Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Jingga dan Zilla


__ADS_3

Jinggga tersenyum mendengarnya, wajah imut anak kecil itu membuat dirinya teringat kembali akan masa kecilnya dahulu kala.


"Kau tersenyum begitu, seolah kau akan mampu melewati ujiannya" cibir anak kecil meragukannya.


"Kalau aku tidak yakin, tentunya aku tidak akan tersenyum begini. Apa masalahmu, bocah?" Balas Jingga.


"Ha ha ha, bersiaplah!" Timpal anak kecil menekan kening dengan ujung jarinya.


Tiba-tiba saja Jingga berada disuatu tempat di gurun pasir yang sangat panas dengan tujuh matahari yang mengorbit di atasnya.


"Ini hanya ilusi visual. Aku tak akan terkecoh olehmu" gumam Jingga masih berdiri tenang.


Tanpa diduganya, sinar dari ketujuh matahari membentuk bilah pedang melesak menyeruak tubuhnya.


"Aah!" Ringis kesakitan Jingga merasakan perih di sekujur tubuhnya.


"Keluar kau, bocah!" Berang Jingga merasa dipermainkan anak kecil.


Silau cahaya matahari kembali menyeruak membuat Jingga terpaksa menutup kelopak matanya.


Suasana kembali berubah, kali ini Jingga berada di atas dataran es yang sangat ekstrem suhunya.


Krek! Krek!


Lantai es yang dipijaknya terbelah, Jingga menunduk melihatnya lalu melompat terbang namun energi iblisnya seakan hilang.


Krak!


Byur!


Jingga terperosok ke dalam air yang begitu dingin dan langsung membeku seketika. Energi api semesta menyeruak mencairkan dinding es di sekelilingnya.


"Bocah sialan" rutuknya lalu berenang ke permukaan.


"Huh!" Imbuhnya mendengus.


Jingga kembali menaiki lantai es. Seketika, suasana kembali berubah. Ia kini berada di tanah keras berwarna coklat kemerahan yang retak, tidak ada sama sekali tumbuhan ataupun obyek lain di tempat itu. Hanya area tanah kosong yang luas sejauh mata memandang.


"Bocah, bertarunglah dengan benar. Untuk apa kau membawaku ke tempat-tempat aneh seperti ini?" Teriak Jingga mengeluh.


Wuzz!


Angin berhembus kencang menerpanya. Jingga masih berdiri dengan tenang, ia mengabaikan kondisinya saat ini sambil menunggu tempat lain yang akan berubah dengan sendirinya.


Lama ia terdiam, ia masih di tempat yang sama. Suhu normal tiba-tiba berubah menjadi panas. Muncul ribuan partikel api di udara yang mulai membesar.


Jingga mengerutkan kening memperhatikannya, ia sedikit terlihat panik.


"Kenapa panasnya begitu aneh?" Pikirnya.


Ribuan partikel api yang membesar sebesar kepalan tangan pria dewasa di udara mulai menjalari di sekujur tubuhnya.


Pakaiannya habis terbakar, namun Jingga masih terlihat baik-baik saja. Kondisi tubuhnya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia tidak merasakan kesakitan sama sekali, hanya suhu panas yang masih bisa ditolerir tubuhnya.


"Bocah aneh, ujian kok seperti ini. Apa serunya?" Ejek Jingga lalu menutup kedua matanya.


Ia berharap bisa di tempatkan pada kondisi yang menguji adrenalinnya. Namun siapa sangka kekuatan jiwanya malah menghisap energi tak kasat mata yang menjadi inti kekuatan ilusi.


"Apa ini?" Pikir Jingga merasakan energi memasuki tubuhnya.

__ADS_1


Hanya beberapa saat saja Jingga mengalaminya, suasana pun kembali normal ke asalnya.


"Kemana tuh bocah?" ucapnya bertanya sambil terus memperhatikan area di sekelilingnya.


Brugh!


Anak kecil itu tiba-tiba saja terjatuh di depan Jingga.


"Hei, ha ha ha" kekeh Jingga menertawainya.


"Diam kau!" Bentak si anak kecil lalu berdiri bangkit.


"Sialan! Aku tidak menduga kekuatan jiwamu sangat kuat" kesal anak kecil salah memprediksi.


"Eh, apa hubungannya?" Tanya Jingga heran.


Anak kecil tidak menjawabnya, ia tampak terlihat kesakitan dengan terus menekan dada.


"Bunuhlah aku, kau sudah memenangkannya" ujar anak kecil pasrah.


"Bertarungnya kapan? Masa kau menyerah begitu saja. Ha ha" kekeh Jingga tidak menyangkanya.


"Cepatlah, atau kau tidak akan bisa naik ke arena atas" pinta anak kecil memaksanya.


"Aku bisa terbang bersama beast monster" balas Jingga tidak mempedulikannya.


"Ha ha, bodoh! Beast monster hanya bisa naik sekali" ucap anak kecil yang tubuhnya mulai menyusut.


"Jerat penghisap jiwa"


Jingga langsung menjentikkan jarinya menarik jiwa iblis anak kecil di depannya sebelum sampai menghilang tubuhnya.


Wuzz! Sreet!


"kenapa pusing begini?" keluh Jingga heran.


Jingga merasakan keanehan di panca inderanya. Berbagai tempat terlihat jelas di matanya, telinganya pun mendengar banyak jenis suara, begitu pun dengan indera lainnya merasakan berbagai obyek yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Aah! Kepalaku sangat pusing" rintih Jingga langsung berjongkok sambil menjambak rambutnya.


Lambat laun, dirinya kembali normal. Kekuatan ilusi telah habis diserapnya bersamaan dengan hilangnya anak kecil di depannya.


Jingga kini memiliki kekuatan baru dalam dirinya, yaitu kekuatan ilusi.


Setelahnya, anak tangga muncul tak jauh di depannya, Jingga lalu melirik ke arah sang monster untuk menghampirinya. Sang monster lalu berlari menghampiri. Keduanya pun mulai menaiki anak tangga.


Sama seperti sebelumnya, Jingga harus menempuhnya dengan sangat jauh karena akumulasi jarak. Akan tetapi, ia tidak lagi melangkah sendirian. Ia melangkah menapaki anak tangga bersama sang monster yang menemaninya.


"Menurutmu, siapa lawanku berikutnya?" Tanya Jingga mengawali perbincangan.


"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak mengetahuinya" jawab sang monster.


"Hem! Tidak masalah. Semoga saja bukan ujian aneh lagi yang aku dapatkan" timpal Jingga penuh harap.


Keduanya terus melangkah tanpa sekalipun berhenti. Anak tangga yang dilalui keduanya begitu jauh menanjak seolah tidak ada ujungnya.


Sudah lebih dari seratus ribu anak tangga yang dipijak, Jingga masih belum melihat ujungnya. Namun ia tidak terlalu memusingkannya, ia menikmati perjalanannya dengan tenang bersama sang monster.


Sambil menyelam minum air, terlintas di benaknya sebuah nama yang akan diberikannga kepada teman barunya. Ia tersenyum simpul menyukai namanya.

__ADS_1


"Sepertinya aku menemukan nama yang cocok untukmu" celetuk Jingga meliriknya.


Sang monster balas meliriknya dengan tatapannya yang datar.


"Namamu sekarang adalah Zilla. Apa kau menyukainya?" Imbuh Jingga memberikannya nama.


"Terima kasih, Tuan. Aku menyukainya" ucap Zilla menanggapinya.


Jingga kembali tersenyum simpul lalu fokus menaiki anak tangga.


Begitu lama keduanya melangkah menaiki anak tangga, ujung anak tangga akhirnya mulai terlihat oleh keduanya.


"Ayo kita berlari" ajak Jingga tidak sabar untuk mencapainya.


"Jangan, Tuan" Zilla melarangnya, namun ia tidak menjelaskan apa pun.


"Baiklah, aku memahaminya" ucap Jingga tidak jadi berlari.


Jingga melangkah dengan santai menapaki anak tangga satu persatu. Beberapa langkah selanjutnya, Ia mulai merasakan ada kejanggalan pada ujung anak tangga di depannya.


"Tuan jangan menggunakan mata iblis untuk melihat ujungnya" kembali Zilla melarangnya.


Jingga sedikit tersentak karena diketahui niatnya oleh Zilla, sekilas ia melirik Zilla yang begitu fokus menatap anak tangga. Ia pun kembali memfokuskan diri.


Beberapa lama kemudian, ujung anak tangga terlihat semakin dekat. Tampak terukir segaris senyum di bibir Jingga yang memperhatikannya.


"Tuan, jangan pernah sekalipun melihat ke belakang" ujar Zilla kembali mengingatkannya.


Jingga menganggukinya, dalam hatinya banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada Zilla terkait beberapa pantangan yang harus diturutinya.


Beberapa langkah berikutnya, Zilla kembali berucap,


"Tuan, beberapa langkah terakhir akan terasa berat"


"Ya, aku sudah menyadarinya. Kau tenang saja, aku bisa melaluinya" balas Jingga meyakinkannya.


Di langkah berikutnya, Jingga mulai merasakan langkah kakinya begitu berat. Satu, dua anak tangga masih bisa ia pijak. Pada anak tangga ketiga, ia mulai kesulitan mengangkat kakinya.


"Aaah!' Rintih Jingga tampak kesulitan mengangkat sebelah kakinya.


Trak!


Anak tangga yang dipijaknya terbelah, Jingga mulai merasakan panik.


"Kenapa kau terlihat tidak kesulitan sepertiku?" Tanya Jingga melirik Zilla di sampingnya.


"Mungkin karena aku tidak menunjukkannya, aku sebenarnya kesulitan mengangkat kakiku" jawab Zilla yang memang tidak memiliki ekspresi di wajahnya.


"Ya sudah, ayo kita berjuang" balas Jingga lalu mengangkat kaki sebelahnya.


Mendapati bagian belahan anak tangga terjatuh. Jingga dan Zilla terpaksa harus jinjit pada bagian yang masih utuh. Hal itu membuat keduanya semakin kesulitan.


"Satu, dua, haa!" Teriak Jingga setiap kali kakinya diangkat.


Krak!


Wuzz!


"Sial! Kita tidak bisa melangkah dengan lambat" keluh Jingga yang kembali harus jinjit menapakkan kakinya pada anak tangga yang dipijaknya.

__ADS_1


__ADS_2