Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Zhandou Shibing


__ADS_3

Sayangnya, hal itu sedikit terlambat. Tetua sekte divisi Yuansu sudah menjatuhkan curiga kepadanya. Diam-diam ia berniat untuk menyelidiki Jingga yang kekuatannya tidak bisa ia ketahui dan menjadi alasan terbunuhnya beberapa anak asuh yang diketuainya.


Jingga yang sedikit terkejut akan kejadian yang begitu cepat langsung menghampiri gurunya dengan raut wajah sedikit kesal.


"Kakek, cukup! Kita pulang saja," ucap Jingga mulai merasa tidak nyaman berada di kastil divisi Yuansu.


Kakek Wu Yao sedikit tersentak mendengarnya. Ia khawatir apa yang dilakukannya itu salah, namun ia mengabaikan pemikirannya lalu mengangguk pelan dan langsung berbalik tanpa pamit kepada Tetua Qingxie.


"Tunggu, Tetua Sepuh!" Pekik lantang suara kedua gadis serentak menahannya.


Kakek Wu Yao terpaksa menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah suara kedua gadis di belakangnya.


She Bai dan Lu She berjalan cepat menghampiri sang kakek yang berdiam diri bersama Jingga dan Xinxin.


"Tetua Sepuh, bolehkah kami berdua ikut bersama kalian?" Pinta keduanya penuh harap.


"Tidak boleh!" Ketus Kakek Wu Yao menolaknya.


Tampak raut kecewa terlihat di wajah pucat keduanya setelah mendengar penolakan tanpa pertimbangan dari Kakek Wu Yao.


Xinxin yang mendengar penolakan tegas dari kakek gurunya tampak menyunggingkan bibir penuh kepuasan. Ia sekilas menatap sinis kedua gadis yang terlihat begitu kecewa.


Kakek Wu Yao dan kedua muridnya kembali berjalan beberapa langkah meninggalkan kastil divisi elementalis Yuansu. Setelah berada di halaman luar, ketiganya lalu melayang terbang meninggalkan lembah Mofa Gu untuk kembali ke kediaman Kakek Wu Yao. Tidak ada perbincangan selama terbang sampai ketiganya turun tepat di depan rumah sang kakek guru.


"Maafkan hamba, Yang Mulia," lirih Kakek Wu Yao merasa bersalah telah membuat muridnya sedikit kecewa karena perlakuannya di kastil Yuansu.


"Tidak masalah. Tapi ada yang membuatku sedikit heran di sekte Mofa Gu ..." balas Jingga mengingat suatu hal yang sedikit mengganjal di benaknya.


"Katakan saja, Yang Mulia"


Jingga sedikit mengernyitkan dahi lalu berkata,


"Dari keempat sekte sihir yang kita kunjungi, kenapa tidak ada satu pun yang memiliki lebih dari seratus murid di dalamnya?" Tanya Jingga dengan sorot mata yang tajam.


Kakek Wu Yao tidak langsung menjawabnya. Ada sedikit kecemasan pada dirinya yang ditatap tajam oleh muridnya itu. Setelah sedikit tenang. Ia lalu berucap,


"Para iblis sangatlah berbeda dengan para kultivator alam fana dan alam dewa. Tidak mudah menemukan iblis yang mau mengikuti aturan sekte," ujar kakek Wu Yao menjawabnya.


Jingga terdiam sejenak lalu memberi sebuah isyarat tangan kepada guru dan adiknya untuk ikut masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kakek, aku ambil sendiri saja semua sihir punyamu. Nanti aku pelajari dari ingatan ketika aku membutuhkannya," celetuk Jingga yang tidak ingin berlama-lama berada di kediaman gurunya.


"Terserah Yang Mulia saja." Balas Kakek Wu Yao mengizinkannya.


Jingga lalu menyentuh kening gurunya dengan ujung jari manisnya dan mulai menarik semua ilmu sihir dari ingatan Kakek Wu Yao.


Hanya beberapa detik saja Jingga menyerap semua ilmu sihir milik gurunya.


"Terima kasih, Kek. Aku ada tugas untukmu," ucap Jingga setelah selesai mengambil ilmu sihir gurunya.


"Katakan saja, Yang Mulia," kata Kakek Wu Yao menunggu perintah.


"Suatu saat, aku akan membutuhkan para iblis penyihir. Aku ingin Kakek mempersiapkannya untukku." Ujar Jingga memintanya.


"Baik, Yang Mulia," balas Kakek Wu Yao dengan cepat.


Jingga tersenyum simpul mendengarnya. Ia lalu melirik ke arah gadis cantik yang selalu saja terdiam.


"Xin'er, ayo kita ke kota Zhandou Shibing," ajak Jingga meliriknya.


"Baik, Yang Mulia." Balasnya.


"Berarti kau sudah tidak menganggapku sebagai kakakmu lagi," timpal Jingga tidak menyukai panggilannya.


Jingga kembali tersenyum mendengarnya lalu ia mengalihkan pandangan ke arah gurunya. Pandangannya tampak menyiratkan sebuah pertanyaan yang membuat Kakek Wu Yao sedikit mengernyitkan keningnya.


"Satu lagi yang akan kukatakan kepada Kakek ... Tetua divisi elementalis Yuansu, Qingxie mulai mencurigaiku. Bunuhlah dia untukku." ucap Jingga memintanya.


Sontak saja apa yang dikatakan oleh Jingga membuat jiwa iblis Kakek Wu Yao tersentak. Tetua Qingxie merupakan iblis yang dipercayai olehnya sebagai salah satu tetua yang mewakilinya di sekte Mofa Gu.


"Ba-baik, Yang Mulia," Sahut Kakek Wu Yao begitu gugup.


Tampak kekalutan menghampirinya, namun ia tidak mungkin bisa menolak perintah dari penguasa iblis. Jingga yang membaca kekalutan gurunya langsung menyeringai sinis.


"Ha-ha-ha. Kakek tidak perlu membunuhnya sekarang. Tunggulah sampai Tetua Yuansu itu mulai melancarkan rencananya. Hal itu akan membuat Kakek tidak lagi segan untuk membunuhnya," celetuk Jingga meredakan kekalutan kakek gurunya.


"Te-terima kasih, Yang Mulia." Balas Kakek Wu Yao sedikit lega mendengarnya.


"Apakah ada yang ingin Kakek sampaikan, sebelum aku pergi meninggalkan kota ini?" Kata Jingga menawarkan.

__ADS_1


"Apakah Yang Mulia akan membawa Xin'er?" Tanya asal Kakek Wu Yao yang sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Akan tetapi, lidahnya terasa kaku untuk mengungkapkannya.


"Ya, dia akan menjadi navigasiku. Memangnya kenapa?"


"Tidak masalah, Yang Mulia. Maafkan hamba."


Jingga tersenyum membalasnya, ia lalu mendorong lembut adik iblisnya untuk berjalan keluar rumah. Di halaman luar, Xinxin berbalik meluruh ke arah kakek gurunya dengan sedikit membisikinya lalu kembali menghampiri Jingga.


"Aku kira seorang iblis tidak memiliki sedikit kelembutan. Ternyata dugaanku salah." Pikir Jingga memperhatikan adiknya.


Keduanya lalu melayang terbang meninggalkan kediaman sang guru yang terus menatap kepergian keduanya dari depan pintu rumah.


Jingga dan Xinxin melaju cepat ke arah kota Zhandou Shibing yang merupakan pusat para serdadu kerajaan iblis berasal.


Sama seperti banyak kota di alam fana, Zhandou Shibing memiliki banyak sekte kultivator iblis di dalamnya. Namun yang membedakannya terletak pada tujuan akhir para kultivator iblis yang bersaing memperebutkan jabatan dalam militer kerajaan iblis.


Setelah menempuh waktu cukup lama. Jingga dan Xinxin akhirnya sampai di atas perbukitan yang menjulang tinggi di depan keduanya.


"Kak, kita sudah sampai di kota Zhandou Shibing," ujar Xinxin lalu menghentikan laju terbangnya.


Jingga terlihat sedikit kebingungan melihat area bawah yang tidak seperti sebuah kota pada umumnya. Ia hanya melihat area perbukitan yang menjulang tinggi dan sebuah gerbang di kaki bukit di bawah dirinya melayang terbang.


"Kak!" Panggil Xinxin menyadarkannya.


"Eh, maaf. Apakah kotanya ada di dalam bukit?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Ya, kota Zhandou Shibing berada di dalam bukit-bukit yang menjulang. Ayo Kak, kita turun!" Jawab Xinxin yang langsung melaju turun ke arah gerbang.


"Ha-ha-ha. Hebat sekali para iblis ini." Puji Jingga yang langsung memindai area dalam perbukitan di depannya.


Sorot mata Jingga berbinar menyaksikan sebuah kota yang sangat indah dan begitu elegan yang baru ditemuinya di alam iblis. Hanya sekilas saja, Jingga memperhatikannya. Ia lalu turun menyusul adiknya yang telah menjejakkan kakinya di tanah depan gerbang kota.


Tap, tap!


Baru saja Jingga menjejakkan kedua kakinya di tanah. Terdengar suara langkah kaki yang menderu dari dalam gerbang. Xinxin yang mengetahuinya langsung menarik tangan Jingga untuk berpindah dari posisi yang menghalangi jalan masuk.


Deru suara langkah kaki semakin keras terdengar tatkala muncul ratusan prajurit iblis dari berbagai ras keluar dari gerbang kota, lalu satu per satu melayang ke udara dengan begitu cepat.


Jingga yang melihatnya tampak terkagum-kagum. Dalam benaknya ia mendapatkan sebuah ide untuk membuat pasukannya sendiri.

__ADS_1


"Hem! Ini akan sangat menarik jika aku memiliki pasukan tempurku sendiri. Ha-ha-ha." Gumam Jingga begitu sumringah membayangkannya.


Di sampingnya, Xinxin terus memperhatikannya. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya yang sedari tadi terus saja tersenyum sendiri.


__ADS_2