Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Danau Telaga


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar, Du Dung langsung melemparkan kunci ke arah Jingga yang baru saja memasuki pintu kamar, dengan sigap Jingga menangkapnya.


"Selama beberapa hari ini aku akan bermeditasi menyerap inti jiwa, selama itu juga kau bebas pergi kemana pun kau mau di kota ini, pastikan tidak ada yang menggangguku" ujar Du Dung lalu mengeluarkan puluhan inti jiwa beast kalajengking dan meletakkannya di depannya.


"Baiklah" sahut Jingga lalu berbaring memperhatikannya menyerap inti jiwa.


Seketika inti jiwa melayang layang di udara, tampak pusaran energi memasuki tubuh Du Dung dalam posisi meditasinya.


"Ternyata begitu cara menyerapnya" gumam Jingga yang langsung memejamkan kedua matanya.


Cahaya matahari pagi menembus celah jendela kamar, Jingga terduduk memperhatikan Du Dung masih dalam posisi bermeditasi.


"Kemana ya?" Pikirnya tidak mengetahui harus kemana ia berjalan di kota itu.


Dari pada berjalan tidak jelas juntrungannya, Jingga lalu menghampiri petugas penginapan.


"Paman, apakah paman tahu di mana saja tempat menarik yang bisa aku kunjungi di kota ini?" Tanya Jingga mencari referensi.


"Selain pelelangan Awan Raja, kau bisa ke danau Telaga di timur kota ini, tempat itu sesuai dengan pemuda sepertimu, kau ambil arah kiri pintu penginapan menuju danau, selamat bersenang senang" jawab petugas penginapan menyarankannya.


"Hem, baiklah terima kasih" ucap Jingga yang disambut senyuman penjaga penginapan.


Jingga berjalan mengikuti arah yang diberikan penjaga penginapan, melewati rumah-rumah penduduk pinggiran kota.


"Sudah tengah hari tapi belum juga aku melihat keberadaan danau" gumamnya terus melangkah menyusuri jalan yang semakin jauh rumah penduduk semakin berkurang.


Khawatir salah arah ia berjalan, Jingga langsung menghampiri rumah di dekatnya, terlihat seorang pria paruh baya sedang memotong kayu.


"Permisi tuan, apakah tuan tahu di mana danau Telaga berada?" Tanya Jingga.


Seorang pria paruh baya menghentikan kegiatannya lalu melirik ke arah pemuda di depannya.


"Kau lurus saja mengikuti jalan ke arah timur sana, di bawahnya terdapat danau Telaga" jawabnya lalu kembali melanjutkan aktifitasnya memotong kayu.


Jingga berterima kasih lalu melanjutkan perjalanannya sesuai petunjuk.


Setelah melewati hutan kecil, Jingga akhirnya melihat keberadaan danau yang begitu luas dengan beberapa perahu kecil yang berlalu lalang.


Lalu ia menuruni sebuah tangga ke arah danau, Tidak jauh dari tangga terakhir yang dipijaknya, Jingga melihat ada satu rumah seperti penginapan yang begitu ramai oleh suara perempuan di dalamnya.


"Sepertinya tuan muda berasal dari benua lain, apakah tuan muda mau menikmati suasana tengah danau Telaga ini? saya bisa mengantar tuan muda menyusuri danau, tapi di mana kekasih tuan muda?" Tanya seorang pria memakai tudung bambu yang entah dari mana datangnya langsung menawarkan kepadanya.


Jingga mengerutkan kening mendengar pertanyaan dari seorang pria memakai tudung bambu.

__ADS_1


"Apakah tidak boleh kalau aku sendiri?" Balik tanya Jingga memastikan.


"Tentu boleh tuan muda, mari ikut saya" jawab pria bertudung bambu mengajaknya.


"Tunggu paman, berapa biaya untuk menikmati suasana tengah danau?" Tanya jingga.


"Hanya dua puluh keping perak saja tuan, tuan muda bisa menikmati seluruh area danau sampai sore hari" jawab pria bertudung yang merupakan seorang nelayan di danau Telaga.


"Kalau sampai besok pagi berapa yang harus aku bayar?" Tanya jingga kembali.


Nelayan diam sejenak memikirkannya.


"Kalau sampai pagi tuan muda cukup membayar seratus keping perak" jawabnya lagi.


"Baiklah paman, tapi sebelum itu aku mau mencari arak dulu, paman tunggu sebentar" ucap jingga menyetujuinya.


"Tuan muda tidak perlu mencarinya, di perahu tersedia arak untuk tuan muda" timpal nelayan melarangnya mencari arak.


Jingga lalu mengikuti nelayan menaiki perahu.


Baru saja Jingga duduk di perahu, seorang gadis membawa kecapi menghampirinya.


"Maaf nona, perahu ini sudah aku pesan, nona bisa mencari perahu lainnya" ucap Jingga belum mengetahui maksudnya.


Gadis itu tersenyum lembut kepadanya,


"Terima kasih nona, tapi aku tidak membutuhkannya" timpal Jingga baru paham.


"Apa tuan tega kepadaku, aku membutuhkan biaya untuk mengobati ayahku yang sedang sakit" ucap gadis beralasan.


"Maaf nona, tapi uangku sedikit"balas Jingga tetap menolaknya.


"Sepuluh keping perak saja tuan" kekeh gadis sedikit memaksa.


"Hem baiklah, tapi kau temani aku sampai pagi, karena aku sudah memesan perahu sampai pagi hari, bagaimana nona?" tanya Jingga berharap gadis itu membatalkan niatnya.


"Maaf tuan, kalau sampai pagi biayanya menjadi dua ratus keping perak" ucap gadis menjelaskan.


Jingga menggelengkan kepala lalu melirik nelayan untuk menjalankan perahunya.


Baru saja perahu menjauh dari tepian danau, nampak terjadi keributan di rumah yang ramai itu,


Jingga menoleh memperhatikan keributan yang berakhir dengan pertarungan empat orang gadis melawan tujuh orang pria.

__ADS_1


"Berhenti dulu paman, kita nonton pertarungan dulu, sepertinya seru paman" ucap Jingga meminta.


"Baik tuan muda" sahutnya lalu menghentikan perahunya.


Tampak pertarungan terlihat begitu sengit, namun tak berlangsung lama keempat gadis berhasil mengalahkan ketujuh pria yang melarikan diri.


Jingga begitu kesal melihatnya lalu berteriak ke arah kerumunan,


"Woi, kenapa cepat sekali selesainya, kalian sungguh mengecewakan" teriaknya dengan keras.


Tampak keempat gadis dan beberapa orang yang berada di sana menoleh ke arah pemuda yang duduk di atas perahu.


"Siapa orang itu?, Aneh sekali" tanya salah seorang gadis berpakaian biru kepada ketiga temannya.


Ketiganya hanya menaikkan kedua bahunya tidak mengetahui siapa pemuda yang berteriak ke arahnya.


Jingga meminta nelayan menjalankan kembali perahunya lalu bersandar sambil meminum arak menghadap danau yang luas.


Jingga begitu menikmati suasana nyaman di tengah danau sampai pada malam hari dalam kegelapan malam yang begitu sunyi dihiasi bintang-bintang berkelipan.


"Paman kalau lelah beristirahatlah" pinta jingga yang melihat nelayan mulai kecapekan.


"Oya paman, jangan kembali sebelum aku bangun" pintanya lagi lalu melemparkan sepuluh keping emas.


"Tuan muda ini terlalu banyak" ucap nelayan tidak enak hati.


Jingga tidak menanggapinya, ia langsung tertidur pulas sambil menggenggam leher botol arak yang belum habis diminumnya.


Pagi hari nelayan terpaksa membangunkannya karena melihat adanya kepulan asap dari kejauhan.


"Ada apa paman? Kenapa paman membangunkanku?" Tanya Jingga yang masih belum puas dari tidurnya.


"Maaf tuan muda, ada kepulan asap di sana, sebaiknya kita lekas kembali ke tepian" jawab nelayan sambil menunjuk ke arah asap.


"Baiklah paman, ayo ke sana" timpal Jingga yang langsung duduk menatap kepulan asap pekat dari kejauhan.


Sesampainya di tepian, Jingga menghampiri kerumunan yang sedang mengumpulkan mayat yang terbakar, belasan mayat itu adalah para gadis yang bekerja di sebuah lokalisasi danau Telaga.


"Paman, apa yang sebenarnya terjadi?, Apakah terkait dengan pertarungan kemarin?" Tanya Jingga kepada seorang nelayan yang berdiri di dekatnya.


"Ya, awal mulanya dari tuan muda klan Chu yang tidak pernah mau membayar dan selalu menyiksa gadis yang menemaninya, tidak ingin selalu mendapat siksaan, para gadis melawannya yang menyebabkan terjadinya pertarungan kemarin, tadi di pagi buta lokalisasi terbakar, kami langsung datang untuk memadamkannya dan sekarang baru bisa mengambil tubuh korban yang semuanya dalam keadaan terikat" jawab nelayan menjelaskan.


"Lalu kenapa tidak ada orang yang berusaha mencegahnya, bukankah kalian selalu berada di tepian danau setiap harinya?" Tanya Jingga merasa heran.

__ADS_1


"Kami tidak berani tuan, klan Chu adalah klan penguasa daerah ini, usaha kami pun dipungut pajak olehnya" jawab nelayan lalu membantu nelayan lainnya mengurusi jenazah.


"siapa klan Chu ini?" tanya pikirnya.


__ADS_2