
Keduanya lalu melesak terbang menuju puncak menara Monster. Namun, Jingga tidak langsung menempatinya. Bentuk ujung menara yang mengerucut, membuat Jingga merasa tidak nyaman untuk menempatinya. Ia lalu menjentikkan jari memapas sebagian bangunan puncak tersebut, sehingga bisa ditempatinya dengan nyaman.
SLASH!
Ujung menara langsung terpapas sempurna, dan kini terciptalah area datar di puncaknya. Jingga tampak senang melihat hasil yang memang ia inginkan.
“Ayo, Nyonya! Kita akan melihat pertempuran dengan sangat jelas di atas sini,” kata Jingga lalu menapaki puncak menara diikuti oleh Ratu Kalandiva.
Jingga lalu mengambil posisi dan menjatuhkan tubuhnya di atas area sedikit miring.
“Ah, cukup nyaman,” ucap Jingga sambil menyapukan sisa-sisa debu di dekatnya.
“Nyonya, mengapa terus berdiri seperti itu? Duduklah atau bersandar mengikutiku!” pinta Jingga yang tidak nyaman melihat sang ratu terus berdiri di dekatnya.
Tampak sang ratu begitu senang mendengarnya. Ia lalu mengangguk dan mulai duduk lalu merebahkan tubuhnya di samping Jingga. Namun, ia salah memahami ucapan terakhir yang disampaikan oleh Jingga. Dengan sedikit gemetar, sang ratu menyandarkan kepalanya di bahu Jingga. Sontak saja, hal itu membuat Jingga merasa risih. Jingga lalu mendorong kepala sang ratu agar menjauh darinya. Namun nahas, dorongannya membuat sang ratu yang tidak memperkirakannya harus bergulingan di atas puncak menara dan terjatuh.
“Aah!” jerit sang ratu yang terjatuh dari puncak menara.
Tak lama kemudian, sang ratu melayang terbang menghampiri Jingga dengan mimik wajah yang sangar. Akan tetapi, Jingga tidak meliriknya sekalipun, ia masih terus fokus melihat pertarungan bangsa beast monster menghadapi pasukan istana Langit. Sekali-kali ia menggelengkan kepala menanggapi pertarungan yang tidak seimbang.
Kembali pada sang ratu yang semakin kesal dibuatnya. Ratu Kalandiva terus saja menggeretakkan gigi gerahamnya. Ia kemudian turun menapaki puncak dan berjalan pelan mendekati Jingga. Namun, kali ini ia menjaga jarak satu tombak dari posisi Jingga bersandar.
“Para pengikutmu terlalu lemah, menghadapi gerombolan pasukan istana Langit saja, mereka begitu mudah dipaksa mundur,” ujar Jingga memberitahunya dengan nada kecewa.
Ratu Kalandiva yang tadinya sangat geram terhadap Jingga, kini mulai merasakan kecemasan melihat para pengikutnya yang kewalahan menghadapi pasukan istana Langit.
“Yang Mulia, aku mohon bantulah para pengikutku! Mereka tidak dalam kondisi prima untuk bertarung,” pinta Ratu Kalandiva terdengar lirih.
“Perintahkan para pengikutmu untuk membawa pertarungan ke area hutan. Aku akan meminta adikku untuk mengatasinya,” balas Jingga.
“Baik, Yang Mulia,” timpal sang ratu begitu senang.
__ADS_1
“Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Cukup Nyonya memanggilku jingga,”
“Baik, Jingga. Terima kasih.”
Ratu Kalandiva lalu berkomunikasi dengan para pengikutnya yang sedang bertarung melalui transmisi suara. Setelah memberikan perintah, Ratu Kalandiva langsung melirik Jingga dengan perasaan cemas.
“Tenang saja. Biarkan para pasukan istana Langit terus memburu para pengikutmu dan menganggap kemenangan sudah di depan mata. Dengan begitu, kita akan mudah menghabisinya. Sekarang, kita pantau saja perkembangannya,” ujar Jingga diiringi dengan menenggak arak.
Sang ratu mengangguk pelan memahaminya. Sementara Jingga langsung memanggil adiknya Jirex.
“Kak, apa ada makanan lagi?” tanya Jirex begitu keluar dari alam jiwa.
“Sangat banyak! Tapi kali ini, kau jangan memakan para monster, mereka sekarang berada di pihak kita.”
“Wah! Ini pasti menyenangkan. Apakah aku boleh menguji kemampuan beast monster tempur (beast beruang hitam) yang telah kulatih?”
“Tentu, dan ini merupakan ujian terbaik untuk para beasts beruang hitam,” kata Jingga, “tapi kau harus menunggu sampai semuanya berada di kedalaman hutan.”
Jingga bersama Ratu Kalandiva dan adiknya Jirex terus mengawasi pertarungan para beast naga dan phoenix yang mulai turun berhamburan ke arah hutan tidak jauh dari area istana Monster. Tak kurang dari seribu pasukan istana Langit ikut turun menggempur para beasts monster yang berlarian di kedalaman hutan yang sangat lebat. Jingga merentangkan tangan kiri di depan Jirex untuk bersiap memberikan aba-aba kepada sang adik untuk melompat turun bersama para beasts beruang hitam yang akan menyerang pasukan istana Langit secara tiba-tiba.
Setelah memastikan tidak ada satu pun pasukan istana Langit yang melayang di udara. Jingga langsung menyingkirkan tangan kiri memberi isyarat kepada Jirex untuk melompat dari puncak menara Monster. Tak lupa, ia pun membuka akses alam jiwa agar para beasts beruang hitam bisa langsung keluar mengikuti perintah dari Jirex.
“Jirex … sekarang!” pekik Jingga.
WUZZ!
Jirex melompat dari puncak menara Monster, di belakangnya ratusan beasts beruang hitam ikut berlompatan seperti jatuhnya ratusan batu-batu besar yang akan menghancurkan sebuah gunung besar di bawahnya.
Pasukan istana Langit yang terus mengejar beasts phoenix dan beasts naga mendadak menghentikan langkah. Mereka menengadah melihat banyaknya benda hitam yang jatuh dengan sangat cepat ke arahnya.
“Ba– bagaimana mungkin beasts beruang hitam bisa jatuh dari langit? Apakah mereka beasts dari alam dewa?” tanya seorang komandan terkejut melihatnya.
“Jangan lihat gerombolan monster hitam yang berjatuhan, lihatlah seorang gadis yang melayang turun paling depan! Siapa dia?” timpal seorang komandan lainnya yang terfokus pada sosok gadis tanpa ekspresi yang melayang ke arahnya.
__ADS_1
“Pasang formasi bertahan!” imbuhnya berteriak kepada pasukannya.
Rimbunnya hutan di wilayah yang ditempati membuat pasukan istana Langit kesulitan dalam membentuk formasi.
Tap, tap!
Jirex berhasil mendarat dengan mulus di tengah-tengah pasukan istana Langit yang terpana melihatnya.
“Darah yang cukup amis dan manis, aku menyukainya,” kata Jirex mencium aroma para pasukan.
WUZZ!
Tanpa menunggu lama, Jirex langsung berkelebat cepat menyerang pasukan istana Langit yang terperangah pada kecepatannya.
KRAUK! KRAUK!
Satu per satu leher para pasukan digerogotinya dengan sangat brutal. Hanya dua hela napas saja, Jirex telah berhasil menggerogoti lebih dari 50 pasukan istana Langit di dekatnya yang langsung berjatuhan nyaris dengan kepala hampir terputus.
“Ah! Sungguh santapan yang sangat lezat dari pasukan istana Langit,” ujar Jirex sambil membersihkan mulutnya yang berlumuran darah.
BUGH! BUGH! BUGH!
Dua ratus lebih beasts beruang hitam baru saja mendarat dengan keras di hutan hingga menyebabkan tanah bergetar keras dan banyak pohon bertumbangan. Jirex langsung memerintahkan semuanya untuk memburu pasukan istana Langit yang sedang memburu beasts phoenix dan naga di kedalaman hutan yang sangat luas tersebut.
Mereka langsung berpencar mencari jejak para pasukan istana Langit. Jirex sendiri tidak ingin tertinggal dalam buruannya mencari santapan manis. Ia memindai ke sekelilingnya mencari jumlah terbanyak dari pasukan istana Langit. Setelah menemukan area yang banyak pasukannya, Jirex langsung berkelebat cepat memburunya.
Di menara puncak istana Monster. Jingga terus menatap langit yang kini berganti malam, ia memindai area langit untuk memastikan tidak ada dewa yang memantau pertarungan.
“Nyonya, tunggu sebentar. Aku akan menyegel hutan dan membuat ilusi di atas permukaannya,” kata Jingga lalu melesak terbang meninggalkan sang ratu yang belum sempat berbicara.
Di atas hutan yang luas, Jingga membentuk pola rumit di jemarinya menciptakan segel iblis yang menutupi seluruh wilayah hutan termasuk istana Monster. Ia ingin memastikan tidak ada satu pun pasukan istana Langit yang kabur dari pertempuran. Setelahnya ia langsung menciptakan array ilusi untuk mengaburkan pandangan para dewa yang akan memantau jalannya peperangan yang terjadi di hutan.
“Sepertinya sudah cukup, aku bisa membawa Ratu Kalandiva kembali ke halaman belakang istana. Ha-ha!” kekeh Jingga setelah menyelesaikan kreatifitasnya.
__ADS_1