
Putri Qianmei tersenyum padanya, Jingga menjadi semakin serba salah menyikapinya, namun karena tidak ingin harga dirinya jatuh oleh kecantikan sang Putri, Jingga selonong masuk lalu menangkubkan badannya ke dipan membelakangi ketiganya.
"Kakak jelek, tidak punya sopan santun" ketus Bai Niu melihat Jingga tanpa basa-basi langsung menangkubkan badannya ke dipan.
Seketika Jingga langsung tertidur pulas dengan menutup kedua telinganya tidak mau mendengarkan celotehan Bai Niu yang seperti kaleng jatuh.
"Maafkan kakakku ya" ucap Bai Niu kepada keduanya.
Pangeran Qianfan dan Putri Qianmei hanya tersenyum menanggapinya.
Malam harinya Jingga terbangun, matanya melirik ke kanan ke kiri namun tidak ada satu pun orang di kamar.
"Malas sekali aku bangun" rutuknya sambil mengucek matanya.
Jingga teringat akan klan bangsawan lain yang belum ia selesaikan membuat kedua matanya langsung berbinar.
"Baiklah, tinggal sedikit langkah lagi aku bisa membuat kekaisaran Fei kembali damai" gumamnya lalu menghilang pergi.
Jingga berada tidak jauh dari bekas kediaman klan Ming, ia memperhatikan sekelompok kultivator bayangan dari kota De Shenshi sedang mengendap memasuki kediaman klan Lin.
Dengan kemampuannya merubah diri menjadi bayangan, Jingga mengikuti para kultivator menjalankan aksinya.
Aksi para kultivator bayangan begitu senyap dan rapi, mereka membunuh anggota klan Lin nyaris tanpa suara, rata-rata para kultivator bayangan membunuh korbannya dengan memasukkan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau.
Efeknya sangat mengerikan, semua yang menghirupnya langsung menghembuskan napas terakhirnya.
"Kejam sekali kalian ini, tapi aku menyukainya" gumam Jingga memperhatikan aksi kultivator bayangan beraksi.
Berada di suatu pohon besar, puluhan kultivator bayangan berkumpul setelah menjalankan aksinya.
"Apakah semuanya telah selesai?" Tanya seorang tetua yang langsung membuka topengnya.
"Sudah selesai, Guru" jawab dari pemimpin aksi secara bergilir kepada tetua yang disebutnya guru.
"Bagus, ternyata kita tidak harus memakan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan semuanya, itulah pentingnya memiliki perencanaan yang matang. Sekarang tugas kita telah selesai, kalian bisa kembali ke kota De Shenshi, aku akan melaporkannya ke tuan muda Chun Chou" sambung tetua dengan tersenyum puas.
Puluhan kultivator bayangan langsung berkelebat seperti ninja menghilang dalam kegelapan malam.
Jingga mengikuti tetua yang juga berkelebat ke arah kediaman klan Chun.
"Dengan senyap, tetua kultivator bayangan mendatangi Chun Chou yang sedang menenggak arak di sebuah taman kecil di belakang kediamannya.
"Kau datang juga, bagaimana tugasmu?" Tanya Chun Chao terlihat sedang mabuk.
__ADS_1
"Tugas telah selesai, tuan muda bisa mendengar kegemparan esok hari" jawab tetua menjulurkan tangannya meminta upah.
"Ha ha ha bagus, sekarang pergilah" timpal Chun Chou langsung melemparkan cincin spasial kepadanya.
Setelah memeriksa isinya, tetua kultivator bayangan terlihat begitu puas dengan senyumannya yang mengambang.
Jingga membiarkannya pergi, targetnya adalah membantai seluruh anggota klan Chun.
"Kau harus belajar kepadaku cara minum arak tanpa harus mabuk" ucap Jingga yang membuat Chun Chao langsung memperhatikannya.
"Ha ha ha, anak muda, kau jangan membual" balas Chun Chao acuh kepadanya.
Jingga langsung menarik dirinya lalu menghisap jiwanya dan membakar tubuhnya.
"Sepat sekali rasa jiwamu pemabuk gila" gumam Jingga lalu merubah dirinya menjadi Chun Chao.
Jingga mengambil botol arak bekas Chun Chao lalu menenggaknya.
"Kau punya selera yang bagus juga, tahu begitu, aku akan menunda membunuhmu" imbuhnya berkomentar.
Jingga langsung memasuki kediaman klan Chun, memasuki setiap kamar dengan santai sambil menenggak arak membunuh setiap anggota klan dengan memenggalnya.
Sampai pada satu kamar yang paling luas dari kamar lainnya, Jingga melihat seorang nenek yang merupakan patriark klan sedang tertidur pulas.
"Hah! Dasar anak gila, ada apa kau membangunkanku Chou'er?" Tanya Chun An langsung duduk dengan wajah kusut dan mata merah menatap pria di depannya.
"Ada iblis yang mau membunuhmu" jawab Jingga yang menyamar sebagai Chun Chou.
"Di mana ada iblis?, kau ini jangan sering mabuk-mabukan, masih banyak yang harus kita lakukan besok, kembalilah ke kamarmu Chou'er" jawabnya dengan tatapan yang masih mengantuk kembali membaringkan tubuhnya.
"Lihat aku Nek" pinta Jingga yang langsung menebas leher patriark klan Chun dengan energi iblisnya.
"Selamat tinggal nenek" ucap Jingga lalu pergi meninggalkan patriark klan Chun yang tewas dengan kepala yang terpisah dari badannya.
Jingga lalu melanjutkan menelusuri kamar lainnya untuk menuntaskan misinya.
Duduk di taman kecil yang tadi ditempati oleh Chun Chou, Jingga merasa masih ada yang kurang.
"Sepertinya ada kamar yang terlewat" pikirnya lalu kembali memeriksa setiap kamar.
Tepat pada salah satu kamar di bagian ujung kediaman klan Chun, Jingga langsung memasukinya.
"Ah! Sialan kau!" Rutuk Jingga melihat seorang gadis yang terlelap tidur dengan posisi yang menantang dengan gaun yang tersingkap di bagian bawah yang membuat bagian berharganya terpampang jelas.
__ADS_1
Jingga mengenali dengan baik gadis yang ada di depannya adalah Du Zhia, adik dari temannya Du Dung.
Jingga mengurungkan niatnya untuk membunuh gadis cantik itu, ia berbalik ke arah pintu.
Buzz!
Jingga mengelak menghindari pedang besar yang dilemparkan oleh Du Zhia.
"Paman Chou, apa yang paman lakukan di kamarku?" Tanya Du Zhia menegurnya.
"Ha ha ha, kau tidak layak memakai Jianshandian, aku akan mengambilnya" jawab Jingga mengalihkan tujuannya.
"Aku tidak percaya paman Chou hanya ingin mengambil pedangku, pasti paman Chou ingin melakukan perbuatan tidak senonoh kepadaku, betulkan!" Ucap Du Zhia menyekidik.
Jingga mengacuhkan ucapannya, ia langsung berkelebat dengan cepat meninggalkan Du Zhia.
"Kalau saja dia bukan adik temanku, aku sudah menebasnya seperti yang lain" gumam Jingga berkelebat kembali ke penginapan.
Jingga berada di pintu kamar penginapan, sama seperti sebelumnya, Jingga masih begitu gugup untuk melihat kecantikan Putri Qianmei, namun ia berusaha untuk tenang memasuki kamar.
"Halo semuanya, maaf aku baru kembali" ucapnya begitu memasuki kamar.
Jingga menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat ketiga temannya sudah terlelap dalam tidurnya.
Pangeran Qianfan terbangun merasakan kehadiran Jingga memasuki kamar.
"Saudara Jingga, kau dari mana saja sampai selarut ini baru pulang?" tanya Pangeran.
"Aku menyelesaikan misiku dalam menjaga kedamaian kekaisaran Fei" jawabnya lalu duduk di kursi.
"Oh seperti itu, hem saudara Jingga, maaf adikku menggantikan posisi tidurmu" imbuh Pangeran.
"Sial! Naninu pasti menceritakan kepada Putri Qianmei kalau aku selalu tidur di sebelahnya" kata batin Jingga.
"Saudara Jingga, kau kenapa melamun?, mungkin besok aku akan mengambil kamar sendiri, agar kalian tidak terganggu dengan keberadaanku dan adikku" tanya Pangeran Qianfan merasa tidak enak hati.
"Jangan pindah Pangeran, eh maksudku, aku tidak keberatan sama sekali, aku tidur di sebelah adikku karena dia selalu memintaku untuk bercerita sampai dia tertidur, sekarang aku senang dia punya teman baru yang bisa menemaninya tidur" kilah Jingga sekenanya beralasan.
"Ha ha ha, kau ini, aku punya arak bagus untukmu" ucap Pangeran lalu melemparkan arak yang diambilnya dari cincin spasialnya.
Jingga langsung menangkapnya kemudian menenggaknya.
"Arak yang enak" pujinya lalu kembali menenggaknya.
__ADS_1