua dengan teknik Shashou Shouji lalu tubuhnya berputar membentuk beliung dengan jurus Longjuanfeng. Putarannya yang cepat membuat ketujuh bayangan Ratu Kreya mundur beberapa langkah menjauhinya.
"Ha-ha-ha. Kau sungguh mengejutkan, Bocah tengik."
"Aku hanya ingin pertarungan kita semakin seru." Balas Jingga lalu mempercepat putarannya seperti gasing.
"Aku kira kau sedang memancingku," imbuh Ratu Kreya menyadarinya.
"Memang! Kenapa? Tidak senang?"
"Cih! Jangan banyak omong!"
Wuzz!
__ADS_1
Duar! Duar! Duar!
Pertarungan pun kembali berlangsung dengan sengit.
***
Sementara itu di alam iblis. Panglima Tianfeng dalam posisi berlutut bersama anak buahnya sedang menjabarkan laporannya perihal kejadian di alam iblis. Kaisar Langit terus mendengarkannya dengan seksama sambil mengelus-elus janggutnya. Tampak kekhawatiran terlukis di wajahnya. Namun sang kaisar berusaha untuk tetap tenang menyikapinya.
"Apa yang kaumaksud itu ialah kita harus berkoalisi dengan pemuda iblis yang kautemui?" tanya Kaisar memastikannya.
"Betul, Yang Mulia." Jawab Panglima Tianfeng mengiyakan.
Seorang dewa bertubuh tinggi besar berjalan ke hadapan Kaisar lalu menjura.
"Maaf, Yang Mulia. Izinkan hamba bertanya kepada Panglima Tianfeng."
"Silakan, Dewa Langit." Kaisar Langit mengizinkannya.
Dewa Langit menoleh ke arah Panglima Tianfeng yang langsung berdiri menghadapnya.
"Siapa pemuda yang kaumaksud itu? Dan siapa pula wanita bergaun merah? Aku bersama para dewa lainnya masih belum memahami kedua iblis yang kausebutkan itu." Lontar tanya dewa Langit mewakili pertanyaan para dewa yang berbaris di aula istana.
Panglima Tianfeng mengerutkan wajahnya. Ia tampak memikirkan cara agar para dewa bisa memahaminya.
"Apa kau akan percaya padaku?" balik tanya Panglima Tianfeng meminta kepastian dari apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Keduanya adalah iblis yang berada di ranah puncak kultivasi iblis. Mereka pula yang membuat badai api tercipta dari pertarungan keduanya. Wanita iblis sanggup menghancurkan tombakku hanya dari sentuhan ujung jarinya, dan si pemuda iblis bahkan mampu membuat para komandanku hancur lebur hanya dari kedipan matanya," ungkap Panglima Tianfeng menjelaskannya.
Para dewa yang mendengarnya langsung terbelalak tidak percaya. Keributan pun terjadi di aula istana langit. Suasana aula menjadi riuh oleh keributan para dewa yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sementara sang kaisar semakin dibuat bingung oleh penjelasan panglimanya.
"Cukup!" tegas Kaisar Langit sambil merentangkan kedua tangannya.
"Tidak ada yang salah dengan ucapan Panglima Tianfeng. Bukankah kita sendiri sudah tahu dampak yang terjadi di alam fana? Lalu, apalagi yang kalian ragukan?" imbuh Kaisar Langit dengan nada tegas membalikkan keraguan para dewa yang saling berdebat.
Tidak ada satu dewa pun yang berani menyangkalnya. Semuanya langsung terdiam membenarkan perkataan sang kaisar.
"Baiklah, kita akan berkoalisi dengan pemuda iblis untuk menstabilkan kembali alam iblis. Setelah semuanya terkendali, undang dia ke istana. Kita akan langsung mengadilinya." Ujar Kaisar langit mengambil keputusan.
"Maaf, Yang Mulia." Potong Panglima Tianfeng dengan mengangkat tangan.
"Katakan!"
"Dia bukan iblis yang lemah. Siapa yang sanggup melawannya?" kata Panglima mengingatkan.
__ADS_1
"Panglima tenang saja. Aku akan meminta para dewa melobi Taiyangshen untuk membunuhnya." Jawab Kaisar Langit yang sudah mengetahui siapa orang yang tepat untuk menangani sang pemuda iblis.
"Yang Mulia." Ucap dewa Langit mengangkat tangan.
"Katakan, Dewa Langit."
"Bukankah meminta Taiyangshen sangat beresiko dengan kestabilan alam dewa? Bagaimana kalau kita memastikan dahulu siapa sebenarnya pemuda iblis itu?" ujar Dewa Langit meminta Kaisar mempertimbangkannya.
"Apa kau masih meragukannya?" tanya balik sang Kaisar dengan tatapannya yang dingin.
"Tidak, Yang Mulia." Jawab Dewa Langit lalu menjura dan berbalik ke posisinya.
Setelah keputusannya diterima oleh para dewa. Kaisar Langit langsung menugaskan Panglima Tianfeng membawa ribuan prajurit inti istana ke alam iblis untuk membantu dewa Api dan memperbaiki kerusakan yang timbul akibat tingginya fluktuasi energi api.
Kembali ke pertarungan Jingga dengan Ratu Kreya di alam iblis.
Jingga yang tidak bertransformasi ke wujud penguasa mulai tersudutkan oleh kemampuan sang ratu yang terus membombardirnya dengan brutal bersama ketujuh bayangannya.
Trang! Trang!
Duar! Duar! Duar!
Benturan dan ledakan terus bersahutan mengiringi pertarungan yang berlangsung semakin sengit di atas badai api yang tak pernah surut.
"Sampai kapan kau akan terus bertahan dari seranganku?" tanya Ratu Kreya dengan tatapan mengejeknya.
"Aku sedang menguji batas kemampuanku. Apa kau mulai lelah, Nyonya?" kata Jingga balik bertanya.
Ia masih terlihat tangkas menangkis lesakkan delapan pecut dari berbagai arah di sekitarnya. Tubuhnya terus berputar cepat menghalau dan sesekali menyerang Ratu Kreya secara acak.
"Tidak. Aku sungguh menikmatinya. Ha-ha." Kilah sang Ratu yang semakin bersemangat melontarkan cambuknya.
Suasana alam iblis semakin mengerikan. Retakan dari lapisan langit semakin meluas dan terlihat akan mulai mengalami keruntuhan. Hal itu membuat Jingga tidak bisa lagi berlama-lama dalam pertarungannya.
"Waktuku tidak lagi banyak, aku harus segera mengalahkannya," gumam batin Jingga setelah mengamati kerusakan langit di atasnya.
"Baiklah, Nyonya. Kau berhasil memaksaku bertransformasi ke wujud asliku." Kata Jingga lalu mengeluarkan aura penguasa dari tubuhnya.
Wuzz!
Duar! Duar! Duar!
Ratu Kreya terbelalak kaget melihat ketujuh bayangannya meledak hancur hanya terkena aura yang dilepaskan oleh Jingga. Bola matanya semakin lebar tatkala ia melihat Jingga berubah ke wujud penguasa. Di mana tubuh Jingga sama persis menyerupai dirinya. Mulai dari rambut dan alis yang berubah menjadi putih, bahkan kontur wajahnya pun berubah menjadi sosok pria iblis yang begitu tegas dan berwibawa. Tidak ada lagi sosok pemuda yang terlihat pada diri Jingga.
__ADS_1
"Ti ... tidak mungkin. Si ... siapa kau sebenarnya?" gugup Ratu Kreya tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
Ia menghentikan ayunan cambuk di genggaman tangannya lalu terbang mundur beberapa langkah menjauhi Jingga yang menatapnya dingin.