Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pertarungan Di Hutan Hantu


__ADS_3

Jingga memindai area ilalang tempat di mana lokasi hutan hantu berada.


"Pantas saja perisai itu terasa familiar denganku, ternyata dari energi iblis yang sama denganku" gumam Jingga langsung melesat turun menembus perisai iblis tak kasat mata yang menutupi seluruh area hutan hantu.


Tampak suasana hutan yang begitu lembab masih diingatnya, Jingga bahkan menemukan kembali tanda yang pernah dibuatnya pada goresan di batang pohon hasil kreasi tangan kecilnya waktu dulu.


"Tuan, hutan apa ini?" Tanya Jirex ingin tahu.


"Ini namanya hutan hantu, di hutan ini banyak roh dari kultivator yang tidak bereinkarnasi" jawab Jingga menjelaskan.


Jirex hanya mengangguk saja mendengarnya, beberapa saat kemudian kedua mata Jirex berubah merah gelap menatap seekor beast monster di kejauhan.


Jingga menggerakkan matanya mengizinkan Jirex menyerang beast monster.


Wuzz!


Jirex melesat cepat menyerang beast naga hitam yang langsung terpelanting jauh menabrak pepohonan.


Dhuar! Dhuar!


Pohon-pohon hancur terkena hantaman tubuh beast naga yang bertubuh besar dan panjang.


Raungan keras dari beast naga hitam terdengar sedang memanggil beast monster lainnya.


Tak lama gemuruh terdengar dari kejauhan menghampiri beast naga hitam yang kembali bangkit.


"Gadis pintar" puji Jingga melihat Jirex yang sengaja tidak langsung membunuh beast naga.


Sorot mata Jingga berbinar melihat pertarungan Jirex yang akan berlangsung sebentar lagi. Ia langsung berkelebat mencari tempat yang nyaman untuk menyaksikannya.


"Ha ha ha, bukan hanya beast naga saja yang berdatangan. Bangsa iblis pun tertarik menyaksikannya, sungguh sambutan yang meriah" gumam Jingga begitu senang setelah menyadari keberadaan bangsa iblis tak jauh dari tempatnya.


Ia langsung berkamuflase di batang pohon sambil memperhatikan bangsa iblis yang terus berdatangan.


Jirex merubah dirinya ke wujud aslinya setelah melihat puluhan beast naga di depannya.


Tubuhnya begitu besar dengan rahang yang terus diperlihatkannya kepada beast naga alam fana.


Kaki kanannya menggaruk-garuk tanah yang diinjaknya, sorot matanya begitu tajam dengan mulutnya yang terus mengap-mengap bersiap untuk memakan mangsanya.


Puluhan beast naga tampak ketakutan melihatnya, tidak ada satu pun yang berani memulai serangan. Mereka hanya meraung-raung sambil mengibaskan ekornya.


Pun demikian dengan Jirex yang sengaja membiarkan para naga terus meraung untuk meningkatkan semangat bertarungnya.


Tak berlangsung lama, Jirex langsung melesat mengigit kepala seekor beast naga hingga hancur tercabik oleh taring tajamnya.


Dengan cepat Jirex kembali ke tempatnya dan memuntahkan kepala naga yang sudah hancur.


Puluhan beast naga lainnya terperangah menatap Jirex yang memuntahkan kepala seekor beast naga. Raungan semakin keras terdengar, lebih dari dua puluh beast naga langsung berkelebat menyerang Jirex dengan berbagai energi yang terus dilemparkan dari mulut beast naga.

__ADS_1


Dhuar! Dhuar! Dhuar!


Jirex tidak menghindarinya, ia menerjang ratusan energi yang terus menghantam tubuhnya.


Brr!


Jirex menderam menikmati hantaman energi yang membuatnya begitu semangat membantai setiap beast naga yang menyerangnya.


Benua intibumi


Ratu Kalandiva tampak keheranan mendengarkan raungan para beast naga meminta tolong di dalam jiwanya.


"Apa yang sebenarnya yang dihadapi oleh para beast naga yang begitu ketakutan melawannya?" Gumam sang ratu begitu heran.


Beberapa tetua beast naga lanhsung berdatangan ke istana, merasakan panggilan jiwa dari beast naga yang berada di benua Matahari.


"Salam hormat yang Mulia" sapa para tetua klan naga di istana.


"Sebelumnya kita tidak pernah mendapatkan panggilan jiwa dari klan kita, walau dalam kondisi terdesak sekalipun. Kita harus melihatnya langsung untuk mengetahui apa yang dihadapi para beast naga" ujar sang ratu menyampaikan.


"Yang Mulia, salah satu naga adalah putraku, dia bersama puluhan naga lainnya sedang berada di wilayah bangsa iblis. Apakah kita harus memasuki wilayahnya?" Tanya seorang tetua naga mengkhawatirkan pergesekan dengan bangsa iblis.


"Tidak masalah untuk bangsa kita, selama ini kita tidak pernah bermusuhan dengan bangsa iblis. Sebaiknya kita cepat mendatanginya" jawab sang ratu lalu membuka portal dimensi ke wilayah kekaisaran Xiao.


Para tetua beast naga yang berjumlah tujuh orang langsung memasuki portal dimensi termasuk ratu Kalandiva.


Jirex berhasil membantai puluhan beast naga yang semuanya mati tanpa kepala. Setelahnya ia langsung mengalihkan perhatiannya ke arah para iblis yang bersiap menyerangnya.


Brr!


Kembali Jirex menderam menatap para iblis yang langsung melayang di atasnya.


Ratusan bola api terus melesat menghantam tubuh Jirex yang tidak bisa membalasnya.


Jingga begitu geram melihat para iblis tidak ada yang berani turun menghadapi pertarungan jarak dekat dengan beast monsternya.


"Dasar iblis! Tahu tidak akan bisa mengalahkan Jirex dengan pertarungan langsung, mereka hanya berani menyerangnya di udara" gumam Jingga lalu menampakkan diri di udara.


Para iblis menghentikan serangannya ke arah Jirex. Semuanya menoleh ke arah pemuda yang berdiri melayang di tengah-tengah mereka.


"Halo semuanya, apa kabar?" Ucap Jingga menyapa para iblis.


Para iblis meresponnya dengan menyerang Jingga begitu brutal melemparkan bola api secara terus menerus ke arah Jingga yang langsung menghilang di tempatnya.


Jingga lalu mengalirkan api semesta ke dalam kepalan tangannya terus melesat memukul para iblis yang berputar-putar seperti gangsing mencari keberadaannya.


Wuzz! Wuzz!


Hanya suara lesatan dari tubuh Jingga dan ratusan iblis yang beterbangan yang bisa didengar dari pertarungan senyap.

__ADS_1


Jingga terus memukuli setiap iblis di dekatnya dengan begitu cepat tanpa adanya suara.


Debu-debu beterbangan dari tubuh iblis yang hancur terkena pukulannya.


Semakin lama, jumlah iblis semakin menyusut hingga menyisakan satu bilangan saja.


Tanpa berniat untuk menyisakan satu pun, Jingga langsung menghabiskannya dengan tuntas.


Ia kemudian turun ke arah Jirex yang terus menengadahkan kepala menyaksikan pertarungan tuannya.


Jirex kembali ke wujud manusianya lalu mengikuti Jingga yang berjalan ke arah danau yang pernah ia kunjungi.


"Dengan tubuh manusiamu, kau akan terus menemaniku bertualang menumpas kejahatan" ucap Jingga begitu senang dengan beast monsternya.


"Terima kasih, Tuan" jawab Jirex tanpa ekspresi.


Jingga menghentikan langkah kakinya, ia berbalik menatap Jirex yang dingin membalas tatapannya.


"Ada apa, Tuan?" Tanya Jirex.


"Aku tidak nyaman dipanggil tuan olehmu, panggil saja aku kakak seperti kedua adikku. Bagaimana?" Kata Jingga mengungkapkannya.


"Baik, Kakak" jawab Jirex.


"Satu lagi, bisakah kau tersenyum?" Tanya Jingga penasaran.


"Tersenyum itu apa Kak?" Tanya balik Jirex belum memahaminya.


Jingga langsung menunjukkannya cara tersenyum dengan melebarkan bibirnya.


Jirex hanya diam saja memperhatikan Jingga, ia tidak berekspresi sama sekali melihatnya.


"Ya sudahlah, kau memang dasarnya menakutkan" ucap Jingga lalu berbalik kembali. Lalu tiba-tiba Jingga terkejut.


"Hei, hentikan!" Kata Jingga terkejut dengan ulah Jirex yang menggigit lehernya.


Jingga kembali berbalik menatapnya, ia lalu mengusap lembut kepala Jirex karena baru mengingat hal yang belum ia lakukan kepada beast monsternya.


"Untung dari dia bayi aku hanya mengusapinya, bayangkan kalau aku menciumnya walaupun waktu bayi ia begitu imut dan lucu, sungguh mengerikan" gumam Jingga merinding membayangkannya.


Berr!


Deram Jirex mendengar gumaman pelan Jingga.


Keduanya melanjutkan langkah ke arah danau dengan berjalan santai sambil berbincang.


Berbeda dengan kedua adiknya yang banyak bertanya, Jirex hanya bisa menjawab tanpa banyak bertanya, walaupun sesekali ia akan bertanya pada hal yang ia tidak memahaminya.


Begitulah Jirex sang gadis monster Tyranosaurus.

__ADS_1


__ADS_2