Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Tang Xiu Juan


__ADS_3

Jingga terus berkelebat mencari sebuah tempat untuk merawat gadis yang dipanggulnya.


Sampai akhirnya Jingga menemukan sebuah rumah kecil yang terbuat dari anyaman dedaunan kering tak jauh dari ujung perkebunan.


Jingga memindai isinya, memastikan keberadaan penghuni di dalamnya, namun ia tidak melihat keberadaan seseorang di dalamnya.


"Sepertinya rumah itu telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya" gumamnya lalu menghampirinya.


Jingga langsung mendorong pintu yang terbuat dari potongan batang bambu lalu memasukinya.


"Kotor sekali rumah ini" ucapnya dilanjutkannya dengan membersihkan sebuah alas dedaunan untuk membaringkan si gadis.


Setelah membaringkannya, Jingga melanjutkan pembersihan rumah sederhana itu agar layak ditempati.


Terdengar suara hujan jatuh begitu deras di luar rumah, tak ayal atap rumah yang banyak berlubang meneteskan air di mana-mana.


Jingga mencari sesuatu di cincin spasialnya untuk menambal lubang pada atap rumah yang bocor.


"Ha ha ha, dasar pelaut, layar kapal pun disimpannya juga di cincin spasial" pungkasnya merasa lucu mengingat mendiang kakeknya yang begitu apik menyimpan sesuatu.


Jingga lalu mengambilnya dan langsung memasangnya di atap rumah yang bisa dijangkaunya dengan tangan.


Setelahnya Jingga langsung melirik si gadis, ia awalnya bingung melihat gaun yang robek dihampir semua bagiannya dan terdapat noda darah yang mengotori seluruh badan si gadis.


Dengan memberanikan diri, Jingga melepaskan gaun yang dikenakan si gadis.


Banyaknya noda darah yang menyamarkan tubuh si gadis membuat Jingga tidak merasa risih melihat tubuh polos si gadis.


Setelahnya Jingga langsung keluar rumah untuk menampung air hujan menggunakan cawan yang diambilnya dari cincin spasialnya, setelah dirasa cukup, Jingga lalu membasuh noda darah si gadis sampai bersih.


"Maafkan aku, Nona" ucapnya setelah selesai membersihkannya, namu masalah berikutnya adalah tidak adanya gaun di dalam cincin spasialnya, ia lalu memeriksa cincin spasial si gadis namun tidak ditemukan juga adanya pakaian yang bisa dikenakan oleh si gadis.


Jingga menggaruk kepalanya karena bingung lalu memutuskan untuk membiarkannya saja dalam keadaan polos tanpa selembar kain pun yang menutupinya.


Jingga langsung memutuskan kembali untuk bersemedi menghadap ke arahnya sampai hujan reda ataupun si gadis siuman kembali.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, si gadis terbangun merasakan sesak di dadanya, ia terus terbatuk beberapa kali sampai menengadahkan kepalanya untuk menenangkan dirinya.


"Sepertinya akan ada betina ngamuk sebentar lagi" kata pikir Jingga sengaja tidak membuka kedua matanya.


Benar saja, si gadis baru menyadari dirinya dalam keadaan polos tidak memakai apa pun pada tubuhnya.


"Ha!" Jeritnya begitu keras setelah melihat seorang pemuda sedang bermeditasi di depannya.


Gadis itu langsung mengambil pedang dari cincin spasialnya lalu mengayunkan pedangnya ke arah kepala Jingga.


Jingga yang sudah mengetahui hal ini akan terjadi hanya memiting bilah pedang lalu melemparkannya ke belakang.


Terkejut pada pemuda yang dengan cepat berhasil menahan laju pedang hanya dengan kedua jarinya, membuat gadis itu semakin geram.


"Begitukah caramu membalasku yang sudah menolongmu, tentu aku terpaksa melakukannya karena harus menyembuhkanmu, lihatlah gaunmu yang sudah robek semua bagiannya dan penuh dengan noda darah dari lukamu, aku pun tidak menemukan adanya pakaian di dalam cincin spasialmu, kenapa kau harus menyerangku?" Beber Jingga tanpa membuka kedua matanya untuk menghormati si gadis yang polos.


"Kenapa kau tidak memberikan saja pakaianmu itu? atau apakah memang benar di cincin spasialmu tidak ada pakaian lain yang kau simpan?" Tanya si gadis tidak mempercayainya.


"Terus, apakah kau tidak akan marah melihatku tidak memakai apa pun seperti dirimu? lalu apakah menurutmu aku sengaja tidak memberikanmu pakaianku? Tentunya kau akan menuduhku telah melecehkanmu, bukankah itu sama saja?" jawab Jingga tidak mau kalah membalikkan pertanyaan kepada si gadis.


Namun rasa malunya membuat ia terus menangis sambil menutupi bagian berharga tubuhnya dengan posisi duduk mendekap lutut membelakangi Jingga.


"He he, ini adalah kemenangan pertamaku berdebat dengan seorang perempuan, ada gunanya juga sering berdebat dengan Naninu" gumam Jingga begitu senang.


Jingga langsung teringat akan layar kapal yang dipakainya untuk menutupi atap yang bocor, kebetulan juga ukuran layarnya begitu besar sehingga Jingga berinisiatif untuk memotongnya.


Jingga langsung berdiri dan memotong bagian layar yang berlebih ukurannya lalu memberikannya kepada si gadis.


"Pakailah dulu, nanti setelah hujan reda, aku akan mencarinya di rumah penduduk yang bisa aku temui" ujarnya lalu kembali duduk membelakangi si gadis.


"Kau jangan mengintipku" pinta si gadis, padahal sebelumnya ia tahu kalau Jingga sudah melihat semuanya.


"Ya" sahut Jingga singkat.


Si gadis langsung memakainya dengan melilitkan ke seluruh tubuhnya lalu ia kembali duduk dengan posisi mendekap lututnya seperti semula.

__ADS_1


Di luar Hujan semakin deras sampai siang berganti malam tidak ada tanda akan berhenti.


Jingga lalu membuat bola api kecil yang keluar dari jarinya lalu memposisikannya melayang di tengah rumah untuk meneranginya dalam kegelapan malam.


Lama keduanya terdiam dalam keheningan malam dan dinginnya hujan, gadis itu tidak tahan ingin mengetahui siapa pemuda yang sudah menolongnya itu.


"Kau orang asing, siapa namamu?" Tanya si gadis membuka pembicaraan.


"Aku kira kau tidak akan pernah menanyakannya, namaku Tang Xie Jingga, kau bisa memanggilku Jingga" jawab Jingga memperkenalkan diri.


"Apa?, Ha ha ha, apa aku tidak salah dengar, kau jangan membohongiku, kau bahkan terlihat bukan dari benua ini, ha ha ha, dasar pembual!" timpal si gadis merasa konyol dengan jawaban Jingga yang menurutnya sedang berbohong.


"Sudahlah, aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku, itu terserah padamu, Nona" balas Jingga lalu kembali menutup matanya.


Gadis itu memperhatikan raut wajah Jingga yang tidak ada kebohongan sama sekali.


"Maafkan aku, aku tertawa karena kau memakai nama klan keluargaku, namaku Tang Xiu Juan, terserah kau mau memanggilku apa" sambung si gadis memperkenalkan diri.


"Hem" dehamnya menanggapi perkataan si gadis.


Tang Xiu Juan begitu kesal hanya ditanggapi seperti itu oleh Jingga.


"Kau berasal dari mana dan mengapa kau memiliki nama klan keluargaku?" Tanya Tang Xiu Juan begitu penasaran dengan asal-usul pemuda asing di depannya.


Jingga membuka matanya lalu tersenyum menatapnya.


"Aku berasal dari benua Majang dan untuk namaku diberikan oleh kakekku Jenderal Tang Xie Zhang" jawab Jingga.


Tang Xiu Juan langsung menangis mendengarnya, ia sangat mengenal nama yang disebutkan oleh Jingga.


Walaupun kakek Tang Xie Zhang bukanlah kakeknya secara langsung, tapi sosoknya adalah panutan dan kebanggaan bagi keluarganya.


"Kenapa kau menangis, Nona Juan?" Tanya Jingga ingin tahu.


Tang Xiu Juan langsung tersenyum lembut kepadanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, maafkan aku Kak Jingga, aku begitu iri kepadamu, kau bisa bertemu dengannya sedangkan aku hanya mendengar ceritanya saja" jawab Tang Xiu Juan yang langsung bersikap lembut kepada Jingga.


__ADS_2