Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Berlayar ke Benua Intibumi


__ADS_3


Semua orang begitu terharu melihat keduanya. Beberapa pemuda kampung yang dekat dengan Chen Tian bahkan lebih kagum dengan ketegaran hati temannya itu. Bagaimana tidak, Chen Tian baru saja kehilangan sosok sang ibu dan sekarang harus menerima dengan rela hati perasaannya bertepuk sebelah tangan.


Jingga yang melihatnya pun terkagum akan kebesaran hati saudaranya. Biarpun begitu, ia tidak ingin mengomentarinya. Baginya, cukup mengetahuinya saja merupakan hal yang terbaik tanpa harus diungkapkan lewat kata-kata.


Jingga telah menuntaskan misi dalam membangun kembali kampung halaman keduanya. Ia bersama istri dan kedua adiknya berpamitan kepada penduduk kampung yang sebagian besar tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


“Nak Jingga, sebelum kepergianmu ke alam dewa. Bisakah kau menemui ratu Kalandiva untuk tidak mengirim kembali beast monsternya ke sekte Teratai Langit?” ucap tetua sepuh memintanya.


“Baik, Tetua. Aku akan pergi ke benua Intibumi untuk menemuinya,” balas Jingga menyanggupi.


Jingga bersama istri dan kedua adiknya lalu melayang terbang meninggalkan kampung Cerita Hati.


“Sayang, apa kamu tahu di mana benua Intibumi?’ tanya Xian Hou.


Mendengar pertanyaan istrinya, Jingga langsung menghentikan laju terbangnya. Ia mengusap dagu memikirkannya.


“Aku belum tahu lokasinya, tapi aku akan menanyakannya langsung kepada paman Lie Zhou,” jawabnya.


Jingga kembali melanjutkan laju terbangnya dan bermanuver ke arah istana kekaisaran Xiao. Sampai berada di atas kota Luyan, Jingga kembali menghentikan laju terbangnya. Wajahnya tampak sumringah memperhatikan kota yang kembali terlihat megah paska bencana alam.


“Ibu kota sudah pulih. Apakah kalian ingin mengunjungi kota atau kita langsung ke istana?” tanya Jingga menawarkan.


Bai Niu dan Qianmei langsung mengangguk semangat. Sementara sang istri hanya mengangkat kedua bahu menyerahkan keputusan kepada suaminya.


“Ya sudah, ayo kita turun,” imbuh Jingga lalu bersama-sama turun ke tengah kota yang belum terlihat ramai seperti umumnya suatu perkotaan.


Tap, tap.


Jingga bersama keluarganya berjalan menelusuri area kota yang bangunannya terlihat masih baru. Namun sayangnya, suasana kota terbesar di benua Matahari ini sangat kontras dengan ketika Jingga terakhir kali mengunjunginya. Bahkan di sepanjang jalan, tidak lagi ditemui keberadaan para pedagang asongan yang biasanya berderet rapi menawarkan dagangannya.


“Kak, tidak ada cemilan yang bisa aku makan,” keluh Bai Niu tampak lesu.


“Kota ini baru bangkit. Butuh beberapa tahun ke depan untuk kembali seperti dahulu kala. Tetapi aku yakin, kota ini akan lebih maju dari masa lalu,” timpal Jingga.


“Suamiku, bagaimana kalau kita langsung ke istana saja?” cetus Xian Hou memberi usul.


“Ayo!” kata Jingga membalasnya.


Kembali Jingga dan keluarganya melayang terbang meninggalkan kota Luyan. Hanya butuh beberapa hela napas, Jingga dan keluarganya sampai di atas istana kekaisaran Xiao. Di bawahnya, Kaisar Xiao Mai langsung berkelebat keluar istana untuk menyambutnya.

__ADS_1


Tap, tap.


Jingga dan keluarganya mendarat mulus di depan sang Kaisar. 


“Selamat datang kembali, Jingga,” sambut kaisar Xiao Mai dengan merentangkan kedua tangannya.


Jingga meluruh memeluknya lalu mundur selangkah melepaskannya.


“Aku datang untuk menemui pamanku, di manakah, Beliau?” kata Jingga tanpa berbasa-basi perihal kedatangannya.


Wajah kaisar berubah murung mendengarnya. Tatapannya berubah sayu dan bibir yang tampak berat untuk berucap.


“Ada apa, Kaisar?” tanya Jingga heran.


“Jenderal sudah tiada,” jawab Kaisar dengan nada pelan.


Jingga tersentak mendengarnya. Rasa penyesalan kembali merasukinya.


“Ah! Sial!” rutuknya menyesali diri.


“sudahlah, Jingga. Setiap makhluk alam fana pasti akan mati. Apa yang harus disesali?” ujar Kaisar menguatkan hati Jingga.


“Terima kasih, Kaisar. Tujuanku menemui paman Lie Zhou untuk menanyakan lokasi benua Intibumi. Bisakah, Kaisar memberitahuku lokasinya,” kata Jingga mengungkapkan tujuan.


“Benua Intibumi ada di seberang samudra. Kau memerlukan kapal untuk menjangkaunya. Walaupun tingkat kultivasimu di luar nalarku, melintasi samudera dengan terbang bukanlah pilihan yang baik. Banyak misteri di tengah samudera yang akan menarik perhatianmu,” beber Kaisar.


Jingga menyeringai dingin mendengarnya. Ia tentu sangat penasaran pada apa yang akan ditemuinya di tengah samudera menuju benua para beast monster tersebut.


“Bolehkah aku meminjam kapalmu?” 


“Tentu saja, aku akan meminta salah satu jenderalku untuk mengantarmu ke benua Intibumi.”


“Terima kasih, Kaisar.”


Sang Kaisar pun langsung meminta seorang penjaga untuk memanggil jenderalnya. Beberapa saat kemudian, seorang pria yang mengenakan zirah bermanik keemasan datang menghampiri lalu menjura pada Kaisar.


“Jenderal Qing, antarkan saudaraku ke benua Intibumi,” titah Kaisar.


“Maaf, Yang Mulia. Kita hanya memiliki satu kapal perang yang tersisa di dermaga. Pelayaran ke benua Intibumi sangatlah jauh,” sela sang Jenderal memberitahunya.


“Apa kau berani menentangku, Jenderal?” kecam sang Kaisar tidak ingin dibantah.

__ADS_1


“Maaf, Yang Mulia. Hamba laksanakan,” tanggap sang Jenderal dengan tegas.


Kaisar Xiao Mai lalu menoleh ke arah Jingga dengan raut wajah yang langsung berubah menjadi sosok yang ramah. Kaisar menjulurkan tangan memberikan cincin spasial kepada Jingga.


“Apa ini, Kaisar?” tanya Jingga lalu memindai isinya.


“Ha-ha-ha. Paman Zhou sangat mengerti diriku. Terima kasih, Kaisar. Kalau begitu, aku bersama istri dan kedua adikku memohon pamit,” imbuh Jingga begitu senang setelah melihat isi dari cincin spasial yang diterimanya.


“Ha-ha. Kau ini, memang beda sendiri … Baiklah, aku mengizinkannya. Selamat berpetualang, saudaraku,” timpal Kaisar mengizinkannya sambil terkekeh.


Setelahnya, Jingga dan keluarganya melayang terbang mengikuti Jenderal Qing yang akan membawanya ke dermaga.


Sesampainya di dermaga, Jenderal Qing meminta Jingga untuk menaiki kapal perang kekaisaran. Ia sendiri langsung memimpin bawahannya untuk mempersiapkan kapal melaju meninggalkan pelabuhan.


Berada di geladak utama kapal membuat benak Jingga menerawang melintasi ruang dan waktu dan berakhir di masa di mana ia berlayar bersama mendiang kakeknya Tang Xie Zhang.


“Sayang, aku sudah lama tidak melihat ekspresimu yang ini. Aku sangat menyukainya,” ucap Xian Hou yang selalu memperhatikan raut wajah suaminya.


Jingga mengabaikannya, ia yang masih larut dalam kenangan yang membuat semangatnya kembali membara.


DUNG! DUNG!


Tabuh suara lonceng terdengar nyaring. Jingga yang sedang bernostalgia dalam pikirannya akhirnya tersadar. Tampak, Jenderal Qing bersama lima prajurit datang menghampirinya.


“Kapal akan segera berangkat, aku harap kalian semua bisa menikmati pelayaran.” Jenderal Qing bersama kelima bawahannya menjura lalu berbalik pergi.


Bai Niu tampak heran dengan sikap sang Jenderal yang terkesan dingin dan kurang menghargai keberadaan kakaknya.


“Apakah semua jenderal bersikap seperti itu?” gumam Bai Niu mengeluhkannya.


“Sudahlah, Naninu. Lebih baik kita mencari kamar untuk istirahat,” ucap Jingga menanggapinya.


Jingga melangkah sambil mengingat posisi kamar yang pernah ditempatinya dan berhenti tepat di depan kamar yang memiliki pintu paling besar.


“Ternyata kapal ini tidak berbeda dengan kapal yang pernah aku tumpangi, ha-ha,” kekeh Jingga lalu mengapit gagang pintu dan mendorongnya.


KREK!


“Ah, sialan!” gerutunya setelah melihat keberadaan dua insan yang sedang bercinta.


Ia lalu menutupnya kembali dan berbalik mencari kamar yang akan ditempati olehnya beserta istri dan kedua adiknya.

__ADS_1


__ADS_2