
Keduanya kembali ke bale bambu melanjutkan aktivitas yang membosankan.
Mereka belum menyadari dampak dari pertarungan kedua pasangan dewa tersebut membuat ratusan kultivator dari berbagai sekte di kerajaan Kandao mendatangi penginapan Alam Surgawi kota Lieren Guojia.
Keributan pun terjadi antara ratusan kultivator yang memaksakan diri ingin memasuki area paviliun puncak penginapan, sedangkan Nyonya Xin Nuan tetap teguh pada pendiriannya melarang para kultivator memasuki paviliun puncak.
"Wah gawat" ucap Jingga yang mendengarkan keributan di bawah bukit.
"Kenapa Kak?" Tanya Bai Niu ingin tahu.
"Banyak kultivator yang memaksa Nyonya Xin Nuan untuk memasuki penginapan. Kau tunggulah di sini, aku akan turun melihatnya langsung" jawab Jingga langsung berkelebat menuruni bukit.
Jingga merubah dirinya menjadi bayangan lalu menghampiri keributan yang terlihat semakin memanas.
"Nyonya, kami sudah meminta dengan baik-baik namun kau terus menolaknya, jangan salahkan kami jika kami menggunakan cara kasar untuk menaiki bukit penginapanmu" ujar seorang pria paruh baya sedikit mengancamnya.
"Baiklah, aku akan mengizinkan maksimal lima orang dari kalian untuk menaiki bukit ke paviliun puncak, sisanya aku mohon maaf tidak bisa mengizinkan" ucapnya mulai melunak.
Nyonya Xin Nuan sengaja mengulur waktu untuk memikirkan metode terbaik agar tidak merugikannya apabila terjadi keributan di paviliun puncak penginapannya.
Hampir semua kultivator saling melirik tidak menyetujui keputusan pemilik penginapan yang hanya mengizinkan lima orang saja dari mereka yang berjumlah ratusan orang.
Kericuhan pun tidak terelakan di depan penginapan, semua orang ribut soal siapa kelima orang yang akan diizinkan memasuki penginapan.
"Cukup!" Teriak seorang pria besar dengan rambut dikuncir melompat turun dari atap penginapan.
"Nyonya, bagaimana caramu bisa menentukan siapa saja kelima orang yang boleh memasuki penginapan?" Tanya pria itu ingin tahu.
Nyonya Xin Nuan tersenyum mendengar pertanyaannya.
Ratusan orang langsung terdiam menunggu jawaban dari Nyonya pemilik penginapan.
"Mudah saja, siapa pun yang masuk harus membayar lima ratus ribu koin emas, anggap saja sebagai kunjungan resmi sekte kota Lieren Guojia memasuki penginapanku, aku tidak akan membatasi hanya lima orang saja, jadi siapa pun kalian yang berani membayar, maka aku persilakan kalian memasukinya" jawab Nyonya Xin Nuan menjelaskannya.
"Apa kau bermaksud untuk memeras kami, Nyonya?" Tanya pria berkuncir tidak senang.
"Tidak, ini hanyalah sebuah bisnis belaka, sudah menjadi hakku memungut biaya kepada siapa pun untuk memasuki penginapanku, jangan katakan kalian tidak memiliki uang, bukankah itu memalukan sekte kalian" jawab Nyonya Xin Nuan begitu pintar memanfaatkan situasi.
Jingga yang memperhatikannya mengacungkan kedua jempolnya kepada Nyonya Xin Nuan.
"Cakep! Ini baru wanita cerdas, bisa merubah masalah menjadi pundi-pundi emas. Sebelas dua belas sama Nyonya He" puji Jingga begitu kagum akan kecerdasan Nyonya Xin Nuan.
Ratusan orang langsung berdiskusi secara berkelompok, menentukan siapa yang akan memasuki area paviliun puncak, uniknya mereka semua patungan koin emas demi harga diri sekte yang menaungi kelompoknya.
Jingga terkekeh melihatnya,
__ADS_1
"Aku kira mereka semua orang kaya, tahunya kere semua ha ha ha"
Tampak terlihat sekitar tiga puluh orang membayar biaya masuk penginapan secara bergantian, walaupun raut wajah semuanya tampak begitu kesal.
"Baiklah, kalian akan diantarkan oleh pelayanku" ucap Nyonya Xin Nuan mengizinkannya.
Jingga langsung berkelebat kembali ke paviliun puncak, namun ia tidak melihat keberadaan Bai Niu di bale bambu.
"Ke mana adikku?" Tanya pikir Jingga lalu mencari di sekitarnya.
Karena keterbatasan waktu akan kedatangan para kultivator yang sedang menuju ke arahnya, Jingga mengabaikan adiknya sementara waktu. Ia langsung menarik ketiga adiknya yang berada di dalam rumah memasuki alam jiwanya.
"Jirex, kau jangan mengganggu ketiganya, pergilah bermain dengan beast monster lainnya" pinta Jingga yang langsung dibalas dengan deraman oleh Jirex.
Terdengar suara adiknya yang menahan puluhan kultivator yang akan menaiki anak tangga di bawah bukit, Jingga langsung berkelebat menghampirinya.
"Adikku yang ini, susah betul dikasih tahunya" gumamnya.
Jingga langsung duduk di anak tangga membiarkan Bai Niu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Nona, sebaiknya kau tidak menghalangi jalan kami atau kau akan menyesalinya" ujar pria berkuncir memintanya.
"Tidak, kalian tidak boleh menaiki tangga ke paviliun puncak, ada hantu gentayangan di sana, seram kan!" Tolak Bai Niu menakutinya.
Puluhan kultivator langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Jingga yang mendengarnya langsung menepuk keningnya.
"Kapan kau dewasanya Naninu?" Tanya pikirnya merasa lucu dengan perkataan adiknya.
Bai Niu begitu kesal dengan pria berkuncir yang terus memintanya menyingkir. Tanpa berpikir lagi, Bai Niu langsung menebas leher pria berkuncir dengan pedangnya.
Dug!
Kepala pria berkuncir langsung jatuh menggelinding ke tanah dan tubuhnya ambruk seketika.
"Huh! Menyebalkan" ucap Bai Niu tanpa rasa bersalah telah memenggal seorang kultivator di depannya.
Jingga kembali menepuk keningnya melihat kelakuan adik manjanya yang tidak memikirkan konsekuensinya.
"Kacau deh" gumam Jingga sambil menggaruk kepalanya yang berkutu.
Puluhan kultivator langsung melebarkan mata melihat seorang kultivator paling depan tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya, tidak ada satu pun yang melihat kapan gadis cantik itu memenggalnya.
Puluhan kultivator langsung mengeluarkan senjatanya bersiap untuk menyerang Bai Niu yang masih berdiri dengan tenang.
__ADS_1
Sret!
Sret!
Tubuh para kultivator langsung terbelah menjadi beberapa bagian. Bai Niu menebas puluhan kultivator dengan sangat cepat seperti yang biasa dilakukan oleh Jingga.
Seorang pria tua merinding ketakutan melihatnya, ia sendiri tidak melihat bagaimana gadis di dekatnya membantai ketiga puluh kultivator dengan sangat kejam.
"Paman tidak perlu takut kepadaku, ayo Paman, antar aku mencari Kakakku" ucap Bai Niu memintanya.
Bai Niu mengibaskan tangannya mencium bau menyengat dari pria tua di dekatnya yang mengompol.
"Maaf Nona" ucap pria tua tidak enak hati lalu berbalik ke arah depan.
"Tidak apa-apa, Paman" jawab Bai Niu memakluminya lalu mengikuti pria tua dengan menutup hidungnya.
Jingga berdiri mengikuti keduanya dari belakang.
Sesampainya di area depan penginapan, Nyonya Xin Nuan mengerutkan keningnya melihat pria tua sudah kembali mengantar para kultivator.
"Lao Shushu, cepat sekali kau kembali, kenapa kau tidak menunggu mereka sampai turun kembali?" Tanya Nyonya Xin Nuan merasa heran.
Belum sempat Paman Lao Shushu menjawab, Nyonya Xin Nuan mencium bau menyengat di dekatnya.
"Kau sudah tua, kenapa kau mengompol seperti bayi Lao Shushu?, Ada apa denganmu?" Dua pertanyaan tambahan diajukan Nyonya Xin Nuan ke arahnya.
Paman Lao Shushu begitu gemetar tidak tahu harus menjawab apa.
Bai Niu yang melihat Paman Lao Shushu gemetar langsung melangkah ke hadapan Nyonya Xin Nuan.
"Maaf, Nyonya. Ketiga puluh kultivator sudah aku habisi" ucap Bai Niu menggantikan Paman Lao Shushu menjawabnya.
"Apa!" Kaget Nyonya Xin Nuan terkejut mendengarnya, ia langsung menutupi mulutnya karena takut terdengar oleh ratusan kultivator yang sedang duduk tidak jauh darinya.
"Nona, kenapa kau membunuhnya?" Tanya Nyonya Xin Nuan begitu pelan.
"Karena mereka mengatakan aku gadis bodoh" jawab Bai Niu seadanya.
Beberapa kultivator yang sempat mendengar percakapan keduanya langsung menghampiri.
"Hei Nona cantik, siapa yang kau bunuh?" Tanya seorang kultivator ingin tahu.
Bai Niu langsung melirik ke arah kultivator yang menanyainya.
"Bukan siapa-siapa, tadi ada tiga puluh kodok buduk yang memaksa ingin menaiki anak tangga, karena geli jadi aku membunuh semuanya agar tidak bisa menaikinya, begitu Tuan" jawab Bai Niu memplesetkan.
__ADS_1
Beberapa kultivator mengangguk memahaminya lalu berbalik ke tempatnya menunggu orang-orang yang memasuki area paviliun puncak kembali.