
Kecepatan dan kekuatan penguasa benua Matahari meningkat tajam. Hanya dalam satu tarikan napas, sebuah cahaya biru pedang Langit menebas tubuh Mei Moshu secara diagonal.
Namun sayangnya, tebasan pedang hanya mengenai udara kosong. Mei Moshu sudah menghilang dari tempatnya.
"Wow, kecepatan kalian meningkat tajam" puji Mei Moshu sudah berdiri melayang di belakangnya.
*Kita sebut saja penguasa benua Matahari sebagai dewa Benua*
Dengan refleksnya, dewa Benua langsung membalikkan badan.
Wuzz!
Trang!
Dhuar!
Dewa Benua terpental jauh, ia tidak menyangka Mei Moshu bisa begitu cepat menebaskan pedangnya yang hampir saja membelah tubuhnya jika ia tidak langsung menangkisnya.
"Huh! Kenapa dia bisa lebih cepat dariku?" Keluh dewa Benua yang walaupun sudah bertransformasi dan meningkatkan kekuatannya, akan tetapi tetap saja ia kewalahan menghadapinya.
Belum sampai dewa Benua mempersiapkan diri, seberkas cahaya merah dengan kecepatan tinggi melaju cepat ke arahnya. Dewa Benua menitik beratkan energi spiritualnya pada bilah pedang untuk menyambut serangan.
"Hiaaaat!" Pekiknya menunggu benturan yang datang menghampirinya.
Wuzz!
Cahaya merah hanya melewatinya saja, dewa Benua terkejut tidak menduganya, tiba-tiba serangan kedua datang menghantam tubuhnya.
Dhuar!
"Aah!" Jeritnya meringis kesakitan.
Dewa Benua kembali terpelanting di udara, ia tidak menyadari serangan pertama adalah sebuah tipuan.
Mei Moshu lalu menggunakan ilmu sihirnya dengan menduplikasi tubuhnya menjadi sepuluh.
"Ha ha ha, terima kematianmu pasangan aneh" ucap Mei Moshu langsung melaju terbang dengan cepat membentuk cahaya api.
Wuzz!
"Istriku, maaf" lirih jiwa Permaisuri Kim Rei di dalam tubuh dewa Benua.
Jingga yang terus memperhatikan pertarungan di atas langit mengernyitkan dahinya. Ia melihat dewa Benua dalam posisi pasrah membiarkan Mei Moshu menyerangnya.
"Kaisar dan Permaisuri tidak boleh mati" gumam Jingga lalu mengeluarkan busur panah istrinya.
Ia membidik salah satu dari sepuluh tubuh Mei Moshu dan menembakkannya.
Wuzz! Siu!
Anak panah melaju cepat ke arah tubuh Mei Moshu yang ketiga.
Dewa Benua menempelkan pedang di dada dengan ujung pedang menghadap ke bawah.
__ADS_1
Wuzz! Boom!
Ledakkan besar kembali terjadi di langit, dewa Benua kembali terpelanting untuk yang kesekian kalinya.
"Aaah!" Pekik teriakan menggema di langit.
Dewa Benua kembali ke bentuk aslinya, dalam posisi melayang di udara, Permaisuri Kim Rei dan Kaisar Xiao Manyue terlempar saling berjauhan dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Di pihak gadis penyihir, Mei Moshu meringis kesakitan setelah satu tangannya hancur terkena anak panah yang ditembakkan oleh Jingga dari bawah.
"Jingga, kau. Kau tega menyakitiku, aku pastikan kau akan mati sebelum kembali ke dimensi Siksa Raja" gerundel Mei Moshu begitu emosi.
Ia lalu mengeluarkan bola api dari telapak tangannya.
"Hem! Apa yang kau lakukan gadis penyihir?" Gumam Jingga melihat bola api semakin membesar di balik awan.
"Sial! Lembah Persik bisa hancur" rutuk Jingga lalu melesak terbang menghampiri Mei Moshu.
"Nona, jangan kau lakukan itu" pinta Jingga berusaha menghentikannya.
Namun apa mau dikata, bola api yang diciptakan oleh Mei Moshu sudah sebesar bukit.
"Selamatkanlah semuanya kalau kau bisa, ha ha ha" balas Mei Moshu terkekeh menantangnya.
"Tolong, hentikan! Kalau kau benar istriku"
Mei Moshu mendeliknya, ia tertawa terbahak-bahak menghiraukan ucapan Jingga.
"Ha ha ha, istrimu. Suami mana yang akan memanah istrinya sendiri? Maaf, kau bukanlah suamiku"
"Akan aku coba, maafkan aku Hou'er" gumamnya.
Jingga melaju mendekap Mei Moshu dan langsung menciumnya. Mei Moshu sempat berontak, namun Jingga semakin liar memainkan perannya, ia tidak melepaskan pagutannya. Kedua tangannya pun dengan lugas mengikuti naluri memainkan perannya.
Terjerat perlakuan menyenangkan dari Jingga, Mei Moshu akhirnya menghentikan aksinya untuk membumi hanguskan lembah Persik. Bola api berhenti membesar dan mulai menciut. Jingga semakin leluasa memainkannya karena satu tangan Mei Moshu masih terangkat ke udara dan tangan sebelahnya yang hancur masih belum tumbuh.
Ratusan pendekar yang melihat aksi keduanya dengan jelas karena adanya cahaya bola api langsung menundukkan wajah.
Namun tidak semuanya yang menolak untuk melihat. Beberapa pendekar lainnya yang berusia muda masih terus melihatnya.
"Aku jadi ingin pulang menggeruduk istriku" celetuk seorang pendekar lumayan tampan terus saja mendongak ke langit.
"Kenapa kita jadi melihat pertunjukan gila itu?" balas temannya yang berwajah kotak.
"Lihatlah para pendekar wanita, wajah mereka begitu merah. Aku jadi ingin tahu apa yang ada di pikirannya" sambung pendekar gemuk menunjuk ke arah para pendekar wanita.
Pletak!
"Aduh!" ringis pendekar gemuk mengusapi kepalanya.
"Kau jangan sembarangan, mereka bisa membunuhmu dengan mudah"
"Lihatlah sendiri, walau menutup mata, mereka diam-diam terus melihatnya"
__ADS_1
"Kau benar, tubuhku menjadi semakin panas melihatnya"
"Ayo kita hampiri" ajak si pendekar gemuk tidak bisa lagi menahan diri.
"Memangnya kau berani mendekati mereka?" Tanya pendekar berkumis tipis yang diangguki keempat pendekar lainnya.
"Daripada kita tersiksa menahannya, bagaimana denganmu?" jawab pendekar gemuk melirik sebelahnya.
"Aku tidak berani, kalian saja" jawab pendekar yang terlihat masih remaja.
"Ya sudah, kau mainkan saja sendiri tombakmu" balas pendekar gemuk sambil cengengesan.
Kelima pemuda yang sudah di ubun-ubun keinginannya berjalan ke arah para pendekar wanita.
"Hei, mau apa kalian?" Tanya seorang pendekar wanita yang langsung berdiri dengan menarik pedang.
Belasan pendekar wanita lainnya pun berdiri dan langsung menarik pedangnya.
Para pendekar muda yang melihatnya langsung menghentikan langkah.
"Maaf, Nona. Kami hanya mau lewat saja" sergah seorang pemuda berkumis tipis memberanikan diri menjawabnya.
"Jangan bohong! Atau kami tebas tombak kalian yang merangsek di dalam sana" tunjuk seorang pendekar wanita dengan ujung pedangnya.
Panas dingin wajah para pemuda tidak bisa mengelaknya. Satu persatu para pemuda membalikkan badan dan berjalan meninggalkan para pendekar wanita.
Namun seorang pendekar muda bertubuh gemuk masih berdiri di hadapan para pendekar wanita dengan tubuh yang gemetar.
"Hei gendut, kenapa kau masih berdiri di situ? Pergi!" Tegur pendekar wanita mengusirnya.
Si pendekar gendut pun membalikkan badannya dan langsung berlari kembali menyusul teman-temannya.
Di posisi Jingga berada, ia menghentikan aktivitas enak tersebut setelah bola api padam.
"Kenapa berhenti? Jangan menyiksaku begini" protes Mei Moshu merasa tanggung.
"Maaf, Nona. Tapi aku sudah memiliki istri, aku tidak bisa mengkhianatinya" jawab Jingga merasa bersalah.
"Kau jangan main-main denganku, apa yang sudah kau mulai harus kau akhiri" kecam Mei Moshu langsung mencengkram tombak.
"Sakit, Nona. Kalau kau menginginkannya, kita bisa melakukannya di penginapan"
"Akhirnya kau menginginkannya juga, dasar munafik!"
"Aku hanya ingin menyelamatkan kekaisaran Xiao dari kehancuran, kau jangan salah paham"
"Alasan, pria mana yang bisa menolak sesuatu yang enak"
"Cukup, Nona. Sebaiknya kita mencari keberadaan Kaisar dan Permaisuri" ajak Jingga langsung menarik tangan Mei Moshu melaju ke arah terpelantingnya kedua tubuh penguasa benua Matahari.
"Aku akan ke arah Tuan cantik" ucap Mei Moshu yang melihat keberadaan Permaisuri.
Jingga menganggukinya lalu terbang ke arah tubuh Kaisar Xiao Manyue.
__ADS_1
Setelah memanggul tubuh kedua penguasa, Jingga dan Mei Moshu langsung kembali menghampiri para pendekar yang terus berdiam diri dalam posisi duduk.
"Pertarungannya sudah usai, kalian boleh pergi" ujar Jingga lalu menyerahkan tubuh Kaisar ke salah satu jenderal diikuti oleh Mei Moshu yang menyerahkan tubuh Permaisuri.