Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Sesampainya di pinggiran kota Lanhua, Jingga menurunkan Bai Niu lalu mengusap wajahnya.


"Kak, apa yang kakak lakukan?" Tanya Bai Niu mencurigainya lalu memegangi wajahnya, ia tidak merasakan keanehan pada wajahnya.


"Tidak apa-apa, kau sudah dewasa, tidak nyaman dilihat orang lain, sebaiknya kita jalan sekarang, ada hal yang harus kau lakukan" jawab Jingga.


"Melakukan apa Kak?" Kembali Bai Niu menanyakan.


"Sudahlah nanti kau akan tahu sendiri" jawab Jingga langsung berjalan cepat lalu berbelok ke sebuah kedai diikuti oleh Bai Niu.


"Hei lihatlah mereka, yang satu aneh, satunya lagi begitu jelek ha ha ha, pasangan yang serasi" ujar salah satu pria mencemooh Jingga dan Bai Niu yang baru saja memasuki kedai sederhana.


Sontak semua orang di kedai langsung melirik ke arah Jingga dan Bai Niu lalu menertawakan keduanya.


Bai Niu yang mendengarnya merasa heran,


"Siapa yang dia maksud aneh dan jelek?" Gumamnya tidak habis pikir.


"Kak, kenapa kita harus ke tempat ini?, Lihatlah mereka memandang kita seperti itu" tanya Bai Niu mengeluhkannya.


"Diamlah!" Ucap Jingga memintanya.


Tak lama suara gemuruh terdengar dari luar, ribuan prajurit kekaisaran terlihat sedang berjalan cepat ke arah tengah kota.


Beberapa orang di kedai mengomentarinya, namun bukan itu yang ingin didengar oleh Jingga.


Setelahnya tiga orang pria dan satu orang wanita memasuki kedai, terlihat keempatnya adalah seorang pendekar. Jingga tertarik dengan keempatnya, ia berharap mendapatkan informasi dari keempat pendekar.


Setelah menunggunya, keempat orang itu hanya membisu tidak berbicara apa pun.


"Sialan! Ngapain ke sini kalau hanya untuk saling membisu, mending tidur saja, kan sama-sama diam juga" gerutu Jingga dalam pikirannya.


Namun harapannya untuk mendapatkan informasi datang dari salah satu meja tidak jauh darinya.


Dua orang pria membicarakan tentang kekacauan di dalam istana kekaisaran.

__ADS_1


Jingga tersenyum mendengarnya, ia lalu memanggil pelayan untuk membuat Bai Niu tidak mengajaknya pergi.


"Pelayan, tambahkan lagi makanannya" pinta Jingga sambil melambaikan tangannya.


"Kak, ini beneran?" Tanya Bai Niu begitu senang. Jingga menganggukkan kepala menjawabnya.


Sambil menenggak arak, Jingga langsung fokus menyimak obrolan keduanya yang begitu pelan seperti saling berbisik.


Dari obrolan keduanya diketahui bahwa Kaisar Fei Xing jatuh sakit karena menyesali keputusannya mengeksekusi mati seorang pemuda dari klan Du.


Jingga begitu emosi mendengarnya tapi ia menahannya sampai informasi lainnya bisa ia dapatkan.


Dalam lanjutan obrolan keduanya, kondisi di dalam istana sedang kacau, banyak para pejabat istana yang membelot ke pihak para bangsawan.


Para bangsawan menganggap pihak keluarga kekaisaran sudah tidak dapat menjalankan roda pemerintahan.


Kas negara setiap tahunnya terus merugi yang akhirnya berimbas dengan kenaikan pajak yang harus diterima oleh masyarakat.


Dengan mengambil dukungan dari masyarakat di seluruh wilayah kekaisaran Fei, para bangsawan membuat aliansi untuk menuntut keluarga kekaisaran mundur dari istana.


"Kak, kenapa sih dari tadi Kakak begitu aneh?" Tanya Bai Niu kesal karena belum sempat menghabiskan makanannya.


Jingga tidak menanggapinya, ia langsung membawa Bai Niu ke penginapan tidak jauh dari istana kekaisaran Fei.


Di dalam kamar, Jingga meletakkan lima ratus koin emas di meja.


"Kau pakailah untuk keperluanmu, aku akan kembali setelah urusanku selesai" ucap Jingga langsung menghilang pergi meninggalkan Bai Niu.


Bai Niu terlihat kesal tidak diberikan kesempatan untuk berbicara sedikitpun.


Jingga berubah menjadi bayangan memasuki istana kekaisaran Fei. Ia langsung mencari keberadaan kaisar Fei Xing untuk menanyakan kebenaran pemuda klan Du yang dieksekusi mati atas perintahnya.


Setelah berkeliling di dalam istana, Jingga akhirnya berhasil menemukan kediaman sang Kaisar.


Setelah memasuki pintu, Jingga langsung membuat perisai, ia kemudian memasukkan pil ke dalam mulut Kaisar yang terbaring lalu mendudukkannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Kaisar Fei Xing kembali sehat dan membuka matanya.


Kaisar Fei Xing terkejut melihat seorang pemuda yang dikenalinya berdiri menatapnya.


"Kau, bukankah kau salah seorang pemuda dari sekte Hiu Purba?" Tanya Kaisar masih mengingatnya.


"Ya, aku adalah Jingga teman pemuda klan Du yang telah kau eksekusi mati, kau tentunya tahu alasanku menemuimu" jawab Jingga.


Kaisar Fei Xing terlihat pasrah dengan maksud Jingga mendatanginya.


"Kau bisa membunuhku untuk menebus kesalahanku, aku memang menjatuhi hukuman mati kepadanya lima tahun yang lalu, tapi kau harus tahu, selama ini aku terjebak dengan rekayasa para bangsawan, aku sungguh menyesalinya" ujar kaisar Fei Xing menjelaskannya.


Jingga begitu tersentak mendengar langsung kebenaran temannya Du Dung telah dieksekusi mati, namun kekesalannya bukan pada Kaisar Fei Xing yang telah mengeksekusinya, ia begitu membenci para bangsawan yang menyebabkan temannya mati dieksekusi.


"Baiklah, aku tidak akan menyalahkanmu, aku akan membantumu membuat perhitungan kepada para bangsawan. Perlu kau ketahui, para bangsawan sudah menyiapkan ribuan kultivator untuk menggulingkan kekaisaran, pusat markas mereka berada di jalur rahasia gurun pasir, aku tidak akan mencampuri urusanmu, tetapi untuk para bangsawan, aku akan membuat mereka semua menyesali telah membunuh temanku" timpal Jingga begitu geram lalu menghilang pergi meninggalkannya.


Kaisar Fei Xing langsung berdiri untuk memberitahukan informasi yang didapatkannya dari Jingga kepada pangeran dan para pejabat yang masih setia kepadanya, namun belum sampai langkah kaki Kaisar Fei Xing berada di pintu kamarnya, Jingga kembali muncul di hadapannya.


"Tunggu dulu Kaisar, jangan terlalu semangat begitu, santai saja. Hem! Aku minta Kaisar tidak langsung menyerang mereka, kekuatan mereka terlalu timpang dengan pasukan kekaisaranmu, menurutku Kaisar hanya cukup memantau pergerakannya saja, bukankah Kaisar bersahabat dengan kedua Kaisar lainnya?, Kaisar tentu lebih memahami maksudku" ucap Jingga langsung menghilang kembali.


Kaisar Fei Xing hanya mengelus dadanya akan keterkejutannya dengan Jingga yang mengagetkannya untuk kedua kalinya.


Jingga kembali ke penginapan, ia tidak menemukan keberadaan Bai Niu di dalam kamar.


"Sepertinya Naninu sedang pergi, biarlah ia menikmati kesendiriannya, lagian siapa juga yang akan tertarik dengannya ha ha ha" gumam Jingga lalu membaringkan tubuhnya memikirkan rencananya untuk membalaskan kematian Du Dung.


Sedang seriusnya Jingga menyusun rencananya untuk membalaskan kematian Du Dung, datang seorang wanita memasuki kamarnya dengan wajah yang begitu merah melompat mendudukinya.


"Kakak jelek! Kau apakan diriku?, kenapa aku menjadi jelek sepertimu?" teriak kesal Bai Niu langsung meremas wajah Jingga untuk melampiaskan kemarahannya.


Jingga hanya membiarkan saja wajahnya terus diremas dan dipukuli sampai kemarahan wanita yang mendudukinya mereda.


Tak lama, kemarahan Bai Niu mulai berangsur mereda, ia membaringkan badannya di atas tubuh Jingga.


"Aku sengaja mengubahnya agar kau tidak dikenali oleh orang-orang klan Lin, kau tenang saja, aku bisa mengembalikan wajahmu seperti semula, sekarang bisakah kau turun, badanmu begitu berat seperti badak" ucap Jingga sambil mengusap punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2