Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pulau Emas - Kampung Sirintang


__ADS_3

Jingga menghentikan langkahnya merasakan pergerakan dari sekelilingnya.


"Kucing belang" gumamnya dengan seringai dingin menunggu beberapa ekor harimau menampakkan diri.


Tap tap!


Lebih dari sepuluh ekor harimau berlompatan menghampirinya membentuk formasi melingkar sambil meraung-raung memecah keheningan malam di dalam hutan.


"Aa" ucap Naray terbangun dari tidurnya.


Ia terlihat begitu ketakutan memperhatikan belasan harimau yang mengepungnya.


"Pegang yang erat, aku punya ide mengatasinya" kata Jingga masih tenang.


Naray langsung mengencangkan tangannya yang melingkari leher Jingga.


"Langkah bayangan"


Siu!


Buk!


Wuzz!


Jingga menendang seekor harimau di depannya lalu melesat cepat berlari jauh meninggalkan lokasi. Naray sampai menutup matanya karena saking cepatnya Jingga berlari.


Tap!


Jingga menghentikan langkahnya di depan kobakan kecil lalu menurunkan Naray dari punggungnya.


"Kita istirahat dulu di sini" ucapnya.


Siu!


Jingga kembali melesat ke area lain di dalam hutan, ia menangkap seekor rusa dan langsung membantingnya dengan keras ke pohon besar.


Bruk!


Seekor rusa langsung mati seketika, Jingga lalu memanggulnya dan kembali berkelebat ke arah kobakan kecil.


Sat set sat set!


Jingga begitu cepat menguliti seekor rusa dengan kukunya, Naray terbelalak tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Ia termenung memperhatikan Jingga yang begitu mudahnya mengelupas kulit rusa yang ditangkapnya.


"Neng jangan diam saja, kumpulkan ranting untuk membuat pembakaran" pinta Jingga yang sedang membersihkan jeroan rusa.


"Baik, A" sahut Naray lalu beranjak bangun dan mulai mencari ranting pohon.

__ADS_1


Tidak hanya mengumpulkan ranting, Naray juga mengumpulkan rempah-rempah yang bisa ditemukannya di dalam hutan.


"Ini hutan apa ya A? Banyak rempah-rempah yang tumbuh subur di hutan ini" tanya Naray yang tidak mengalami kesulitan mencari rempah-rempah.


"Aku hanya tahu banyak harimau yang menempati hutan ini, itulah kenapa tadi aku memilih kabur daripada membantainya, kita akan kerepotan diburu oleh harimau di dalam hutan yang entah kapan kita menemukan ujungnya" jawab Jingga.


"Oh" balas Naray singkat.


Pletak!


"Aduh! Kenapa sih, Aa selalu saja menjitak?" Gerutu Naray memprotesnya.


"Tidak apa-apa, senang saja" balas Jingga sambil membuat percikan api membakar ranting.


Beberapa saat kemudian, rusa guling pun matang dalam pembakaran. Keduanya duduk sambil menikmatinya.


"Enak banget, Neng hebat!" Puji Jingga yang begitu lahap memakan daging rusa yang sudah dilumuri bumbu rempah oleh Naray.


Naray langsung tersenyum lebar sambil melingkarkan kedua tangan di dada merasa bangga dipuji oleh Jingga.


"Neng, bikin yang banyak bumbunya" imbuh Jingga memintanya.


"Baik, A" balas Naray sambil melahap daging yang tinggal sedikit.


Kenyang sudah keduanya setelah menghabiskan seekor rusa, keduanya lalu bersandar di pohon besar.


"Aku sudah lama tidak pernah merasakan kenyang seperti ini" ucap Jingga.


"Beberapa hari yang lalu ketika dijamu oleh pemilik kedai" jawab Jingga.


"Dasar" timpal Naray lalu menyandarkan kepalanya di pundak Jingga.


"Sepertinya area ini sangat aman. Kembalilah tidur, besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan"


Naray menganggukinya, ia lalu menutup matanya kembali tidur dalam sandaran. Sedangkan Jingga kembali melamun merindukan istrinya yang begitu ia cintai.


Mentari pagi bersinar cerah menyinari keduanya, Jingga bangkit lalu mencuci mukanya di air kobakan. Naray yang terbangun langsung menghampirinya dan ikut membilas wajah.


Naray iseng mencipratkan air ke wajah Jingga, melihatnya yang iseng, Jingga lalu menarik Naray menceburkannya ke dalam kobakan.


Byur!


Tidak ingin kalah, Naray menarik tangan Jingga dan menceburkannya. Keduanya terlihat seperti anak kecil yang bermain air.


"Pasangan yang serasi, tapi kalian masih terlalu muda mengarungi bahtera rumah tangga di dunia persilatan yang begitu kejam" ujar seorang pria paruh baya di dekatnya.


Jingga dan Naray langsung meliriknya, keduanya tampak begitu senang bisa bertemu dengan seorang manusia di tengah hutan.

__ADS_1


"Maaf, Paman. Tapi kami berdua bukanlah sepasang kekasih" sergah Jingga menampiknya.


"Syukur kalau begitu, kalian berdua terlihat asing, kalian dari mana?" Balas pria paruh baya menanyakannya.


"Kami dari dusun Sukamati di Tanah Para Dewa. Oh iya Paman, kalau boleh tahu sekarang kami berada di mana?" Jawab Jingga balik bertanya.


"Kalian berada di hutan Harimau pulau Emas, bisa juga disebut Tanah Emas" jawab pria paruh baya sedikit heran dengan pertanyaan Jingga.


"Pulau Emas, bukankah pulau Emas berada di seberang barat Tanah Para Dewa? Jadi kita sekarang menyebrangi pulau barat" potong Naray mengetahuinya.


"Ya, itu betul. Tapi kenapa kalian baru menyadarinya?" Timpal pria paruh baya meyakinkan keheranannya.


"Kami terhisap masuk sebuah cermin yang kami temukan dan terlempar ke hutan ini" jawab Jingga menjelaskannya.


"Tanah Para Dewa memang penuh misteri dan keajaiban, itu hal yang biasa terjadi di sana. Mari ikut Paman" ujar pria paruh baya lalu menceritakan semua hal yang ia ketahui waktu mengembara ke Tanah Para Dewa.


Ketiganya tampak begitu akrab dalam perbincangannya, sedangkan Naray sesekali menanggapi, ia lebih banyak menjadi pendengar yang baik.


Sampai pada area perkebunan di tengah desa suatu kampung, pria paruh baya yang bernama Apiak membawa keduanya ke rumah sederhana miliknya.


"Paman, kenapa warga kampung terlihat begitu waspada melihat kita?" Tanya Jingga.


"Sudah beberapa bulan ini kampung kami mengalami penculikan, banyak anak-anak yang hilang lalu ditemukan mati dengan tubuh yang tidak utuh, makanya Paman membawa kalian berdua ke rumah Paman" beber Paman Apiak.


"Paman tidak perlu khawatir, kami berdua adalah pendekar. Kami akan membantu Paman mengatasinya" balas Jingga merasa tertarik dengan kasus yang dialami warga kampung.


"Ha ha, kau belum memahami apa yang kami hadapi, kami semua di kampung Sirintang adalah pendekar. Tapi Paman ucapkan terima kasih" timpal Paman Apiak lalu meminta keduanya memasuki rumahnya.


Mirip seperti di dusun Sukamati, rumah-rumah warga kampung Sirintang berbentuk rumah panggung, perbedaannya hanya pada bahan saja, yang mana di rumah yang ditempati sekarang terbuat dari batang-batang pohon yang dirakit. Bukan dari anyaman batang bambu.


Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya dan dua gadis kembar seumuran dengan Naray memasuki rumah.


Ketiganya merasa heran melihat dua remaja yang tidak dikenalinya sedang duduk di dalam rumahnya.


Jingga dan Naray langsung berdiri menyambutnya, Paman Apiak datang dari arah dapur membawa penganan lalu meletakkannya di alas lantai.


"Kalian sudah datang, perkenalkan tamu kita Jingga dan adiknya Naray. Keduanya berasal dari Tanah Para Dewa di pulau seberang. Ayah bertemu dengan keduanya yang tersesat di hutan Harimau" ujar paman Apiak menjelaskannya.


"Halo Kakak Jingga dan Adik Naray. Aku Rindu dan ini adikku Rindi" ucap Rindu memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya ke arah Jingga yang langsung menyambutnya.


"Aku juga rindu, hehe" goda Jingga membalasnya.


Naray yang di sebelahnya langsung mencubit pinggang Jingga dengan keras.


"Jingga, Naray. Ini istriku Lina, dia juga sama seperti kalian yang berasal dari Tanah Para Dewa" sambung Paman Apiak memperkenalkan istrinya.


"Salam kenal Bibi" ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


Lalu semuanya duduk bersama dan berbincang hangat di dalam rumah sambil menikmati penganan.


Satu hal yang menjadi perhatian Jingga yaitu tentang penculikan anak yang terjadi di kampung Sirintang.


__ADS_2