
Setelah memindai, ia pun akhirnya menemukan kembali cincin spasialnya.
" Ayo kita berangkat" ajaknya dengan begitu bersemangat.
" baik, Tuan. Ikuti saya" sahut sang monster dengan ekspresi datar.
Keduanya lalu melayang terbang ke atas di ruang hampa arena Siksa Raja.
"Kenapa begitu jauh?" Tanya Jingga setelah cukup lama keduanya terbang.
"Itu karena setiap tingkatan adalah akumulasi jarak dari tingkat sebelumnya" jawab sang monster menjelaskan.
Jingga terkekeh baru menyadari kebodohannya, itu karena dirinya baru tersadar setelah sebelumnya acuh pada anak tangga yang dilalui ketika dirinya bergelut dengan perasaan.
Cukup lama keduanya terbang, sampai menemukan sebuah arena luas yang menggantung di udara. Keduanya lalu mendarat mulus menapaki tanah bebatuan arena pertarungan.
"Tuan, aku tidak bisa membantumu bertarung" ucap sang monster memberitahunya.
"Aku memahaminya, kau tunggulah" balas Jingga lalu melangkah ke tengah arena.
Sampai di tengah arena, Jingga tidak melihat keberadaan seseorang yang akan menjadi lawannya. Ia terus memindai area di sekitarnya namun tidak ditemukan keberadaan lawan bertarungnya.
"Hem! Aku semakin penasaran. Siapa yang akan menjadi lawanku?" Tanya pikirnya sambil terus bersikap waspada.
Cukup lama, Jingga berdiri di tengah arena. Tanda-tanda kehadiran seseorang di arena masih belum nampak terlihat batang hidungnya. Ia lalu memutuskan untuk bermeditasi menunggunya.
Sama seperti sebelumnya, sekarang ia mulai merasakan kejenuhan duduk dalam posisi lotus di tengah arena. Ia pun kembali membuka matanya.
"Hah! Di mana ini?" Kejutnya memperhatikan lingkungan sekitarnya yang berubah.
Jingga berada di padang rerumputan yang berwarna hitam pekat dengan hembusan angin panas yang menerpa tubuhnya. Ia kembali menutup kedua matanya beberapa saat.
"Jangan sampai aku terlempar lagi ke alam lain" batinnya menolak.
Tak lama kemudian, ia kembali membuka matanya. Suasana alam pun berubah dengan sendirinya. Kali ini ia berada di atas puncak gunung es.
"Sial! Kenapa bisa begini?" Keluhnya.
Jingga kembali menutup kedua matanya dan dengan cepat membukanya. Suasana masih sama, ia masih berada di atas puncak gunung es yang begitu dingin. Lagi-lagi ia menutup kedua matanya selama beberapa waktu.
Merasa cukup lama, ia pun kembali membukanya. Sekarang ia berada di sebuah pulau terpencil di tengah lautan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Sihir macam apa ini?" Pikir Jingga sulit memahaminya.
Ia pun kembali mencobanya dan suasana terus berubah-ubah setiap kali ia membuka mata.
Jingga terperangkap dalam dunia ilusi di mana informasi yang timbul dari penangkapan sesungguhnya mengarah pada persepsi yang salah, atau kesan yang salah tentang obyek atau peristiwa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
Di ujung arena, sang monster tampak bingung memperhatikan Jingga yang terlihat begitu tak tenang seperti seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan.
"Apa yang terjadi dengan Tuanku?" Gumam sang monster terus memperhatikannya.
"Aah!" Raung Jingga terdengar keras di tengah arena.
Ia terus berteriak sambil menjambaki rambutnya. Sesekali ia berjongkok, duduk bahkan membenturkan kepalanya di tanah.
"Hiaaaat!"
Dhuar! Dhuar!
Wuzz!
Boom!
Saking emosinya, Jingga sampai mengeluarkan beberapa jurus dan melemparkan berbagai energi api menyerang sekitarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tanya Jingga dengan begitu frustasi.
Jingga kembali bermeditasi untuk menenangkan dirinya. Kali ini ia tidak ingin membuka kedua matanya, ia akan menunggu sampai lawan bertarungnya menampakkan diri.
Ketika pandangannya tertutup rapat, serangan lanjutan terjadi pada pendengarannya.
Dimulai dari suara letupan api yang membakar kayu terdengar olehnya, namun ia mengabaikannya seolah tidak mengganggu dirinya.
Tidak lama suara letupan terdengar, kali ini suara lainnya datang, yaitu suara kaki berdarak di atas kerikil.
Ia kembali mengabaikannya, fokusnya adalah untuk menenangkan diri dari apa yang sebelumnya terjadi.
Suara yang didengarkannya kembali berganti dengan suara gemerisik dedaunan yang saling bergesekan.
Jingga mengerutkan keningnya merasa heran, ia akhirnya menyadari suara-suara yang didengarkannya merupakan ujian bagi dirinya.
"Sepertinya ujianku kali ini bukanlah sebuah pertarungan kekuatan. Apa pun itu, aku akan bertahan sekuatnya" batin Jingga menguatkan tekad.
Ia terus fokus pada pengendalian diri untuk menahan apa pun yang akan terjadi pada dirinya.
Dhuar!
Tiba-tiba gelegar suara guntur terdengar memekakkan telinganya. Jingga sampai terperanjat melompat dari posisi meditasinya.
"Sialan! Aku terkejut" rutuknya setelah mendapatkan suara guntur yang menggelegar.
Nguung!
Telinganya berdengung seperti peluit panjang. Jingga langsung menutupinya dengan telapak tangan.
__ADS_1
Tidak sampai di situ. Kali ini ia mendengar suara bergemuruh keras di telinganya.
Apa yang dialami Jingga merupakan serangan ilusi akustik setelah sebelumnya Jingga terserang ilusi visual.
"Haa!" Pekik teriak Jingga tidak lagi sanggup menahannya.
"Keluar kau, bajingan!" Imbuh Jingga berteriak lantang karena geram dirinya harus berjuang seperti orang gila.
Tak lama setelah ia berteriak, gemuruh suara mereda dan menghilang dengan sendirinya. Jingga lalu menarik napas dalam, menahannya beberapa waktu dan menghembuskannya dengan pelan.
"Hoek"
Jingga tiba-tiba saja merasakan mual. Kali ini pembauannya yang mengalami masalah. Jingga mencium bau busuk yang begitu menyengat hidungnya.
"Aah! Bau busuk apa ini?" Keluhnya.
Jingga langsung menutup hidungnya rapat-rapat untuk meminimalisir bau menyengat. Ilusi ini disebut dengan ilusi Olfaktorik di mana fungsi pembauan tidak lagi bisa membedakan bau yang sebenarnya.
Untungnya serangan ini tidak berlangsung lama, Jingga menarik tangan yang menutupi hidungnya. Suasana kembali normal, Jingga memberanikan diri membuka kembali matanya.
Tampak terlihat olehnya dengan jelas keberadaan dirinya di arena Siksa Raja.
"Huh! Syukurlah" hembus Jingga merasakan kelegaan di hatinya.
Sayangnya, perasaan lega pada dirinya tidak berlangsung lama. Kali ini ia merasakan hal aneh pada kulitnya. Udara yang menerpanya begitu terasa aneh. Ia menggigil tidak nyaman merasakan udara yang mengenai kulitnya. Saking tidak nyamannya, ia mengambil selimut tebal dari cincin spasial untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga tertutup semuanya.
"Sial, sial, sial!" Rutuk Jingga yang langsung berjongkok menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
"Kenapa harus ada ujian seperti ini?" Imbuhnya berkeluh kesah.
Setelah merasa nyaman, Jingga melucuti selimutnya lalu memasukkannya ke dalam cincin spasial.
Tampak wajahnya begitu merah menahan emosi yang sulit digambarkan.
Jingga memutuskan untuk menemui sang monster di ujung batas arena Siksa Raja. Ia lalu melangkah dengan gontai menghampiri sang monster.
"Ehem!" Deham suara dari arah belakangnya.
Jingga berbalik untuk melihatnya. Tampak seorang anak kecil berusia sekitar sembilan tahun tersenyum lembut melangkahkan kaki menghampirinya. Raut wajahnya begitu tenang dengan pembawaan seperti orang dewasa sambil mengepalkan kedua tangan di punggungnya.
Jingga menyipitkan mata melihatnya heran, ia lalu memindai tingkat kultivasi anak kecil yang menghampirinya.
"Aneh, kekuatannya tidak bisa aku jangkau. Siapa anak ini?" Pikir Jingga tidak bisa mengetahui tingkatannya.
"Kau tak perlu memindaiku begitu. Aku adalah seorang penguasa ilusi termuda di alam semesta. Ha ha ha" ujar anak kecil terkekeh menjelaskannya.
"Dasar bocah edan! Lalu bagaimana cara kita mengakhiri semua ini tanpa adanya pertarungan?" Balas Jingga menanyakannya.
__ADS_1
Si bocah kembali tertawa dengan keras kemudian menggelengkan kepala menanggapinya.
"Kau baru saja menyelesaikan ujian pertamaku. Kau terlihat tidak sabar menunggu ujianku selanjutnya. Tenang saja, sebentar lagi ujianmu yang sesungguhnya akan tiba" jawabnya sambil terkekeh.