Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Misteri hancurnya kota Yu Chen


__ADS_3

"Kakak, apakah kita jadi mengunjungi kakak Dang Ding Dung di kota Yu Chen?" Tanya Bai Niu mengingatkannya.


"Ya, tutup matamu, kita akan ke sana sekarang" pinta Jingga.


Keduanya langsung menghilang lalu muncul tidak jauh dari gerbang kota Yu Chen.


Jingga langsung mengerutkan keningnya melihat kota Yu Chen berubah menjadi kota mati, terlihat olehnya tulang-belulang dari para penduduk yang berserakan dengan puing-puing reruntuhan yang telah tertutupi oleh rerumputan liar yang menutupinya.


Jingga langsung berkelebat ke arah rumah tuan kota Jun, namun hal sama terlihat olehnya, ia langsung memasuki pelataran mencari jejak penghuni yang mungkin berguna untuknya.


Ia kemudian menemukan kerangka tengkorak yang masih utuh lalu memperhatikannya dengan serius, ia membandingkan ukuran tengkorak dengan tubuh dari kedua penghuni rumah yaitu tuan kota Jun dan puterinya Zhu Xia yang pernah ia temui waktu pertama kali memasuki kota.


Jingga memastikan tengkorak yang dilihatnya adalah tengkorak seorang pria yang tidak lain adalah tuan kota Jun.


"Paman Jun yang bijaksana, aku akan membalaskan kematian Paman" ucap Jingga bertekad untuk menemukan siapa yang telah membantai warga kota Yu Cheng.


Penasaran akan tidak adanya satu tengkorak dari anaknya tuan kota Jun, Jingga langsung memutari reruntuhan rumah tuan kota Jun untuk memastikan apakah Zhu Xia masih hidup atau sudah mati.


Dua kali putaran memutarinya, Jingga memastikan puteri tuan kota Jun masih hidup. Ia lalu berjalan pelan melihat area lainnya.


Dalam perjalanannya, Jingga merasakan ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya.


"Apakah aku melupakan sesuatu ya?" Pikirnya masih berusaha mengingat sesuatu yang dipikirnya masih kurang.


"Naninu! Aku lupa telah meninggalkannya di gerbang kota ha ha ha" ujar Jingga baru mengingatnya, ia kemudian berkelebat ke gerbang kota.


"Huh! Untung saja Naninu masih menutup matanya" desah Jingga lalu menoel hidung wanita di depannya.


"Kakak, di mana kita sekarang?" Tanya Bai Niu merasa asing dengan tempat yang sekarang ia perhatikan.


"Kita sudah sampai di kota Yu Chen, ayo kita ke rumah Dang Ding Dung" jawab Jingga mengajaknya.


Alam Dewa


Dewa Bumi kembali menghadap Kaisar Langit untuk melaporkan temuannya di alam fana.


"Yang Mulia, hamba menemukan kejanggalan pada hancurnya gunung di benua Matahari, tepatnya di kota Lanhua kekaisaran Fei, setelah hamba mengamati dari puing-puing bebatuan yang berserakan di sekelilingnya, hamba menyimpulkan kehancuran gunung Lanhua berasal dari dalam, sepertinya ada sesuatu yang keluar di bagian dalam gunung Lanhua". Ungkap dewa Bumi menjabarkan temuannya.

__ADS_1


Kaisar Langit mengusap janggut panjangnya mencoba memahami apa yang disampaikan oleh dewa Bumi.


"Sepertinya itu disebabkan oleh beast monster yang bersemayam di dalam gunung, kau bisa temui Ratu Kalandiva untuk memastikannya" ujar Kaisar Langit memperkirakannya.


"Baik yang Mulia, hamba undur diri" timpal dewa Bumi lalu menghilang meninggalkan istana Langit.


****


Jingga dan Bai Niu telah sampai di gerbang sekte Hiu Purba yang telah hancur.


"Kak, apa yang terjadi dengan kota ini?, Di mana kediaman kakak Dang Ding Dung?" Tanya Bai Niu yang sepanjang perjalanan hanya melihat puing-puing reruntuhan dan tulang-belulang dari penduduk kota.


"Kita sudah sampai, ayo kita cari apa pun yang bisa kita jadikan petunjuk" jawab Jingga mengajaknya.


"Baik Kak" sahut Bai Niu lalu ikut mencari.


Keduanya lalu mencari ke sekeliling area pelatihan sekte yang sudah hancur. Setelah memastikan tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk, Jingga lalu memindai area kolam yang dulu berdiri rumah panggung tempat tinggal paman Du Ho dan anaknya Du Dung, sama seperti tempat lainnya, ia tidak menemukan apa pun yang bisa dijadikan petunjuk.


"Kak Jingga, bukankah pedang ini dari kekaisaran Fei" ucap Bai Niu menyerahkan pedang berkarat bertuliskan kata Fei di pegangan pedangnya.


"Ya, ini pedang prajurit istana kekaisaran Fei, sepertinya kematian penduduk kota berkaitan dengan pihak istana" jawab Jingga setelah mengamatinya.


"Kak, kenapa kita tidak langsung ke istana kekaisaran Fei?" Tanya Bai Niu merasa heran.


"Apakah menurutmu kekaisaran Fei akan menghancurkan kotanya sendiri?" Balik tanya Jingga.


"Sepertinya ada seseorang di balik semua ini, kita akan mencari tahunya di kota Lanhua" imbuh Jingga menebaknya.


Bai Niu menganggukkan kepala mulai memahami maksudnya lalu ia menutup kedua matanya menunggu Jingga membawanya kembali ke kota Lanhua.


Melihat Bai Niu yang menutup matanya, Jingga baru menyadari wanita di depannya begitu cantik.


Jingga menatapnya hanya beberapa centi saja dari wajahnya.


Bai Niu kemudian membuka kembali matanya, kedua matanya langsung membesar menatap balik Jingga yang tidak berkedip menatapnya.


"Kakak, apakah kita sudah sampai di kota Lanhua?" Tanya Bai Niu menjauhi wajahnya.

__ADS_1


"Belum, kita masih di kota Yu Chen" jawab Jingga langsung menggenggam kedua tangan Bai Niu lalu membawanya terbang.


"Ha!" Jerit Bai Niu begitu terkejut merasakan pertama kalinya terbang.


Di atas awan, Jingga perlahan terbang menyusuri area yang pernah ia lewati bersama Du Dung.


"Kak, kenapa kita tidak langsung menghilang seperti tadi?" Tanya Bai Niu.


"Kita harus mencari jejak lainnya dan juga kita jarus tahu apakah wilayah lainnya mengalami kehancuran seperti yang terjadi di kota Yu Chen" jawab Jingga yang terus fokus memperhatikan area di bawahnya.


Tepat berada di atas kota Batu Dewa Bumi, Jingga dan Bai Niu langsung turun tidak jauh dari gerbang kota.


"Kemana para penjaga gerbang?" Gumam Jingga merasa heran, karena dulu ia harus mengantre memasuki kota ini.


"Kak, kenapa?" Tanya Bai Niu melihatnya seperti memikirkan sesuatu.


"Tidak apa-apa, ayo kita masuk" jawab Jingga mengajaknya.


Jingga berjalan sambil memperhatikan sekitarnya yang begitu sepi, namun yang membuatnya heran adalah tidak ada satu pun bangunan yang mengalami kerusakan.


Setelah beberapa langkah keduanya berjalan menuju tengah kota, Jingga merasakan adanya aura dari kultivator tidak jauh dari tempatnya.


"Anak muda, sebaiknya kalian meninggalkan kota ini" pinta seorang pria menghampirinya.


"Kenapa kami tidak boleh memasuki kota ini?" tanya Jingga.


"Pergi saja" jawab pria itu tanpa menjelaskan alasannya, tak lama ia langsung menghilang pergi, namun pria itu salah memilih orang, ia ditarik kembali oleh Jingga, dengan terkejut pria itu tidak percaya bagaimana bisa pemuda di depannya dengan cepat menarik dirinya.


Jingga langsung menempelkan jari telunjuknya di kening pria itu lalu melihat semua ingatannya.


Jingga tersenyum setelah melihatnya, ia lalu melepaskan pria itu untuk kembali pada kelompoknya.


Bai Niu begitu heran dengan apa yang dilakukan Jingga pada pria itu, ia lalu bertanya.


"Kak, siapa pria aneh itu? kenapa Kakak melepaskannya?"


"Dia seorang pendekar dari sekte aliran hitam, ia akan kembali untuk memberitahukan keberadaan kita, kakak akan makan banyak hari ini" jawab Jingga memeletkan lidahnya seperti menemukan makanan yang lezat.

__ADS_1


Bai Niu kembali salah menangkap maksudnya, ia mengira Jingga akan makan banyak seperti apa yang ia makan.


"Jangan lupakan aku Kak, aku juga mau makan banyak" ucap Bai Niu menanggapinya.


__ADS_2