Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Tamu Istimewa


__ADS_3


Ratu Kreya melesak mendekatinya. Di kedua tangannya tergenggam dua bilah pedang energi yang siap untuk ditebaskan ke leher Zilla yang sudah tergeletak tidak berdaya.


"Ha-ha-ha, sungguh beruntung dirimu tidak bertemu denganku sejak kau menjejakkan kaki di sanbuqu Nol ini. Kau jadi bisa menikmati waktu ribuan tahun untuk bersenang-senang. Apa kau sudah puas?" ujar Ratu Kreya masih memberinya kesempatan berbicara.


Zilla yang kondisinya memprihatinkan masih berusaha untuk bersikap tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan reaksi kesakitan apalagi menyerah pada keadaan.


"Harusnya aku yang mengatakan kau sangat beruntung bisa bersembunyi selama ribuan tahun dari kejaran istana Guifen ... dan satu hal yang harus kau ingat, kau terlambat untuk membunuhku kali ini. Tuanku tidak akan membiarkanmu membunuhku." Balas Zilla balik menyindirnya.


"Ha-ha-ha. Tuanmu!" kekeh Ratu Kreya lalu mendongak ke arah Jingga.


WUZZ!


BOOM!


Ledakan keras terjadi setelah sebuah tombak besar bercahaya biru melesak cepat ke arah keduanya secara tiba-tiba. Namun hal itu tidak membuat Ratu Kreya bergeming dari tempatnya. Ia hanya membiarkan tombak menancap di sampingnya lalu menempelkan ujung kukunya ke bilah tombak. Sementara Zilla sudah tidak ada di posisinya. Jingga yang melihat dengan jelas lemparan tombak dari Panglima Tianfeng langsung bergegas menarik Zilla dari bawah dan memasukkannya ke alam jiwa.


KRAK!


Tombak yang menancap langsung hancur setelah Ratu Kreya menyentuhnya.


Panglima Tianfeng yang melihatnya dari kejauhan begitu terperangah. Sulit baginya untuk percaya pada apa yang dilihatnya sendiri. Tombak yang ia gunakan bukanlah tombak sembarangan. Melainkan tombak yang terbuat dari bahan yang paling istimewa dan langka di alam dewa.


"Ti-tidak mungkin tombakku bisa hancur dengan begitu mudah," ujarnya lalu menggelengkan kepala.


Ia kemudian melaju cepat mendekati Ratu Kreya yang menyeringai sinis memperhatikan para dewa yang melayang mendekatinya.


"Aku tidak menyangka di alam iblis ada wanita secantik dirimu, Nona gaun merah,"


"Makhluk lemah sepertimu tidak layak berbicara denganku,"


"Ha-ha-ha. Dasar iblis! Selalu saja menyombongkan diri."


"Apa kau kemari hanya untuk merayuku? Sebaiknya kau pergi saja."


"Begitukah caramu menyambut tamu istimewa?"


"Hah! Tamu istimewa... pemikiran yang bodoh!" ketus Ratu Kreya.


Panglima Tianfeng mulai tersulut emosi mendengarnya. Namun ia masih bisa bersikap tenang karena tidak ingin membuat martabatnya jatuh di depan para komandan yang dibawanya.


"Terserah katamu saja, kedatanganku kemari karena harus meredam fluktuasi energi yang membuat alam semesta menjadi tidak stabil, dan kau harus mempertanggung jawabkan semua kekacauan ini." Kata Panglima Tianfeng melemparkan kesalahan pada sang Ratu.

__ADS_1


"Hah! Seenaknya saja kau menuduhku yang melakukannya," sanggah Ratu Kreya menolaknya.


"Kalau bukan dirimu, lalu siapa?" tegas Panglima Tianfeng.


Kesal betul Ratu Kreya mendengarnya, ia lalu memicingkan mata menatap seorang pemuda yang hampir tidak terlihat di kejauhan.


"Pelakunya ada di atasmu, Bajingan!" balas Ratu Kreya menunjuk ke arah di mana Jingga berada.


Panglima Tianfeng bersama para komandannya langsung mendongak menatap langit. Mereka semua menyipitkan mata melihat Jingga yang berada di ketinggian terjauh.


"Ayo kita hampiri," ajak Panglima Tianfeng langsung melesak bersama para komandannya.


Sesampainya di dekat Jingga yang masih berdiri melayang dengan tenang. Panglima Tianfeng sedikit heran melihat pemuda yang tidak begitu terlihat kuat.


"Hanya iblis muda. Apa benar kau yang membuat badai api di alam ini?" tanya sang Panglima sambil memindai tingkat kultivasi pemuda di depannya.


Jingga tersenyum simpul menanggapinya lalu berkata,


"Sebelum aku jawab. Katakan padaku bagaimana kalian bisa tahan dari panas badai api?"


"Ha-ha-ha. Haruskah aku menjawabmu iblis muda?" balik tanya Panglima Tianfeng merendahkannya.


Jingga menyeringai dingin menatapnya.


Hanya satu helaan napas saja ia melakukannya. Jingga akhirnya mengetahui bagaimana para dewa bisa bertahan dari suhu ekstreme badai api.


"Kristal es, pantas saja kalian mampu bertahan," gumamnya setelah mendapatkan jawaban yanh dibacanya dari pikiran sang Panglima.


SRING!


Beberapa komandan langsung mengeluarkan berbagai senjata yang diarahkan ke tubuh Jingga.


"Kalian para dewa ternyata memiliki emosi yang buruk," ejek Jingga.


"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, Iblis muda. Siapa kau sebenarnya?" tanya Panglima Tianfeng mulai mewaspadainya.


"Kau sungguh ingin mengenalku? Baiklah, akan aku katakan siapa diriku," jawab Jingga lalu mengedipkan sebelah matanya.


DHUAR! DHUAR! DHUAR!


Satu per satu kepala komandan yang berbaris di dekat Panglima Tianfeng hancur seketika dan tubuhnya melayang jatuh terbakar badai api di bawahnya. Kini hanya Panglima Tianfeng yang masih berdiri melayang dengan tubuh menggigil setelah menyaksikan kematian yang terlalu mudah tanpa adanya perlawanan dari anak buahnya.


"Ba-bagaimana mungkin kau bisa melakukannya?" gugup sang Panglima tidak mempercayainya.

__ADS_1


"Katakan kepada Kaisar Langit, suatu saat aku akan mengunjunginya. Pastikan para dewa menyambut kedatanganku dengan pesta yang meriah. Ha-ha-ha."


"Ka- kau, siapa kau sebenarnya?" pertanyaan yang sama keluar kembali dari bibirnya yang bergetar.


"Pergilah! Kau terlalu lemah untuk bermain-main denganku." Jingga mengusirnya dengan melambaikan punggung tangannya.


Panglima Tianfeng tidak kuasa menolaknya, ia lalu berbalik pergi meninggalkan Jingga dengan begitu cepat.


WUZZ!


"Sepertinya aku melupakan satu hal, tapi apa ya?" pikir Jingga sambil mengusap dagu memperhatikan laju Panglima Tianfeng yang pergi meninggalkannya.


"Oh iya, mungkin saja para dewa tahu cara untuk memperbaiki kerusakan lapisan langit alam iblis," imbuhnya lalu melesak mengejar Panglima Tianfeng.


WUZZ!


"Woi! Jangan pergi!" Pekik Ratu Kreya langsung melayang menyusul Jingga.


Panglima Tianfeng yang melaju cepat bak meteor jatuh langsung menghentikan lajunya setelah sebuah bayangan melewatinya.


"Tunggu, Tuan Dewa. Ada yang ingin aku tanyakan."


"Apa itu?"


Jingga lalu menjelaskan maksudnya. Panglima Tianfeng menganggukan kepala memahaminya. Ia lalu mengamati retakan langit di atasnya.


Belum sempat Panglima Tianfeng berkata apa pun. Ribuan bilah pedang energi melesat cepat menyerang keduanya. Jingga lalu memasang perisai iblis untuk menutupi keduanya.


DHUAR! DHUAR! DHUAR!


Ledakan demi ledakan terdengar nyaring dari hantaman ribuan bilah pedang energi yang menghantam perisai iblis yang diciptakan oleh Jingga.


Beberapa saat kemudian, suara ledakan berhenti dengan sendirinya. Akan tetapi, hal yang mengerikan baru saja dimulai. Di atas keduanya, sebilah tajam pedang energi berukuran raksasa tampak terayun secara vertikal melesak untuk menebas perisai energi yang melindungi Jingga dan Panglima Tianfeng.


"Wanita sialan!" rutuk Jingga lalu berkelebat menarik bahu Panglima Tianfeng.


WUZZ! SIU!


Tebasan pedang Ratu Kreya hanya mengenai udara kosong.


"Cepat juga dirimu menghindari seranganku. Tapi kalian tidak bisa pergi ke mana pun. Karena aku sudah membuat perangkap untuk menghancurkan kalian. Ha-ha-ha!" kekeh Ratu Kreya yang ternyata mengelabui Jingga dengan serangan pedang ilusi.


Ia lalu merapalkan mantra untuk membuat Jingga dan Panglima Tianfeng hancur di dalam jerat ilusinya. Akan tetapi ia tidak mengetahui bahwasanya Jingga merupakan seorang iblis penyihir. Ia tidak merasakan keberadaan Jingga di dalam jerat dimensi ilusinya.

__ADS_1


"Sialan! Aku tertipu bocah tengik!" keluh Ratu Kreya baru menyadarinya.


__ADS_2