
Matahari di senja hari telah pergi, hari pun berganti malam. Jingga dan Qianfan masih terus saja mendiskusikan rencananya, keduanya melupakan ketiga gadis yang terlihat suntuk memperhatikan keduanya.
"Kak, bagaimana kalau kita pergi ke kota?, aku ingin melihat suasana malam kota ini." Usul Bai Niu mengajaknya.
Jingga dan Qianfan langsung meliriknya dengan tersenyum lembut.
"Ya sudah, kita pergi sekarang" jawab Jingga langsung beranjak dari duduknya di bale bambu.
Kelima pemuda langsung berjalan beriringan menuju tengah kota.
Baru saja kelimanya berjalan menuju sebuah gang sempit, tampak puluhan gadis dengan pakaian yang begitu tipis menerawang dan wajah berdempul tebal menutupi jalan yang akan dilalui kelimanya.
Ketiga gadis langsung saja melirik Jingga dengan tatapan tanya dari ketiganya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Jingga begitu heran.
"Kak Jingga, kenapa banyak kupu-kupu malam di sini?" Tanya balik Qianfan menjelaskan maksud dari ketiga gadis.
Jingga termenung mengingat ucapan pelayan kedai yang mengatakan banyak kupu-kupu kepadanya.
"Sialan! Jadi maksud perkataan pelayan kedai ternyata para gadis yang menjajakan diri" gumam batinnya baru memahami maksudnya.
"Kak Jingga!" Tegur Qianfan menyadarkan lamunannya.
"Maaf, aku sendiri tidak tahu akan hal ini, aku kira kupu-kupu yang dimaksud pelayan kedai adalah kupu-kupu yang ada di taman, jadi aku menyetujuinya untuk mencari rumah sewa di dalam gang" ucap Jingga menjelaskan.
Keempat adiknya memahaminya namun karena terlanjur, kelimanya melanjutkan langkah melewati puluhan gadis.
Bai Niu yang berada di sampingnya terus saja menatap kakaknya, memastikan kakaknya tidak melirik gadis yang berpakaian tipis.
"Naninu, kenapa kau menatapku terus?" Tegur Jingga merasa tidak nyaman ditatap adiknya.
"Aku hanya memastikan Kakak tidak jelalatan melihat para gadis tidak sopan itu" jawab Bai Niu.
Keberadaan ketiga gadis cantik membuat puluhan gadis yang berdiri di lorong gang tidak berani menggoda kedua pemuda yang dihimpit ketiganya.
Sampai pada ujung gang, kelima pemuda begitu semringah memperhatikan suasana kota yang begitu ramai oleh lalu lalang penduduk kota.
"Kak Jingga, minta uang!" Pinta Bai Niu sambil menengadahkan kedua tangannya.
Jingga langsung memberikan ribuan koin emas yang langsung dimasukkan adiknya ke dalam cincin spasialnya.
"Zhia'er, Mei'er, ayo kita belanja" ajak Bai Niu langsung menarik tangan keduanya.
"Fan'er, apakah kau akan menemani mereka atau menemaniku minum arak?" Tanya Jingga memberikan pilihan.
"Aku ikut Kakak saja" jawab Qianfan langsung mengikutinya.
Jingga lalu kembali memasuki kedai yang sama yang pernah dikunjunginya.
__ADS_1
"Pelayan!" Panggil Jingga dengan wajah garangnya.
"Iya, Tuan" sahut pelayan menghampirinya dengan rasa penasaran menatapnya.
"Senang bisa bertemu Tuan lagi, bagaimana dengan kupu-kupu di gang itu? Sepertinya Tuan sangat menikmati keindahannya bukan!" Imbuh si pelayan masih mengingatnya.
"Kurang ajar kau! Aku kira kupu-kupu yang biasa aku lihat di taman, tahunya kupu-kupu tidak bersayap" dengus Jingga memarahinya.
"Kenapa Tuan marah? Selama seminggu ini Tuan baru memasuki kedai, bukankah selama ini Tuan sedang bersenang-senang?" Tanya pelayan menyinggungnya.
"Sudahlah, pergi sana!" Balas Jingga malas menanggapinya.
Si pelayan terlihat bingung dengan suasana hati pemuda asing yang memarahinya.
"Apakah Tuan tidak ingin memesan arak atau makanan di sini?" Tanya pelayan sebelum berbalik pergi.
"Bawakan aku makanan ringan saja" Jawab Qianfan.
"Baik, mohon menunggu" timpal pelayan langsung berbalik pergi.
Di area luar, ketiga gadis cantik begitu gembira membeli setiap penganan yang berjajar di pinggir jalan.
"Niu'er, banyak sekali kau makan" tegur Du Zhia yang tidak kuat lagi untuk memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"He he he, hobiku memang makan banyak" kekehnya sambil terus mengunyah makanannya sampai mulutnya begitu mengembung.
"Hallo, Nona-nona" sapa si pemuda membuat ketiga gadis menoleh ke arahnya.
"Sungguh beruntung aku bertemu dengan tiga bidadari cantik di kota Yanjing ini, kalian pasti datang dari jauh. Kenalkan aku Nianqing dari sekte Jangkrik Xianhui" imbuhnya memperkenalkan diri.
"Ya, terima kasih. Tuan telah memberitahu nama kota ini. Tapi maaf, suami kami sedang menunggu kami kembali. Permisi!" Timpal Du Zhia lalu menarik tangan kedua gadis di sebelahnya pergi meninggalkan pemuda itu.
Nianqing menyeringai melihat punggung ketiga gadis yang berlalu meninggalkannya.
"Kalian pikir aku bodoh, di kota ini aku tidak pernah mendapatkan penolakan dari setiap gadis yang aku inginkan. Tunggu saja, aku pasti akan mendapatkan kalian lalu membuangnya ha ha ha" gumamnya lalu memanggil anak buahnya.
"Ikuti ketiga gadis itu, cari tahu bersama siapa mereka datang ke kota ini dan di mana mereka menginap!" Perintahnya kepada tiga pria yang berdiri di depannya.
"Baik, Tuan muda" sahut ketiganya lalu berbalik membuntuti ketiga gadis.
Di dalam kedai, Jingga terlihat begitu bosan, ia tidak mendapatkan informasi berharga sesuai harapannya.
"Fan'er, ayo kita pulang!" Ajak Jingga lalu berjalan mendahului adiknya.
Ketiga gadis yang berdiri menunggu kedua kakaknya di gang terus saja diganggu oleh seorang pria hidung belang yang mengira ketiganya adalah kupu-kupu malam.
"Aku tidak menyangka, gadis secantik kalian menjadi kupu-kupu malam, aku akan menawarkan harga lebih tinggi kepada kalian daripada yang pernah aku berikan kepada gadis lainnya" ucap seorang pria paruh baya berbadan tambun.
"Maaf, Tuan. Kami bukan gadis yang Tuan maksudkan. Kami sedang menunggu suami kami di sini" timpal Du Zhia menjelaskan.
__ADS_1
Pria paruh baya tidak mempercayai ucapannya, ia dengan percaya dirinya menyodorkan seribu koin emas untuk ketiganya.
"Aku rasa ini cukup untuk memiliki kalian malam ini" ucapnya penuh percaya diri.
Ketiga gadis mengabaikan sodoran tangan pria paruh baya yang menggenggam banyak koin emas.
Kesal diabaikan oleh ketiganya, pria paruh baya mencoba berbuat kotor kepada Du Zhia yang berhadapan langsung dengannya.
Du Zhia menghempaskan tangan pria yang mencoba menyentuhnya.
"Tuan, jangan kurang ajar atau kami semua akan membuat Tuan menyesalinya" dengus Du Zhia mulai tersulut emosi.
Tidak menyerah, pria paruh baya mencoba kembali melecehkan Du Zhia, namun Bai Niu yang berada di sampingnya dengan cepat memotong tangan pria paruh baya.
"Haa tanganku!" Jerit pria paruh baya melihat tangannya jatuh ke tanah tanpa melihat siapa yang telah memotongnya.
Pria paruh baya meringis kesakitan lalu berlari meninggalkan ketiganya.
"Ha ha ha, kalian terlalu kejam memotong tangannya" kekeh Jingga menghampirinya.
"Habisnya pria kurang ajar itu mencoba melecehkan Zhia'er" balas Bai Niu dengan raut wajah begitu puas.
Kelimanya kembali ke gubuk nenek Sashuang.
Dalam perjalanan menyusuri gang, Bai Niu kembali menatap Jingga yang langsung menengadah menatap langit.
Karena tidak memperhatikan jalannya, Jingga dan Bai Niu menabrak dua gadis yang berjalan menyebrang.
Bugh!
Keempatnya jatuh tersungkur di jalan sempit saling bertindihan. Jingga seperti mendapat durian runtuh, ia berada di paling atas. Sedangkan Bai Niu tertimpa ketiganya di tanah.
"Ha ha ha" tawa semua orang yang melihatnya.
Jingga bergegas bangun lalu berjalan cepat melewati ketiga adiknya.
"Sebentar lagi Niu'er akan mengejarnya, kita pura-pura tidak tahu saja" ucap Qianfan kepada dua adiknya.
Benar saja, Bai Niu langsung berlari mengejar Jingga lalu menerkamnya.
Jingga terjatuh ke belakang karena rambutnya dijambak oleh Bai Niu.
Bai Niu lalu menindihnya kemudian mencengkeram wajah Jingga sambil melotot dan memarahinya.
Qianfan dan kedua adiknya hanya mengacuhkan perkelahian keduanya, mereka bertiga melewatinya seperti tidak melihatnya.
Seperti biasanya Jingga hanya diam saja membiarkan adiknya terus melampiaskan kemarahannya.
Setelah mereda, Jingga langsung memangku adiknya dan membawanya kembali ke gubuk nenek Sashuang.
__ADS_1