Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Turnamen - Babak II


__ADS_3

Aksi kejar-kejaran pun berhenti tatkala keduanya tercebur ke dalam danau, Jingga begitu gembira melihat tingkah laku kedua temannya.


"Kak Jingga ayo lompat kak, segar airnya" ajak Bai Niu yang begitu ceria bermain air bersama Du Dung.


Jingga hanya bisa tersenyum simpul tanpa mau mendekati batasannya dengan danau.


"Hei, apakah latihannya jadi?" Tanya Jingga melirik Du Dung yang masih bermain air bersama Bai Niu.


"Ya" sahut Du Dung singkat, tak lama keduanya keluar dari danau, Du Dung langsung membuka pakaian atasnya lalu menjemurnya, sementara Bai Niu hanya duduk mendekap lututnya sambil berjemur mengeringkan pakaian yang masih dipakainya.


"Dang Ding Dung aku akan membawa Naninu pulang, apa kau mau ikut pulang atau kau berlatih sendiri?" Tanya Jingga yang kasihan melihat Bai Niu menggigil kedinginan.


"Kalian duluan saja, aku akan berlatih sendiri" jawabnya.


Jingga lalu menggendong Bai Niu ke punggungnya kemudian berkelebat pergi meninggalkan Du Dung yang berlatih sendiri.


"Kau bilas sana, aku menunggumu di luar" ucap Jingga setelah menurunkannya di depan pintu kamar.


"Kak, hem, aku tidak punya ganti" balas Bai Niu sambil mengusap rambutnya yang masih basah.


"Pantas saja aku selalu mencium bau tidak sedap, baiklah aku akan membelikannya untukmu" timpal Jingga lalu kabur darinya.


Bai Niu menggeram mendengarnya lalu berbalik masuk ke dalam kamar.


Malam harinya Du Dung masih belum kembali dari pelatihannya.


"Kak, kakak Dang Ding Dung kenapa belum pulang juga, padahal sudah malam?" Tanya Bai Niu yang sedang mengunyah makanan.


"Kalau makan jangan sambil bicara, aku akan menyusulnya, kau tunggulah di kamar" jawab Jingga lalu pergi ke kaki gunung Lanhua.


Sesampainya di taman bunga, Jingga menemukan Du Dung dalam keadaan tidak sadarkan diri di samping tombaknya.


"Sepertinya dia bertarung dengan para kultivator muda yang siang tadi mencemoohnya" gumamnya lalu memanggul Du Dung di bahunya dan membawanya pulang.


Bai Niu yang baru masuk ke dalam kamar terkejut dengan keberadaan Jingga yang sudah kembali mencari Du Dung lalu matanya tertuju ke arah Du Dung yang tergeletak penuh luka.


"Kak, apa yang terjadi dengan kak Dang Ding Dung?" Tanya Bai Niu langsung menangis melihat salah satu kakaknya terlihat begitu mengenaskan.


"Nanti kita tanyakan langsung kepadanya setelah ia sadar, sekarang kau bantu aku membersihkan lukanya" jawab Jingga yang diangguki oleh Bai Niu.


Besok paginya Du Dung membuka kedua matanya, "aw aw aw" ringisnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Jangan dulu duduk, berbaringlah" pinta Jingga yang menghampirinya.

__ADS_1


Tak lama Bai Niu masuk dengan membawa semangkuk bubur.


"Kakak Dang Ding Dung sudah sadar?" Tanyanya yang langsung mendekatinya.


Du Dung hanya mengangguk menjawabnya, lalu Bai Niu menyuapinya dengan lembut.


Pada sorenya Du Dung baru bisa menceritakan kejadiannya.


Ia menceritakan ketika dirinya akan kembali pulang di senja hari, melewati para kultivator muda yang terus saja mengoceh membicarakannya, namun ia masih sabar menanggapinya, sampai salah satu pemuda mengatakan hal kotor tentang Bai Niu yang membuat Du Dung tersulut emosi lalu terjadilah perdebatan yang berujung pada pertarungan.


Awalnya Du Dung dengan mudah memberikan pelajaran kepada pemuda yang melecehkan Bai Niu, namun para kultivator muda lainnya tidak terima dengan apa yang dialami oleh temannya yang pada akhirnya Du Dung harus melawan semua kultivator muda, karena tidak seimbang Du Dung akhirnya kalah dan ditinggalkan begitu saja oleh mereka.


"Sepertinya sudah menjadi tabiat mereka mencari permusuhan, aku pastikan akan memberikan mereka balasan yang setimpal" ucap Jingga yang terus bolak-balik berjalan yang membuat kedua bola mata Bai Niu mengikutinya.


"Kau jangan gegabah, salah dua di antara mereka memiliki aura kegelapan, aku kalah karena tekanan aura darinya" ungkap Du Dung tidak mau Jingga mengalami hal sama dengannya.


"Ha ha ha, baiklah" sahut Jingga dengan tatapan yang membuat Bai Niu ketakutan melihatnya.


"Apa kau akan pulih di pertandingan kedua?" Tanya Jingga meragukan kondisinya.


"Pastinya, aku sudah meminum pil herbal untuk mempercepat pemulihan" jawab Du Dung yakin.


Dua hari berikutnya Du Dung bersama Jingga dan Bai Niu pergi ke alun-alun melanjutkan pertandingan keduanya.


Jingga tertarik dengan salah satu petarung berpakaian ungu yang lebih menggunakan akalnya dari pada petarung berpakaian hitam yang terus menyerang tanpa adanya perencanaan.


"Menurutmu, mana yang akan memenangkan pertarungan?" Tanya Jingga tanpa melirik Du Dung.


"Pastinya yang berpakaian hitam, dia unggul dalam ranah kultivasi yang saat ini berada di ranah Mahir Perak, sedangkan lawannya hanya berada di ranah Pendekar Emas, itu sudah jelas" jawabnya menganalisa berdasarkan tingkat kultivasi.


"Ha ha ha aku pegang yang berpakaian ungu" timpal Jingga meyakini pengamatannya.


"Baiklah, kalau yang hitam kalah, aku akan mentraktirmu, begitu pun sebaliknya" timpal Du Dung menantangnya bertaruh, Jingga mengangguk menyetujuinya.


Pertarungan sengit terus berlangsung dengan pemuda berpakaian hitam terus mendominasi pertarungan, Du Dung tersenyum karena yakin dia akan memenangkan taruhan.


Lambat laun pertarungan berubah haluan, pemuda berpakaian ungu mulai menunjukkan kehebatannya, ekspresi Du Dung berubah cemas.


"Bagaimana Jingga tahu pemuda itu bisa memenangkan pertarungan?" Gumamnya bertanya.


Dash!


Bugh!

__ADS_1


Pemuda berpakaian hitam terpelanting keluar batas arena yang berarti dia kalah dalam pertandingan.


Du Dung berdiri bersiap untuk pertarungannya, ia melirik Jingga meminta masukan.


"Kau tahu apa yang membuat pemuda berpakaian ungu bisa memenangkan pertarungan?" Tanya Jingga langsung menyentuh keningnya sebagai jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Du Dung mengangguk memahami maksudnya lalu berjalan ke arena pertandingan.


Seperti yang disebutkan oleh pembawa acara, kali ini Du Dung akan menghadapi pemuda dari sekte Mawar Merah.


Jingga mengerutkan kening dan menyipitkan mata melihat seorang gadis seusia dengan Bai Niu melangkah ke tengah arena, gadis ini terlihat imut dan begitu ceria.


Hal itu membuat Jingga langsung menoleh ke arah Bai Niu yang juga menoleh ke arahnya.


"Apa?, bilang saja kalau gadis itu lebih cantik dariku" ucap Bai Niu dengan wajah ketus menatap Jingga.


"Kau paling cantik adikku" puji Jingga dengan terpaksa untuk menghindari perdebatan dengannya.


"Kakak bohong" ketusnya lagi tidak percaya dengan ucapan Jingga yang dikenalinya sebagai pemuda aneh tanpa perasaan.


Jingga langsung mencium pipi Bai Niu agar gadis itu bisa diam tidak menimbulkan keributan.


Kembali Bai Niu tersipu malu sambil memainkan rambut panjangnya dengan wajah berbunga-bunga.


Jingga mengalihkan perhatiannya ke arena pertarungan, wajahnya terlihat cemas melihat Du Dung dipermainkan gadis kecil yang selalu tersenyum itu yang terus-terusan memprovokasi Du Dung untuk mengeluarkan semua kemampuan yang dimilikinya.


"Sialan! Sudah berbagai cara aku menyerangnya, gadis ini begitu alot terus saja menghindariku" gerutu Du Dung terlihat buntu menghadapinya.


"Ayolah kakak tampan, apakah hanya itu saja kemampuanmu?" ucap gadis berpakaian putih mengejeknya.


Mengingat apa yang disampaikan Jingga untuk menggunakan akalnya, Du Dung memasukkan tombaknya ke dalam cincin spasialnya, ia tersenyum simpul menatap gadis yang mengerutkan keningnya melihat perubahan sikap lawannya.


"Ada apa denganmu?" tanya si gadis merasa heran.


"Ayo kita lanjutkan" sahut Du Dung langsung menyerangnya, kali ini ia tidak menebaskan tombaknya, ia sedang membaca pola gerak si gadis untuk bisa membalas mempermainkannya.


Gadis itu masih melakukan hal sama untuk mengelak serangan Du Dung, namun Du Dung memang tidak berniat memukulnya, Du Dung terus membaca gerakan si gadis dalam menghindari serangannya.


"Hem, ketahuan juga" kata pikirnya setelah mengetahui pergerakan si gadis yang cenderung monoton dalam upayanya menghindari serangan Du Dung.


"Apa yang akan dilakukan pria ini kepadaku, kenapa dia hanya mendekatiku tanpa berniat melukaiku?" tanya pikir si gadis semakin heran.


Hal itu membuat si gadis mulai melakukan serangan ke arah Du Dung, ia terus mengayunkan pedangnya menyerang Du Dung yang terus menghindari serangannya. Alur pertarungan pun berbalik arah.

__ADS_1


__ADS_2