
Berada disebuah ruangan unik yang dipenuhi ornamen kerang membuat Jingga tidak merasakan dirinya sebagai seorang tahanan.
Keunikan ruang tahanan tidak membuat Jingga bereaksi berlebihan ataupun ingin mengomentarinya, kedua matanya tertuju pada tubuh yang terbaring di depannya.
"Andai saja kau tahu siapa sebenarnya diriku, apa kau akan memanggilku kakek?" Gumam Jingga sambil senyum-senyum sendiri.
Tap tap!
"Hem!" Deham seorang wanita di ambang pintu.
Jingga menoleh ke belakang, ia terpana melihat seorang gadis berambut merah yang begitu cantik di samping sang ratu yang berdiri di ambang pintu.
"Pendekar muda, bisakah kau menceritakan sedikit tentangmu kepadaku?" Ucap ratu Samudera memintanya.
Jingga terus saja diam, ia begitu terbuai dengan keindahan makhluk di depannya. Seorang gadis bertubuh ikan bagian bawahnya.
sumber : Pinteres
"Ikan yang cantik" gumam Jingga lalu tersenyum menatapnya.
Ratu Samudera baru menyadarinya, ia memperhatikan arah pandangan Jingga pada putrinya.
"Ana, ibu ingin berbincang sebentar dengan pemuda itu. Kau pergilah!" Pinta ibunya.
"Baik, Bu" sahutnya lalu pergi dengan mengibaskan ekornya.
Ratu Samudera pun menghampiri Jingga lalu duduk di dekatnya sambil memperhatikan wanita cantik yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Sebelum menikah dengan raja Orx Xian, aku hanyalah seorang manusia biasa sama seperti kekasihmu itu" ujarnya mengawali cerita.
"Maaf, Nyonya. Tapi aku tidak ingin mendengarnya, cerita Nyonya tidak ada kaitannya sama sekali denganku. Langsung saja pada intinya apa yang Nyonya inginkan dariku?" Potong Jingga.
"Baiklah! Aku hanya ingin tahu bagaimana bisa kau hidup tanpa memiliki darah di tubuhmu, jujur saja siapa dirimu sebenarnya?" Balas ratu Samudera langsung menanyakan maksudnya.
"Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, bisakah Nyonya melepaskan kami berdua?"
"Tidak sulit, aku bahkan bisa membuka portal dimensi yang langsung mengarah ke tempat tujuanmu" jawab ratu Samudera menyetujuinya.
"Ha ha, itu yang aku inginkan. Hem! Aku adalah seorang iblis" tanggap Jingga begitu senang.
"Ayo cepatlah! Sebelum aku berniat menjadikan kalian ikan bakar" imbuhnya tidak sabar.
Ratu Samudera tidak mempercayai ucapannya, ia memperhatikan Jingga dari atas sampai bawah lalu menatapnya dengan tajam.
"Kau bohong" timpal ratu Samudera lalu berjalan meninggalkannya.
Jingga langsung menarik tangan ratu Samudera sehingga sang ratu berbalik dan jatuh ke dalam pelukannya.
"Nyonya nakal, tapi sayangnya bau amis ikan" celetuk Jingga masih terus mendekapnya.
Jarak wajah keduanya hanya beberapa centi saja, ratu Samudera terhentak marah mendengarnya.
__ADS_1
"Kurang ajar kau manusia mesum" rutuk ratu Samudera begitu marah.
"Ternyata seperti itu reaksi wanita yang ditolak cintanya" ledek Jingga.
"Kau!" Geram ratu Samudera.
***
Sang Raja yang penasaran akan upaya istrinya mengorek keterangan dari Jingga bergegas ke arah ruang tahanan, setibanya sang raja di pintu ruang tahanan, ia membelalakan mata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Istrinya sedang berpelukan mesra dengan pemuda yang menjadi tahanannya.
Jingga yang menghadap ke arah pintu sekilas melihat sang raja berdiri mematung. Terbesit sebuah ide untuk membuat keduanya bertengkar, ia langsung mencium ganas bibir sang Ratu yang anehnya sang ratu membalas ciuman Jingga tanpa menyadari keberadaan suaminya.
Cukup lama keduanya berciuman, Jingga langsung melepaskannya.
"Cukup Nyonya, nanti istriku bangun. Aku harus bilang apa padanya" ujar Jingga seakan bukan dia yang memulainya.
"Kau yang duluan menciumku, bocah nakal" balas sang ratu langsung memagutkan kembali bibirnya.
Jingga meronta melepaskan diri dari sosoran sang ratu, sang raja yang melihatnya sudah tidak sanggup lagi menahan amarah, ia langsung menghampiri dan menjambak rambut sang ratu.
Plak! Plak!
"Kau berengsek!" Murka sang raja lalu pergi meninggalkannya.
Ratu Samudera tidak menyangka suaminya akan semarah itu, ia terdiam sejenak dalam lamunannya. Setelah tersentak beberapa saat dalam lamunannya, sang ratu langsung berlari mengejarnya.
Jingga yang melihat keduanya langsung menyeringai dingin, namun ia sadar sesuatu yang buruk akan segera datang.
"Aku harus kabur dari sini sebelum mereka menghukumku" gumamnya lalu memanggul Tang Niu dan berkelebat keluar ruang tahanan.
Siu! Wuzz!
Dhuar!
Beberapa berkas pancaran energi menghantamnya dengan keras. Jingga terlempar jauh menabrak sebuah dinding.
"Sial! Bagaimana caranya aku kabur dari sini?" Gumamnya pelan lalu berdiri bangkit sambil menopang tubuh Tang Niu di pundaknya.
Belasan penjaga mengelilinginya dengan mengacungkan tombak.
Seorang penjaga berzirah merah terlihat seperti seorang komandan menarik pedangnya lalu mendekati Jingga yang berdiri diam dalam kepungan para penjaga.
"Tunggu, Tuan Ikan. Kami adalah tamu kehormatan ratu Samudera" ucap Jingga berusaha menahannya.
Penjaga berzirah merah tidak mempedulikannya, ia langsung menebaskan pedangnya namun terhenti seketika melihat sebuah trisula dengan cepat mengarah padanya.
Siu!
Dhuar! Dhuar!
Sleb!
Beberapa sinar energi melesak ke arah para penjaga yang sedang mengepung Jingga dan sebuah trisula menancap di kepala penjaga berzirah merah.
__ADS_1
Putri kerajaan Samudera datang ke hadapannya ia langsung menarik trisulanya.
"Ikut aku" pinta sang putri langsung membuka sebuah lubang portal dimensi.
Jingga mengikutinya memasuki portal dimensi, ia begitu heran dengan lingkungan sekitarnya yang mirip sebuah kota di daratan.
"Nona Ikan, tempat apa ini?" Tanya Jingga.
"Jangan memanggilku ikan, namaku Sophiana Xian. Panggil saja Ana" protes Sophiana memintanya.
"Kita berada di ruang hampa kerajaan Samudera, tempat kita sekarang disebut kota Krantis, kota yang didesain mirip dengan kota yang ada di daratan. Dulu kota Krantis dipakai sebagai penampungan bangsa manusia agar tidak punah dari kehancuran alam fana di masa perang lintas alam"
"Lalu kenapa Nona membawa kami kemari?" Potong Jingga menanyakannya.
Sophiana melirik wanita yang dipanggul Jingga lalu berkata
"Energi spritual kekasihmu menipis, dia tidak akan sanggup bertahan lama berada di dalam air"
Jingga memahaminya, namun ia masih memikirkan cara untuk kembali ke daratan.
"Kau tenang saja, aku akan membawamu ke portal dimensi yang terhubung langsung dengan daratan di benua Matahari" imbuh putri Sophiana memahami yang dilamunkan Jingga.
"Sebentar, Nona. Kenapa kau membantuku?"
"Hem! Aku juga tidak tahu, tapi keberadaan kalian berdua bisa mengganggu ketenangan kerajaan, sebaiknya kita cepat bergegas sebelum Jenderal Xanthi menangkap kalian"
Jingga mengangguk memahaminya, ia lalu mengikuti langkah putri Sophiana yang membawanya ke arah bukit di ujung kota Krantis.
Sesampainya di kaki bukit, putri Sophiana langsung membentuk pola rumit di jarinya. Seketika sebuah portal dimensi muncul dengan dikelilingi cahaya berwarna merah, terlihat seperti lidah api yang membara.
"Aku tidak bisa lama mengalirkan energiku, cepatlah!" Pinta putri Sophiana.
"Nona, apakah Jenderal Xanthi itu beast ikan hiu?" Tanya Jingga.
"Ya, itu benar. Cepatlah masuk!" Jawab putri Sophiana memaksanya.
Jinga lalu memasukinya, ia berbalik menatap putri Sophiana yang begitu pucat mengalirkan energi spiritualnya membuka portal dimensi.
"Terima kasih, Nona Putri" ucap Jingga.
Putri Sophiana mengangguk lalu portal dimensi tertutup seketika.
Jingga menurunkan Tang Niu di rerumputan, ia lalu memperhatikan sekelilingnya, terlihat olehnya hamparan padang rumput yang begitu luas.
"Suasana yang asing" gumam Jingga tidak mengenalinya.
Ia kembali memanggul Tang Niu dan membawanya ke arah matahari yang condong di ufuk barat.
Uhuk, uhuk!
"Adik, di mana kita sekarang?" Tanya Tang Niu yang baru siuman.
"Akhirnya kau sadar juga, Naninu. Entahlah aku juga tidak tahu kita berada di mana" jawab Jingga lalu menurunkannya.
__ADS_1
"Apa ini surga?" Sambung tanya Tang Niu yang memperhatikan padang rumput di sekelilingnya.
"Jangan melantur, sebaiknya kita cepat bergegas sebelum matahari terbenam" balas Jingga tanpa meliriknya.