Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Turnamen - Gugur


__ADS_3

Di pertandingan ketiga babak delapan besar itu, kedua pemuda tersebut tidak mengamati sebuah pertarungan seperti biasanya, mereka berdua lebih fokus pada keanggunan dan kecantikan dari seorang gadis berbaju merah.


Bai Niu sendiri masih larut pada khayalannya yang membuat pipinya bersemu merah.


Hingga sampai pada akhir pertandingan yang berhasil dimenangkan oleh si gadis berbaju merah, keduanya berselebrasi merayakannya.


"Gadis itu sudah cantik, pintar mengatur ritme juga tangguh dalam bertarung, sungguh gadis yang cocok untuk dijadikan istri masa depan" puji Jingga begitu mengaguminya.


Du Dung yang mendengarkannya mengerutkan bibirnya lalu berkata,


"aku tidak ingin memiliki ipar jelek sepertimu"


Jingga mengerutkan keningnya mendengar perkataan Du Dung yang mengatakannya ipar.


"Zhia'er" pekik suara teriak Du Dung memanggilnya, Jingga dan Bai Niu langsung melirik ke arahnya.


"Apakah gadis itu Du Zhia adikmu?" Tanya Jingga teringat akan kisah yang pernah diceritakan oleh Du Dung.


"Ya, dia adikku, dari tadi aku terus mengamatinya, aku yakin sepenuhnya dia adalah adikku" jawab Du Dung dengan yakin.


Tak lama si gadis yang diteriakinya menoleh ke arah suara berasal, Du Dung terus memanggilnya sambil melambaikan tangannya hingga membuat si gadis yang penasaran menghampirinya.


Begitu dekat, si gadis berbaju merah langsung terdiam tidak percaya dengan siapa ia bertemu.


"Zhia'er, apakah kau masih mengingat kakak?" Tanya Du Dung penuh harap.


Du Zhia mengangguk dengan kedua matanya begitu basah menggenang nyaris terjatuh.


"Kak Dung'er" ucapnya pelan lalu berlari memeluk Du Dung kakaknya yang langsung merentangkan kedua tangannya.


Kedua kakak beradik itu begitu larut saling berpelukan dalam pertemuan pertamanya setelah dipisahkan karena perpisahan kedua orangtuanya.


Bai Niu terharu melihat keduanya, ia langsung memeluk Jingga yang sedikit kecewa karena gadis yang dia sukai ternyata benar adik dari temannya sendiri.


Terdengar suara dari panitia berkali-kali memanggil sekte Hiu Purba untuk memasuki arena.


"Woi! Kalian dipanggil memasuki arena" tegur seorang pemuda yang mengenali ketiganya.


"Ha ha ha terima kasih" sahut Jingga tersadarkan langsung melangkah dengan memanggul pedang di pundaknya.


"Kakak ipar, doakan aku" ucap Jingga langsung melangkah ke arena pertandingan.


Du Dung yang mengabaikan ucapannya karena masih dalam suasana bahagia langsung merengut diam dengan kata-kata kakak ipar yang dilontarkan Jingga padanya.

__ADS_1


"Kak Dung'er bukankah pria itu yang beberapa hari lalu menjadi buah bibir semua orang?" Tanya Du Zhia melepaskan pelukannya beralih memperhatikan pria yang sedang melangkah dengan memanggul pedang di pundaknya itu.


Du Dung hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Jingga.


"Oh iya maaf Kak, aku harus kembali ke barisanku, aku khawatir adikku akan melaporkannya kepada ibu" imbuh Du Zhia selosor mencium pipi Du Dung dan pergi meninggalkannya.


"Kakak Dang Ding Dung, adikmu begitu cantik, pantas saja kakak Jingga begitu menyukainya" celoteh Bai Niu memuji gadis yang berlari ke tempatnya.


Di arena pertandingan, seorang pemuda terlihat begitu kesal menunggu lawannya yang begitu lama memasuki arena pertandingan.


Nampak Jingga berjalan dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Terima kasih kau begitu sabar menungguku" ucap Jingga yang langsung bersiap menunggu aba-aba dari pemimpin pertandingan.


"Apa kau masih mengingatku manusia aneh?" Tanya pemuda itu dengan menyeringai menatapnya.


"Ya, tentu saja aku mengingatmu manusia rendahan yang hanya bisa mencemooh orang lain, akan aku pastikan kau membayar perilaku burukmu itu" jawab Jingga tak kalah dingin membalas tatapannya.


Begitu kata mulai diteriakkan, pemuda itu dengan cepatnya langsung melompat mengayunkan pedang ke arah Jingga yang langsung menghindarinya.


"Kecepatanmu boleh juga, ayo lagi" ucap Jingga menantangnya.


"Tebasan kematian" teriak pemuda itu langsung menebaskan pedangnya secara vertikal dengan dialiri energi spiritualnya.


Trang!


Trang!


Trang!


Suara peraduan benda tajam panjang itu terus bersahutan dengan kecepatan gerakan dari keduanya yang terlihat berimbang.


Trang!


Pedang pemuda yang menjadi lawannya Jingga patah, ia menjauhinya menjeda pertarungan.


"Tunggu" teriak pemuda meminta Jingga menundanya.


Mendengarnya, Jingga langsung menancapkan ujung pedangnya di tanah.


"Ternyata benar pedangmu adalah Jianshandian, pertarungan kita tidak seimbang, aku akan mengimbanginya dengan Jianshenyan" imbuh pemuda itu memasukkan kembali pedangnya yang patah lalu mengambil pedang mata dewa (Jianshenyan) miliknya dari cincin spasialnya.


Pedang dengan ukuran panjang yang sama dengan Jianshandian namun diameternya masih sama dengan pedang pada umumnya namun yang menjadi ciri khasnya ada pada bilah gagang yang memiliki kristal berwarna merah yang menyala setiap terkena cahaya.

__ADS_1


"Pedang yang cantik, tapi sayang tidak dimiliki oleh pemilik yang sesuai" sahut Jingga mengomentarinya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jingga membuat pemuda itu kembali menyerangnya.


Trang!


Trang!


Kembali dua senjata tajam yang memiliki energi spiritual di dalamnya saling beradu mengeluarkan percilan api yang terlihat sangat menakjubkan di sisi penonton.


Pertarungan kedua pendekar pedang ini membuat penonton begitu antusias menyaksikan kehebatan keduanya, bahkan tidak sedikit penonton yang melakukan pertaruhan pada pertandingan yang terlihat begitu berimbang.


Kembali ke arena, Jingga kali ini merasakan kecemasan menghadapi lawan tandingnya, tangannya terus bergetar menahan serangan pedang yang terus dialiri energi spiritual dari pemuda yang menjadi lawannya.


Walaupun Jianshandian mampu mengimbangi kekuatan dari Jianshenyan, namun ia kalah dalam beradu energi, apalagi setelah ia bisa kembali memasukkan makanan ke dalam tubuhnya, ia merasa kecepatannya berkurang drastis karena mampu diimbangi oleh kecepatan lawannya.


"Sepertinya aku harus menggunakan jurus terakhirku" gumamnya yang masih bertahan menghadang setiap tebasan yang mengarah padanya.


Jingga menunggu momen untuk bisa menyerang balik lawannya yang terus memaksakan diri mengaliri energi spiritualnya untuk mendesak Jingga yang terus mundur menahannya.


"Aku sungguh kecewa denganmu, kau tidak secepat yang banyak dibicarakan orang-orang, kau hanyalah pemuda sampah yang beruntung memakai Jianshandian" ucap pemuda itu yang tidak memberinya kesempatan untuk menyerang balik.


"Pedang penghancur jiwa" teriak pemuda menambahkan kekuatannya lalu dengan sekuatnya ia mendorong pedang menancapkannya tepat ke dada Jingga yang menahannya dengan badan pedang Jianshandian yang memiliki diameter tiga kali dari pedang Jianshenyan.


Pemuda itu memukul ujung gagangnya dengan sangat kuat.


Bugh!


Jingga yang menahannya dengan menyilangkan pedang di dadanya terlempar jauh keluar batas arena dengan memuntahkan seteguk darah menahan sakit di dadanya.


Beruntung kekuatan pedangnya mampu meredam energi pedang Jianshenyan dengan baik, sehingga ia tidak mengalami cedera parah tertusuk ujung pedang.


Jingga duduk terdiam dengan menopang pada pedang yang ditancapkan di tanah.


Ia kecewa bukan karena kekalahannya, ia merasa aneh dengan tubuhnya yang kehilangan kecepatan dan daya tahan yang menjadi kekuatannya selama ini, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan jurus andalannya.


Ia lalu berdiri menatap lawannya dengan mengepalkan kedua tangannya menjura untuk memberinya selamat atas kemenangan yang diraih lawannya.


Dengan langkah gontai, Jingga berjalan ke arah dua temannya yang tersenyum padanya.


"Maafkan aku Dang Ding Dung, kita gagal ke babak berikutnya" ucap Jingga dengan raut wajah begitu kecewa.


"Tidak masalah, kau sudah berjuang dengan maksimal, ayo kita pulang" balas Du Dung langsung merangkulnya.

__ADS_1


Bai Niu mengusap keringat Jingga yang membasahi wajahnya sambil tersenyum menyemangatinya.


__ADS_2