
Sudah tiga hari berlalu, kedua pemuda yang mewakili sekte Hiu Purba terus berjalan tanpa adanya obrolan apa pun bahkan ketika harus berhenti atau mencari sebuah kedai keduanya hanya menggunakan isyarat tubuh.
Tepat berada di sebuah gerbang kota bernama De ShenShi atau biasa disebut dengan Kota Batu Dewa Bumi oleh penduduk kota, Jingga dan Du Dung memasuki antrian panjang pemeriksaan penjaga gerbang kota.
"Apa kau tahu dari sekte mana saja mereka semua?" Tanya Jingga memperhatikan antrian panjang di depannya yang nampak terdapat tiga warna pakaian berbeda secara berkelompok.
"Akhirnya kau bicara juga, harusnya aku yang tidak bicara padamu" ujar Du Dung mengabaikan pertanyaan.
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan" ketus Jingga yang membuat Du Dung kembali terbawa emosi.
"Tak bisakah kau sedikit lembut padaku?" Tanya Du Dung masih menahan sabar.
"Apa kau pikir aku lelaki tidak normal?" Jingga balik bertanya.
Keduanya terus mendebatkan hal remeh yang membuat orang lain yang mengantri di belakangnya geram.
"Hei, kalian berdua, diamlah atau pindah ke belakang, kami jengah mendengar ocehan tidak penting kalian" teriak seseorang dari kejauhan yang memicu kegaduhan di sekitarnya.
Penjaga gerbang yang mendengar keributan di antrian belakang langsung berteriak keras mengancamnya.
"Semua yang mengantri di belakang tidak akan kami izinkan masuk kalau masih ribut"
Seketika suasana kembali hening, bahkan yang sedang mengobrol pun terpaksa menghentikan obrolannya.
Setelah beberapa lama menunggu, tiba juga bagian Du Dung dan Jingga yang menyerahkan token identitas.
Penjaga gerbang memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah merasa ragu dengan identitasnya.
"Kau tidak diizinkan masuk, silakan kembali" ucap penjaga gerbang tidak mau mengambil resiko.
"Aku yang menjaminnya, karena aku yang membawanya" potong Du Dung berusaha meyakinkan penjaga.
Tidak ingin terjadi perdebatan panjang akan menghambat antrian, penjaga gerbang menyetujuinya.
"Baiklah, lekas masuk, masih banyak yang mengantri" timpal penjaga mengizinkannya.
"Sialan! Selalu saja harus seperti ini" keluh Jingga merasa muak karena selalu dibedakan.
__ADS_1
"Sudahlah jangan menggerutu begitu, perjalanan kita masih panjang, sebaiknya kita mencari penginapan, aku sudah tidak tahan ingin membersihkan badan" ujar Du Dung lalu berjalan mendahuluinya.
"Sepertinya penginapan ini sangat bagus, lihatlah restorannya saja begitu ramai" ujar Du Dung langsung memasukinya.
"Tunggu! Menurutku penginapan ini sangat mahal, apa kau memiliki cukup uang untuk membayarnya?" Tanya Jingga menyampaikan pendapat.
"Kau tenang saja, aku yang akan membayar semuanya, percayalah" jawab Du Dung langsung masuk ke dalam penginapan diikuti Jingga di belakangnya.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu untuk tuan berdua?" Sambut petugas penginapan menawarkan.
"Kami ingin menginap di sini" jawab Du Dung.
"Mohon maaf tuan, kamar kami sudah penuh, kalau hanya untuk makan dan minum, masih ada meja kosong di lantai atas" timpal petugas menginformasikannya.
"Apakah lima puluh keping emas cukup untuk kami menginap semalam?" Tanya Du Dung langsung memberikannya sekantong koin dari cincin spasialnya.
"Cukup tuan, mari saya sendiri yang akan mengantar tuan" jawab petugas lalu mengantar kedua tamunya menuju kamar penginapan.
Jingga yang dari tadi melihatnya merasa heran sambil mengusap dagunya yang belum ditumbuhi jenggot mengikuti keduanya dari belakang.
Keduanya lalu membaringkan badan setelah tiga hari keduanya melakukan perjalanan.
"Hahaha, aku bahkan sudah dua tingkat di atasnya" jawab Du Dung dengan bangga.
"Berarti kau sekarang berada di ranah Ahli, pantas saja kau begitu yakin mengikuti turnamen" timpal Jingga lalu tidur.
"Ya begitulah, tapi ayahku memintaku menekan tingkat kultivasiku ke ranah pendekar" sambung Du Dung yang langsung menggelengkan kepala melihat temannya sudah terlelap.
"Cepat sekali kau tidur" gumamnya lalu menyusulnya tidur.
Malam harinya Du Dung terbangun karena lapar, dilihatnya Jingga yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Bangunkan atau tinggalkan?" Tanya pikirnya masih ragu.
"Bukankah dia tidak makan, percuma juga aku membangunkannya" gumamnya lalu pergi meninggalkannya.
Jingga yang terlihat nyenyak dalam tidurnya, tidak demikian dengan jiwanya yang berada di suatu tempat yaitu dimensi alam jiwa.
__ADS_1
Di ruang kegelapan yang sangat panas menggerogoti jiwa, Jingga terus berusaha menahannya karena kekuatan iblis milik Jingga masih pasif.
"Dimana aku?, Alam macam apa ini?, Kenapa begitu sangat panas?" Rentetan pertanyaan dilontarkannya di tempat yang ia belum mengetahuinya.
Jingga terus berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu arah, sulit baginya berjalan dalam kegelapan yang sangat pekat.
"Hahaha akhirnya kau datang juga ke alam jiwamu, itu berarti sebentar lagi kekuatanku akan bangkit" ujar raja iblis kuno begitu senang waktunya akan tiba.
"Hah! Ternyata kau monster jelek, katakan dimana aku sekarang dan katakan bagaimana aku keluar dari sini?" Tanya Jingga merasa tenang karena kehadiran Yuangu Mowang di alam jiwa bersamanya.
"Dasar makhluk kecil bodoh!" Bentak Yuangu Mowang.
"Aku sudah katakan kau berada di alam jiwamu dan untuk keluar kau tinggal memadukan alam jiwa dengan alam nyata melalui pikiranmu saja makhluk kecil bodoh, vice versa" imbuhnya menjelaskan.
"Oh begitu, lalu sejak kapan aku memiliki alam jiwa?, Dan kau, bagaimana kau bisa berada di sini? Bukankah kau terbelenggu selama ini?" Kembali Jingga menanyakan.
"Sejak kau menjadi iblis hahaha, jiwaku memang terbelenggu, namun kekuatanku masih ada bersamaku, aku bisa berada di alam jiwamu karena semua yang ada pada dirimu adalah diriku hahaha" jawab raja iblis kuno menjelaskannya.
"Kenapa kau tidak bertanya kenapa aku menemuimu makhluk kecil bodoh?" Balik tanya raja iblis kuno.
"Apakah itu penting ditanyakan padamu monster jelek?" Tanya balik Jingga lemparkan.
"Hahaha aku senang bicaramu perlahan seperti bangsa iblis, kau harus selalu angkuh hahaha, sekarang kau harus tahu, ketika tiba waktunya, kita tidak akan bertemu lagi, aku akan musnah dengan sendirinya, sebagai permulaan kau harus banyak menyerap jiwa para kultivator, semakin tinggi ranah kultivasinya kau akan semakin kuat dan kenyang, itulah makananmu hahahaha" jawab raja iblis kuno.
"Hah! Makananku jiwa kultivator, haha aku tidak akan pernah melakukannya, kalau kau musnah, musnah sajalah, itu urusanmu hahahaha" balas Jingga menolaknya untuk menyerap jiwa para kultivator.
Raja iblis kuno Yuangu Mowang tertawa mendengarnya.
"Hahaha kau boleh tidak menyerap jiwa kultivator, namun kau akan menjadi iblis haus darah, ketika itu terjadi, setiap makhluk yang berjiwa akan kau musnahkan tanpa terkecuali hahahaha" ucap raja iblis kuno kembali menjelaskannya.
"Kau!" Geram Jingga merasakan dilema dan begitu menyesal telah terbujuk rayuan iblis ketika dirinya masih kecil dahulu.
"Satu lagi yang harus aku sampaikan kepadamu, pedang Jianhuimie Yuzhou yaitu pedang penghancur semesta milikku tertanam di kerak gunung Lanhua di alam fana, dengan menggunakannya, kekuatanmu akan sempurna, maka jemputlah olehmu, tidak akan ada satu orang pun yang akan mampu menggunakannya, pedang itu adalah bagian dari tubuhmu hahahahaha" imbuh raja iblis kuno Yuangu Mowang lalu menghilang.
Jingga terduduk tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh raja iblis kuno kepadanya.
"Kenapa, kenapa harus aku?" teriaknya menyesali diri.
__ADS_1
Dibalik kecemasan akan terjadinya kekacauan di tiga alam semesta, ada satu hal yang akan menjadi benteng kokoh yang raja iblis kuno Yuangu Mowang melupakannya yaitu hati Jingga yang selalu terlindungi.