
Tidak lama kemudian, Xian Hou berhasil membantai semua prajurit yang dirasuki oleh para iblis. Semua prajurit kekaisaran Fei langsung mengepalkan kedua tangan dengan sedikit membusungkan badan menghormatinya.
“Terima kasih, Nenek sakti.” Ucap para prajurit serentak.
Xian Hou tersenyum simpul membalas hormat para prajurit, ia pun langsung menghilang begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba saja, Xian Hou sudah berada di atas tubuh Jingga yang sedang berbaring menatap langit yang mulai berubah warnanya.
“Nenek Peot, sudah selesai?” tanya Jingga sambil mendorong tubuh istrinya.
“Sudah, ayo kita temui adik-adik kita,” jawab Xian Hou mengajaknya.
Keduanya lalu melesak terbang ke arah barat kota Luyan sambil bergandengan tangan. Beberapa prajurit kekaisaran yang tidak sengaja melihat keduanya langsung membelalakkan mata heran.
“Hei, hei. Lihatlah di atas sana! Nenek Sakti bergandengan tangan dengan seorang pemuda. Sungguh, tak bisa dipercaya.” Ucap seorang prajurit dengan menjulurkan ujung jari manis ke arah Jingga dan Xian Hou terbang.
Sontak saja semua prajurit kekaisaran menatap tidak percaya melihatnya. Biarpun begitu, mereka tetap menghormati jasa nenek tua tersebut yang telah membantu memusnahkan prajurit yang dirasuki oleh bangsa iblis.
“Sayang, apa kau mendengarnya? Aku sedikit risih.” Tanya Xian Hou dengan mimik wajah kesal.
Jingga meliriknya sambil terkekeh pelan lalu berkata,
“Aku yang akan risih jika kau menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya. Kecantikanmu akan menyebabkan kekacauan yang lebih besar di alam fana ini.”
Xian Hou hanya mendengus pelan mendengarnya. Ia merasa seperti terkena kutukan alam karena kecantikannya.
Di ufuk timur. Mentari pagi mulai menampakkan diri menyinari alam. Jingga dan Xian Hou semakin mempercepat laju terbangnya agar cepat sampai di barat kota Luyan.
Sesampainya di barat kota. Suasana tampak sepi tanpa adanya pertarungan yang berlangsung seperti semalam. Akan tetapi, kerumunan orang terlihat masih memadati area pertarungan.
“Kakak!” pekik lantang suara Bai Niu yang melihat kedatangan Jingga dan Xian Hou di kejauhan.
Sontak saja, semua orang langsung mendongakkan kepala melihat ke langit. Berbeda dengan para prajurit yang terbelalak melihat pasangan yang terpaut jauh usianya. Di barat kota Luyan yang sebagian besar pernah menghadiri pernikahan Jingga dan Xian Hou tampak biasa saja melihatnya. Walaupun ada sebagian kecil yang baru melihatnya menampilkan ekspresi yang sama seperti para prajurit sebelumnya.
Jingga dan Xian Hou langsung mendarat mulus di dekat keberadaan adik-adiknya.
“Kenapa pertarungannya cepat selesai? Aku kan ingin melihatnya,” celetuk Jingga sedikit kecewa.
__ADS_1
Seorang pemuda tampan mendekatinya lalu menepuk kedua bahu Jingga dengan menampilkan senyum khas yang membuat Jingga langsung tersenyum lembut membalasnya.
“Kakak masih saja gila pertarungan. Kapan, Kakak mau mencintai kedamaian?” kata Qianfan menyindirnya.
Jingga cengengesan mendengarnya. Pertarungan demi pertarungan sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Sindiran Qianfan membuatnya seperti seorang gadis yang mendapatkan setangkai bunga. Dengan malu-malu, Jingga pun berkata,
“Tujuan hidupku untuk membuat semesta damai tanpa adanya perang. Namun, semakin aku mengupayakannya, semakin sulit aku mewujudkannya.”
“Hidup ini adalah keseimbangan, Kak. Seperti siang dan malam. Sama-sama saling melengkapi. Kita hanya harus menerimanya saja,” timpal Qianfan lalu mengajaknya ke istana kekaisaran Fei.
Mereka pun berjalan santai menuju istana kekaisaran. Perbincangan hangat dari setiap orang mampu meleburkan rasa lelah dialami pasca perang yang berkepanjangan. Akan tetapi, itu bukanlah akhir dari pertempuran.
Langit pagi yang cerah tiba-tiba saja dipayungi awan hitam yang menutup celah sinar mentari.
Qianfan yang memimpin jalan langsung mengangkat tangannya ke udara, meminta semua orang untuk menghentikan langkah. Ia lalu mendekati Jingga di belakangnya.
“Kak, sepertinya akan ada sesuatu. Perubahan langit begitu tidak wajar.” Ujarnya memberitahu.
Jingga tersenyum simpul menanggapinya. Ia lalu menoleh ke arah adiknya Bai Niu.
Bai Niu yang seorang dewi Petir pun merasakan kejanggalan yang sama ketika melihat awan mendung yang muncul begitu tiba-tiba di langit yang cerah.
Jingga menolehnya lalu mendongak memperhatikan awan mendung yang seiring waktu semakin bergemuruh.
“Naninu, apa kamu capek?” tanya Jingga ingin tahu.
“Tidak, Kak. Mengapa?” jawab Bai Niu balik bertanya.
“Aku merasakan aura yang sama seperti di hutan ilusi. Sepertinya mereka ingin membalas dendam kematian makhluk sejenisnya.”
Bai Niu terlihat begitu bersemangat mendengarnya. Ia masih belum puas menghadapi para kultivator dari aliansi Es Utara.
“Jangan terlalu senang. Jumlah mereka sepertinya lebih dari seratus orang. Ajak juga Memimu untuk mendampingimu bertarung,”
Mendengarnya, mimik wajah ceria Bai Niu langsung berubah drastis. Ia merasa tidak dipercaya oleh Jingga dalam menghadapi musuh yang berjumlah banyak.
Jingga yang melihat perubahan ekspresi wajah Bai Niu sangat memahaminya. Biarpun begitu, ia tidak ingin hanya Bai Niu yang memiliki kesempatan meningkatkan kemampuan bertarung. Ada Qianmei yang juga harus ditingkatkan kemampuannya.
“Kamu jangan cemberut begitu, aku hanya ingin kalian berdua memiliki kesempatan yang sama dalam peningkatan kemampuan bertarung. Belajarlah untuk bekerjasama.” Kata Jingga menjelaskannya.
__ADS_1
“Baik, Kak.” Timpal Bai Niu lalu melirik adiknya Qianmei.
“Mei’er, temani aku bertarung.”
“Siap, Kak.” Sahut Qianmei begitu semangat.
Ini pertama kali bagi keduanya berpasangan dalam pertarungan. Sebelumnya, baik Bai Niu maupun Qianmei bertarung dalam posisi terpisah. Tidak pernah keduanya bertarung secara bersama sejak pertama kali berlatih di hutan Bambu Merah.
Jingga sendiri tampak begitu senang melihat keduanya. Ia lalu mengusap wajah kedua adiknya dan mengembalikan wajah keduanya ke wujud asli.
“Bonus untuk kalian berdua. Gunakan kecantikan paras kalian untuk menjerat para kultivator aliansi Es Utara. Kalian tentu memahaminya.”
Bai Niu dan Qianmei menyeringai dingin lalu mengangguk.
“Kakak tenang saja, aku ahlinya dalam menjerat pria mata keranjang. Ha-ha-ha.” Balas Bai Niu terkekeh.
Sementara Qianmei yang terkenal pendiam dan pemalu, kali ini ingin menunjukkan pesonanya untuk bisa mengikuti jejak kakaknya Bai Niu yang selalu menggoda musuhnya dalam pertarungan.
Sayangnya, hal itu diamati oleh Qianfan yang langsung menolaknya.
“Mei’er, kau jangan melakukan hal seperti itu. Aku tidak suka.” Tegurnya dengan sorot mata kecewa menatap adiknya.
Qianmei yang ditegur seperti itu langsung menundukkan wajah karena malu. Jingga yang melihatnya tidak enak hati pada Qianfan.
"Memimu, pakailah cadar. Kau bisa menjerat musuh dengan rasa penasaran," cetus Jingga memberikannya alternatif lain.
Qianmei kembali mengangkat wajahnya dengan perasaan berbeda. Ia mengangguk setuju pada ide yang ditawarkan oleh Jingga. Tak lama kemudian, ia pun menutup sebagian wajahnya dengan kain yang diikat. Hanya menyisakan bagian mata ke atas.
"Suamiku, kenapa mereka belum menampakkan diri?" Celetuk Xian Hou yang daritadi fokus mengamati langit.
Sontak saja pertanyaan Xian Hou membuat semua orang langsung mendongak ke langit.
"Tidak. Mereka melontarkan serangan energi!"
Jingga langsung membuat perisai iblis menutupi orang-orang di sekelilingnya.
BOOM! BOOM!
Dentuman keras terjadi dari benturan energi tak kasat mata dengan lapisan perisai iblis tampak begitu mengerikan. Untung saja, Jingga bereaksi cepat mengantisipasinya.
__ADS_1