Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Memimu


__ADS_3

"Aku sudah mengatakannya kepadamu, keduanya adalah adikku" jawab Jingga lalu tersenyum melihat kedua adiknya yang berhasil membantai musuh dari sekte Kalajengking Es.


Qianmei dan Bai Niu langsung berkelebat menghampiri Jingga yang sedang berdiri bersama beberapa pemuda.


"Kak Jingga, siapa mereka?" Tanya Qianmei yang merasa risih ditatap aneh oleh beberapa pemuda yang bibirnya meneteskan saliva.


"Ini Chen Tian, anak Paman Chen Lau dan Bibi Ning Rum, yang lainnya aku tidak kenal" jawab Jingga lalu membawa kedua adiknya memasuki kampung Cerita Hati meninggalkan Chen Tian dan teman-temannya yang masih terdiam dalam lamunan.


Suasana tenang dan damai masih melekat di dalam perkampungan yang hampir seluruhnya adalah petani.


Qianmei dan Bai Niu begitu menikmati suasana asri yang sangat mendamaikan hati.


Tepat pada sebuah rumah sederhana, Jingga langsung mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa di luar?" Tanya seorang wanita dari dalam.


Jingga hanya diam saja tidak menjawabnya, sampai akhirnya pintu terbuka dengan sendirinya.


"Jingga!" Panggil bibi Ning Rum langsung memeluknya.


"Anakku, kau terlihat masih sama seperti waktu terakhir kau meninggalkan kami. Apa kau berkultivasi?" Tanya bibi Ning Rum memegangi wajah Jingga yang tidak berubah.


"Tidak, Bi. Aku mungkin terkena kutukan hingga wajahku berhenti di usia dua puluh tahun" jawab Jingga asal ceplos.


"Paman di mana Bi? Aku tadi ke ladang tidak melihatnya" imbuh Jingga menanyakannya.


Bibi Ning Rum yang tersenyum sekarang mengerutkan bibirnya. Ia tampak begitu sedih, air matanya menggenang di sudut dalam pupilnya.


"Pamanmu sudah tiada" jawab bibi Ning Rum lalu meneteskan air mata.


"Maafkan aku Bi" sambung Jingga lalu mengusapi pipi bibinya.


"Siapa kedua gadis cantik ini?" Tanya bibi Ning Rum mengalihkan perhatiannya.


"Salam Bibi, aku Bai Niu dan di sebelahku Qianmei. Kami berdua adiknya Kak Jingga" ucap Bai Niu sambil menjura.


Jingga teringat akan istrinya yang belum ia kenalkan.


"Sayang, apa kau mau mengenal Bibi yang merawatku dari kecil?" Tanya Jingga di dalam batinnya.


Xian Hou tidak menjawabnya, ia langsung muncul di depan Jingga.


"Salam hormat Bibi, aku Xian Hou, istri Jingga" ucap Xian Hou mengenalkan diri.


Bibi Ning Rum langsung melebar kedua matanya, ia begitu terkejut melihat gadis yang begitu cantik di depannya. Menurut keyakinannya, bibi Ning Rum langsung berlutut di depannya.


"Hormat, yang Mulia Dewi" ucap bibi Ning Rum langsung bersujud tiga kali di tanah.

__ADS_1


Jingga lalu membangunkannya karena merasa tidak pantas istrinya diperlakukan begitu.


"Bibi tidak perlu begitu kepada istriku" ujar Jingga memintanya.


"Istrimu seorang dewi, sudah selayaknya Bibi menghormatinya" kilah bibi Ning Rum.


Xian Hou pertama kalinya menampilkan wujud aslinya, ia tampak begitu anggun dengan mahkota yang menempel di kepalanya dan delapan sayap di punggungnya yang terus bergerak, kulitnya bersinar memancarkan cahaya putih yang lembut. Itu adalah wujud aslinya tanpa menggunakan energi spiritual seperti sebelumnya. Tak lama ia menghilang kembali.


Bukan hanya bibi Ning Rum saja yang terkejut, kedua adiknya pun terpana melihat wujud asli kakak iparnya.


"Maafkan istriku, Bi" ucap Jingga menyadarkan lamunan ketiganya.


"Tidak apa-apa, Bibi hanya terpana melihat seorang dewi begitu dekat. Ayo masuk. Bibi punya stok susu yang banyak untukmu" jawab bibi Ning Rum lalu menarik tangan Jingga memasuki rumahnya diikuti oleh kedua adiknya.


Bibi Ning Rum lalu bercerita banyak hal tentang Jingga kepada kedua gadis.


Dari awal Jingga datang ke kampung Cerita Hati sampai ia memutuskan untuk mengembara diceritakan semuanya oleh Bibi Ning Rum.


Jingga hanya tersenyum kecut mendengarnya sambil meminum susu yang diberikan oleh bibinya.


Di luar pintu, Chen Tian tanpa suara langsung memasuki ke dalam rumah, ia ikut duduk bergabung dengan ketiganya sambil terus memperhatikan kedua gadis yang selalu tersenyum mendengarkan cerita ibunya.


"Tian'er, kedua gadis ini adalah adik angkatnya Jingga" ucap ibunya memperkenalkan kedua gadis kepada anaknya.


"Salam, Kakak" sapa kedua gadis serentak.


Chen Tian hanya melongo saja melihat kecantikan keduanya tanpa bisa membalas sapaannya.


"Oh, iya Bu. Aku Chen Tian. Salam hormat untuk Ibu" sahut Chen Tian memperkenalkan dirinya kepada ibunya.


Jingga menggelengkan kepala melihatnya, sedangkan Bai Niu dan Qianmei hanya tersenyum saja menanggapinya.


Seminggu sudah ketiganya berada di kampung Cerita Hati, setelah merasa cukup kunjungannya, Jingga langsung berpamitan kepada bibinya.


"Jingga, tidak bisakah kau tinggal lebih lama lagi. Bibi takut tidak bisa melihatmu lagi" ujar bibi Ning Rum mencoba menahannya.


"Maafkan aku, Bi. Tapi urusanku masih banyak untuk membuat semesta selalu damai. Di lain waktu, aku pasti akan sering mengunjungi Bibi" balas Jingga lalu menundukan kepalanya.


"Ya sudah, tapi bawa kembali kedua adikmu itu, mungkin saja salah satunya ada yang menjadi mantu Bibi" timpalnya berharap.


"Baik Bi, aku akan membawa kedua adikku" tanggap Jingga lalu menarik kedua adiknya terbang ke awan.


Bibi Ning Rum tampak begitu sedih ditinggalkan kembali oleh Jingga yang sudah dianggapnya anak sendiri, tetapi yang menangis justru Chen Tian.


Dalam waktu seminggu ia berusaha mendapatkan hati kedua adik Jingga, namun tidak ada satu pun yang mau menerimanya.


"Kenapa hidup ini tidak adil?" Teriaknya setelah tidak lagi melihat keberadaan Qianmei dan Bai Niu di rumahnya.


Jingga yang terbang melayang bersama kedua adiknya di kedua sisi tubuhnya terus memperhatikan area ilalang yang sangat tinggi, ia langsung menghentikan laju terbangnya.

__ADS_1


"Kak Jingga ada apa?" Tanya Bai Niu heran, ia sendiri tidak melihat sesuatu yang aneh di bawahnya.


Jingga langsung menarik kedua adiknya memasuki alam jiwa.


"Kalian tunggulah di sini" pinta Jingga kepada keduanya.


"Baik, Kak!" Sahut keduanya.


Jingga lalu membuat bola api untuk menerangi dimensi alam jiwanya.


"Kalian tidak boleh terlalu jauh berjalan, hanya di sekitar sini saja yang bisa terpapar cahaya api"


"Baik, Kak!"


"Jirex!" Panggil Jingga.


Tidak ada deraman yang terdengar, namun keberadaannya bisa dirasakan oleh Jingga.


Wuzz!


Deru angin menerpanya lalu muncul seorang gadis bertubuh polos di depannya.


"Tuan" ucap seorang gadis yang kedua matanya hanya memiliki warna hitam saja.


"Jirex, kau betina?" Tanya Jingga yang terkejut melihat transformasi beast monsternya.


"Naninu" panggil Jingga meliriknya.


Bai Niu yang memahaminya langsung mengeluarkan gaunnya dari cincin spasialnya, ia lalu memakaikan gaun ke tubuh Jirex.


Sekarang Jirex tampak begitu cantik, namun tatapannya tanpa ekspresi dan terlihat sangat menakutkan.


Jirex langsung menggosok-gosokkan wajahnya ke badan Jingga. Mendapat perlakuan seperti itu, Jingga langsung teringat apa yang biasa ia lakukan kepadanya.


Ia lalu mengusap lembut kepala Jirex seperti biasanya.


Kedua adiknya merasa lucu melihat tingkah gadis bertampang seram namun manja kepada kakaknya.


"Tuan, ada yang mau aku tunjukkan" ucap Jirex lalu menarik dua puluh beast monster yang melayang ke udara.


Wuzz!


"Wow! Kau sungguh luar biasa" puji Jingga begitu kagum.


Tidak sampai satu detik, dua puluh beast monster telah habis dimakannya.


Bai Niu dan Qianmei begitu merinding melihat kemampuan Jirex di luar nalar keduanya.


"Halo Kak Naninu dan Kak Memimu" sapa Jirex kepada keduanya.

__ADS_1


Jingga sontak tertawa mendengar nama Qianmei yang disebut oleh Jirex. Bai Niu juga ikut tertawa mendengarnya, sedangkan Qianmei langsung cemberut menanggapinya.


Setelah puas tertawa, Jingga langsung membawa Jirex keluar.


__ADS_2