
Benua Intibumi merupakan pusat keberadaan para beast monster di alam fana. Begitu pun dengan Bai Niu dan Qianmei yang merasakannya juga. Keduanya tampak begitu antusias menjejakkan kaki di benua Intibumi.
“Kak, bukankah terlihat janggal dengan kondisi alam di sini?” tanya Qianmei.
Jingga meliriknya lalu kembali memperhatikan tebing-tebing yang menjulang tinggi di depannya. Ia lalu memindai kemungkinan adanya formasi ilusi yang memanipulasi kondisi alam. Namun, setelah diamati dengan teliti, tidak ditemukan adanya formasi ilusi yang membelenggu alam di sekitarnya.
“Tidak ada yang janggal, mungkin saja dampak bencana alam tidak sepenuhnya merusak. Biarpun begitu, kita akan tahu setelah memasukinya,” kata Jingga.
“Nak Jingga, apa kita akan berputar mencari area yang lebih datar?” tawar Jenderal Qing.
“Tidak perlu, kami bisa menaiki tebing dengan mudah …, terima kasih, Jenderal. Aku akan membuatkan portal dimensi untuk dirimu kembali ke dermaga kekaisaran Xiao.”
Jingga lalu menjentikkan jari dan membuat portal besar yang akan membawa kapal perang kekaisaran Xiao langsung tiba di dermaga.
“Kalau bisa cepat kembali, mengapa tidak kaubuatkan portal langsung ke sini?” kata Jenderal Qing mengasumsikan.
“Ha-ha. Portal bisa dibuat ketika kita tahu lokasinya,” balas Jingga menjelaskan.
Jenderal Qing merasa malu baru mengetahuinya. Padahal sebagai seorang kultivator sudah seharusnya dia mengetahui tentang hal itu. Dia pun mengangguk lalu kembali ke ruang kemudi.
“Jenderal, terima kasih. Sampaikan salamku kepada Kaisar!” pekik Jingga.
“Baik, Nak Jingga. Berhati-hatilah selama berada di benua para monster!” sahut sang Jenderal tanpa menolehnya.
Jingga lalu melayang terbang bersama kedua adiknya meninggalkan kapal perang kekaisaran Xiao dan mendarat tepat di atas sebuah batu besar yang berada di atas ketinggian tebing.
Ketiganya tampak terkejut dengan suasana alam di benua Intibumi yang terlihat sangat elok laksana surgawi. Terdapat banyak bukit-bukit kecil yang menggantung di udara menembus awan-awan tebal yang berarak seperti kumpulan domba. Di bawahnya terhampar megahnya rimba raya.
“Indahnya!” seru Bai Niu yang matanya begitu berbinar.
Burung-burung dari berbagai jenis tampak menari-nari di atas gumpalan awan. Terlihat juga beberapa beast phoenix berwarna-warni mengitari area puncak bukit yang menjulang tinggi.
Benua Intibumi merupakan sebuah benua di alam fana yang hanya dihuni oleh satu ras saja di seluruh wilayahnya, yaitu ras beast monster alam fana.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat mengukir senja yang sangat elok menyinari alam. Sungguh tak terkira keindahan alam di benua Intibumi yang bermandikan cahaya keemasan dari ukiran senja di sore hari.
Riang suara burung bernyanyi menambah keelokan semesta. Mungkin inilah yang dinamakan sebagai surgawi yang tersembunyi di ujung senja.
__ADS_1
“Mau terbang atau berjalan kaki menyusuri hutan?” tanya Jingga langsung membuyarkan imajinasi kedua adiknya.
“Terbang, Kak. Aku ingin ke puncak bukit yang menggantung,” jawab Qianmei melompat-lompat sambil menjulurkan tangan menunjuk ke arah bukit terdekat.
Jingga tersenyum lembut melihat keceriaan kedua adiknya. Ia mengangguk pelan lalu melayang terbang menuju bukit gantung.
Tap, tap.
Jingga dan kedua adiknya mendarat di atas puncak bukit yang ternyata memiliki area datar yang cukup luas dan terdapat sebuah kolam berwarna biru yang begitu elok. Qianmei dan Bai Niu langsung berlarian ke arah kolam.
“Tempat yang sangat bagus untuk berkultivasi … apakah kalian berdua ingin menyerap energinya?” tawar Jingga.
Bai Niu dan Qianmei yang sedang asyik bermain air sambil berjongkok lalu bangkit berdiri menghampiri Jingga.
“Semua sumberdaya punyaku sudah aku berikan kepada Kak Tian. Apakah dengan hanya menyerap energi murni bisa berdampak pada kenaikan ranah kultivasiku?” kata Bai Niu tampak ragu.
“Setidaknya energi murni akan menguatkan dan menstabilkan fondasi kultivasi,” imbuh Jingga menimpali.
“Kak, di sini surganya beast monster. Kita bunuh beberapa lalu ambil inti jiwanya untuk berkultivasi,” cetus Qianmei.
“Untukmu memang bisa meningkatkan ranah kultivasi. Namun, untukku tidak begitu berguna,” balas Bai Niu.
“Kakak sombong. Lagipula tingkatan yang Kakak miliki hanya keberuntungan dari Jianshandian, tanpa itu mungkin kultivasiku akan lebih tinggi dari Kakak,” timpal Qianmei lalu mengerucutkan bibir.
JIngga yang menyimak perbincangan keduanya langsung teringat akan pedang yang didapatnya dari kedalaman lautan. Ia lalu mengambilnya dari cincin spasial.
WUZZ!
Aura pedang menyeruak keluar memancarkan gelombang bertekanan tinggi yang membuat burung-burung terpekik ketakutan dan berkelebat menjauhi puncak bukit. Bai Niu dan Qianmei pun harus mengalirkan energi spiritual untuk menahan tekanan yang terpancar dari aura pedang. Namun, sesuatu yang buruk terjadi. Ketika Bai Niu mampu menahan tekanannya, Qianmei justru mengalami dampak mengerikan dari tekanan aura pedang. Tubuhnya membiru, matanya memerah, dan darah keluar dari setiap lubang di tubuhnya.
“Mei’er!” jerik Bai Niu menangis histeris melihatnya.
Jingga sendiri tampak berdiam diri melihatnya. Biarpun begitu, di alam pikirnya ia terus bergelut mencari pengetahuan tentang pedang kayu hitam yang digenggamnya. Namun sangat disayangkan, Jingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk menelusurinya.
“Sialan! Adikku bisa mati,” rutuk Jingga begitu kesal.
Tidak ada pilihan lain untuknya selain menarik jiwa Qianmei dari tubuhnya yang mulai melepuh. Jingga lalu menjulurkan telunjuknya.
“Jerat penghisap jiwa.”
__ADS_1
WUZZ!
“Ah!” pekik Qianmei merasakan sakit luar biasa ketika jiwanya ditarik paksa keluar dari tubuhnya.
“Ba-bagaimana mungkin?” gumam Jingga tergagap karena tidak bisa menarik keluar jiwa adiknya.
Dengan terpaksa, Jingga menghentikan aksinya. Ia lalu memindai pedang kayu hitam dari gagang pegangan sampai ujung runcing.
“Pedang apa kau ini?” ucap Jingga terus memperhatikannya dengan lekat.
Sementara itu, Bai Niu yang tidak tahan melihat kondisi adiknya langsung tersungkur tidak sadarkan diri.
Jingga mulai frustasi karena tidak menemukan kejanggalan pada pedang yang digenggamnya dengan erat. Ia lalu berniat untuk menghancurkannya. Ketiga energi api miliknya dialirkan ke bilah pedang.
“Akan kuhancurkan kau pedang, dan akan kucari siapa pemilikmu!”
“Hiaa!”
GRRR!
Pedang kayu hitam bergetar keras. Jingga yang terus mengalirkan energi apinya mulai merasakan perlawanan dari pedang kayu yang berontak melepaskan diri dari genggaman. Tiba-tiba saja, pedang kayu hitam berhenti bergetar.
“Jangan hancurkan aku … kumohon …,” ucap sang pedang memelas.
“Katakan, bagaimana aku bisa menyelamatkan adikku?” bentak Jingga menanyakannya.
“Gadis itu tidak bisa diselamatkan,” jawab sang pedang.
“Berarti kau harus kuhancurkan.”
“Ja-jangan! Tubuh gadis itu memang akan hancur, tapi aku bisa menggantikan tubuhnya dan menjadi bagian dirinya. Tolong jangan hancurkan aku!”
“Kenapa kau bersikukuh tidak ingin dihancurkan? Apa yang kau sembunyikan dariku?”
“A–aku harus membalas dendam kematianku. Aku telah bersembunyi di dalam pedang selama ribuan tahun dan aku tidak ingin penantianku sia-sia belaka.”
“Aku tidak peduli pada dendammu, cepatlah selamatkan adikku atau akan kuhancurkan dirimu!”
“Baik. Lemparkan aku tepat ke jantung adikmu!”
__ADS_1
Tanpa membuang waktu lagi, Jingga langsung melemparkannya seperti apa yang diminta oleh sang pedang kayu hitam.
WUZZ!