Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kemampuan Mengagumkan Bai Niu


__ADS_3

Bai Niu berlalu pergi begitu saja meninggalkan area depan penginapan dengan senyumnya yang mengembang, ia bahkan melupakan tujuannya mencari kakaknya Jingga.


"Nih anak sakit apa ya?, Bukankah ia turun untuk mencariku" Tanya pikir Jingga sambil mengikutinya dari belakang.


Bai Niu terus melangkah menaiki anak tangga setapak demi setapak sambil menikmati udara segar dan keindahan taman bunga disepanjang perjalanannya menaiki anak tangga menuju paviliun puncak.


Sampai di depan rumah, ia langsung membuka pintu rumah dan berdiam diri termenung tidak melihat ketiga saudaranya yang sedang berkultivasi, ia merasa heran lalu keluar mencari keberadaan kakaknya Jingga di bale bambu.


Bai Niu begitu panik tidak menemukan satu pun saudaranya, ia langsung berkelebat ke rumah seberang yang pernah ditempati oleh dewi Es Bingji namun sama saja, ia hanya menemukan ruang kosong tanpa penghuni.


"Ke-, ke mana mereka semuanya?" Gumamnya bertanya-tanya.


Ia berputar-putar mengelilingi area paviliun puncak , kembali ia mendapati kenyataan semua area paviliun puncak tidak ada penghuninya.


Matanya menjadi sembab dengan genangan air mata yang akan terjatuh.


Bai Niu berdiri di pinggiran bukit, tak lama ia menangis histeris sambil menghentakkan kedua kakinya.


"Kakak!" Jeritnya lalu berguling-guling di tanah.


Jingga langsung berjongkok dengan menopang dagu memperhatikan adiknya.


"Duh! Anak ini kenapa tidak menyadari dirinya sudah dewasa?" Rutuk Jingga merasa kesal dengan kelakuan adiknya yang berguling-guling seperti anak kecil yang merengek tidak dibelikan mainan.


Jingga langsung menampakkan dirinya lalu menghampiri Bai Niu dengan berjongkok kembali.


"Cup, cup, cup, adik manis tidak boleh merengek, nanti kakak belikan kembang gula ya sayang" ucapnya merayu.


"Duh! Cantiknya adik kakak yang satu ini, sudah jangan menangis lagi, nanti cepat muda loh, ayo adikku sayang, bangun!" Imbuh Jingga terus merayunya.


Bai Niu begitu senang dengan kehadiran kakaknya, namun ia berpura-pura mengacuhkannya. Ia masih saja telungkup menopang wajahnya dengan kedua lengannya sambil terus merengek dalam tangisnya.


"Pergi sana! Kakak sudah tidak sayang aku lagi" usirnya meracau.


Jingga mengusap lembut kepala adiknya tanpa menanggapi racauannya, namun Bai Niu terus saja menangis.


"Lama-lama aku ulek juga nih anak jadi sambal, manja betul" keluh batin Jingga begitu kesal.


"Ya sudah, adikku yang manja minta apa sama kakak?" Ucap Jingga kembali merayunya.


Bai Niu beranjak duduk menatap Jingga sambil tersenyum, terlihat gaunnya begitu kotor karena ulahnya sendiri.


"Cium" pintanya dengan tatapan manja.


Jingga langsung mencium kedua pipinya dan juga keningnya.


"Sudah, ayo bangun" pinta Jingga setelah menciumnya.


"Tidak mau!" Balas Bai Niu memalingkan muka sambil melingkarkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Jingga menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Keinginanmu sudah aku turuti, sekarang apa lagi?" Tanya Jingga masih sabar.


"Ini" ucap Bai Niu menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Jingga kembali menghela napasnya lalu mengecupnya dengan lembut tapi berbeda dengan Bai Niu yang membalasnya dengan buas.


Setelahnya Jingga langsung berdiri lalu berbalik ke arah bale bambu.


"Kakak" panggil Bai Niu dengan tatapan manjanya.


Jingga berbalik dengan wajah kusutnya menatap Bai Niu.


"Ada apa lagi, Naninu sayang?" Tanya Jingga masih bersabar menghadapinya.


"Gendong" jawab Bai Niu dengan manja memintanya.


Jingga langsung berjongkok memunggunginya, Bai Niu langsung saja menaiki punggung kakaknya.


"Kak, di mana Mei'er, Zhia'er juga Kak Fan'er?" Tanya Bai Niu ingin tahu.


"Aku sembunyikan di tempat angker" jawab Jingga lalu mendudukan adiknya di bale bambu.


Bai Niu mengerutkan keningnya tidak memahami ucapan kakaknya.


"Kita harus segera pergi dari sini sebelum ratusan kultivator menyadarinya" imbuh Jingga langsung membawa adiknya turun dari paviliun puncak.


Jingga dan Bai Niu langsung meliriknya, tampak ratusan kultivator terlihat begitu marah di tempat puluhan mayat yang berserakan.


"Kak, biar aku saja yang menangani mereka" pinta Bai Niu langsung menuruni beberapa anak tangga.


"Kalian tidak perlu marah seperti itu, sudah jelek jadi semakin jelek dilihatnya, mereka hanya kodok yang memaksa untuk menaiki paviliun puncak, jadi harap dimaklumi kalau aku membunuhnya karena geli melihatnya, sekarang kalian pergilah" ucap Bai Niu terus melangkah menuruni anak tangga.


Ratusan kultivator semakin emosi mendengarnya, tanpa menunggu perintah, semua kultivator langsung melayang terbang menghampirinya dengan mengacungkan berbagai senjata yang siap untuk membalaskan dendam.


"Serang!" Teriak salah satunya.


Bai Niu menyeringai dingin menatap ratusan kultivator yang beterbangan menghampirinya, ia langsung menggenggam Jianshandian.


Aura dewanya terpancar, pupil matanya berkilat, tubuhnya dikelilingi arus kilatan petir. Bai Niu bertransformasi menjadi Dewi Petir.


Beberapa orang yang mendekatinya menahan laju terbangnya.


"Sial! Dia seorang dewa" gumam beberapa orang kultivator mulai mewaspadainya.


"Ayolah, tunjukkan kemampuan kalian" tantang Bai Niu.


Beberapa orang saling melirik satu sama lainnya.

__ADS_1


"Bagaimana ini?, Kita berada di bawah kekuatannya" tanya seseorang kepada temannya.


"Sudah terlanjur untuk mundur, kita serang bersama-sama" jawab seseorang paling depan, ia kemudian menoleh ke belakang meminta semua kultivator langsung mengepung dengan kode dari jarinya.


Ratusan kultivator membentuk formasi lingkaran menggabungkan energi spiritualnya lalu menyerang Bai Niu secara serentak.


Wuzz!


Bai Niu memutar tubuhnya dengan cepat membentuk angin beliung yang berkilatan arus petir di dalamnya.


Ratusan kultivator yang menyerangnya tersedot ke dalam lingkaran angin yang berputar semakin cepat.


Jingga terperangah melihat kemampuan adiknya yang begitu menakjubkan.


Bai Niu terus menebaskan pedangnya dengan sangat cepat membelah ratusan tubuh kultivator yang terbelenggu di dalam angin beliung. Tubuh para kultivator terlihat seperti buah-buahan yang memasuki mixer yang menggilingnya begitu cepat.


Boom!


Dhuar!


Potongan daging halus bercampur logam berhamburan ke sekelilingnya.


Jingga merasa jijik melihat potongan halus para kultivator yang berserakan.


Bai Niu masih melayang di udara dengan menggenggam pedang besarnya lalu menghampiri Jingga yang terlihat begitu mual.


"Kakak, kenapa?" Tanya Bai Niu yang sudah kembali ke setelan pabriknya.


"Jurus apa yang kau gunakan, Naninu?" Tanya balik Jingga.


"Tidak tahu Kak, tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku untuk memutar tubuhku dengan cepat" jawab Bai Niu seingatnya.


"Anak tangga menjadi licin karenamu, sebaiknya kita melayang menemui Nyonya Xin Nuan" sambung Jingga lalu menggenggam tangan adiknya terbang melayang ke arah depan penginapan.


Sesampainya, Jingga dan Bai Niu langsung menghampiri Nyonya Xin Nuan yang terlihat begitu pasrah akan nasib penginapannya.


"Maaf, Nyonya Xin Nuan, kehadiran kami membuat masalah di penginapan Nyonya" ucap Jingga merasa bersalah.


Nyonya Xin Nuan langsung berdiri di tempatnya, ia tersenyum lembut ke arah Jingga dan Bai Niu.


"Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku, aku sudah memperhitungkannya sejak kedatangan para kultivator, pendapatan yang aku dapatkan dari kalian dan para kultivator sudah cukup bagiku untuk merintis usaha baru di tempat lain" ujar Nyonya Xin Nuan dengan penuh perhitungan.


Jingga merasa lega mendengarnya, ia kemudian berpamitan kepada Nyonya Xin Nuan.


"Tunggu, Tuan muda" panggil Nyonya Xin Nuan.


"Iya, Nyonya" sahut Jingga berbalik ke arahnya.


"Bukankah kalian berlima, di mana teman-teman kalian yang lain?" Tanya Nyonya Xin Nuan baru menyadarinya.

__ADS_1


"Oh, teman-teman kami sudah pergi dari kemarin" jawab Jingga lalu berbalik pergi meninggalkan penginapan Alam Surgawi.


__ADS_2