Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kiamat Alam Iblis


__ADS_3


"Tak bisakah kalian berdua berhenti mengoceh?" tegur Kuan Etou merasa risih dengan perdebatan tak penting keduanya.


Ratu Xin Li Wei mendengus tidak senang mendengar teguran dari seorang iblis penyihir kepadanya. Ia merasa dirinya tidak dihargai sebagai seorang ratu iblis. Tatapannya begitu dingin dan tajam.


Kuan Etou yang sedang menggigil kedinginan tiba-tiba saja merasakan bebal di kulitnya. Tatapan sang Ratu menembus jiwanya dengan sayatan yang memilukan.


"Ma-maaf, Yang Mulia Ratu." Lirih Kuan Etou sambil menundukkan wajahnya.


"Lain kali kau seperti itu lagi, akan kucincang kau, Iblis lemah." Kata Ratu Xin Li Wei mengancamnya.


Kuan Etou mengangguk, namun dalam batinnya ia berucap,


"Kaupikir aku menghargaimu sebagai ratuku, maaf saja. Aku hanya akan tunduk kepada Yang Mulia Jingga."


To Tao menyeringai sinis mendengar umpatan batin si iblis penyihir. Namun ia tidak ingin memperkeruh keadaan. Ia bersama yang lainnya tengah fokus memperhatikan Jingga yang masih saja membesarkan bola apinya (matahari buatan). Entah apa yang sedang dipikirkan Jingga saat ini. Tidak ada satupun iblis yang mengetahuinya.


Jingga sendiri sedang fokus memperhatikan para monster iblis senyap yang mulai menggeliat kepanasan sambil berderam keras. Namun bukan hanya para monster iblis saja yang menggeliat, para iblis yang berhasil selamat dari serbuan monster iblis senyap bahkan mengalami nasib lebih tragis. Satu per satu dari mereka meregang nyawa dengan tubuh yang terbakar oleh sengatan sinar matahari buatan.


"Benar juga apa yang dikhawatirkan para pengikutku. Para iblis dari ras lainnya pun mengalami penderitaan yang sangat memilukan. Kasihan!" gumam Jingga lalu menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kita akhiri saja penderitaan kalian dengan kematian yang indah. Kalian pasti menyukainya. Bersenang-senanglah para iblis," imbuhnya diiringi senyuman lembut yang terukir dari bibirnya.


"KAA-PAAB, KAA-PAAB, HAAA!"


Teknik lemparan api dilayangkannya dengan penuh energi.


WUZZ! BOOM!


Matahari buatan akhirnya dilemparkan Jingga ke bawahnya. Menciptakan sebuah ledakan maha dahsyat yang langsung menyeruak ke berbagai arah dengan begitu cepatnya seperti gelombang tsunami. Dahsyatnya ledakan membuat alam iblis tak ubahnya seperti kiamat yang menghancurkan dan membinasakan apa pun yang dilalui oleh badai api yang sangat mengerikan.


Deraman keras monster iblis senyap dan jeritan pilu para iblis lainnya mewarnai kematian indah para penghuni alam iblis yang meregang nyawa. Gelombang badai api terus meluas sejauh mata memandang di benua Siwang Zhihong, tempat Jingga berada. Bahkan mungkin bisa mencapai ke benua Heibiantan dan Beishang karena ketiga benua tersebut masih dalam satu daratan di alam iblis.


Tanah alam iblis berubah menjadi bara api yang menyala hingga menyebabkan guncangan keras yang menciptakan garis lebar yang menganga di hampir seluruh wilayah benua Siwang Zhihong.

__ADS_1


Guncangan keras alam iblis bahkan berdampak buruk terhadap alam fana yang mengalami ketidakseimbangan alam. Lautan tiba-tiba menyusut, hewan-hewan darat berhamburan, para beast monster meraung keras. Pun demikian dengan para kultivator yang merasakan kepanikan akan terjadinya suatu musibah besar di alam fana.


Sedangkan di alam dewa, meskipun tidak berdampak secara langsung. Namun para dewa mengetahui ada sesuatu yang salah dengan keseimbangan alam semesta. Kaisar Langit bertindak cepat dengan langsung mengumpulkan para dewa untuk mendiskusikan perihal yang terjadi.


Istana langit menjadi sangat ramai oleh kedatangan para pejabat istana dan juga para tetua sekte maupun klan yang berada di bawah naungan istana di alam dewa.


Seorang pria tua berjanggut putih nan panjang melangkah tenang ke hadapan Kaisar Langit. Ia menjura sambil membungkukkan badan lalu berucap,


"Yang Mulia, sesuatu yang buruk akan terjadi beberapa waktu ke depan di alam fana. Inilah saatnya bagi kita para dewa untuk dapat membantu para penghuni alam fana menyelamatkan diri dari bencana,"


"Dewa Alam, bukan itu yang ingin aku dengar." Potong Kaisar Langit lalu melambaikan tangan ke arah seorang dewa lainnya yang berbaris di antara para dewa.


Seorang dewa yang dipanggil pun berjalan cepat menghadap Kaisar Langit, kemudian membungkuk.


"Hamba, Yang Mulia."


"Dewa Pengetahuan, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Melihat dampak yang terjadi di alam fana. Hamba meyakini adanya fluktuasi energi yang sangat besar yang terjadi di alam iblis. Dan menurut yang hamba pelajari, di alam iblis sedang terjadi kehancuran dengan skala besar. Atau lebih tepatnya adalah kiamat alam iblis."


"Diam semuanya!" pekik Kaisar Langit merentangkan kedua tanggannya, meminta para dewa untuk bersikap tenang.


Suasana istana kembali tenang. Mereka semua menunggu langkah apa yang akan diambil oleh Kaisar dalam menyikapi sesuatu yang baru mereka dengar selama ribuan tahun lamanya.


Kaisar Langit mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria besar berpakaian zirah emas yang berdiri tegap tidak jauh darinya.


"Panglima Tianfeng, bagaimana dengan para pengintai di alam iblis? Apa sudah ada laporan?"


"Maaf, Yang Mulia. Sepertinya yang disampaikan oleh dewa Pengetahuan benar adanya."


"Apa maksudnya?"


"Giok jiwa para pengintai semuanya hancur secara bersamaan beberapa waktu yang lalu. Itu artinya mereka semua terbunuh dalam satu waktu."


Kaisar Langit terperangah mendengarnya. Sambil mengelus janggutnya yang panjang, Kaisar langit berjalan mondar-mandir di depan kursi singgasananya. Tampak raut wajahnya sedikit menyingkap kekhawatiran yang dirasakannya. Kedua matanya berputar menyapu para dewa yang menantikan titah yang akan diutarakannya.

__ADS_1


"Panglima, bawa beberapa pasukan untuk melihat langsung kondisi di alam iblis." Ujarnya.


"Baik, Yang Mulia. Hamba laksanakan." Sahut Panglima Tianfeng dengan lugas.


Sang Panglima pun langsung bergegas pergi meninggalkan istana langit. Sementara para dewa lainnya masih sabar menanti titah yang akan dialamatkan kepada mereka semua.


"Untuk kalian semua, buatlah tim untuk mengantisipasi musibah di alam fana. Laporkan semuanya padaku secara intensif." Imbuh Kaisar langit lalu berbalik meninggalkan para dewa di aula istana.


Jauh di tempat terpencil di alam dewa. Seorang dewa yang bertapa tiba-tiba saja membuka kedua matanya. Ia terlihat sangat senang dengan apa yang dirasakannya. Sesuatu yang memacu hasrat bertarung yang sudah dinantikannya.


"Yuangu Mowang, kemampuanmu sangat menakjubkan. Aku tidak sabar menantikan kehadiranmu di alam dewa. Ha-ha-ha." Gumam sang Dewa bernama Taiyangshen lalu kembali menutup matanya melanjutkan pertapaan.


Kembali ke posisi Jingga di alam iblis.


Badai api masih terus meluas di benua Siwang Zhihong. Suhu panasnya semakin menyengat hingga melelehkan lapisan es yang melindungi para pengikut Jingga.


Jingga yang dalam posisi bebas langsung melirik ke arah para pengikutnya. Ia memperhatikan satu per satu iblis di dalamnya.


"Di mana, Bobeng?" Tanya pikirnya setelah mengamati para iblis yang dikenalinya.


Beberapa saat kemudian, lapisan es meleleh sepenuhnya. Para iblis yang membeku kedinginan sekarang mulai merasakan hangat di tubuhnya, namun rasa hangat tersebut hanya beberapa helaan napas saja. Suhu panas mulai terasa semakin menyengat. Satu per satu para iblis mulai menggeliat kepanasan.


"Kalian seperti monster iblis senyap. Bertahanlah!" Sindir Jingga merasa lucu melihatnya.


"Ma-maaf, Yang Mulia. Tapi sungguh, ini sangat panas." Timpal Kuan Etou tidak sanggup menahannya.


"Dasar lemah!" celetuk To Tao mencemoohnya.


"Huh! Setidaknya aku tidak mencari muka untuk mengejar cinta Ratu Xin Li Wei." Dengus Kuan Etou membalasnya.


SRING!


"Hentikan! Kubunuh kalian berdua!" geram Ratu Xin Li Wei menjulurkan pedangnya ke arah leher Kuan Etou.


SRING! SRING!

__ADS_1


Para murid dari divisi Wushi Xuetu langsung menarik berbagai senjata yang diarahkan ke tubuh Ratu Xin Li Wei. Mereka tidak terima gurunya diancam sang Ratu.


__ADS_2