Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sekte Bayangan Jingga


__ADS_3

Sesampainya di wilayah timur yang melewati padang rumput. Jingga menghentikan langkahnya, ia bersembunyi di sebuah pohon yang cukup rimbun sambil memperhatikan pertarungan kekasih tuanya Tang Niu yang terlihat sedang dalam posisi tersudutkan oleh kepungan para pendekar yang terus menyerangannya dengan membabi buta.


"Aku kira perang antar kekaisaran, ternyata perang melawan para pendekar" gumamnya sambil terus memperhatikan ribuan pendekar dari banyak sekte yang membawa panji-panji partai berjalan ke arah padang rumput.


Jingga beralih kembali menyaksikan pertarungan Tang Niu yang mulai kewalahan menghadapi para pendekar.


"Langkah bayangan"


Wuzz!


Bugh! Bugh!


Jingga berkelebat memukul tiga pendekar botak berpakaian kuning sampai terpelanting jauh menabrak pepohonan. Sontak saja aksi Jingga membuat para pendekar lainnya melangkah mundur mewaspadai serangan tak kasat mata yang dilayangkan Jingga.


Jingga lalu menampakkan dirinya di tengah kepungan para pendekar.


"Ibu, tidak apa-apa?" Tanya Jingga dengan mengedipkan sebelah matanya.


Tang Niu tersentak mendengarnya, namun ia memahami maksud yang disampaikan oleh Jingga.


"Tidak apa-apa sayang, mereka masih belum mampu mengalahkanku" jawab Tang Niu lalu tersenyum lembut padanya.


"Ha ha ha, baru kali ini aku melihat pasangan pendekar dari ibu dan anak. Sangat menarik!" Celetuk pendekar pria berpakaian biru mengomentari.


"Sayang, cepat sekali kamu tiba, apa wilayah barat sudah dihabisi semua?" Tanya Tang Niu mengabaikan komentar si pendekar.


Jingga tidak menjawabnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah para pendekar.


"Para pendekar semuanya, kami permisi dulu. Silakan kalian melanjutkan perang. Kami berdua tidak akan mencampurinya" sambung Jingga lalu menarik tangan Tang Niu berkelebat ke arah barat.


Wuzz!


Tap, tap!


Jingga berhenti tepat di hadapan jenderal Qianbai yang berdiri menunggunya.


"Maaf, Jenderal. Aku menarik perkataanku sebelumnya. Di timur sana banyak pendekar dari berbagai sekte, tentunya perang kali ini akan berjalan seru buat kalian. Silakan dilanjutkan!" Ujar Jingga sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Tidak masalah, kemana tujuan kalian berdua?" Tanya jenderal Qianbai.


"Kami belum tahu mau ke mana" jawab Jingga yang memang belum memutuskan tujuannya.


"Kami akan pergi ke kota Luyan" potong Tang Niu menjawabnya.


Jenderal Qianbai meliriknya, ia baru menyadari sosok cantik dan anggun dari wanita yang menjawab pertanyaannya. Posisinya yang sebagai seorang jenderal kekaisaran membuatnya harus menjaga wibawa dari pandangan para prajurit.


"Ibukota terlalu jauh dari sini, kenapa kalian tidak mampir dahulu ke kota Lintang? Sebelum masuk kota Lintang, kalian bisa mengunjungi sekte Bayangan Jingga di hutan Bambu Merah" Saran jenderal Qianbai.

__ADS_1


Jingga tampak senang mendengarnya, ia begitu merindukan hutan Bambu Merah. Begitu juga dengan kedua orang tuanya Zhen Lie dan Luo Xiang. Namun ia sadar kemungkinan kedua orang tuanya sudah tiada.


"Baiklah, aku akan ke sana. Terima kasih, Jenderal. Semoga kau bisa memenangkan perang" balas Jingga menyetujuinya.


Sang jenderal menganggukkan kepala, sorot matanya tak lepas dari wajah Tang Niu yang menarik perhatiannya. Begitu pun dengan Tang Niu yang selalu mendelik ke arahnya.


"Naninu, apa kau mau membantu Jenderal Qianbai berperang?" Tanya Jingga yang menyadari tatapan keduanya yang saling mencuri pandang.


Tang Niu terlihat gugup, ia salah tingkah mendengarnya.


"Iya, eh maksudku tidak. Maaf" jawabnya.


Jingga tersenyum simpul melihat reaksinya, ia lalu berlalu pergi meninggalkan keduanya.


Entah apa yang terjadi dengan perasaan Tang Niu, ia masih saja berdiri di dekat jenderal Qianbai.


"Adik, apa kau ingin menemaniku berperang?" Tanya jenderal Qianbai menyadarkannya.


Tang Niu melirik ke arah Jingga yang sudah jauh darinya, dengan wajahnya yang berubah merah ditatap oleh sang jenderal yang berparas tampan dan terlihat begitu gagah dengan pakaian zirahnya. Kedua kaki Tang Niu seakan tidak bisa bergerak untuk melangkah, namun pada akhirnya ia menyadari diri belum mengenal kepribadian sang jenderal, ia hanya mengagumi ketampanannya saja.


"Maafkan aku, Jenderal. Permisi!" jawabnya lalu berkelebat menyusul Jingga.


"Sayang, kenapa meninggalkanku?"


"Jangan memanggilku sayang jika hatimu masih tergoda pria lain"


"Hem! Terima kasih"


"Karena kamu cemburu"


"Ha ha, kau salah paham, Nyonya"


Keduanya terus berdebat di sepanjang perjalanan sampai memasuki wilayah hutan bambu merah. Samar-samar Jingga mendengar suara pelatihan para murid sekte.


"Cukup, Nyonya! Kita sudah sampai di sekte Bayangan Jingga" pinta Jingga menahan Tang Niu yang terus berceloteh di sepanjang perjalanan.


Jingga mempercepat langkahnya ke arah sumber suara yang semakin terdengar jelas.


Tap, tap!


Lima orang pendekar berpakaian serba hitam menghadangnya.


"Siapa kalian dan ada perlu apa memasuki wilayah sekte Bayangan Jingga?" Tanya seorang pendekar muda mengacungkan pedangnya.


Jingga sedikit bingung menjawabnya, ia tidak tahu harus memakai nama apa pada dirinya.


"Kemarilah, Kakak!" gema suara di udara tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


Kelima pendekar langsung berlutut dengan sendirinya mendengar suara yang berasal dari pendiri sekte.


Jingga mengerutkan keningnya lalu tersenyum simpul, walaupun suara terdengar sedikit berat, Jingga masih bisa mengenalinya.


"Tuan muda, mari ikut kami" pinta seorang pendekar.


Jingga mengangguk lalu mengikutinya bersama Tang Niu yang diam saja memperhatikannya.


"Aku kira di masa depan hutan bambu merah akan hilang, ternyata bisa menjadi sangat luas seperti ini" gumam Jingga memperhatikan sekitarnya.


Memasuki area pelatihan, Jingga terpana dan kagum melihat banyaknya murid sekte yang berlatih.


Lebih dari seribu tombak Jingga berjalan di area pelatihan, kini Jingga memasuki wilayah pemukiman yang semuanya terbuat dari batang bambu.


"Suasana yang begitu kurindukan" ucapnya dengan berkali-kali menghirup napas panjang.


"Kamu terlihat begitu akrab dengan wilayah hutan bambu ini" kata Tang Niu yang terus memperhatikan reaksi pemuda di depannya.


Jingga menolehnya dengan senyuman yang membuat Tang Niu ingin menciumnya karena gemas.


Beberapa langkah kemudian, kelima pendekar berhenti dan berlutut di depan kediaman yang paling besar.


Sebuah pintu terbuka dengan sendirinya, lalu dari dalam rumah keluar seorang pria tua melayang menghampiri Jingga. Di belakangnya mengikuti lima pria tua dan tiga pria paruh baya yang keluar dengan melayang juga.


"Akhirnya Kakak menepati janji menemuiku" ujar Qianfan langsung memeluknya.


Jingga tidak memahami yang dikatakan adiknya, ia berpikir hal itu mungkin pernah dikatakannya di masa lalu.


Keduanya saling melepaskan pelukan, tampak terlihat oleh Jingga kedua bola mata Qianfan begitu lembab.


"Kau sudah begitu tua masih saja menangis" ejek Jingga merasa heran.


"Ha ha ha, sudah ratusan tahun aku menunggu kedatanganmu, tentunya aku sangat bahagia" balas Qianfan yang akhirnya pecah juga tangisannya.


Bukan karena sosok Jingga yang membuatnya menangis, ia begitu merindukan istrinya Du Zhia yang sudah meninggalkannya ratusan tahun silam sejak invasi bangsa iblis menyerang alam fana.


Hiks, hiks!


"Aku sangat merindukan istriku, aku ingin menyusulnya" imbuh Qianfan sambil mengeringkan air matanya.


Jingga yang masih polos menjadi heran, ia tidak bisa menimpali perkataan adiknya.


Qianfan berbalik ke arah para tetua sekte lalu meminta mereka mengumpulkan semua murid sekte.


Tak berselang lama, lebih dari dua ribu murid sekte berkumpul di depan kediaman tetua sepuh.


Dengan mata yang masih berkaca-kaca karena haru dan berbagai alasan lainnya, Qianfan yang seorang sepuh sekte berdiri bersama Jingga dan Tang Niu di depan ribuan muridnya.

__ADS_1


"Ini adalah hari yang sudah aku nantikan selama ratusan tahun" ucapnya mengawali pidato.


Semua murid sekte dan para tetua terdiam tanpa suara mendengar dengan seksama perkataan dari pendiri sekte.


__ADS_2