
Tiga hari berikutnya di pagi hari yang sangat cerah, tampak Jingga, Du Dung dan Bai Niu begitu bersemangat berjalan ke arah alun-alun kota Lanhua untuk melanjutkan putaran ketiga dimana peserta pertandingan tinggal menyisakan tiga puluh dua peserta dari berbagai sekte maupun klan yang ada di kekaisaran Fei.
Di putaran ketiga turnamen, Du Dung berada pada urutan pertama dalam pertandingan.
"Kau harus pintar-pintar membaca gaya bertarung lawanmu, sepertinya lawanmu kali ini akan menjadi awal yang berat untuk menembus babak selanjutnya" pinta Jingga mengingatkannya.
"Kau tenang saja, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk memenangkan babak ini" Balas Du Dung menimpali.
Setelah sambutan formalitas selesai disampaikan oleh pembawa acara, akhirnya pembawa acara memanggil perwakilan sekte Hiu Purba untuk memasuki arena pertandingan.
"Kakak Dang Ding eh, kakak Dung'er semangat" teriak Bai Niu yang hampir kembali menyebut nama yang menjadi olok-olokan semua orang, memberikan semangat kepada kakaknya Du Dung.
Du Dung berjalan lalu berdiri di tengah arena menunggu lawannya dipanggil oleh pembawa acara.
"Kita sambut dan berikan tepuk tangan meriah kepada pangeran Qianfan dari kerajaan Shuijing " teriak pembawa acara yang langsung disambut oleh gemuruh penonton yang mengelu-elukannya.
Terutama para gadis dan wanita begitu histeris akan sosoknya yang begitu rupawan.
Tak terkecuali dengan gadis yang tadinya berteriak mendukung Du dung ikut larut oleh sosok pemuda berpakaian biru.
"Tampannya" ucap Bai Niu sambil memegangi kedua pipinya yang sematang buah tomat melihat seorang pria berpakaian warna biru berjalan memasuki tengah arena.
"Dasar betina!" ucap Jingga melihat perubahan wajah Bai Niu yang merona.
Biasanya Bai Niu akan beradu mulut dengan Jingga setelah mendengarnya namun kali ini ia mengacuhkannya.
Sementara di arena, raut wajah Du Dung berubah pucat mengetahui lawan tandingnya seorang pangeran dari salah satu kerajaan taklukan kekaisaran Fei.
"Salam hormat pangeran" sapa Du Dung menjura ke arah pangeran.
"Kau tidak perlu seperti itu, di sini aku hanyalah seorang petarung, sebelum pertarungan kita dimulai, aku Qianfan dari Shuijing memohon bimbingannya dari saudara muda" ucap pangeran Qianfan begitu sopan dan menghormati lawan tandingnya.
Du Dung terkesima dengan sikap pangeran Qianfan yang begitu hormat.
"Pangeran terlalu berlebihan, aku Du Dung dari sekte Hiu Purba memohon bimbingan dari pangeran" balas Du Dung dengan hormat.
Setelah keduanya saling hormat, Du Dung langsung memindai tingkatan lawan di depannya.
"Kenapa aku tidak bisa mengetahui tingkatan kultivasinya?" Gumam batin Du Dung lalu memposisikan diri bersiap menghadapinya, begitupun dengan pangeran telah bersiap pada posisinya.
Setelah ditunggu lama, keduanya masih diam dalam posisi masing-masing, tidak ada yang mau mendahului untuk menyerang.
Para penonton pun menjadi geram melihat keduanya masih belum memulai pertarungannya, namun karena yang berada di tengah arena adalah seorang pangeran, para penonton hanya bisa sabar menunggunya.
"Kenapa kau diam saja?, jangan sungkan menghadapiku, silakan saudara muda untuk memulainya terlebih dahulu" tanya pangeran memintanya.
__ADS_1
Du Dung langsung mengeluarkan tombaknya dari cincin spasialnya,
"Mohon bimbingan pangeran" ucap Du Dung lalu menyerangnya dengan mengayunkan tombak ke arahnya.
Sreet!
Ujung tombak yang dilesatkan hanya mampu menggores tanah, pangeran Qianfan sudah menghilang dari posisinya dan sekarang ia berada di belakang Du Dung.
"Aku di belakangmu, ayo serang lagi" pinta pangeran yang berhasil menghindarinya.
Du Dung berbalik langsung menebaskan kembali tombaknya.
Sreet!
Tombaknya kembali hanya menggores tanah di bawahnya, hal itu terus berulang hingga Du Dung berhenti menebaskan tombaknya dan mundur menjauhi pangeran.
"Hem, kalau begini terus aku akan kalah dengan mudah, sebaiknya aku menunggunya menyerang" gumamnya langsung menancapkan ujung tombaknya ke tanah.
"Silakan pangeran, sekarang giliranmu" ucap Du Dung memintanya menyerang.
"Baik, terima kasih" sahutnya lalu mengeluarkan pedang dari cincin spasialnya.
"Bersiaplah" imbuhnya lalu berkelebat menebaskan pedangnya ke arah Du Dung.
Menggunakan instingnya, Du Dung langsung menangkis setiap arah lesatan pedang, suara nyaring dari benturan keras dua logam yang terus beradu membuat para penonton mulai menikmati pertunjukan yang berlangsung di tengah arena.
"Kekuatannya terlihat timpang, sepertinya kultivasi pangeran Qianfan berada di atasnya" gumam Jingga melihat situasinya.
Du Dung terus bertahan sambil mencari celah untuknya melakukan serangan balik, namun setelah lama ia mengamati serangan pangeran Qianfan, ia tidak menemukan celah untuknya berbuat sesuatu untuk bisa membalikkan keadaan.
Dan sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi, pangeran Qianfan tidak selalu mengayunkan pedang untuk menebasnya, ia memadukannya dengan kecepatan pukulan tangan kirinya dan tendangan kedua kakinya yang berhasil menembus pertahan Du Dung.
Dugh!
Du Dung terpental jauh, namun masih bisa diselamatkan oleh ujung tombaknya yang menahan dirinya tidak keluar dari batas arena.
Nafasnya begitu berat, tangannya masih bergetar menahan tekanan energi yang ia terima dari pangeran Qianfan.
"Pertahananmu begitu kuat" puji pangeran Qianfan menghampirinya lalu membantunya berdiri.
"Terima kasih pangeran" balasnya lalu pangeran Qianfan mengajaknya kembali ke tengah arena.
"Sepertinya kau terlalu fokus membaca seranganku, kau harus berpikir lebih lagi" ucap pangeran memberitahunya.
Du Dung tersenyum menanggapinya, lalu ia menoleh ke arah Jingga, Jingga yang ditatapnya berdiri lalu meletakkan tangannya ke dada.
__ADS_1
"Apa yang maksud oleh Jingga?" Tanya pikirnya belum memahami maksud yang disampaikan oleh Jingga.
Di samping itu, pangeran Qianfan memasukkan pedangnya lalu mengeluarkan sebuah tongkat besi menggantikan pedangnya.
"Saudara muda, aku harap kau mengeluarkan kemampuan terbaikmu, aku tidak akan sungkan lagi untuk mengalahkanmu" pinta pangeran lalu berlari menyerang Du Dung.
Trang!
Trang!
Trang!
Suara logam beradu kembali mengiringi pertarungan keduanya.
Sama seperti sebelumnya, Du Dung hanya mampu bertahan menahan gempuran cepat yang ditunjukkan oleh pangeran Qianfan.
Seiring waktu berjalan, Du Dung merasakan energinya terus terkuras.
Du Dung terus mundur menangkis serangan dari berbagai arah setiap lesatan yang datang kepadanya.
Lagi, pangeran Qianfan berhasil mendorongkan tongkatnya menggunakan energi spiritualnya menembus pertahan Du dung yang kembali harus terlempar jauh bergulingan ke sisi arena.
Tepat berada satu langkah dari batas arena, Du Dung memuntahkan darah akibat luka dalam terkena ujung tongkat yang tepat mengenai perutnya.
Ia berusaha bangkit kembali, namun ia kesulitan berdiri karena luka dalam yang diterimanya.
Dalam posisi satu kaki berlutut dengan menopang pada pegangan tombaknya, Du Dung termenung dalam kondisi yang paling sulit dihadapinya, akan tetapi ia menolak untuk menyerah.
Ia memutuskan untuk berhenti memikirkan apa pun yang membebani pikirannya, ia menguatkan tekadnya pada satu keyakinan untuk menyerang lawannya apa pun konsekuensi yang harus didapatnya.
"Aku tidak peduli walau pun tubuhku remuk, aku akan menyerangnya apa pun yang terjadi pada diriku" ucap batinnya menguatkan tekad.
Du Dung memaksakan diri untuk berdiri lalu berjalan pelan ke tengah arena dimana pangeran Qianfan telah menunggunya.
"Pangeran, ayo kita mulai lagi" pintanya lalu memutar tombaknya.
"Hem baiklah, tapi kali ini aku tidak akan memberikan waktu untukmu beristirahat" timpal pangeran Qianfan langsung melesat menyerangnya.
Du Dung yang di dua kesempatan terus bertahan, sekarang balik menyerang pangeran Qianfan yang terkejut dengan aksi nekad lawannya.
Du dung berkali-kali harus menggertakan giginya menahan rasa sakit terkena pukulan tongkat yang terus mengenainya, namun ia tidak mempedulikan rasa sakitnya, ia terus mengayunkan tombaknya menyerang pangeran Qianfan untuk mengurangi intensitas serangan dari pangeran Qianfan yang selalu mendominasi pertarungan.
Hingga pada satu momen keduanya melompat untuk mengakhiri pertarungan, pukulan tongkat pangeran Qianfan tepat mengenai kepala Du Dung.
Sambil menahan rasa sakit yang teramat dari pukulan tongkat pangeran Qianfan, Du Dung berhasil merobek kulit bagian bahu pangeran Qianfan sampai ujung tombaknya melukai leher sang pangeran.
__ADS_1
"Aku kalah" ucap pangeran Qianfan mengakui kekalahannya lalu melepaskan tongkatnya.
Semua orang berdiri bertepuk tangan akan kegigihan yang ditunjukkan oleh Du Dung dalam menghadapi pertarungan melawan pangeran Qianfan.