
"Ha ha ha, dengan api kematian aku bisa menghisap habis energi para iblis" serunya begitu senang.
Jingga melayang terbang ke udara, namun ia begitu bingung akan ke mana karena tujuannya telah sampai.
"Sebaiknya aku lanjut ke arah yang sama, mungkin sekarang baru sampai di perbatasan" gumamnya memutuskan.
Apa yang dipikirkannya ternyata benar, tak lama kemudian, Jingga melihat keberadaan suatu kota yang lumayan besar. Terdapat banyak bangunan besar seperti sebuah perkotaan di alam fana. Ia kemudian melesat turun di sebuah gerbang besar.
"Kota Kematian! Nama yang seram" gumamnya setelah membaca tulisan gerbang kota yang menjulang di atasnya.
Jingga melangkahkan kaki dengan santai memasukinya, beberapa iblis berkelebat di jalanan kota. Jingga terus memperhatikan beberapa bangunan tua di kedua sisinya.
"Apakah di kota ini memiliki penginapan?" Tanya pikirnya.
Jingga terus berjalan sampai akhirnya ia menemukan sebuah bangunan cukup besar berlantai dua yang memiliki sebuah nama.
"Ha ha ha, ada juga penginapan di alam iblis" gumamnya.
Jingga tampak begitu senang menemukannya, ini adalah pertama kalinya ia akan memasuki penginapan di alam iblis.
Jingga membuka sebuah pintu berayun, tampak puluhan pasang mata meliriknya.
"Kenapa para iblis memandangiku seperti itu?" Tanya pikirnya.
Jingga mengacuhkannya, ia melirik ke sekitarnya mencari iblis yang akan melayaninya.
Seorang iblis terlihat masih muda menghampirinya dengan sedikit tergesa-gesa.
"Tuan muda, selamat datang di penginapan kami" sambut pria iblis.
"Apakah masih ada kamar kosong untukku?" Tanya Jingga.
"Ada Tuan, mari ikut saya" jawabnya lalu membawa Jingga ke lantai atas.
"Silakan, Tuan. Harga per malam dua jiwa kultivator Master Perak" ucap pelayan iblis memintanya.
Jingga langsung memberikannya sepuluh jiwa kultivator.
Pada saat memasuki kamarnya, Jingga menyipitkan mata melihat seorang gadis iblis berkulit pucat berbaring di dipan dengan pose menggoda.
"Selamat datang Tuan, saya Huo Nuhai akan melayani Tuan selama berada di penginapan" sambut gadis iblis menghampiri pemuda yang masih melamun di pintu kamar.
__ADS_1
"Istriku, bolehkah aku membiarkannya berada di kamarku? Aku butuh banyak informasi darinya" tanya Jingga meminta izin.
"Ya, asal jangan kau tergoda olehnya atau aku akan membunuhmu" sahut Xian Hou mengizinkannya dengan ancaman.
"Siap sayang, terima kasih" balas Jingga.
Tiba-tiba saja Huo Nuhai melingkarkan kedua tangannya merangkul leher Jingga.
"Kenapa kau melamun saja? Apa aku kurang cantik untukmu?" Tegur Huo Nuhai sambil mendekatkan wajah membisikinya.
Jingga langsung mendorong tubuh si gadis iblis lalu duduk di kursi tidak jauh dari dipan kayu.
"Maafkan aku Nona, aku sudah memiliki seorang istri yang sempurna" ucap Jingga sambil menenggak arak.
"Ha ha ha, sejak kapan ada iblis yang setia? Aku baru mendengarnya darimu saja" kekeh Huo Nuhai merasa lucu.
"Iblis mungkin menikahi satu wanita saja, namun ia bisa bercinta dengan siapa pun yang ia mau. Bukan hal aneh di alam iblis ini, bahkan di alam fana dan alam dewa pun demikian. Kenapa kau menabukannya sendiri? Dasar iblis aneh!" Imbuh Huo Nuhai merasa heran.
Jingga tersenyum simpul mendengarnya, sambil terus menenggak arak ia merasa menjadi iblis yang istimewa.
"Itulah istimewanya diriku, aku menjadi satu-satunya iblis di alam semesta yang setia pada satu wanita ha ha" kilah Jingga menanggapinya.
Huo Nuhai seenaknya saja duduk di pangkuan Jingga dengan kedua tangannya kembali melingkar di leher Jingga.
Jingga tidak bisa mengelak dari ucapan Huo Nuhai, ia tampak sedikit gugup mendengarnya.
"Kau tidak perlu bereaksi seperti manusia alam fana, munafik sudah menjadi tabiat bagi kita bangsa iblis" imbuh Huo Nuhai mulai menciumi wajah Jingga.
Jingga mencengkeram wajah Huo Nuhai lalu mendorongnya untuk menjauhi wajahnya.
"Dasar iblis betina, sebaiknya kau ceritakan kepadaku tentang kota ini, mungkin ada sesuatu yang menarik perhatianku" pinta Jingga.
Huo Nuhai terdiam menatapnya, ia memikirkan sesuatu untuk menjeratnya.
"Aku akan menceritakannya asal kau mau bercinta denganku" ucap Huo Nuhai mulai melancarkan perangkap.
"Kau lupa kalau diriku pun seorang iblis, aku lebih baik membunuhmu daripada harus melakukannya" tanggap Jingga mengetahui akal bulus gadis yang mendudukinya.
Huo Nuhai tidak menyerah begitu saja, dengan sihirnya ia melepas semua kain di tubuhnya.
Melihatnya, Jingga hanya menyeringai tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Ia langsung mengikat tubuh Huo Nuhai dengan rantai iblis lalu menariknya ke dipan.
__ADS_1
"Ha ha ha, aku suka dikasari seperti ini, kau sungguh membuatku semakin terpesona padamu" celetuk Huo Nuhai salah sangka.
Jingga mengerutkan kening mendengarnya, ia langsung memanggil iblis monsternya.
"Hallo Kakak, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Jirex dengan senyumannya yang aneh.
"Lakukan seperti yang pernah kau lakukan pada Feichang" jawab Jingga sambil melirik seorang gadis yang terikat di dipan.
Jirex langsung berbalik melihatnya, ia kemudian duduk di sisi dipan.
"Hei, aku walaupun iblis masih normal ya, kenapa kau meminta gadis aneh ini untuk melakukannya?" Tanya Huo Nuhai tidak menyukainya.
Jingga kembali duduk di kursinya, ia menenggak araknya sambil menonton gadis monsternya melakukan tugasnya.
Huo Nuhai menatap heran pada gadis yang terus memperhatikan kakinya. Jirex langsung menggigit kaki Huo Nuhai.
"Aah!" Jerit Huo Nuhai merasakan sakit di kakinya.
Jirex dengan santainya menggerogoti kaki Huo Nuhai tanpa peduli dengan jeritan Huo Nuhai yang terus meronta-ronta untuk melepaskan diri.
"Jirex, cukup!" Pinta Jingga.
Jirex langsung menelan apa yang ia kunyah lalu menoleh ke arah Jingga.
"Nona, apa sekarang kau mau menceritakannya kepadaku?" Tanya Jingga.
Huo Nuhai terus saja meringis kesakitan, ia langsung menatap Jingga dengan begitu geram.
"Kenapa kau menyakitiku seperti ini? Apa salahku padamu?" Protes Huo Nuhai yang diperlakukan kejam oleh Jingga dan gadis monsternya.
"Karena kau menolak bercerita, sekarang apa kau masih tidak ingin menceritakannya atau tubuhmu habis dimakan oleh gadisku?" Jawab Jingga memberikannya pilihan.
Huo Nuhai tentu akan memilih untuk bercerita daripada harus merasakan penderitaan digerogoti oleh gadis yang masih duduk di dekatnya.
"Iya, aku akan bercerita. Tapi kau harus menyembuhkan kaki kananku dulu" pinta Huo Nuhai.
"Maaf Nona, tapi aku tidak bisa menyembuhkannya" timpal Jingga.
Huo Nuhai langsung menangis meratapi nasibnya, Jingga yang melihatnya sedikit merasakan iba.
"Baiklah, katakan kepadaku di mana pasar iblis yang menjual tubuh gadis, kau bisa mengganti tubuhmu" sambung Jingga ingin membantunya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menukarnya hanya karena kakiku hilang sebelah, kau carikan saja aku kaki seorang gadis iblis. Disetiap kamar ada gadis yang bisa kau bunuh. Aku bisa memakai kakinya" balas Huo Nuhai.
"Kejam sekali dirimu, Nona. Tapi baiklah aku akan membawakannya untukmu" ucap Jingga lalu keluar kamarnya.