Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Murka Sang Raja


__ADS_3

Keberangkatan lebih dari dua ribu prajurit kerajaan diketahui oleh jenderal Qei yang langsung melaporkannya kepada Raja Taiyangshen.


"Betulkah yang kau katakan itu, Jenderal?" Tanya Raja Taiyangshen dengan mengerutkan kening setelah mendengarkan laporan dari jenderalnya.


"Betul, Yang Mulia. Menurut pengamatan hamba, para prajurit dikendalikan oleh sihir iblis muda" jawab Jenderal Qei meyakini.


"Kumpulkan para komandan! Kita akan menghentikan upayanya menghancurkan kota" perintah Raja Taiyangshen.


Jenderal Qei menyahutinya lalu terbang keluar istana.


"Suamiku, bukankah sudah aku ingatkan kepadamu untuk berhati-hati dengannya" ucap Ratu Xian Hou.


"Hem! Aku tadinya penasaran ingin mengetahui semua tentangnya. Tapi sekarang sudah terlambat. Aku menyesalinya" balas Raja Taiyangshen lalu terbang menyusul jenderal Qei.


Area luar istana. Lebih dari dua puluh komandan kerajaan berbaris menunggu perintah sang raja yang baru saja tiba.


"Panjang umur dan sejahtera untuk Yang Mulia" seru para komandan sambil berlutut.


"Kita langsung saja ke kota sebelum terjadi kehancuran" titah Raja Taiyangshen tidak ingin menundanya.


"Baik, Yang Mulia" jawab para komandan serentak.


Wuzz!


Raja Taiyangshen bersama jenderal dan para komandannya terbang ke arah kota.


Jingga dan ribuan prajurit mulai menghancurkan bangunan kota dan bertarung dengan para kultivator yang mendiami kota.


Dhuar! Dhuar!


Ledakan keras terus terdengar dari pertarungan para prajurit kerajaan melawan para kultivator yang merupakan penghuni kota.


"Ha ha, membenturkan prajurit kerajaan dengan para kultivator begitu mengasyikkan" kekeh Jingga sambil menikmati pertarungannya.


Raja Taiyangshen yang telah tiba di langit kota begitu murka melihat prajuritnya dengan brutal menghancurkan setiap bangunan dan bertarung mati-matian menghadapi para kultivator.


"Betul katamu, Jenderal. Para prajuritku dikendalikan oleh sihir iblis muda" ucap Raja Taiyangshen setelah mengamati dari atas.


"Cari dan bunuh dia" imbuh Raja Taiyangshen memberikan perintah kepada para bawahannya.


Kedua puluh lebih komandan melaju turun untuk mencari keberadaan Jingga yang menjadi biang kerok kerusuhan di kota.


Di arena kota yang mulai terbakar, Jingga menyeringai licik memperhatikan raut wajah Taiyangshen yang begitu geram melihat kehancuran kota kerajaan alam Ri Chu.


"Ha ha, akhirnya kau datang juga. Ini kesempatan untukku menemui istrimu" gumam Jingga lalu merubah dirinya menjadi sang raja.


Jingga membuat portal dimensi memasuki ruang dalam istana.


Tap, tap.

__ADS_1


"Hormat, Yang Mulia" ucap para pejabat istana berlutut kepadanya.


"Bangunlah, di mana Ratu Xian Hou?" Pinta Jingga bertanya.


"Yang Mulia Ratu ada di kediamannya" jawab penasehat Li memberitahunya.


Jingga mengangguk pelan lalu berjalan ke arah kediaman sang ratu.


Baru saja Jingga sampai di depan pintu kediaman Ratu, seorang dayang keluar dari pintu menyambutnya.


"Yang Mulia Ratu sudah menunggu di dalam" ucapnya mempersilakan Jingga memasuki kamar.


Jingga tersenyum membalasnya lalu bergegas memasuki kamar.


"Suamiku, kau cepat sekali pulang. Apa iblis muda itu sudah kau habisi?" Tanya sang Ratu yang terlihat sedang duduk menyisir rambut panjangnya yang terurai dalam posisi membelakanginya.


"Masih belum, aku tiba-tiba saja menginginkan dirimu" jawab Jingga lalu memeluk Ratu Xian Hou dari belakang.


"Hem! Kenapa kau menginginkannya sekarang?" Sambung tanya Ratu Xian Hou merasa heran.


"Bukankah kapan pun aku menginginkannya, kau akan memberikannya kepadaku?" Balas Jingga mengecup lembut kepala Ratu Xian Hou.


Ratu Xian Hou membalikkan wajahnya, ia lalu membalas perlakuan Jingga dengan lembut.


Sesuatu yang menyenangkan pun terjadi di antara keduanya. Jingga sengaja tidak memasang segel formasi agar aksinya bisa didengar dari luar kamar. Ia bahkan menggunakan sihirnya agar suara Ratu Xian Hou terdengar sampai ke aula kerajaan walau hanya samar.


Beberapa prajurit, para dayang, dan para pejabat istana dibuat panas dingin mendengarnya.


Raja Tsiyangshen tiba-tiba saja merasakan cemas di hatinya, perasaannya tertuju pada istrinya di istana.


"Jenderal Qei, aku merasa tidak tenang. Aku harus kembali ke istana. Laporkan padaku hasilnya" ucap Raja Taiyangshen langsung melaju terbang kembali ke istana.


Jenderal Qei menganggukinya lalu kembali fokus mengamati pertarungan di bawahnya.


Sekembalinya Taiyangshen ke istana, para pejabat istana membelalakkan mata terkejut melihatnya. Kemelut batin penuh tanda tanya bergemuruh di hati para pejabat istana.


"Yang Mulia" ucap para pejabat serentak.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa yang terjadi?" Tanya raja Taiyangshen mulai curiga.


Samar-samar suara sesuatu yang menyenangkan terdengar olehnya. Raja Taiyangshen menajamkan pendengarannya. Hatinya begitu panas, wajahnya pun berubah merah menahan emosi.


"Itu suara istriku" gumamnya lalu berkelebat ke arah kediaman sang Ratu.


Brak!


Pintu kamar ditendangnya, Jingga yang sedang dalam posisi berkuda tidak menghentikannya. Hal itu membuat Raja Taiyangshen begitu murka.


"Baj*ng*n kalian!" Bentak Raja Taiyangshen lalu mencabut pedang dari sarungnya.

__ADS_1


Langkah kakinya terasa berat untuk menghampiri keduanya.


Sring!


Ratu Xian Hou yang mendengar suara suaminya begitu terkejut lalu menoleh ke arah pintu. Tampak sang raja yang wajahnya semerah darah menghampirinya dengan menjulurkan bilah pedang.


Ratu Xian Hou mengalihkan wajah menatap pemuda yang sedang memacu dirinya. Dengan panik ia langsung mendorong tubuh Jingga sekuatnya. Namun Jingga tidak bergeming sedikit pun. Ia masih terus saja melakukan aksinya dengan mempercepat ritme tanpa peduli keberadaan Raja Taiyangshen.


"Pertahananku masih kuat, Nyonya tidak perlu mendorongku. Nikmati saja permainan kita" ujar Jingga terus memacu.


"Kurang ajar! Mati kau brengsek!" Geram Ratu Xian Hou mencakar wajah Jingga di atasnya.


"Kau suka bermain kasar, Nyonya" balas Jingga yang begitu lihai terus memacu.


Melihat perbuatan Jingga pada istrinya, Raja Taiyangshen akhirnya tidak kuat lagi menahan emosi yang mencapai puncaknya.


"Hiaaat!"


Sreet!


Jingga menarik tubuh Ratu Xian Hou untuk menahan tebasan pedang yang dilayangkan oleh Raja Taiyangshen.


Ratu Xian Hou terbelah dua terkena tebasan pedang sang raja di mana sorot matanya menatap tajam Jingga dengan penuh kebencian.


"Itu hukuman untukmu, pengkhianat" ucap Jingga yang kehilangan kebaikan hati manusianya.


Ia lalu menghilang meninggalkan keduanya. Jingga melayang terbang ke udara di atas kerajaan alam Ri Chu.


Trang!


Suara pedang jatuh ke lantai. Raja Taiyangshen terduduk lesu menatap kematian istrinya. Dalam hatinya ia dipenuhi oleh kebencian yang teramat dalam pada Jingga.


"Jangan lari kau iblis terkutuk! Aku akan memburu dan menyiksa dirimu hingga kematian lebih baik bagimu" gerundel Raja Taiyangshen bertekad.


"Aku tidak lari darimu, Raja perebut istri orang. Kemarilah!" Balas Jingga menantangnya.


Raja Taiyangshen langsung terbang ke udara menembus langit-langit kediaman sang Ratu.


"Apa maksud ucapanmu itu? Dia istriku bukan istrimu. Kau yang menyebabkan istriku mati. Aku akan menyiksamu sampai kau memohon kematian padaku"


"Ha ha, aku tidak peduli ucapanmu itu. Siapa pun yang mengkhianatiku pantas mati" balas Jingga yang kehilangan sisi manusia dalam dirinya.


"Huh! Kau pikir siapa dirimu? Kau hanyalah iblis lemah yang berani menantang penguasa semesta. Aku adalah Dewa Matahari Taiyangshen. Ha ha ha"


"Buktikan kesombonganmu itu"


Jingga lalu bertransformasi ke tubuh logam Jirex, ia ingin menghabisi Raja Taiyangshen dengan cepat.


Wuzzz!

__ADS_1


Jingga terlihat seperti seorang monster yang sangat mengerikan, sisik logam bermunculan di seluruh kulit tubuhnya.


Raja Taiyangshen sangat terkejut melihatnya, ia tidak pernah menemukan seorang iblis yang bertransformasi seperti pemuda di hadapannya.


__ADS_2