
Seorang kakek tua berpenampilan lusuh berjalan pelan dengan menarik sebuah gerobak berisi buah-buahan yang entah dari mana ia mengambilnya. Kakek tua itu berhenti tepat di depan gerbang sekte Teratai Langit dan menjatuhkan dirinya berpura-pura pingsan.
"Lihat di sana ada kakek tua tidak sadarkan diri, ayo kita bantu" ujar seorang pemuda langsung berlari ke arah gerbang disusul oleh temannya dari belakang.
Kedua pemuda langsung membopongnya memasuki ke dalam sekte.
Seorang tetua sekte yang melihat kedua muridnya sedang membopong si kakek langsung meminta kedua muridnya membawa si kakek ke tempatnya berdiri.
"Ambilkan minum, sepertinya Kakek ini kelelahan" ucapnya sambil memeriksa urat nadi si kakek.
Seorang murid sekte lalu membawa kendi dan menyerahkan kepada gurunya yang langsung meminumkannya kepada si kakek.
Glek, glek, glek!
Air dari kendi memasuki tenggorokannya, tak lama kemudian ia siuman kembali. Tatapannya begitu sayu melihat tiga orang pria di depannya.
"Terima kasih, Tuan bertiga sudah menolongku" ucapnya lalu beranjak duduk.
Ketiga pria tersenyum lega melihatnya sudah baikan.
"Maaf, Kakek ini dari mana dan mau ke mana?" Tanya tetua sekte.
"Aku hanya seorang pedagang buah dari kota Luyan, karena tidak laku terjual, aku berjalan sampai ke sini. Maaf aku sudah merepotkan kalian, aku akan kembali pulang ke kota Luyan sekarang" jawabnya menjelaskan lalu berpamitan.
Kakek tua langsung berdiri dan berjalan ke arah gerobaknya yang berada di bawah gerbang sekte.
"Kakek, perjalanan dari sini ke ibukota sangatlah jauh. Sebaiknya Kakek melanjutkannya besok pagi saja" sambung tetua sekte menahannya.
"Terima kasih, Tuan. Adakah penginapan yang bisa aku kunjungi di sekitar sini?" Tanya kakek tua lalu merogoh kantong uangnya dan menghitungnya.
Melihat kakek tua yang hanya memiliki sedikit uang, tetua sekte langsung membawa si kakek ke kediamannya.
"Terima kasih, Tuan mengizinkanku menginap di sini. Entah bagaimana aku akan membalasnya" ucap si kakek tua langsung memasuki sebuah pondok kediaman tetua sekte.
"Tidak perlu berkata seperti itu, kita memang harus saling membantu" balas tetua sekte lalu meminta si kakek beristirahat di kamarnya.
Setelah tetua sekte pergi, Long Yiban langsung menduplikat dirinya. Ia menyelinap di dalam sekte mencari salah satu tetua yang kultivasinya berada di ranah Master Perak.
Dari luar, Chen Tian yang baru kembali ke sekte langsung memasuki kediaman gurunya. Ia selonong saja memasuki kamar gurunya karena sudah terbiasa.
Terlihat olehnya seorang kakek tua yang sedang tidur di kamar gurunya, ia merasakan kejanggalan dari tubuh kakek tua yang tidak bergerak.
"Siapa Kakek ini?" Tanya pikirnya tidak mengenali pria tua di depannya.
Chen Tian terus memperhatikannya, karena curiga ia langsung menyentuh pergelangan si kakek tua.
Matanya menyipit merasakan tidak adanya denyut nadi, semakin penasaran. Chen Tian menyandarkan telinganya memeriksa jantung si kakek tua.
Lagi-lagi ia tidak merasakan jantung si kaket tua berdetak.
Dengan panik, Chen Tian langsung berlari ke arah aula utama tempat para tetua sekte berkumpul.
"Guru!" Teriaknya memanggil gurunya.
"Ada apa Tian'er?" Tanya seorang guru menghampirinya.
"Di kamar guru ada mayat kakek tua" jawabnya lalu menarik tangan gurunya.
__ADS_1
Long Yiban yang bersembunyi di suatu tempat menyeringai melihatnya.
Di aula utama sekte, ia hanya melihat tetua sepuh saja yang sedang duduk tidak ikut menghampiri para tetua lainnya yang mengikuti Chen Tian.
"Ha ha ha, kultivator ranah Warrior Perak, sungguh suatu keberuntungan untukku menukarkannya dengan jasad putraku" gumamnya.
Long Yiban langsung menampakkan dirinya di hadapan sepuh sekte lalu mengayunkan pedang naganya.
Wuzz!
Srrt!
Tebasan Long Yiban mengenai udara kosong, sepuh sekte sudah menghilang dari tempatnya.
"Ha ha ha, beast naga api hitam. Sungguh suatu kehormatan bisa menyambutmu di sini" ujar sepuh sekte lalu membuat rantai es di kedua tangannya.
Siu!
Dhuar!
Dengan cepat sepuh sekte menyabetkan rantai es yang langsung melemparkan Long Yiban ke luar aula sekte.
Suara keras di aula sekte membuat tetua sekte langsung menghampirinya.
"Sepuh guru, apa yang terjadi?" Tanya para tetua bersamaan.
"Aku sedang menyambut tamuku" jawabnya.
Sepuh sekte langsung berkelebat menghampiri Long Yiban yang sudah melayang di udara.
"Aku terlalu meremehkanmu Kakek tua, mari kita lanjutkan lagi" ucap Long Yiban langsung menebaskan kembali pedang naganya.
Suara logam beradu dengan cepat di udara, dua energi berlawanan saling menekan keduanya.
Hawa panas dan dingin silih berganti mendominasi pertarungan.
Para tetua sekte langsung membuat formasi pelindung menutupi wilayah sekte.
Dhuar!
Dhuar!
Lesatan energi terus menghantam area pepohonan di bawah.
Sepuh sekte tampak begitu senang bisa menghadapi lawan yang sepadan, begitu pun dengan Long Yiban yang begitu semangat menghadapi kultivator legenda alam fana yang jarang ia hadapi.
"Kekuatanmu sungguh seperti seorang dewa, namun itu saja tidak cukup untuk mengalahkanku" ucap Long Yiban sambil terus menebaskan pedang naganya.
Siu!
Wuzz!
Long Yiban melesat terbang semakin tinggi ke atas langit.
Para tetua sekte yang khawatir akan keselamatan sepuh gurunya langsung beterbangan menghampiri.
"Sepuh guru, jangan terpancing dengannya, ia sengaja agar energi sepuh guru cepat habis terkuras" ujar seorang tetua sekte menahannya.
__ADS_1
"Kalian tenang saja, aku memiliki daya tahan yang kuat" timpalnya lalu melesat terbang ke udara.
Apa yang dipikirkan para tetua sekte berbeda dengan yang direncanakan oleh Long Yiban. Ia mengangkat ujung pedangnya ke langit lalh mengalirkan energi api hitamnya dan langsung melesat turun menjulurkan pedangnya yang teraliri energi api hitam.
Matanya begitu berbinar tidak percaya melihat tetua sekte melesat terbang ke arahnya. Seperti sebuah meteor jatuh, lesatan Long Yiban langsung menghantam keras tubuh sepuh sekte yang tidak menduganya sama sekali.
Wuzz!
Boom!
Ujung pedang naga yang teraliri energi api hitam langsung mengenai tubuh sepuh sekte yang membuat sepuh sekte jatuh dengan cepat menghantam tanah dan menciptakan kawah yang besar dengan lubang yang cukup dalam.
"Uhuk"
Sepuh sekte memuntahkan darah hitam, ia menggelengkan kepala tidak mempercayai pertarungannya bisa dikalahkan dengan mudah oleh beast naga hitam.
Para tetua sekte langsung berkelebat menghampiri guru sepuhnya, namun Long Yiban kembali melesatkan energi api hitamnya di udara.
Dhuar!
Dhuar!
Para tetua sekte terpental jauh dengan memuntahkan darah.
Long Yiban langsung mendarat menghampiri sepuh sekte yang bersiap akan kematiannya.
Melihat sepuh sektenya yang akan dieksekusi mati oleh Long Yiban, ribuan murid sekte Teratai Langit langsung berhamburan menyerang Long Yiban dengan melesatkan ribuan energi pedang.
Wuzz!
Dhuar!
Long Yiban hanya mengibaskan bilah pedangnya melemparkan kembali lesatan energi pedang yang datang ke arahnya.
Ribuan murid sekte langsung terpental berjatuhan terkena lesatan energi pedangnya sendiri.
"Silakan kau bunuh aku, jangan kau membunuh semua muridku" pinta sepuh sekte yang badannya terus mengeluarkan asap hitam.
"Ha ha ha, tujuanku bukan untuk membunuhmu tapi untuk menukarmu dengan jasad putraku" balas Long Yiban lalu mengikat sepuh sekte dengan energinya dan menariknya.
"Apa maksud ucapanmu?" Tanya sepuh sekte belum memahaminya.
"Kau akan tahu jawabannya nanti, sekarang diamlah!" Jawab Long Yiban lalu melesat ke area ilalang tidak jauh dari sekte Teratai Langit.
Sesampainya di depan perisai iblis di mana keberadaan hutan hantu berada. Long Yiban berbicara dengan transmisi energi suara.
"Yang Mulia Raja Iblis, hamba Long Yiban memohon izin mengambil jasad putraku" ucapnya dengan lantang.
Jingga yang sedang duduk bermeditasi di danau langsung membuka kedua matanya.
"Apa maksud ucapannya?" Tanya pikir Jingga belum mengetahuinya.
Ia lalu membuat segel di tangannya dan membuka perisai iblis di arah suara Long Yiban.
"Masuklah" sahut Jingga mengizinkannya.
Sebuah lubang terbuka menampakkan hutan yang begitu rimbun di dalamnya.
__ADS_1
Long Yiban langsung memasukinya dengan terus menarik tubuh sepuh sekte.