
Sontak saja ucapannya membuat puluhan pendekar berkapak merinding melihatnya, mereka sangat waspada dengan situasi sekitarnya lalu bergabung dengan para pendekar dari padepokan lain di area terdekatnya.
"Hei! Kenapa kalian memasuki wilayah kami?" Tegur seorang pendekar yang dibagian dada bajunya terukir sebuah logo bunga mawar.
"Ratusan murid padepokan Buaya Merah tewas dengan tubuh hancur, kami sengaja ke sini untuk menggabungkan kekuatan mengantisipasi serangan yang mungkin diarahkan kepada kita" ungkap pendekar berkapak.
"Ha ha ha, kalian kira kami akan menerima murid-murid padepokan Kapak Tulang Naga yang menjadi pengecut. Kembalilah ke tempat kalian atau kami padepokan Mawar Darah akan menyerang kalian?" Balas pendekar yang mengaku dari padepokan Mawar Darah berkelakar sambil mengancam.
Kesal karena diremehkan oleh murid padepokan Mawar Darah. Beberapa murid padepokan Kapak Tulang Naga mengangkat kapaknya bersiap untuk bertarung.
Jingga menyeringai di atas pohon melihat ketegangan dua padepokan silat yang mulai memanas. Ia lalu melompat dan memenggal seorang murid dari padepokan Mawar Darah dan kembali ke atas pohon.
Bugh!
Kepala pendekar dari padepokan Mawar Darah terjatuh ke tanah, tidak ada yang tahu siapa yang telah memenggalnya.
Lebih dari dua ratus murid padepokan Mawar Darah langsung mencabut senjatanya masing-masing.
"Kalian telah berani mengusik kami. Matilah!" Ucap seorang pendekar Mawar Darah langsung menyerang murid padepokan Kapak Tulang Naga.
Pertarungan kedua padepokan pun terjadi begitu sengit, Jingga lalu berkelebat ke area lain di luar wilayah dusun Sukamati.
Sekarang ia melihat ratusan pendekar berpakaian hitam dengan gambar kepala tengkorak di punggung, tidak jauh dari pendekar bergambar tengkorak, ratusan pendekar lain dengan pakaian berwarna merah dan bergambar kepala elang dibagian dada sedang duduk santai menyaksikan pertarungan yang masih berlangsung di dusun Sukamati.
"Sepertinya salah satu dari kedua padepokan menjadi pemimpin pertempuran" gumam Jingga menerka.
Ia tidak habis pikir, kenapa mereka datang dengan membawa begitu banyak orang hanya untuk menghancurkan sebuah dusun.
"Apa motif di balik serangan ini?" Imbuhnya bergumam.
Mentari pagi bersinar cerah di ufuk timur. Kobaran api semakin membesar merambat ke rumah-rumah warga dusun, tidak terlihat keberadaan penghuni yang keluar dari dalam rumah. Kepala dusun sudah mengungsikannya ke suatu tempat dari kemarin.
Pertempuran di dusun Sukamati semakin mereda seiring waktu, banyak mayat yang tergeletak dari kedua belah pihak. Para pendekar dari dusun Sukamati terlihat memenangkan pertempuran, walaupun di antara mereka banyak yang menjadi korban.
Suasana hening paska pertempuran hanya beberapa saat saja. Gemuruh langkah kaki di atas bukit terdengar semakin jelas. Tak lama kemudian, ratusan pendekar bermunculan dan berjajar rapi di atas bukit, semua orang menengadah melihatnya.
__ADS_1
"Macan Goreng" ucap Jingga mengenali beberapa orang yang pernah ditemuinya.
Hal yang mengejutkan terjadi di area lain, para pendekar Kapak Tulang Naga berhasil membabat habis semua murid dari padepokan Mawar Darah yang berjumlah lebih dari dua ratus orang.
Jingga terlihat begitu senang dengan rencana dadakannya yang menuai hasil. Ia lalu melirik para pendekar dari berbagai padepokan lainnya yang terlihat masih bertahan di posisinya.
"Ayolah lanjutkan! mumpung masih pagi" harap Jingga menginginkan pertempuran.
Apa yang diharapkannya tidak terjadi, para pendekar dari kelompok ilmu hitam berlarian ke arah lembah Anggrek Darah. Sebagian murid padepokan Macan Goreng berlompatan dari atas bukit mengejarnya. Sebagian lagi menghampiri warga dusun Sukamati.
Jingga turun dari pohon dengan raut wajah kecewa menghampiri warga dusun.
"Aa, kemana saja?" Tanya Naray menghampirinya.
"Aku menjaga wilayah luar area dusun" jawab Jingga lalu merangkul pundak Naray berjalan ke arah para warga yang berkumpul.
"Nak Jingga, terima kasih atas bantuanmu. Kami bisa memenangkan peperangan" ujar pak Jentrang.
"Aku hanya sedikit membantu, tidak perlu seperti itu Bapak Kepala Dusun" balas Jingga.
"Pendekar muda, kita bertemu lagi" ucap seorang pendekar dari padepokan Macan Goreng menghampirinya.
"Bagaimana dengan kedua gadis yang mencuri kitab pusaka padepokan? Apakah sudah berhasil ditangkap dan dikembalikan?" Tanya Jingga.
"Sayangnya keduanya entah kabur kemana, kami gagal menangkapnya" jawab Bramakeling.
"Sudahlah, kita bantu warga yang terluka. Setelahnya kita akan menyusul para pendekar yang berlari ke lembah Anggrek darah" ujar Jingga.
Mereka semua bahu membahu menolong para pendekar yang terluka, sebagian warga menggali tanah untuk menguburkan jasad warga yang menjadi korban, untuk korban dari pihak lawan langsung dilemparkan ke dalam rumah yang terbakar.
Panas matahari mulai menyengat kulit, warga dusun telah selesai menguburkan jasad dan mengevakuasi korban yang masih hidup.
"Pak Kepala Dusun, aku pamit pergi menyusul para pendekar ke lembah Anggrek Darah. Terima kasih atas sambutan hangat warga dusun" ucap Jingga berpamitan.
"Terima kasih kembali, Nak Jingga. Kami semua akan pergi ke gunung Bundar menyusul warga yang sudah pergi dari kemarin. Kalau sempat, mampirlah ke sana" balas pak Jentrang lalu memimpin rombongan ke arah lainnya.
__ADS_1
Jingga melirik Naray yang masih diam di sampingnya.
"Neng, kenapa tidak ikut warga dusun ke gunung Bundar?" Tanya Jingga.
"Aku ingin ikut Aa ke lembah Anggrek Darah" jawab Naray lalu meminta Jingga mengantarnya ke sungai.
"Kang Brama, kalian duluan saja. Aku harus mengantar Naray ke sungai" kata Jingga mempersilakan para pendekar Macan Goreng jalan duluan.
"Baiklah, kasihan kekasihmu yang begitu kotor berlumuran darah" balas Bramakeling lalu pergi bersama teman-teman seperguruannya.
Jingga mengikuti langkah kaki Naray ke sungai tidak jauh dari dusun Sukamati.
Beberapa langkah berjalan, keduanya telah sampai di sungai yang cukup besar luasnya. Dipenuhi bebatuan besar di sekitarnya, Jingga merebahkan tubuhnya di sebuah batu yang besar sambil menatap langit biru.
"Biru, kemana Nenek Lakanti membawamu?" Gumamnya teringat akan teman kecilnya.
Panasnya sinar matahari membuat Jingga harus berbalik tengkurap di atas batu.
"Indahnya" celetuk Jingga melihat tubuh polos Naray yang sedang mandi tak jauh dari posisi Jingga.
Ia terus memperhatikan Naray dengan posisi tengkurap sambil menopang dagu.
Naray menyeringai merasakan sepasang mata terus mengawasinya, ia lalu berjongkok menenggelamkan tubuhnya di dalam arus sungai.
"Huh!" Dengus Jingga yang kehilangan pemandangan menarik.
Ia lalu duduk membelakanginya, memperhatikan gunung besar bernama Keranda Mistis. Nama yang begitu menyeramkan.
"Hayo! Aa pasti lagi melamun jorok setelah mengintipku" tuduh Naray yang melihatnya melamun.
"Sok tahu! Aku hanya heran kenapa gunung besar itu dinamai Keranda Mistis?" Balas Jingga menunjuk ke arah gunung.
Naray langsung duduk di sampingnya dengan menangkupkan kedua lengannya di lutut karena menggigil memakai baju yang belum kering.
"Menurut cerita Nenek Guru. Gunung itu tempat pertemuan Sang Penguasa Alam dengan Ratu Iblis yang menyamar menjadi manusia, beberapa tahun setelah masa damai. Para pendekar ilmu hitam membawa banyak keranda berisi mayat untuk dipersembahkan kepada setan yang gentayangan di puncak gunung" ujar Naray menceritakan.
__ADS_1
"Cerita yang tidak nyambung, apa kaitannya?" Potong Jingga.
"Tidak tahu, aku juga bingung dengan ceritanya. Ayo A, kita jalan sekarang" timpal Naray lalu berdiri mengajak Jingga ke lembah Anggrek Darah.