Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pembalasan


__ADS_3

Jingga merasakan dilema di dalam hatinya, apakah ia akan membantu membalaskan kematian para gadis atau akan membiarkannya karena bukan menjadi masalahnya.


"Sebaiknya aku kembali saja ke penginapan" gumam batinnya memutuskan.


Jingga menaiki tangga yang sama ketika ia turun ke arah danau Telaga, dalam beberapa langkah ia menaiki Tangga, seorang gadis meneriakinya.


"Tuan tunggu" teriak seorang gadis berlari ke arahnya.


Jingga lalu menoleh ke bawah, ia melihat gadis yang sama yang menawarkan menemaninya kemarin.


"Ada apa kau memanggilku?" Tanya Jingga ketika gadis itu telah sampai di dekatnya.


"Bolehkah aku ikut bersama tuan?" Pinta si gadis lalu menggembungkan pipi berusaha menarik perhatiannya.


"Tidak boleh" jawab Jingga tegas, lalu ia melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Gadis itu terus mengikutinya dari belakang.


Sampai berada pada area datar di puncak tangga, Jingga berkelebat sembunyi di atas pohon.


Gadis yang baru sampai puncak tangga dengan cemas berputar-putar mencari keberadaan Jingga yang menghilang dengan cepat.


Tak lama si gadis terduduk sambil memukuli tanah lalu berjalan kembali ke arah sebelah tangga.


"Sebaiknya aku mati saja, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi" ucapnya lalu menutup kedua matanya dan melompat di samping tangga.


Jingga yang awalnya tidak mempercayainya lalu berkelebat melompat menyusul si gadis yang lebih dulu melompat.


Dengan jurus bayangannya, Jingga berhasil menangkap si gadis yang belum sampai menyentuh tanah di bawahnya.


Dugh!


Dugh!


Jingga menggunakan tubuhnya menopang tubuh gadis dalam dekapannya lalu keduanya berguling-guling di tanah.


Si gadis membuka kedua matanya, ia melihat wajah Jingga yang terlihat kesal menatapnya lalu mencium pipinya dengan lembut dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jingga.


Degh!


Jingga terdiam mendapatkan kecupan gadis yang baru ditemuinya kemarin.

__ADS_1


Keduanya terus dalam posisi berpelukan yang mana tanpa keduanya sadari, pelukannya semakin erat.


Sampai akhirnya Jingga tersadar kembali dengan apa yang ia rasakan, Jingga mendorong gadis ke sampingnya lalu kembali menaiki tangga meninggalkan si gadis.


Si gadis kembali mengikutinya, kali ini Jingga tidak bersembunyi, ia membiarkan gadis itu terus mengikutinya.


"Oh iya, aku melupakan satu hal" pikirnya lalu berbalik menatap si gadis yang terkejut karenanya.


"Nona, apa kau mengetahui tentang klan Chu?, Ceritakanlah kepadaku" tanya Jingga memintanya.


Gadis itu langsung menangis mendengar nama klan Chu disebutkan oleh Jingga. Mengingatkannya pada kisah pilu yang dialamiya.


Jingga kesal melihat si gadis yang bukannya menjawab, gadis itu malah menangis, namun ia sadar ada sesuatu yang menyakitinya berkaitan dengan klan Chu, jadi ia membiarkannya terus menangis sampai tangisannya mereda.


Setelah tangisannya reda, gadis itu mengangguk lalu menceritakan semuanya kepada Jingga.


Dalam ceritanya gadis bernama Bai Niu menjadi korban kebrutalan dan kebiadaban dari klan Chiu, ia digilir oleh semua pemuda klan, bahkan para tetua yang harusnya melindunginya malah ikut melecehkannya, padahal usianya saat itu masih belia.


Ia diancam untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun, dalam keputusasaan ia sempat mencoba untuk bunuh diri, namun upayanya diketahui oleh salah satu tuan muda klan Chu, hingga akhirnya ia dijual ke rumah lokalisasi di danau Telaga.


Beruntungnya pemilik lokalisasi tidak menjadikan dirinya seperti gadis lainnya karena usianya yang terlalu muda, ia hanya diminta memainkan kecapi untuk menemani tamu yang datang atau pun yang menaiki perahu, hingga kejadian pembantaian dan pembakaran membuatnya tidak memiliki sandaran untuk melanjutkan hidupnya.


"Lagi dan lagi, tidak Dang Ding Dung, tidak juga dengan Uwiw Uwiw, ditanya kemana jawabnya kemana" ucap Jingga dengan wajah kusut menanggapinya.


"Maaf tuan, Dang Ding Dung itu apa? Dan Uwiw Uwiw juga apa?, Aku sama sekali tidak mengerti" tanya Bai Niu ingin tahu.


"Sudahlah, sekarang katakan kepadaku dimana keberadaan klan Chu?" Jawab Jingga memintanya.


"Klan Chu berada di desa Chu bagian utara hutan ini, tapi tuan mau apa?, Mereka memiliki kultivator kuat di dalamnya, sebaiknya tuan tidak mengganggunya" ujar Bai Niu memberitahunya.


Jingga mengabaikannya lalu berkelebat ke arah yang ditunjuk.


Sampai pada gerbang desa, Jingga langsung menghancurkannya.


Suara keras dari hancurnya gerbang desa membuat beberapa orang yang mendengarnya langsung berlari melihatnya.


"Hei apa yang kau lakukan?" Tanya seorang pria menegurnya.


Jingga langsung berkelebat memukulnya.


Dugh!

__ADS_1


Pria itu terlempar ke udara lalu jatuh tidak sadarkan diri.


Tidak berhenti sampai di situ, beberapa orang lagi beterbangan terkena pukulan dan tendangan dari Jingga.


Sontak hal itu membuat yang lainnya langsung berbalik ke arah kediaman klan Chu untuk memberitahukannya.


Jingga berlari mengikuti beberapa orang yang berlarian ke arah rumah besar milik kediaman klan Chu.


Teriakan dari beberapa warga desa yang melihatnya, membuat semua orang warga desa berlarian ke kediaman klan Chu, ingin mengetahui apa yang terjadi.


Ratusan anggota klan Chu keluar dengan membawa senjatanya masing-masing setelah beberapa orang yang berlarian kembali untuk mengabarinya.


Seorang pria tua melangkah maju dengan pedang panjang mendekati Jingga yang berdiri tidak jauh darinya.


"Siapa kau?, Kenapa kau berbuat onar di desa?" Tanya pria tua yang merupakan tetua dari keluarga klan.


"Tanpa menyebutkannya, kau pasti mengetahui asalku, aku ingin membuat perhitungan dengan kalian semua atas apa yang terjadi di danau Telaga" jawab Jingga dengan tatapan dingin.


"Hahaha, kau tahu kami di benua matahari adalah para kultivator, kedatanganmu hanya mengantarkan nyawa, sebaiknya kau kembali ke benua asalmu, kau bukanlah seorang kultivator seperti kami, jangan mengotori tangan kami dengan tubuh busukmu itu" ucap pria tua merendahkannya.


Dengan cepat Jingga mengambil pedang dari genggaman tangan pria tua itu lalu menebas lehernya.


Buk!


Satu kepala terlepas dari tubuhnya, semua orang tidak percaya pada apa yang terjadi dengan salah satu tetua mereka.


"Bagaimana bisa dia melakukannya?" Tanya salah seorang pria paling depan membelalakan kedua matanya.


Sulit baginya memahami seorang kultivator begitu mudah dibunuh oleh orang tanpa kultivasi.


Jingga tahu, situasi seperti ini adalah momentum untuknya menyelesaikan pertarungan, seseorang dalam situasi terkejut membuatnya berada pada fase diam selama beberapa detik, fase inilah yang dimanfaatkan Jingga untuk menyerang menggunakan jurus bayangan dan tarian pedang asura.


Jingga dengan kecepatannya menebas kepala semua orang yang berada di barisan klan.


Hanya dalam beberapa detik ia kembali ke posisi awal.


Warga desa merinding ketakutan menyaksikan kepala yang terjatuh dalam waktu bersamaan, lalu semuanya berhamburan meninggalkan lokasi.


Jingga melirik pedang di genggamannya, memperhatikannya dengan lekat.


"Pedang ini seperti memberikanku energi lebih, aku harus menanyakannya kepada Dang Ding Dung" gumamnya lalu berkelebat meninggalkan desa.

__ADS_1


__ADS_2