
Jingga langsung merubah dirinya menjadi bayangan lalu ia berjalan cepat menyusul ketiga pemuda yang disinyalir murid dari sebuah sekte.
"Sepertinya pemuda tampan itu cocok untukku pinjam tubuhnya," pikirnya setelah memilih di antara ketiganya.
Ia lalu memindai ingatan pemuda yang akan dijadikannya sebagai inang dirinya bersemayam. Akan tetapi, belum sempat ia mengambil alih tubub si pemuda. Ingatan akan keselamatan saudaranya di alam fana membuat dirinya harus mengurungkan niat.
"Sialan! Aku harus bergegas pergi dari sini." Gerutunya.
Jingga lalu menampakkan diri di belakang ketiga pemuda yang mulai merasakan keberadaan dirinya.
Ketiganya pun dengan sigap langsung berbalik melihatnya.
"Hei! Siapa kau?" tanya pemuda berbadan kurus menatapnya penuh selidik.
"Aku hanya seorang pengembara. Katakan padaku, apakah aku berada di alam dewa?" jawab Jingga diakhiri tanya.
"Ha-ha-ha. Apa kau memang bodoh atau pura-pura bodoh?" kelakar pemuda berbadan tambun mencemoohnya.
"Jawab saja!" imbuh Jingga tidak ingin buang-buang waktu.
"Cih! Kau memang benar-benar bodoh. Pergi saja, tanya ibumu," balas pemuda kurus tidak memedulikan pertanyaan Jingga.
Ia lalu mengajak kedua temannya berbalik pergi meninggalkan Jingga sendiri.
"Apa kalian pikir bisa pergi begitu saja?" kata Jingga dengan nada mengancam.
Ketiga pemuda yang mendengarnya langsung berbalik kembali dengan sorot mata yang mulai dipenuhi amarah.
"Apa kau mengancam kami? Ha-ha-ha. Sungguh, tidak tahu diri. Sudah kami berikan kau kesempatan untuk pergi ... sekarang malah berani mengancam kami," ujar pemuda kurus dengan seringainya yang merendahkan.
Duar!
Tiba-tiba saja pemuda berbadan kurus meledak dengan sendirinya. Pemuda tampan dan si gendut langsung terbelalak tidak percaya melihatnya. Bercak darah dan tetelan daging temannya melumuri pakaian keduanya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Jingga yang terlihat masih sabar menunggu jawaban.
Kedua pemuda saling melirik satu sama lain lalu memandangi Jingga dengan perasaan takut.
"Be ... benarkah kau yang melakukannya?" tanya pemuda tambun masih sulit mempercayainya.
"Apa kalian melihatku yang melakukannya?" Jingga balik bertanya.
Keduanya mengangkat pundak tidak mengetahuinya.
"Kenapa diam?"
Deg!
Keduanya mulai menggigil, entah karena takut atau tidak tahu harus berkata apa. Jingga menyeringai dingin melihatnya.
__ADS_1
"Baiklah, ucapkan selamat tinggal pada alam semesta."
"Tunggu!" Lengking suara pemuda tambun dengan cepat meminta Jingga untuk tidak membunuh keduanya.
"I ... ini memang alam dewa." Imbuhnya cepat.
"Ha-ha-ha. Terima kasih, Gendut." Kekeh Jingga lalu menghilang dari pandangan keduanya.
Si tambun dan si tampan langsung terduduk lemas.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya pemuda tambun lalu mengempaskan napas lega.
"Sudahlah! Yang penting kita selamat." Ujar pemuda tampan yang terengah-engah merasakan sesak di dadanya.
Jingga yang melesak terbang kembali memasuki portal lintas alam. Kali ini ia tidak mempercepat laju terbangnya. Beberapa waktu kemudian, ia pun sampai di alam fana. Tepatnya berada di atas gunung Lanhua yang terlihat mengalami kerusakan parah.
"Kenapa bisa semengerikan ini kerusakannya?" gumam Jingga terus memperhatikan sekitarnya.
Ia lalu melaju cepat ke kota Lintang, tepatnya ke hutan Bambu Merah di bawah kaki gunung Juami, tempat kediaman kedua orang tuanya, Zhen Lie dan Luo Xiang.
Hanya beberapa tarikan napas, Jingga sudah sampai di atas gunung Juanmi. Kondisi yang sama terjadi pula di hutan Bambu Merah yang mengalami kerusakan parah. Tidak lagi terlihat rimbunnya hutan bambu seperti yang terakhir ia kunjungi. Sekarang berubah menjadi lahan tandus yang dipenuhi tanah hitam seperti habis terbakar. Untungnya bangunan kediaman kedua orang tuanya masih kokoh berdiri. Jingga lalu memindai isinya. Namun tidak terlihat olehnya keberadaan kedua orang tuanya.
"Di mana, ayah dan ibuku?"
Jingga terus mengedarkan pandangannya ke seluruh area di sekitarnya. Tidak ditemukan adanya kehidupan baik manusia maupun hewan apa pun sejauh matanya memandang.
"Aku harus melihat kondisi kota Lintang, sekarang."
Ia melaju cepat ke arah kota. Kedua matanya melebar menyaksikan hancurnya kota yang dulu menjadi salah satu kota termegah.
"Maafkan aku," lirihnya merasakan sesal.
Jingga memindai energi kehidupan yang mungkin masih ada di sekitaran kota. Apa yang diharapkannya pun terkabul. Jingga merasakan adanya kehidupan di sebuah bangunan besar yang bagian atapnya tampak rusak sebagian.
"Syukur, masih banyak yang selamat." Ia lalu melesak cepat menghampirinya.
Tap, tap!
"Ayah! Ibu!" pekik Jingga memanggil kedua orang tuanya yang tengah sibuk membantu warga kota.
Keduanya bersama warga kota langsung menoleh ke arah pemuda yang berdiri di ambang pintu.
"Jingga!" balas Luo Xiang langsung berlari memeluk Jingga.
Luo Xiang menciumi wajah Jingga meluapkan kerinduan pada putranya tersebut.
"Ibu pikir tidak akan pernah melihatmu lagi. Terima kasih sudah menemui ibu," ungkap Luo Xiang begitu merindukannya.
Genangan air mata yang tertahan pun tumpah begitu deras membasahi pipi merah wanita paruh baya yang meluapkan kerinduannya. Jingga semakin erat memeluk ibunya, membiarkannya menumpahkan kerinduan di antara keduanya.
"Jingga," suara parau seorang pria paruh baya menyebutkan namanya lalu memeluk keduanya.
__ADS_1
Pemandangan hangat dari ketiganya membuat para warga menjadi haru. Namun sebagian dari mereka terlihat iri karena tidak semuanya dapat berkumpul kembali dengan keluarganya secara utuh.
"Ayah, bolehkah aku berbincang dengan ibuku?" pinta Jingga.
"Boleh, tapi kalian jangan terlalu jauh dari kota. Kondisi alam sangat sulit ditebak." Ujar Zhen Lie mengingatkannya.
"Baik, Ayah. Aku akan menjaga Ibu dengan nyawaku." Timpal Jingga meyakinkan ayahnya.
Zhen Lie mengangguk mempercayai perkataan anaknya. Jingga lalu menghilang membawa Luo Xiang meninggalkan bangunan tempat penampungan warga kota yang selamat.
Jingga membawa ibunya ke rumah di hutan Bambu Merah. Keduanya duduk di pelataran rumah yang syukurnya masih utuh tanpa mengalami kerusakan. Luo Xiang menolehnya, tampak sorot matanya begitu teduh memandangi wajah Jingga yang masih sama dari pertama kali ia melihatnya. Kebahagiaan terpancar jelas dari tatapannya.
"Jingga, di mana kedua adikmu berada?" tanya Luo Xiang merindukan kedua putrinya.
Jingga tersenyum membalasnya, ia lalu menghubungi Xian Hou di ikatan hatinya.
"Sayang," panggilnya.
"Mau apalagi?" balas Xian Hou ketus.
"Aku sedang bersama Ibu,"
"Betulkah? Jangan bohong!"
"Iya,"
"Ya sudah, ke sini saja. Aku rindu." Sambung Xian Hou meminta Jingga memasuki alam peri.
"Ibu, tunggu sebentar!" kata Jingga dengan lembut.
Luo Xiang tersenyum mengangguk. Jingga lalu menghilang meninggalkannya.
Baru saja Jingga memasuki alam peri, dua gadis langsung meluruh memeluknya.
"Kak, mengapa Ibu tidak dibawa ke sini?" tanya Bai Niu tiba-tiba.
Jingga cengengesan merasa bodoh sendiri, lalu berkata,
"Oh, iya. Harusnya Ibu yang aku bawa ... eh, tidak salah juga sih. Mungkin kehadiran kalian bisa membantu Ibu di alam fana."
Bai Niu dan Qianmei mengerutkan kening mendengarnya.
"Kak, ada apa?" giliran Qianmei yang bertanya.
"Panjang ceritanya, sekarang bersiaplah!"
"Aku tidak diajak!" celetuk Xian Hou berjalan menghampirinya.
"Tapi, Ibu tidak menanyakanmu." Balas Jingga sekenanya.
"Ja ... jadi aku sudah tidak dianggap anak menantu sama Ibu ..., hiks!"
__ADS_1
"Bukan begitu, Sayang. Tadi Ibu baru menyebut Niu'er dan Mei'er, aku langsung memotongnya." Sanggah Jingga menenangkan hati istrinya.