
Ratu Kalandiva semakin emosi dibuatnya. Niat terselubungnya bisa dengan mudah diketahui oleh Jingga. Namun, ia tidak menyerah begitu saja.
“Harus kau ketahui, musuhmu bukan hanya Dewa Matahari saja, di semesta alam ini ada lima pilar dewa yang tidak mungkin bisa dikalahkan tanpa bantuan dariku,” balas sang ratu mencoba meyakinkan Jingga untuk mempertimbangkan dirinya.
Jingga menyeringai dingin. Tampak berbinar sorot matanya, ia merasa tertantang dengan lima pilar dewa yang disebutkan oleh Ratu Kalandiva.
“Aku harap kelima pilar dewa itu sangat kuat dan membuatku bersemangat,” kata Jingga penuh semangat, “lalu, di mana mereka sekarang?”
Ratu Kalandiva mengerutkan keningnya, ia heran dengan Jingga yang bukannya khawatir mendengar kelima pilar yang disebutkannya. Jingga malah begitu bersemangat ingin menantangnya.
“Aku tahu kau memiliki tingkat kultivasi yang tinggi. Tapi, kelima pilar dewa bukanlah sosok yang bisa dianggap remeh olehmu, mereka adalah dewa tertinggi yang menjaga keutuhan alam semesta,” ujar Ratu Kalandiva mengingatkannya.
Jingga semakin bersemangat untuk melawan kelima pilar dewa. Hal itu ia tampakkan dari raut wajahnya yang ceria.
“Kuharap ucapan Nyonya itu benar, aku sangat berharap bisa mendapatkan lawan yang seimbang,” kata Jingga lalu menenggak arak.
“Sepertinya ada tamu yang datang, sebaiknya Nyonya pergi untuk menyambutnya,” imbuh Jingga memberitahunya setelah merasakan aura dari luar istana.
“Aura para dewa, untuk apa mereka berkunjung ke istanaku?” gumam Ratu Kalandiva merasa heran.
“Mana aku tahu. Itu urusan Nyonya, bukan urusanku,” sambung Jingga mengomentarinya.
“Heh! Aku tidak bicara denganmu, ya, Penguasa Alam Iblis,” balas Ratu Kalandiva lalu pergi meninggalkan Jingga yang terkekeh.
Setelah Ratu Kalandiva memasuki ruang dalam istana, Jingga lalu berkamuflase menjadi bayangan dan mengikuti langkah kaki Ratu Kalandiva menuju pintu depan istana. Terlihat keberadaan lima dewa berpakaian zirah sedang berdiri di depan pintu depan istana.
“Salam, Ratu Kalandiva. Kami datang untuk menjemput Ratu ke istana Langit,” ujar seorang pria berkumis tebal.
“Siapa yang meminta kalian?” tanya Ratu Kalandiva merasa tidak punya kepentingan dengan pihak istana Langit.
“Tentu saja, Yang Mulia Kaisar Langit,” jawab seorang pria yang sama.
“Ada urusan apa, Kaisar memintaku datang?”
“Kami tidak memiliki wewenang untuk menjawab pertanyaan itu. Mari, ikuti kami ke istana Langit!”
“Kalau aku menolaknya?”
“Maka kami akan memaksa dengan cara kasar.”
“Begitu ya, ha-ha.”
WUZZ!
__ADS_1
Ratu Kalandiva melancarkan serangan cepat dengan energi spiritualnya. Namun, kelima dewa berzirah sudah terlebih dahulu mengantisipasinya. Mereka menghilang dari pandangan sang ratu dan muncul kembali di atas istana Monster.
“Sialan! Mereka mengetahuinya,” keluh Ratu Kalandiva lalu memanggil para pengikutnya untuk membantunya bertarung.
Tak sampai dua hela napas, puluhan beast monster berwujud manusia tiba di depan istana.
“Bunuh kelima dewa sialan itu!” titah Ratu Kalandiva kepada para pengikutnya.
Puluhan beast monster langsung mengeluarkan senjata, mereka bersiap untuk menyerang kelima dewa yang berdiri melayang di atas istana Monster. Namun, sebelum para monster melesak terbang. Tiba-tiba saja, ratusan bahkan sampai seribu prajurit istana Langit menampakkan diri di balik awan.
Puluhan beast monster mengurungkan niat, kondisi mereka yang belum pulih paska pertarungan dengan Qianmei melatarbelakanginya. Mereka pun melirik sang ratu menunggu arahan selanjutnya.
“Apa yang membuat Kaisar Langit harus memerangi bangsa monster?” gumam tanya Ratu Kalandiva merasa heran sendiri setelah melihat banyaknya pasukan istana Langit yang sudah sangat siap untuk berperang.
Seorang beast monster bertanduk panjang mendekati sang ratu. Tampak, kecemasan terukir di raut wajahnya.
“Yang Mulia Ratu, pasukan kita tidak cukup banyak untuk menghadapi pasukan istana Langit, …, kami pun belum sepenuhnya pulih, mohon dipertimbangkan kembali!” ujarnya.
“Tunggulah! Aku akan menanyakan alasan mereka memerangi kita,” balas Ratu Kalandiva ingin memastikan.
Tanpa menunggu lama, sang ratu melayang terbang menghampiri kelima dewa yang berdiri melayang di depan ratusan pasukan istana Langit.
“Tuan-Tuan, kesalahan apa yang kami perbuat sehingga Kaisar Langit memerintahkan kalian untuk memerangi kami?” tanya Ratu Kalandiva meminta alasan.
Ratu Kalandiva terkejut mendengarnya, ia tidak tahu pertarungannya dengan Jingga diawasi oleh para dewa.
“Ini kesalahpahaman. Kami tidak pernah bersekutu dengan bangsa iblis. Kalian semua tentu melihat kami berperang melawan bangsa iblis,” sanggah sang ratu.
“Kalau begitu, menyerahlah dan ikutlah bersama kami ke istana Langit!”
“Aku akan pergi bersama kalian, tapi jangan kalian musnahkan semua pengikutku.”
“Perintah tetaplah perintah. Kami tidak bisa menuruti keinginanmu, Ratu.”
Ratu Kalandiva sangat geram mendengarnya. Ia tidak memiliki pilihan untuk melindungi para pengikutnya.
“Berarti aku tidak memiliki pilihan lain. Baiklah, kita akhiri saja semua ini dengan perang.”
Setelah mendapatkan kepastian alasan yang melatarbelakangi para dewa turun ke alam fana, khususnya ke istana Monster di benua Intibumi. Ratu Kalandiva memutuskan untuk menerima deklarasi perang dari para dewa. Ia pun melayang turun ke arah para pengikutnya.
“Yang Mulia Ratu, bagaimana hasilnya?” tanya seorang beast bermata bulat.
“Persiapkan diri kalian semua! Tidak ada pilihan untuk melarikan diri,” ujar sang ratu memintanya.
“Jadi, maksudnya kita akan berperang melawan para dewa?”
__ADS_1
“Ya, kita akan berperang sampai titik darah penghabisan!” tegasnya, “pimpinlah semua monster untuk bertarung.”
"Baik, Yang Mulia."
Para beast monster langsung melesak terbang menyerang para dewa di atasnya. Sedangkan
Ratu Kalandiva sendiri berkelebat ke halaman belakang istana. Namun, ia tidak melihat keberadaan Jingga yang biasanya bersandar di atas batu.
"Ke mana dia?" gumam pikir sang ratu terlihat cemas.
Jingga yang sedang berkamuflase langsung menampakkan diri di belakang sang ratu.
"Aku di sini, Nyonya," kata Jingga mengejutkannya.
Ratu Kalandiva membalikkan badan. Tatapannya terlihat sayu dengan sorot mata meminta pertolongan dari Jingga.
“Bi– bisakah, Penguasa Alam Iblis membantu rakyatku?” ujar sang ratu memohon.
“Bukankah keberadaanku yang membuat Kaisar Langit memerangi kalian semua?” balik tanya Jingga memberi kesimpulan.
“Ya, maka dari itu, aku memintamu membantuku.”
Jingga tersenyum simpul. Ia mengusap-usap dagu mempertimbangkan keterlibatannya. Beberapa saat kemudian, Jingga melebarkan senyuman tanda ia mendapatkan sebuah ide yang cukup menarik baginya.
“Aku akan membantumu berperang. Namun, setelah aku, eh tapi,” Jingga mengerutkan kening, “ sepertinya cukup para pengikutku yang membantai pasukan istana Langit. Setelahnya, kita akan melakukan serangan balik ke istana Langit. Aku minta Nyonya dan semua beast monster mengikutiku berperang.”
Deg!
Seakan berhenti napas yang diembuskan sang ratu. Ratu Kalandiva tidak menyangka seorang pemuda di depannya begitu nekat ingin menyerang istana Langit.
“Apa, Penguasa Alam Iblis tidak sedang mabuk?” tanya sang ratu.
“Apa aku terlihat sedang bercanda, Nyonya?” tanya balik Jingga menatap serius Ratu Kalandiva.
Ratu Kalandiva mundur tiga langkah menjauhi Jingga. Ia merinding menatap mata biru Jingga yang mengerikan baginya.
“Ba– baik, aku akan tunduk dan mengikutimu, Penguasa Alam Iblis,” jawabnya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Jingga.
“Bangunlah, Nyonya! Aku menerima dirimu.”
Jingga lalu menengadah melihat menara istana yang menjulang tinggi di sudut istana Monster.
“Temani aku minum arak di puncak menara itu,” imbuh Jingga sambil menunjuk ke atas puncak menara.
Ratu Kalandiva menengadahkan wajah. Ia masih sulit mengikuti nalar pemuda yang kini menjadi tuannya. Akan tetapi, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan semua perintahnya.
__ADS_1