
Keduanya lalu memasuki sebuah penginapan yang pernah Jingga tempati bersama Du Dung, suasananya terlihat begitu mencekam, semua orang menyembunyikan diri karena khawatir akan kelompok aliran hitam menculiknya lalu dijadikan ajang pelatihan murid-murid aliran hitam dalam membunuh.
Jingga yang bisa merasakan ketakutan penduduk kota hanya tersenyum saja sambil terus memukul meja dengan jarinya yang membuat seseorang dengan terpaksa keluar menghampirinya.
"Maaf Tuan dan Nona, kami sudah tidak beroperasi lagi, silakan kalian mencari penginapan lain" ujar pelayan itu lalu berbalik pergi, namun kedua kakinya tidak bisa ia gerakan sama sekali, pelayan itu begitu ketakutan sampai ia mengompol yang membuat Bai Niu langsung menjauhinya karena bau yang menyengat.
Jingga memutar badan si pelayan, wajahnya terlihat begitu pucat dan berkeringat seperti orang habis berlari dikejar kucing yang berkokok.
"Kau tidak perlu takut, kami bukan bagian dari mereka, kami akan membantu warga kota untuk kembali melanjutkan kegiatan dengan normal seperti dulu lagi, sekarang bisakah kau menyediakan dua kamar untuk kami?" Ucap Jingga memberitahunya.
"Satu kamar" potong Bai Niu tidak ingin terpisah dari Jingga.
Jingga melirik ke arahnya lalu berkata,
"Kau ini sudah besar, apa kau ingin aku tersiksa dengan keberadaanmu?" Tanyanya.
"Kenapa harus tersiksa, kalau Kakak mau, aku tidak akan menolaknya" jawab Bai Niu membuat Jingga hanya mendengus kesal kepadanya.
"Tuan, bisakah kau melepaskanku, aku akan menyiapkan kamar untuk kalian" potong pelayan yang terbujur kaku tidak bisa menggerakkan badannya.
Jingga langsung menjentikkan jarinya, melepaskan belenggu yang mengikat pelayan tanpa menolehnya.
Jingga dan Bai Niu saling tatap tanpa bicara selama beberapa waktu.
"Tuan dan Nona, kamarnya sudah siap, kalian tidak perlu membayarnya" ucap pelayan yang langsung meletakkan kunci kamar di dekat keduanya lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.
Jingga langsung mengambilnya dan naik ke lantai dua penginapan diikuti oleh Bai Niu di belakangnya.
"Sejak kapan kau menjadi seperti itu?" Tanya Jingga mencurigainya.
"Apa maksud Kakak?"
"Tadi itu, kenapa kau mengatakan begitu?"
"Oh itu, sejak aku memutuskan untuk mengikuti kakak sampai aku mati"
"Lalu kenapa kau begitu ketakutan ketika aku menawarkan memainkan permainan di istana kekaisaran Fei?"
"Itu karena aku masih mengingat perlakuan klan Chu kepadaku, aku masih takut akan hal itu"
"Jadi sekarang kau sudah tidak takut lagi, hem baiklah, tutup matamu"
"Tidak, sekarang aku mau" ucapnya mengakhiri debat kusir.
__ADS_1
Bai Niu langsung menutup kedua matanya, ia terlihat begitu gugup pada apa yang akan dilakukan Jingga kepadanya.
Jingga mengusap wajahnya, membuat Bai Niu langsung tertidur seketika, lalu Jingga memasukkannya ke dalam dimensi alam jiwanya.
"Huh! Sekarang aman, aku bisa makan besar" dengusnya lalu berbaring menunggu makanannya datang.
Tak lama Jingga merasakan aura yang begitu menekan di luar penginapan.
"Hem yummy" ucapnya lalu menghilang dari kamar.
"Hei, aku di sini" teriak Jingga berhasil membuat ratusan orang berpakaian serba hitam dengan tudung bambu yang mengarah ke gerbang kota menghentikan langkahnya lalu berbalik melihatnya.
"Kalian mengecewakanku, tidak ada satu pun di antara kalian yang berada di ranah Master Perunggu ke atas tapi kalian yang berada di ranah Ahli emas cukup untuk mengenyangkanku" ucap Jingga setelah memindai semuanya.
"Apa maksud ucapan orang aneh itu?" Tanya salah satu pendekar tidak memahaminya.
"Entahlah, mungkin dia gila" jawab temannya juga tidak memahami.
Seorang pria yang terlihat sebagai pemimpin kelompok bertudung berbalik ke arah pasukannya lalu menggerakkan tangannya membentuk pola, sepuluh orang melompat dengan memancarkan auranya untuk mengintimidasi Jingga yang berdiri menyilangkan kedua tangannya memperhatikan ratusan orang yang terlihat selalu mengangguk kepada pemimpinnya.
Entah kapan Jingga bergerak, sepuluh orang yang berjalan mendekatinya langsung ambruk dengan tubuh yang mengering seperti ikan asin.
"Ini tidak seru, kenapa mereka tidak mau menyerangku secara bersamaan?" Gumam Jingga begitu kecewa.
Ratusan orang yang melihat kesepuluh kawannya mati tanpa tahu sebabnya hanya membelalakkan matanya tidak percaya apa yang terjadi.
"Sialan! Bagaimana bisa, aku bahkan tidak merasakan pemuda itu bergerak dari tempatnya" gumamnya mulai merasakan kesal dipermainkan oleh Jingga, ia kemudian mengangkat satu tangannya memberikan instruksi kepada semua pasukannya untuk menyerang.
Jingga menyeringai menatap semuanya,
"Jianhuimie Yuzhou, waktunya beraksi" ucapnya lalu keluar sebuah pedang dari keningnya.
Buzz!
Aura iblis langsung mengintimidasi semuanya, mereka semua tersentak dengan tekanan aura iblis yang langsung meruntuhkan mental mereka.
"A- aura macam apa ini, kenapa begitu mengerikan?" kata batin semua orang begitu ketakutan menatap pemuda yang masih berdiri diam dengan pedang yang terlihat aneh tergenggam di tangan kanan pemuda yang dilihatnya.
"Kenapa kalian diam?, Ayolah buat pertarungan kita menjadi seru" tanya Jingga terlihat keheranan.
Jingga lalu menghentikan tekanan auranya, hal itu membuat semua orang merasakan lega lalu mengeluarkan senjatanya masing-masing.
"Baiklah kalau kalian tidak ingin maju menyerangku, aku yang akan menyerang kalian" ucapnya lalu berkelebat menebas semua pasukan bertudung.
__ADS_1
Sreet!
Sreet!
Sreet!
Hanya beberapa tarikan napas, Jingga berhasil membantai lebih dari dua ratus pasukan bertudung tanpa adanya perlawanan, ia kemudian menarik semua jiwa pasukan berkerudung yang melayang meninggalkan tubuh ke dalam mulutnya.
"Euh!"
Suara dari mulutnya bersendawa menikmati jiwa kultivator yang dimakannya.
Seorang kultivator terlihat menggigil dalam posisi berlutut memperhatikan Jingga yang begitu mengerikan.
"Dia i- iblis" gumamnya pelan.
Jingga lalu menghampirinya dengan senyum mengambang di bibirnya.
"Hei, kau tahu kenapa aku tidak membunuhmu?" Tanya Jingga.
Pria itu hanya menggelengkan kepala menjawabnya.
"Aku ingin kau meningkatkan ranah kultivasimu dan membalaskan dendam kematian kawan-kawanmu, aku akan menunggumu" ujar Jingga memberitahunya.
"Oh iya, satu hal lagi, kau tidak boleh melakukan kejahatan di kota De Shenshi lagi atau kau akan bernasib sama seperti temanmu" imbuh Jingga mengingatkannya.
Kultivator itu berdiri lalu berlari menjauhinya, Jingga kembali menarik tubuhnya.
"Tuan, apa lagi?" Tanya kultivator itu begitu takut.
Jingga melemparkan sebuah inti jiwa beast monster dari cincin spasialnya.
"Gunakanlah untuk meningkatkan kultivasimu, ingatlah aku akan selalu menunggumu membalaskan dendam" jawab Jingga lalu menghilang.
Kultivator itu begitu keheranan dengan apa yang diberikan Jingga kepadanya.
"Bagaimana mungkin seorang musuh meminta musuhnya untuk meningkatkan kultivasinya dan memberikan sumberdaya tingkat tinggi kepadanya, dasar iblis" gumamnya lalu menutup mulutnya rapat-rapat karena takut pemuda yang dihadapinya kembali.
Di dalam kamar, Jingga menarik kembali Bai Niu yang masih tertidur di alam Jiwanya.
"Sepertinya aku punya ide bagus" pikirnya setelah melihat Bai Niu yang masih terlelap.
Jingga membuka pakaian atasnya sendiri lalu dengan memalingkan muka, ia menyingkap sedikit gaun yang dikenakan Bai Niu lalu berpura-pura tidur di sampingnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Bai Niu terbangun, ia melihat pakaiannya tersingkap lalu melirik Jingga yang tidak mengenakan pakaian atasnya, Bai Niu tersenyum lalu kembali tidur memeluk Jingga.
"Sial! Aku kira dia akan memarahiku" pikir Jingga kemudian tertidur dalam kekesalannya.