
"Ha ha, itu memang benar adanya. Wajahnya lebih cantik dari gadis mana pun, tetapi ia tetaplah seorang pria, kalau kau pergi ke kekaisaran Xiao di benua Timur Matahari, kau akan melihatnya di sana" jawab kakek Mamat.
"Syukurlah kekaisaran Xiao dan benua Matahari masih ada sampai sekarang" balas Jingga lebih tertarik mengetahui benua Matahari dan kekaisaran Xiao tidak mengalami perubahan nama seperti benua Majang.
Setelah perbincangan, kakek Mamat langsung kembali ke kamarnya, sedangkan Jingga duduk bermeditasi menunggu pagi.
Mentari pagi bersinar begitu cerah, Jingga berpamitan kepada kakek Mamat dan Rizal, sedangkan neng Asih berdiam diri di kamarnya. Ia tidak rela melihat Jingga pergi meninggalkannya.
"Nak Jingga, ini pedang yang Kakek temukan di reruntuhan bekas istana kerajaan. Bawalah bersamamu" ujar kakek Mamat menyerahkannya.
"Pedang yang bagus, terima kasih Kek" balas Jingga mengambilnya.
Ia lalu menjura dan berbalik pergi mencari artefak untuk bisa kembali ke masanya.
Sepanjang perjalanan melintasi perkebunan yang begitu luas, Jingga tampak bosan tidak ada yang menemaninya berbicara.
"Sungguh membosankan" keluhnya.
Pagi hari pun berganti siang, Jingga mendongak ke langit melihat matahari yang tepat berada di atas kepalanya.
"Apakah aku kembali menjadi manusia? Kenapa terasa kering tenggorokanku?" Gumamnya merasakan haus.
Jingga memperhatikan area perkebunan di sekitarnya mencari sesuatu yang bisa diminumnya, namun tidak ditemukan sesuatu apa pun di sekitarnya. Kesal tidak menemukannya, Jingga langsung memanjat sebuah pohon yang cukup tinggi sampai pada puncaknya. Ia memperhatikan area perkebunan yang luas.
"Hah! Sudahlah, aku tidak mungkin mati karena kehausan" gumamnya memelas.
Jingga kembali turun, belum sampai dirinya berada di tanah. Terdengar suara langkah kaki ke arahnya. Ia lalu bersembunyi di batang pohon yang memiliki banyak cabang ranting dan dedaunan yang menyamarkan dirinya.
Terlihat dari kejauhan dua orang gadis menaiki kuda menuju ke arahnya dengan cepat.
"Sepertinya kedua Nona itu bisa memberiku tumpangan" gumamnya.
Jingga lalu bersiap untuk melompat turun, namun ia mengurungkan niatnya. Di belakang kedua gadis tampak belasan kuda sedang mengejarnya.
"Ha ha dapat momen jadi pahlawan, tapi aku lebih butuh air saat ini" ucapnya.
Beberapa saat kemudian, dua ekor kuda yang ditunggangi gadis melewatinya. Jingga lalu melompat turun menghadang belasan pria yang menunggangi kuda.
__ADS_1
Ringkikan keras terdengar dari kuda yang dihentikan paksa oleh para pria yang menungganginya.
"Hei! siapa kau?" Tanya seorang pria berwajah sangar paling depan.
"Bukan siapa-siapa, apakah di antara kalian ada yang membawa air? Aku mencari air namun tidak menemukannya di sini" jawab Jingga sambil meminta air.
"Kau ini mengagetkan kami saja, ini ambilah!" Balas pria sangar melemparkan kantong air.
Jingga menangkapnya dan langsung menenggaknya seketika.
"Segar dan manis, air apa ini?" Tanya Jingga lalu melemparkan kembali kantong air ke pemiliknya.
"Itu air tuak, banyak dijual di pasar" jawab pria itu lalu pergi meninggalkannya.
"Tunggu, Tuan! Boleh saya menumpang?" Pinta Jingga menahannya.
"Maaf pendekar muda, kami sedang mengejar dua gadis pencuri" jawab si pria sangar menolaknya.
Jingga diam saja membiarkan belasan pria pergi melewatinya, namun pria terakhir berhenti tepat di depannya.
"Naiklah, sepertinya kau seorang pendekar pedang" ajak pria terakhir yang berbadan tegap.
"Hia!"
Kuda pun berlari menyusul yang lainnya dengan begitu cepat mengikuti jejak kaki kuda di jalan setapak.
"Kakang, apa yang dicuri oleh kedua gadis itu?" Tanya Jingga ingin tahu.
"Sebelum menjawabnya, perkenalkan aku Bramakeling"
"Keduanya mencuri kitab Ganjardewa padepokan kami, kami diperintahkan oleh guru kami untuk membawanya kembali ke padepokan Macan Goreng" jawab pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Bramakeling.
Jingga hampir saja tertawa mendengar nama padepokan yang disebut oleh Bramakeling. Goreng di sini bukanlah penganan yang dimasak dengan minyak nabati, tapi berdasarkan kata bahasa sunda yang berarti jelek.
Tanpa terasa murid-murid dari padepokan Macan Goreng sudah keluar dari area perkebunan, mereka sekarang memasuki area kota sebuah kerajaan.
Tampak rumah-rumah perkotaan terlihat lebih kokoh dari waktu Jingga kecil dulu. Dengan gaya panggung yang menopang pada enam batang pohon di sekelilingnya, rumah yang didominasi anyaman batang bambu terlihat begitu mewah dan elegan.
__ADS_1
Jingga sampai takjub dibuatnya, ia tak henti-hentinya terus memperhatikan rumah-rumah besar dan luas di sekitarnya.
"Kita berpencar sekarang, aku yakin Mutia dan Indahsari bersembunyi di antara rumah warga kota" ujar pria sangar bernama Ramatek memberi perintah.
"Baik Kakang" sahut pria lainnya lalu berpencar ke segala penjuru kota.
"Kang Brama, aku turun di sini saja. Aku ingin menikmati suasana kota yang indah ini" pinta Jingga langsung melompat turun dari punggung kuda.
"Baiklah, tujuanmu berada di selatan kota Lebakwangi, butuh seminggu perjalanan kaki untuk mencapainya. Belilah seekor kuda untuk mempersingkat waktu. Di lain waktu, berkunjunglah ke padepokan kami" ujar Bramakeling menyarankan.
"Terima kasih, Kakang. Semoga kau juga bisa membawa kembali kitab padepokanmu. Aku akan mengusahakannya untuk berkunjung jika ada kesempatan" balas Jingga lalu menjura.
Bramakeling mengangguk lalu melanjutkan pencariannya ke arah lainnya.
Jingga berjalan santai sambil memperhatikan suasana kota. Hari mulai senja, ia terus berjalan mencari sebuah kedai untuk beristirahat.
Setelah beberapa jauh melangkah, ia akhirnya menemukan sebuah kedai bambu yang banyak dikunjungi orang yang keluar masuk silih berganti. Jingga memasukinya, tak lama ia kembali keluar karena tidak memiliki uang sepeser pun.
Dhuar!
Sambaran petir saling bersahutan di langit, tak lama turun hujan dengan sangat deras. Jingga kembali memasuki kedai, ia duduk tak jauh dari pintu masuk.
Seorang pelayan menghampirinya dengan tersenyum ramah menyambutnya.
"Selamat datang di kedai bambu Purnama, apakah Kakang ingin memesan makanan ataupun minuman. Kami punya banyak menu spesial hari ini, ikan goreng sambal mentah, ikan bakar sambal kedelai, ayam kampung spesial, biawak guling, kambing guling dan masih banyak menu lainnya" sambut pelayan membeberkan menu kedai yang lebih pantas disebut sebagai restoran.
"Kang, apa ada yang gratis di sini? Uangku hilang di perjalanan" bisik Jingga di telinga pelayan.
Pelayan langsung murung mendengarnya, ia yang sudah mempromosikan banyak menu tampak begitu kecewa di raut wajahnya. Namun ia tidak ingin mengecewakan pelanggan lalu berkata
"Air putih dan air teh gratis, Kakang mau yang mana?"
"Kalau gratis keduanya saja, boleh?"
Pelayan mengangguk lalu pergi ke arah dapur untuk mengambilkannya.
Tak lama pelayan kembali dengan membawakan nampan cukup besar yang berisi dua teko yang terbuat dari tanah liat dan beberapa piring yang di atasnya terdapat banyak makanan lalu meletakkannya di meja yang ditempati Jingga.
__ADS_1
"Kang, aku tidak bisa membayarnya. Kenapa Kakang membawakan makanan yang begitu banyak?" Tanya Jingga keheranan.
"Aku hanya diperintahkan oleh pemilik kedai membawakannya untuk Kakang. Kakang bisa menanyakannya langsung pada pemilik kedai di ujung sana" jawab pelayan menunjukkan sebuah pintu di ujung dalam kedai.