
Jingga termenung mendengar perkataan Juan yang begitu mengusik hatinya untuk bisa mensyukuri diri.
"Terima kasih Juan'er" ucapnya lalu tersenyum lembut membalasnya.
Esok hari, seberkas cahaya menembus celah-celah dinding rumah, menandakan hari telah berganti.
Keduanya terbangun dalam perasaan hangat setelah melalui drama atap bocor.
"Kau tahu, apa yang membuat hari ini begitu indah?" Tanya Jingga dengan tatapannya yang lembut.
"Jangan bilang karena kau telah melihat semua milikku" jawab Juan masih mengingat hal memalukan yang membuat harga dirinya sebagai wanita jatuh oleh pemuda asing yang duduk di hadapannya.
"Apa aku harus membuka pakaianku untuk membalasnya?" Tanya Jingga menanggapi ucapannya.
"Pria aneh yang menyebalkan" gumam pikir Juan mendengarnya. Ia hanya diam saja menunggu perkataan selanjutnya dari Jingga.
"Pagi ini begitu indah karena ketika mataku terbuka, hal pertama yang aku lihat adalah senyuman dari seorang gadis cantik sepertimu" imbuh Jingga mengungkapkan perasaannya lalu berjalan pelan ke arah pintu.
"Pria pembual" ketusnya dengan mendelik.
"Apa kau bisa terbang?, Aku tidak tega membiarkanmu dikerumuti semut di rumah ini" tanya Jingga tanpa meliriknya.
Juan yang mendengarnya mulai terbawa emosi, ia hanya mendengus saja mendengarkan perkataan pria di depannya.
"Dirimu merasa pagi hari ini begitu indah, tapi yang aku rasakan adalah kesialan bertemu dengan pria menyebalkan sepertimu" keluh Juan merasa ingin menerkam Jingga.
Jingga terkekeh mendengarnya lalu berbalik menghampirinya.
"Bersiaplah buntelan karung" ucap Jingga lalu memanggul Juan dan membawanya terbang meninggalkan gubuk kecil.
Juan tersentak lalu memukuli punggung Jingga karena posisinya seperti karung yang dipanggul para pekerja kasar.
"Hei! diamlah jangan banyak bergerak" pinta Jingga merasa seperti sedang membawa kambing yang tubuhnya terus menggeliat ketika dipanggul.
"Salahmu sendiri membawaku seperti membawa karung" balas Juan masih terus memukulinya.
"Baiklah" timpal Jingga lalu membalik tubuh Juan, namun apa yang dilakukan Jingga membuat kain layar yang melilit tubuh Juan terlepas dan melayang jatuh terbawa angin.
"Ah!" jerit Juan langsung menempelkan tubuhnya dalam dekapan Jingga agar Jingga tidak melihat bagian berharga miliknya.
__ADS_1
"Kau pria paling brengsek yang pernah aku temui selama hidupku" rutuk Juan semakin geram dengan Jingga.
"Salahmu sendiri tidak menanyakan alasanku memanggulmu" timpal Jingga tidak mau kalah.
"Hei, aku tidak tahu arah kota Luyan" imbuh Jingga yang terus melayang di atas awan tanpa tahu arah.
"Terus saja lurus sampai melewati bukit, kota Luyan sangat besar, kau pasti langsung melihatnya" ujar Juan yang semakin erat mendekap Jingga karena hembusan angin begitu kencang menerpanya.
Jingga merasa risih dengan gadis polos yang semakin erat mendekapnya lalu dengan cepat ia melesat terbang ke arah kota Luyan.
"Kau tunggu aku di sini, aku akan membuatkan perisai untuk melindungimu dari para burung jantan yang bermanuver ke arahmu dengan siulannya yang syahdu" pinta Jingga yang membuat wajah Juan begitu merah karena merasa kesal, Jingga langsung memasangkan perisai pelindung lalu meluncur cepat memasuki kota Luyan.
Di kota yang sangat besar membuat Jingga tidak kesulitan menemukan toko pakaian yang berderet rapi di sepanjang jalan.
Jingga menghentikan langkah kakinya, ia terus menatap lekat pada sebuah gaun merah yang terlihat begitu anggun terpampang di sebuah gantungan salah satu toko.
Seorang pria paruh baya yang melihat pemuda asing berdiri di luar menatap salah satu koleksinya langsung menghampirinya.
"Silakan tuan muda, sepertinya tuan muds begitu tertarik dengan gaun merah itu, tuan muds sangat pandai melihat kualitas gaun yang terpajang" sapanya menyambut sambil merangkul Jingga membawanya masuk ke dalam tokonya.
"Lihatlah gaun ini memiliki kualitas terbaik dari pengrajin istana kekaisaran Xiao, tentunya tuan tidak akan meragukan kualitasnya. Bisa tuan bayangkan betapa cantiknya calon istri tuan apabila mengenakannya walaupun kekasih tuan yang maaf, mungkin burik tidak terawat" ujar si penjual terus saja merayunya agar pemuda yang berada di tokonya mau langsung membelinya.
Jingga hanya mengangguk saja walau sebenarnya ia tidak peduli dengan semua ucapan si penjual.
Si penjual tersenyum cerah mendengarnya,
"Untuk tuan saya kasih murah, hanya lima ratus keping emas saja"ucapnya dengan tatapan penuh intrik lalu ia membisiki Jingga.
"Kemarin ada yang menawar seribu keping emas tidak aku lepas, aku hanya menawarkan lima ratus keping emas saja hanya kepadamu" bisiknya begitu pelan.
Jingga mengangguk-angguk mendengarkan bisikannya lalu balas membisikinya.
"Di toko sebelah, aku ditawarkan hanya seratus keping emas, ditambah dengan satu gaun putih menjadi seratus lima puluh keping emas, maaf Paman, sepertinya aku harus kembali ke toko sebelah" bisik Jingga lalu berbalik meninggalkan tokonya.
"Tunggu tuan muda!" Panggil si penjual dengan cepat.
Jingga berbalik menghampirinya dengan raut wajah yang berpura-pura tidak puas kepada si penjual.
"Ya sudah, kau cukup membayarnya dengan sembilan puluh keping emas" ujarnya pasrah.
__ADS_1
Jingga lalu membayarnya dan membawa gaun merah dengan senyumnya yang lebar.
"Iblis kok dikibulin" gumamnya lalu terbang menghampiri gadis polos yang menunggunya di atas awan.
"Ini, pakailah" pinta Jingga lalu menyerahkannya ke tangan Juan yang terlihat masih kesal dengannya.
Juan lalu membuka bungkusan yang diberikan Jingga dan selanjutnya ia langsung terbelalak melihat gaun merah yang biasa dikenakan oleh pengantin.
"Apa-apaan ini?, Apakah kau kira aku akan menikah denganmu?, Kenapa kau membawakanku gaun pengantin?, Kau kira dirimu siapa hah?" Lontaran pertanyaan ditujukan kepada Jingga yang terlihat bingung dengan semua pertanyaan Juan kepadanya.
Juan langsung melemparkan gaun merah itu tepat ke wajah Jingga.
"Balik lagi, belikan aku gaun yang biasa saja, cepat!" Pintanya dengan kesal.
"Sial! Gadis yang tidak tahu caranya berterima kasih" rutuk Jingga dalam hatinya.
Jingga langsung turun kembali ke toko yang tadi ia kunjungi.
Ia tiba-tiba saja menyerahkan seribu keping emas kepada si penjual.
"Paman, ambilkan gaun yang mana saja kecuali yang berwarna merah" pintanya dengan raut wajah yang begitu kesal.
Si penjual merasa senang melihat raut wajah Jingga seperti habis diomeli oleh kekasihnya.
Tak lama si penjual membawakan sepuluh gaun yang langsung dibungkusnya.
Jingga langsung saja mengambilnya dan melangkah keluar toko.
"Ha ha ha, kualat juga dirimu anak muda" ucap si penjual setelah Jingga meninggalkan tokonya.
Jingga yang belum jauh dari tokonya langsung berbalik kembali memasuki toko.
"Apa yang kau bilang?, Coba ulangi" tegur Jingga memintanya mengulangi ucapannya.
Si penjual menelan salivanya karena terkejut lalu dengan memaksakan senyum ia berkata.
"Jangan lupa untuk kembali ke toko, terima kasih sudah berbelanja, semoga tuan muda puas"
Jingga merasa dongkol dengan si penjual yang mengelak pertanyaannya, ia lalu berbalik pergi meninggalkan toko.
__ADS_1
Si penjual mengikutinya dari belakang untuk memastikan pembelinya benar-benar pergi.
Setelah memastikan pembelinya tidak lagi terlihat berada di luar toko, si penjual menghempaskan napas lalu mengelus dada merasa lega.