
Jingga terus melaju cepat sampai menuruni sebuah lembah yang begitu gelap tertutupi kabut tebal.
"Aura iblisnya lebih kuat, sepertinya akan menjadi pertarungan yang seru" gumam Jingga langsung berkamuflase menjadi sebuah pohon kecil.
Tidak jauh dari beberapa iblis yang berada di luar area kerumunan, Jingga terus bergeser mendekatinya.
"Jirex, kau di mana?" Tanya Jingga yang langsung dibalas oleh Jirex dengan deramannya.
"Ah sial! Aku lupa dia hanya bisa berderam" kesalnya lalu terus bergeser mendekati iblis yang berjalan membungkuk dengan kukunya yang panjang.
Berada pada area terluar, membuat Jingga kesulitan memindai area yang dipenuhi bangsa iblis yang menghalangi pandangannya.
"Aku harus bisa memasuki area dalam" gumamnya lalu berkelebat ke dalam area iblis.
Beberapa iblis meraung keras merasakan keberadaan dirinya, sontak saja hal itu membuat para iblis begitu waspada.
Bagian terluar area iblis langsung diselimuti oleh perisai formasi iblis agar tidak ada yang bisa memasukinya bahkan seekor nyamuk pun tidak bisa menembusnya.
Jingga langsung berkamuflase kembali menjadi sebuah rumput lalu bergeser cepat ke area paling dalam.
"Sungguh merepotkan" gumamnya sambil terus bergerak memasuki area dalam. Tampak terlihat olehnya sebuah gua di bawah tebing pegunungan.
Namun naas baginya, iblis yang berjaga menginjaknya.
"Bajingan nih iblis, punya kaki bau busuk main injak saja" rutuknya yang terhambat gerakannya.
Setelah iblis tidak lagi menginjaknya, Jingga langsung berkelebat memasuki gua dan menyamar menyerupai bebatuan.
Ia merayap sampai ke dalam area yang begitu luas bagian dalamnya. Tampak terlihat olehnya ribuan anak-anak yang sedang berlatih silat. Ribuan anak-anak itu terlihat tidak memiliki ekspresi dari wajahnya yang begitu pucat.
"Segel jiwa iblis" gumam Jingga memperhatikan anak-anak tanpa ekspresi.
Jingga terus memindai area lainnya di dalam gua, setelah melihatnya, Jingga kembali merayap dengan cepat ke area para gadis remaja berada.
Lebih dari tiga ratus gadis dalam keadaan polos pada satu ruang yang begitu sempit.
"Dasar iblis" geram Jingga setelah melihat para gadis remaja begitu memilukan.
Jingga melanjutkan pemindaiannya ke area lainnya untuk menemukan Jirex yang terpisah dari ruang para gadis.
Ia kembali merayap di dinding bebatuan menuju ke area Jirex yang berada di belakang dinding ruangan para gadis.
Kembali terlihat olehnya para gadis sedang berjajar rapi memasuki sebuah ruang yang mungkin menjadi tempat ritual para iblis.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, Jingga langsung memasuki celah sempit di dinding bebatuan yang hanya bisa dimasuki oleh satu orang dengan merangkak memasukinya.
Ia melihat di depannya Jirex sedang merangkak memasukinya.
Merasakan kehadiran Jingga di dekatnya, Jirex langsung berderam keras.
Beberapa iblis yang mendengarnya begitu terkejut lalu menarik paksa Jirex keluar dari celah batu.
Ditarik paksa oleh iblis membuat Jirex mengamuk lalu menerkam dan menggigit seorang iblis yang menariknya.
Para iblis langsung menarik tubuh Jirex yang terus menggigit leher iblis, namun terlambat, iblis yang digigit Jirex langsung mati seketika.
Jingga yang melihatnya dari celah batu langsung menampakkan dirinya lalu menebas leher iblis dengan pedangnya yang telah dialiri api semesta.
Sret!
Sret!
Delapan iblis terpenggal kepalanya lalu berubah menjadi debu yang beterbangan, kemudian Jingga menusukkan pedangnya ke tubuh iblis yang mati digigit Jirex.
Setelahnya Jingga langsung menghampiri Jirex lalu mengusap kepalanya. Sorot mata Jirex terlihat begitu marah.
"Terima kasih kau begitu sabar menungguku" ucap Jingga lalu merubah kembali Jirex ke tubuh aslinya.
Emosinya langsung memuncak hampir membuat dirinya bertransformasi menjadi iblis. Untungnya Jingga berhasil mengendalikan amarahnya lalu melirik Jirex yang merasakan ketakutan melihat tuannya begitu marah.
"Makanlah para iblis sepuasmu" ucap Jingga lalu membawa jirex ke tengah lembah dan menampakkan dirinya.
Kemunculan Jingga dan Jirex di tengah lembah membuat ribuan iblis langsung mengepungnya, bahkan langit menjadi semakin gelap tertutupi oleh para iblis yang melayang-layang di atasnya.
Jingga dan Jirex memancarkan api hitam yang menyala di matanya bersiap untuk menikmati pertarungannya dengan para iblis.
"Jianhuimie Yuzhou"
Tekanan aura iblis dari pedang yang digenggam Jingga membuat para iblis mundur dua langkah merasakan kengerian.
"Tarian pedang Asura"
"Sekarang!" Teriak Jingga langsung melesat cepat menyerang para iblis dengan begitu brutal. Hembusan angin bersuhu sangat panas tercipta dari setiap langkah Jingga menebaskan pedangnya.
Tak kalah brutal dengan Jingga yang terus berkelebat mengayunkan pedangnya.
Jirex begitu bersemangat menerkam dan mengoyak tubuh iblis satu persatu.
__ADS_1
Kemampuannya yang sekarang mengalami peningkatan yang cukup mengerikan.
Kecepatan larinya pun sudah sangat cepat, ia bahkan sudah bisa membentuk bayangan dari larinya.
Melihat Jingga dan monsternya begitu mudah membantai para iblis, hal itu membuat Para iblis tidak tinggal diam membiarkannya begitu saja.
Mereka terus melemparkan energi api ke berbagai arah tanpa peduli keberadaan iblis lainnya yang berkerumun.
Hal itu membuat pekerjaan Jingga sedikit terbantu karena setiap lesatan energi yang terus dilontarkan para iblis di barisan atas selalu mengenai iblis lainnya yang berada di bawah area pertempuran.
Api berkobar dengan sangat besar di lembah menyebabkan kepulan asap yang begitu pekat membumbung ke langit.
Jingga mengingat keberadaan anak-anak dan para gadis yang berada di dalam gua.
"Jirex, kau tarik para iblis menjauhi gua" pinta Jingga yang langsung diangguki Jirex yang terlihat begitu menikmati pertarungannya.
Jingga langsung berkelebat ke dalam gua lalu menebaskan pedangnya ke arah para iblis yang berada di dalamnya.
Setelahnya Jingga langsung membuat perisai formasi iblis berlapis menutupi gua agar api tidak merambat masuk ke dalam gua.
Jingga terkejut melihat kemampuan Jirex yang begitu buas dan liar menggerogoti tubuh iblis begitu cepat.
"Wow! Luar biasa!" Puji Jingga lalu terbang melayang menebaskan kembali pedangnya ke arah para iblis.
Melihat para iblis langsung hancur menjadi debu membuat Jingga tidak begitu senang. Ia kembali menarik api semestanya.
Kedua tangannya menggenggam pedang di depannya lalu menggerakkan sedikit jarinya merubah kedua logam pedangnya menjadi dua kali lebih panjang.
Sekarang ukuran pedang pada setiap bilahnya sepanjang lima meter yang berarti ukuran total panjangnya mencapai sepuluh meter lebih.
"Tarian pedang Asura"
Dalam posisi melayang di udara, Jingga memutar pedangnya bersilangan menebas ratusan iblis dengan sangat cepat.
Dhuar!
Dhuar!
Dentuman keras dari setiap ledakan tubuh iblis membuat Jingga begitu terpacu memainkan pedangnya membuat alunan suara seperti drum musik rock.
"Ha ha ha" tawa Jingga begitu puas mendengarkan ledakan iblis saling bersahutan.
"Yuhuuu!" Serunya begitu menikmati setiap tebasan Jianhuimie Yuzhou yang terus berputar.
__ADS_1
Sepersekian detik dari ledakan tubuh iblis, Jingga langsung melemparkan bola-bola api semesta berwarna putih untuk meleburkan tubuh iblis agar tidak kembali utuh ke wujudnya semula.