Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kecerdikan Jirex


__ADS_3


Setelah merasa puas menikmati terapi sauna dari beast serangga dan pijatan lembut beast jaguar hitam, sang predator mulai merasakan lapar di perutnya. Ia menatap tajam para beast monster di sekitarnya dengan sorot mata membunuh. Pandangannya lalu beralih ke arah pepohonan yang dipenuhi oleh beast serangga yang terus bercokol pada ranting-ranting pepohonan dengan ekor dipenuhi oleh sisa-sisa cairan hijau.


WUZZ!


Jirex berlari cepat dengan membuka lebar rahangnya yang dipenuhi taring-taring tajam yang siap untuk menggerogoti beast serangga. 


KRAUK! KRAUK!


Satu per satu beast serangga dimakannya dengan begitu lahap. Rahangnya yang lebar dan tubuhnya yang besar membuat pohon-pohon yang ditempati oleh beast serangga ikut termakan olehnya. Hanya beberapa hela napas saja, Jirex berhasil memakan sedikitnya lima beast serangga pada satu batang pohon.


Beberapa beast monster lainnya tampak ragu untuk menyerang. Tidak ada satu pun dari para beast monster yang berada beberapa tombak dari Jirex yang berani melancarkan serangan. Para beast monster hanya bersikap waspada menghadapi kemungkinan diserang oleh Jirex.


Jirex mengangkat kepala dan merobek udara dengan taringnya yang tajam. Ia menghancurkan pohon-pohon besar dan memakan habis beast serangga yang menempatinya. Dalam aksinya ini, ia berperan sebagai pendominasi, dengan menguasai pertarungan dan membuat beast monster lainnya menggigil ketakutan.


Tidak ingin menjadi bulan-bulanan sang predator, puluhan beast monster serangga mencoba menyerang Jirex, tetapi tidak berhasil. Jirex dengan mudah menghindari serangan mereka dan membalas dengan serangan balik yang mematikan. Ia menangkis serangan beast serangga dengan mudah, dan kemudian menangkapnya di antara taring-taringnya yang tajam sebelum melahapnya.


Beberapa beast serangga kembali menyerangnya dengan menembakkan racun dari ekornya ke arah Jirex, namun Jirex membiarkan saja racun itu mengenai tubuhnya. Jirex kemudian melancarkan serangan balik dengan melompat dan menerkam beast serangga satu per satu dengan taringnya dan dengan mudah memakan tubuhnya.


Beast monster lainnya tidak ingin bernasib sama seperti beast serangga. Mereka mulai menyerang Jirex secara bersamaan dengan cakar dan taring mereka, tetapi Jirex dengan mudah menghindari serangan itu dengan memutar tubuhnya dan menangkis taring monster dengan melebarkan rahangnya lalu menggigitnya dengan kuat dan mematikan.


Monster-monster itu tidak berdaya melawan kekuatan dan kecepatan Jirex yang di luar batas kemampuan para beast monster di alam fana. Serangan yang dilancarkan oleh Jirex terus berulang hingga menyisakan puluhan beast monster yang perlahan mundur menghindarinya.


Dalam pertarungan ini, Jirex tidak hanya menunjukkan kecepatan dan kekuatannya, ia menunjukkan kepada para beast monster bagaimana bertarung dengan cerdik dan efektif. Ia memperlihatkan dirinya sebagai predator yang kuat dan berkuasa, yang patut dihindari dan ditakuti oleh semua monster yang menantangnya.


Melihat tidak adanya peluang memenangkan pertarungan membuat para beast monster yang tersisa memutuskan untuk melarikan diri dari area pertempuran.


Setelah pertarungan, hutan menjadi sunyi sejenak. Suara ribut pertarungan dan raungan monster telah berakhir. Hanya suara-suara angin yang mengalun lembut menemani keheningan hutan tandus tanpa daun.


Di sekeliling area pertarungan, reruntuhan pohon dan potongan tubuh monster berserakan menambah kesan kehancuran dari sebagian hutan yang sebelumnya sangat rimbun dan asri. Namun, di tengah-tengah semua itu, ada juga keindahan yang tersisa. Cahaya matahari menembus ranting-ranting pohon yang tidak terdampak pertarungan dan memantulkan warna-warni yang sangat elok. Angin yang sejuk membelai rambut dan wajah Jirex yang telah bertransformasi kembali ke wujud manusianya, membawa kedamaian setelah pertempuran yang mengenyangkan perutnya.


Melihat pertarungan adik monsternya telah usai, Jingga mengajak Bai Niu dan Qianmei melayang turun menghampiri Jirex.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka kau lebih mengutamakan kecerdikan dalam pertarungan kali ini,” ujar Jingga sambil merangkul Jirex.


Jirex menoleh dan menatap Jingga dengan ekspresi datar yang menjadi ciri khasnya lalu berkata, “Ini semua aku pelajari dari Kak Zilla.”


“Pantas saja, tapi aku sangat senang dengan itu. Lalu, bagaimana kondisi Zilla sekarang?” imbuh Jingga bertanya.


“Masih sama seperti sebelumnya,” jawab Zilla datar.


“Kak, misi kita telah tuntas. Apa kita akan langsung ke alam dewa sekarang?” sela Bai Niu menanyakan.


Jingga menolehnya dengan tersenyum lembut dan tatapan hangat seorang kakak pada adiknya.


“Ya, kita akan ke sana, sekarang,” jawabnya lalu menghembuskan napas pelan, “tapi kita harus mencari portal di benua ini.”


“Kenapa kita tidak tanyakan saja kepada ratu Kalandiva?” Qianmei memberi ide.


Jingga dan Bai Niu meliriknya lalu keduanya saling pandang dengan mimik wajah senang tanda keduanya setuju pada ide yang dicetuskan oleh Qianmei.


Jingga langsung memindai area di sekitarnya dan menemukan keberadaan sang ratu yang berjarak 300 tombak dari posisinya berdiri.


“Di sana! Dia masih hidup,” kata Jingga sambil menjulurkan telunjuk tangan ke arah keberadaan sang ratu.


“Kak Jingga, sepertinya aku harus kembali ke alam jiwa,” ucap Jirex memberitahu.


Jingga mengangguk mempersilakannya, dan Jirex pun langsung menghilang dari pandangan Jingga dan kedua adiknya. Ketiganya kemudian berkelebat ke arah sang ratu berada.


Tap, tap.


Jingga dan kedua adiknya menghentikan langkah di dekat keberadaan sang ratu yang tergeletak tak sadarkan diri dalam wujud beast naga bersisik merah.


“Kondisinya sangat lemah, bisakah kalian berdua memberikan energi qi murni ke tubuh sang ratu?” pinta Jingga setelah memindai tubuh naga sang ratu.


“Biar aku saja, Kak,” kata Qianmei lalu menempelkan telapak tangannya dan mengalirkan energi qi murni ke tubuh sang naga.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sang naga membuka mata dan langsung bertransformasi ke wujud manusia. 


Uhuk, uhuk!


Sang ratu terbatuk sambil menekan dada dan menatap heran ketiga muda-mudi di depannya. 


“Kenapa kalian menyelamatkanku?” tanya Ratu Kalandiva dengan heran.


“Karena kami membutuhkan portal ke alam dewa,” jawab Jingga cepat.


Sang ratu terdiam sejenak. Pandangannya menyapu ketiga orang di depannya secara bergantian.


“Apa hanya itu saja keinginan kalian?” lanjut tanya Ratu Kalandiva bersikap waspada.


“Ya, hanya itu saja. Misiku telah tuntas, dan aku harap kau akan menurutinya,” jawab Jingga.


Ratu Kalandiva menurunkan kewaspadaannya, ia lalu memutar tubuh mencari keberadaan anak buahnya yang terpencar dalam keadaan tak sadarkan diri.


“Baiklah, aku akan mengantar kalian ke portal lintas alam di belakang istana, tapi bisakah kalian menyembuhkan para pengikutku yang masih hidup?” pinta sang ratu.


Jingga mengangguk menyanggupi permintaan sederhana sang ratu. Ia pun melirik kedua adiknya dan meminta keduanya untuk menyembuhkan para pengikut sang ratu yang masih hidup. Tanpa menunggu lama, Bai Niu dan Qianmei langsung bergegas melaksanakannya.


“Penguasa Iblis, bolehkah aku memulihkan sedikit kondisiku?” pinta Ratu Kalandiva yang masih merasakan sakit di tubuhnya.


“Silakan, Nyonya,” jawab Jingga mengizinkannya.


Ratu Kalandiva langsung duduk dalam posisi lotus untuk memulihkan kondisi tubuhnya, sedangkan Jingga sendiri langsung mengeluarkan arak dan menenggaknya. Ia berjalan-jalan di sekitar sang ratu sambil menunggu kedua adiknya selesai menyembuhkan para pengikut sang ratu.


Beberapa waktu kemudian, Bai Niu dan Qianmei kembali dengan membawa lebih dari 50 pengikut sang ratu yang telah pulih dari kondisi sebelumnya.


“Aku akan membawa kalian semua langsung ke istana,” kata Ratu Kalandiva dilanjutkan dengan membuat portal dimensi menuju istana.


Setelah portal dimensi terbuka, Ratu Kalandiva lalu memimpin Jingga dan kedua adiknya beserta seluruh pengikutnya untuk memasuki portal. 

__ADS_1


__ADS_2