
Berada di dataran tinggi perbukitan, letak keberadaan desa Maotoying.
Jingga begitu serius memperhatikan banyaknya beast monster dari berbagai jenis yang berada di desa Maotoying.
"Ini sangat banyak, apa yang membuat para beast monster berkumpul di tempat ini?" Pikir Jingga lalu memindai semua lokasi bukit melalui mata iblisnya.
Tidak ditemukan keanehan apa pun pada semua tempat di sekitar bukit yang mengelilingi desa Maotoying yang telah hancur karena keberadaan para beast monster.
"Tidak mungkin mereka tiba-tiba berada di sini" imbuh pikirnya.
Jingga lalu duduk di sebuah batu besar sambil menikmati araknya dengan terus memperhatikan para beast monster yang terlihat pasif.
Dua hari berlalu dalam pengamatan dan penelusurannya di desa Maotoying. Jingga tidak menemukan sesuatu apa pun selain kejanggalan pada keberadaan para beast monster yang menempati lokasi desa.
"Biarlah mereka di sini, aku jadi tidak perlu berburu lagi untuk memberi makan monster kecilku Jirex" putus Jingga lalu terbang melayang di atasnya.
Jingga membuat pola rumit di jarinya lalu membuat perisai formasi iblis membentengi desa Maotoying agar para beast monster tidak bermigrasi memasuki area lain di wilayah kekaisaran Xiao.
"Hem! Dengan begini aku tidak perlu khawatir dengan keamanan tempat lain" ucapnya lalu terbang ke arah kota Luyan.
Dalam penerbangan kembali ke kota Luyan, Jingga melihat ribuan pasukan kekaisaran Xiao menuju desa Maotoying dengan berbagai alasan, namun Jingga mengabaikannya, ia terus melaju ke arah tujuannya.
Berhari-hari Jingga hanya meminum arak dan mengunjungi Jirex di alam jiwanya, lama kelamaan Jingga merasa jenuh akan kesehariannya.
"Sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan lagi di sini, aku harus melanjutkan pengembaraanku kemanapun kaki melangkah" gumamnya sambil terus menikmati arak memperhatikan para pengunjung restoran yang datang silih berganti.
Hari berikutnya Jingga bersiap untuk meninggalkan kota Luyan.
Berdiri di luar pintu penginapan, Jingga terpikir akan pesan kakeknya untuk menemui Pangeran Xiao Mai di istana kekaisaran.
"Sepertinya aku harus ke istana untuk menyampaikan pesan mendiang kakek Zhang" gumamnya lalu melangkahkan kaki ke arah istana yang tidak jauh dari penginapan.
Berada pada gerbang besar yang tertutup rapat, Jingga terlihat begitu bingung bagaimana ia bisa masuk dengan cara baik-baik.
Tok, tok, tok!
"Permisi!"
"Paket!"
"Hem! Masih tidak ada jawaban" ucapnya dengan bingung.
Jingga mondar mandir di luar gerbang istana sambil meminum arak.
Tidak lama kemudian ia menyadari dirinya sendiri.
"Ah, masa aku harus sopan, aku kan iblis" celetuknya sambil terkekeh.
Jingga lalu merubah dirinya menjadi bayangan dan menembus ke dalam gerbang, ia berjalan menyusuri lorong panjang sampai menemukan pintu gerbang kedua, ia melanjutkan langkahnya sampai menaiki tangga lalu memasuki ruang dalam istana.
__ADS_1
Kembali ia dibingungkan oleh banyaknya cabang jalan di dalam istana.
"Ini istana kenapa membingungkan begini" gerutunya melihat delapan lorong bagian dalam istana.
"Baiklah, aku harus berada di jalan yang lurus, jalan kebenaran bukan jalan pembenaran" gumamnya lalu melangkah memasuki lorong di depannya.
Beberapa langkah kemudian, Jingga melihat ada dua orang gadis pelayan yang sedang membawa nampan.
"Permisi, Nona. Di mana kediaman Pangeran Xiao Mai?" Tanya Jingga dengan sopan.
"Hantu!" Teriak kedua gadis langsung berlarian karena hanya mendengar suara tanpa melihat wujudnya.
"Ha ha, aku lupa menampakkan diri" kekeh Jingga lalu menampakkan dirinya supaya bisa dilihat orang lain.
Dia berjalan dengan santai di dalam istana yang kebetulan terlihat begitu sepi.
"Hei, siapa kau?" Tanya seorang penjaga dalam istana yang sedang berpatroli.
Jingga lalu menoleh ke samping kanannya dan menunggu penjaga menghampirinya.
"Aku Jingga, bisakah tuan penjaga mengantarku ke tempat kediaman Pangeran Xiao Mai" jawab Jingga memintanya.
"Mari ikut saya!" hardik penjaga yang langsung menarik kedua tangan Jingga ke belakang dan membawanya ke suatu tempat untuk diinterogasi.
Jingga hanya membiarkannya saja mengikat kedua tangan di belakang punggungnya.
"Paman Zhou!" Panggil Jingga setelah beberapa langkah berjalan, ia masih mengingat wajah bawahan mendiang kakeknya.
"Bila ku tebas lehermu" potong Jenderal Zhou yang lamgsung menghampirinya.
"Sudah bertahun-tahun paman mencarimu, akhirnya kau datang juga, bagaimana kau bisa ditangkap penjaga?"
"Ceritanya terlalu panjang, Paman"
"Ya sudah, nanti kita bicarakan di kediaman paman, kau bisa menunggu paman di sana, penjaga bisa mengantarkanmu"
"Baik, Paman, tapi aku ada perlu dengan Pangeran Xiao Mai"
"Betulkah?"
"Iya, Paman"
"Kebetulan paman akan menemuinya, mari ikut paman"
Keduanya berjalan ke sebuah aula utama istana, di mana banyak para pejabat istana berdiri di bawah singgasana sang Kaisar.
Berbeda dengan kekaisaran Fei, kekaisaran Xiao memiliki dua kaisar yang memimpin yaitu Kaisar Xiao Jinai dan Kaisar Xiao Junda.
Xiao Jinai merupakan kaisar pertama yang mendirikan kerajaan hingga menjadi kekaisaran, namun karena Xiao Jinai tidak menikah dan tidak memiliki keturunan, Xiao Jinai melepaskan takhtanya dan mengangkat adiknya menjadi seorang kaisar, ia sendiri disebut sebagai kaisar sepuh.
__ADS_1
Sosoknya yang begitu agung di kekaisaran tidak bisa digantikan oleh adiknya Xiao Junda, bahkan rakyat kekaisaran Xiao masih menganggap Xiao Jinai adalah kaisar satu-satunya.
"Hormat yang Mulia, semoga yang Mulia panjang umur" salam Jenderal Lie Zhou menjura lalu memperkenalkan Jingga kepada kedua Kaisar.
Jingga mengatakan maksud kedatangannya untuk menemui Pangeran Xiao Mai atas perintah dari mendiang kakeknya dan Pangeran Xiao Mai membawanya ke tempat kediamannya.
Keduanya begitu akrab dalam perbincangan yang begitu hangat.
"Benar kata Kakek, Pangeran Xiao Mai begitu baik kepadaku" gumam Jingga setelah di jamu Pangeran di kediamannya.
Setelahnya Jingga di antarkan seorang penjaga ke tempat kediaman sang Jenderal.
Berada pada sebuah taman kediaman Jenderal Lie Zhou, Jingga duduk di sebuah kursi batu menikmati suasana damai dengan sebotol araknya.
"Paman Zhou, sepertinya ada masalah yang sedang Paman pikirkan, katakahlah kepadaku, mungkin aku bisa sedikit membantu walau hanya dengan sebotol arak" ucapnya ketika Jenderal Lie Zhou menghampirinya.
"Ha ha ha, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, sudah menjadi makanan keseharianku memikirkan masalah, tapi baiklah aku akan sedikit memberitahumu. Beberapa hari ini banyak laporan kehilangan anak kecil dan gadis remaja, hampir setiap hari ada satu anak maupun seorang gadis yang dilaporkan hilang" bebernya dengan raut wajah sedih.
Jingga begitu memahami kesedihan pamannya yang meski singkat namun begitu banyak hal yang belum bisa diselesaikan oleh pamannya.
Keduanya terus berbincang dengan begitu intim mengingat kembali masa kecil Jingga dalam pelayaran melintasi samudera, namun perbincangan keduanya harus terhenti tatkala seorang pria dengan zirah kebesarannya menghampiri.
"Lapor, Jenderal! Ada pergerakan dari aliansi Bintang Selatan di perbatasan, mereka mendirikan kamp pelatihan dalam radius lima kilo dari batas wilayah" papar seorang komandan melaporkan.
"Terus amati pergerakannya, bawa tiga ribu pasukan tambahan untuk mengantisipasi serangan dadakan yang mungkin terjadi" ujar Jenderal Lie Zhou memberi instruksi.
"Siap, laksanakan!" Timpal Komandan lalu pergi.
Jenderal Lie Zhou kembali melanjutkan perbincangannya bersama Jingga, namun kembali seorang komandan lainnya menghampiri keduanya.
"Lapor, Jenderal! Telah terjadi pembajakan kapal di perairan timur laut, dua kapal pengangkut sumberdaya milik kekaisaran Zhao dilaporkan hilang" papar Komandan melaporkan.
"Hem! Sepertinya kelompok Hei Sha mulai kembali membentangkan layarnya, teruskan kepada Jenderal Bao Haocun untuk membentuk tim investigasi dengan kedua kekaisaran lainnya di benua Matahari" ujar Jenderal Lie Zhou memberikan instruksi.
Jenderal Lie Zhou kembali menoleh ke arah Jingga yang dari tadi terus memperhatikannya.
"Paman, sebaiknya Paman melanjutkan kesibukan" ucap Jingga memberikan saran.
"Ya, tapi kau tidak boleh meninggalkan istana, setidaknya kau harus tinggal selama setahun sebelum kau melanjutkan kembali pengembaraanmu" balas Jenderal Lie Zhou memintanya.
Jingga tidak langsung menjawabnya, waktu setahun tidaklah sebentar untuknya, namun ia tidak ingin mengecewakan pamannya yang begitu lama mencari keberadaannya.
Jingga menganggukkan kepala menyetujuinya.
"Lapor Jenderal!, Ada utusan dari kekaisaran Zhao, Jenderal diminta oleh Pangeran Xiao Mai untuk menemuinya di kediaman Pangeran" ujar petugas istana melaporkan.
"Baik, aku akan ke sana" sahut Jenderal Lie Zhou yang baru saja berdiri.
"Jingga, nikmatilah arak yang telah paman sediakan khusus untukmu dan pakailah token yang diberikan mendiang Jenderal Zhang agar kau bebas keluar masuk istana" ucap Jenderal Lie Zhou lalu meninggalkannya.
__ADS_1
Jingga kembali mengangguk lalu memperhatikan pamannya yang melangkah cepat menuju kediaman pangeran.
"Ribetnya menjadi seorang Jenderal di kekaisaran, kasihan Paman" gumamnya lalu memasuki kediaman Jenderal Lie Zhou.