
Jingga terus menyelam sampai kedalaman lebih dari 800 kaki dari permukaan laut. Suasana menjadi sangat gelap tanpa adanya cahaya dan tekanan hidrostatis air semakin meningkat tajam. Kegelapan bawah laut membuat mata iblisnya menyala. Hal itu membuat organisme yang hidup di kedalaman laut di dekatnya langsung pergi menjauhinya. Beberapa kaki di atas dasar lautan, Jingga lalu memindai area di sekitarnya. Akan tetapi, tidak ditemukan sesuatu apa pun yang disinyalir merupakan beast monster bawah laut.
“Hem, aku harus menggunakan naluri iblisku untuk memburu para beast monster bawah laut,” gumam pikir Jingga lalu menyusuri area lainnya.
Perburuan dilanjutkan dengan terus menyelami dasar lautan hingga ia berdiam diri di sebuah bebatuan berbentuk pipih yang memiliki cahaya pendar di bagian sisinya. Jingga merasakan adanya energi aneh yang terpancar di bawah kakinya.
“Energi yang sangat kuat, tetapi terasa asing pada tubuhku,” kata batin Jingga merasakannya.
Hal aneh pun terjadi padanya, Pakaian yang dikenakan oleh Jingga melebur dengan sendirinya dan pada akhirnya tidak ada sehelai benang pun yang melekat pada tubuhnya. Mengikuti nalurinya, Jingga terduduk dalam posisi lotus dan mulai berkultivasi menyerap energi asing dengan mata terpejam.
Seiring berjalannya waktu, Jingga mulai mengalami hal yang tidak pernah diduganya. Ia merasakan perih di sekujur tubuhnya tanpa terkecuali. Namun, ia masih bisa menahannya untuk beberapa saat. Nahas, rasa perih yang dirasakannya semakin menyengat hingga terdengar gemeretak peraduan gigi geraham. Wajahnya pun mengernyit menahannya sampai sekujur tubuhnya bergetar keras nyaris tidak sanggup menahannya. Ya, Jingga tidak lagi sanggup menahannya. Ia pun berontak melepaskan diri dari rasa perihnya. Akan tetapi, upayanya tidak membuahkan hasil. Tubuhnya terbujur kaku dengan sendirinya. Jingga lalu mengatasinya dengan mengerahkan kekuatan jiwa semaksimal mungkin. Tubuhnya masih kaku namun aura iblisnya menyeruak hingga membuat sedimen laut bergetar keras dan berhamburan mengotori lautan.
BOOM! BOOM! BOOM!
Tiba-tiba saja terdengar dentuman keras dalam tubuh Jingga yang menandakan dirinya kembali mengalami kenaikan tingkat kultivasi. Meskipun begitu, dalam benaknya, ia tidak memercayai apa yang terjadi dengan dirinya.
Jingga masih terpejam dalam posisi lotusnya, bukannya ia tidak ingin membukanya. Energi asing yang bersemayam dalam tubuhnya seperti mengikat seluruh sendi tubuhnya. Ia sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
“A–apa yang terjadi dengan tubuhku? Mengapa aku tidak dapat menggerakkannya?” Jingga mengalami kepanikan.
“Apa yang harus aku lakukan?” imbuh pikirnya.
Kondisi yang dirasakannya sangatlah berbeda dengan apa yang pernah dialaminya ketika menerima semua kekuatan energi yang didominasi dengan energi api yang meleburkan tubuhnya dan membentuknya ulang.
Kali ini, Jingga mulai merasakan suhu dingin ekstrem di dalam tubuhnya yang datang begitu tiba-tiba.
“A–apa yang terjadi?” Jingga terkejut merasakannya.
Suhu dingin yang menjalari tubuhnya lebih menyakitkan dibanding dengan suhu panas dari energi api semesta, api kematian, dan inti api yang pernah meleburkan tubuhnya. Saking sakitnya, Jingga sampai memohon kematian pada dirinya daripada harus merasakan sakit yang teramat menyengat di sekujur tubuhnya. Lambat laun, Jingga akhirnya merelakan apa pun yang terjadi dirinya. Ia tidak lagi berontak. Ia mempersilakan energi asing menguasai dirinya.
Pada akhirnya rasa sakit yang dialaminya berangsur mereda dengan sendirinya dan ia pun bisa kembali membuka kelopak matanya. Mata iblis yang sebelumnya berwarna merah ketika berada di dalam kegelapan, kini berubah menjadi warna putih kebiruan. Dengan matanya yang sekarang, Jingga memiliki penglihatan yang lebih tajam dan sangat jelas memperhatikan suasana kedalaman laut di sekitarnya.
KRAK!
Terdengar suara patah dari bebatuan pipih yang didudukinya. Jingga bergegas berdiri dan langsung melihatnya. Bebatuan pipih yang didudukinya kini terbelah dua dan tidak ada lagi cahaya pendar di bagian sisinya. Ia lalu menyentuhnya dan bebatuan itu pun langsung melebur menjadi butiran pasir.
“Sebenarnya batu apa yang barusan aku pegang? Bagaimana sebuah batu bisa meningkatkan kultivasi yang berada di luar hirarki kultivasi iblis? Lalu apa tingkatan kultivasiku sekarang?” Jingga terus melontarkan banyak tanya dalam benaknya.
__ADS_1
“Ultimate Iblis.”
Terdengar suara tegas menjawab pertanyaan yang hanya terdengar dari alam pikir Jingga. Jingga langsung memutar badannya mencari suara yang menjawab gumam pikirnya. Namun, ia tidak menemukan siapa pun yang berada di dekatnya.
“Si–siapa kau?” tanya Jingga yang masih mencari sosok yang menjawabnya.
“Aku adalah Jiasing dewa iblis dari Sanbuqu 9 yang merupakan alam semesta tertinggi dalam Jiuxing (sembilan bintang).”
“Kau dewa atau iblis? Keduanya merupakan ras berbeda.”
“Aku dewa iblis, dewanya para iblis.”
“Terserah kau saja. Katakan apa maksud dari Ultimate Iblis?”
“Tingkatan lebih tinggi dari ranah Superior Iblis.”
“Apa tingkatan selanjutnya dari Ultimate Iblis?”
“Absolute Iblis.”
“Di atasnya?”
“Kehampaan.”
“Kehampaan adalah puncak tertinggi dari semua kekuatan yang ada di seluruh Jiuxing.”
“Baiklah, aku memahaminya. Lalu bagaimana bisa kau berada di sini?”
“Aku sama sepertimu, suatu saat nanti kau akan mengalami nasib sepertiku,”
“Apa maksudmu?”
“Kita ditakdirkan menjadi iblis penghancur semesta dan hukumannya adalah terlempar lalu terkurung seumur hidup sampai ditemukan oleh iblis penghancur lainnya.”
“Hah! Aku tidak menginginkannya, aku lebih baik hancur lebur daripada mengalami hal seperti itu.”
“Keinginan yang sama sepertiku. Dan akhirnya kau datang lalu menghancurkanku dan membuatku terbebas dari hukuman.”
“Lalu, sekarang kau seperti apa dan ke mana tujuanmu selanjutnya?”
__ADS_1
“Aku kini seonggok jiwa yang akan pergi menuju alam hampa dan menetap selamanya di sana.”
SRING!
Terdengar sebuah bilah pedang yang keluar dari sarungnya. Jingga mengerjap seperti tersadar dari lamunan perbincangannya dengan jiwa tak kasat mata yang mengenalkan dirinya bernama Jiasing.
“Ah!” jerit Jingga tiba-tiba merasakan sakit di keningnya.
Seberkas sinar memasuki keningnya lalu keluar sebuah ukiran berbentuk spiral dengan sembilan bulatan bergelombang di antara kedua alisnya. Bentuk itu menandakan dirinya merupakan penerus dari dewa iblis Jiasing.
Berbagai ingatan dari alam asing kini tergambar jelas di alam pikirnya. Jingga merasa takjub akan riwayat petualangan Jiasing yang begitu mengagumkan. Jiasing merupakan sosok yang baik hati namun berdarah dingin. Itulah alasan dia dijuluki sebagai dewa iblis.
“Kisahmu mirip denganku, Dewa Iblis. Tetapi, aku adalah aku dan kau adalah dirimu,” gumam Jingga setelah melihatnya dengan sekilas.
Setelahnya, Jingga kembali fokus pada misinya mencari ikan aneh yang telah menyerang kapal perang kekaisaran Xiao di malam hari. Dengan kemampuannya sekarang, Jingga merasa lebih mudah memindai area terjauh dari posisinya. Betul saja, Jingga akhirnya dapat menemukan tempat persembunyian ikan-ikan aneh yang dicarinya. Akan tetapi, ikan-ikan aneh itu berada di dalam perut ikan yang ukurannya mungkin 30 kali lebih besar dari badan kapal kekaisaran Xiao. Uniknya, bentuk tubuh ikan nampak bulat seperti bola. Ia dalam posisi tertidur nyenyak.
“Hah, besarnya ikan itu! Tetapi, kenapa bentuknya lebih mirip kue bola yang ditusuk kesukaan Naninu? Ha-ha-ha,” ucapnya lalu terkekeh memperhatikan ikan besar yang berbentuk bulat sempurna.
Jingga melaju mendekatinya. Tak sampai ia berada sepuluh kaki dari ikan bulat itu. Jingga tiba-tiba membentur sebuah perisai tak kasat mata. Ia merabanya lalu mengetuknya.
Tuk, tuk, tuk.
Jingga kemudian memperhatikan dengan lekat getaran yang tercipta dari ketukannya.
“Perisai yang unik,” puji Jingga.
Suara ketukan yang dilakukan oleh Jingga membuat ikan yang sedang tertidur nyenyak akhirnya terbangun.
KRAK!
perisai pelindung ikan langsung pecah. Jingga langsung mundur beberapa langkah sambil fokus menatap ikan yang memperlihatkan taring tajam kepadanya.
“Jadi kau yang melemparkan ikan-ikan aneh itu,” kata Jingga lalu melesak menyerangnya.
WUZZ!
DUAR!
Ikan yang diserangnya langsung hancur lebur seketika bersama jutaan ikan-ikan aneh yang bersemayam di dalam tubuhnya. Jingga terbelalak melihatnya. Ia hanya bergerak satu langkah untuk memberikan pukulan kepada ikan tersebut, padahal posisi ikan masih sekitar 9 kaki darinya.
__ADS_1
“Ti-tidak mungkin! Aku bahkan tidak menggunakan teknik Kedipan Iblis,” ungkapnya lalu memperhatikan kedua kepalan tangannya.
“Sepertinya berasal dari tingkatan kultivasiku. Aku harus mendalaminya,” imbuh gumamnya.