Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Eksekusi Mati


__ADS_3

Jingga menatap balik harimau putih di depannya, sorot matanya yang tajam menembus jiwa harimau yang langsung begidik ngeri menatapnya. Harimau putih melangkah mundur dan menundukkan kepala. Jingga melangkah mendekatinya, harimau putih sampai harus menutup kedua matanya.


"Kucing kurap! Mana wajah sangarmu tadi?" Tanya Jingga mendekatkan wajahnya.


Harimau putih gemetar tubuhnya, bulu-bulu di tubuhnya berdiri tegak seperti jarum.


"Masih tidak mau menjawab, kau mati sajalah!" Imbuh Jingga langsung mencengkram leher harimau.


Harimau putih sampai terkencing-kencing dibuatnya, dua bola matanya berlinang air mata. Harimau putih merajuk pasrah memohon untuk tidak dibunuh.


Naray yang memperhatikannya langsung mendekati Jingga.


"Aa, jangan dibunuh. Kasihan dia" pinta Naray melarangnya.


"Kucing besar ini diam saja, untuk apa dibiarkan hidup?"


"Dia ketakutan, A. Orang saja kalau lagi ketakutan bakal gugup, apalagi hewan. Lepaskan saja, A"


Jingga melepaskan cengkramannya lalu duduk di pojokan pintu. Harimau putih yang merasa ditolong oleh Naray langsung menjura dengan mengeluskan kepalanya di tubuh Naray.


"Sudahlah, aku geli" ucap Naray sambil mengusapi kepala harimau putih yang terus saja mengeluskan kepalanya.


Harimau putih mengangguk lalu duduk dengan tenang, Naray berbalik menghampiri Jingga lalu duduk di sampingnya berhadapan dengan harimau putih.


"A, besok pagi kita akan dieksekusi. Apa rencana Aa sekarang?" Tanya Naray.


"Hem! Aa akan menunggu sampai esok hari tiba, tapi Neng harus keluar dari ruangan ini"


"Bagaimana caranya, A?"


Jingga bangkit berdiri, ia menghentak pelan tanah yang diinjaknya.


Tap! Tap!


"Sesuai dugaan, ada lorong di bawah kita, Neng bisa kabur lewat lorong" ujar Jingga.


"A, bagaimana dengan harimau putih di depan kita?"


Jingga tidak menjawabnya, ia menghampiri harimau putih yang kembali ketakutan melihatnya.


"Apa kau ingin keluar dari penjara ini?" Tanya Jingga.


Seakan mengerti perkataan Jingga, harimau putih menganggukkan kepala menjawabnya.


Krak!


Jingga menghancurkan besi yang mengikat kaki belakang harimau, ia lalu menghentakkan kakinya dengan kuat.


Bruk!


Tanah yang diinjaknya amblas, tampak sebuah lubang cukup besar menganga di bawahnya.


"Ayo kita turun" ajak Jingga langsung melompat ke dalam lubang.

__ADS_1


Tap!


Naray ikut melompat beserta harimau putih yang melompat di belakangnya.


Harimau putih merendahkan tubuhnya meminta Naray dan Jingga untuk menaiki punggungnya.


"Neng, naiklah. Aa akan memimpin jalan menelusuri lorong" pinta Jingga.


Naray langsung menaiki punggung harimau putih dan ketiganya berjalan menelusuri lorong yang sangat gelap.


Berjalan di area gelap, Jingga yang merupakan seorang iblis tidak mengalami kesulitan dalam melihat, walaupum tidak menyala bola matanya, mata Jingga mampu melihat jalan dengan sangat jelas.


Setelah cukup jauh melangkah, Jingga mendengar suara langkah dari beberapa orang di balik dinding.


"Ada orang di balik dinding, kalian jangan bersuara" ucap Jingga pada adik dan harimau putih.


Sampai pada ujung lorong yang bercagak, Jingga berkelebat menghampiri keberadaan orang-orang yang berjalan di lorong.


Terlihat di depannya tiga orang pria yang sedang menyelinap di lorong dengan memanggul kain yang berisi harta curian.


"Halo, Tuan-Tuan. Sepertinya kalian bertiga pencuri" sapa Jingga.


Terkejut ketiga orang yang diketahui aksinya, melihat Jingga yang hanya seorang diri. Ketiganya menyeringai dingin. Salah satu dari ketiganya berkata


"Ya, kami bertiga memang pencuri, lalu siapa kau berani menghalangi jalan kami? Apa kau juga seorang pencuri? Maaf, tapi semua harta sudah kami gondol semua. Pergilah atau kami akan membunuhmu!" Ancamnya.


"Ha ha, aku tidak peduli pada hasil curian kalian. Aku hanya ingin tahu arah jalan keluar lorong ini. Bisakah kalian membawaku keluar?" Balas Jingga.


Ketiga pencuri saling lirik, ketiganya mengangguk menyetujui pemuda di depannya.


Jingga langsung berkelebat kembali menghampiri adiknya, ketiga pencuri yang melihatnya menjadi terpana.


"Untung saja kita tidak membunuhnya, bisa jadi kita yang mati olehnya" celetuk pria kurus yang diangguki oleh keduanya.


Tak lama kemudian, seekor harimau besar menghampiri ketiganya yang kembali terkejut melihatnya.


"Kalian jangan takut, berjalanlah duluan. Kami akan mengikuti kalian dari belakang" ucap Jingga yang menunggangi harimau.


Ketiga pencuri mengangguk lalu berjalan dengan merinding melewati harimau di depannya.


Tepat di ujung lorong, seorang pencuri menarik tuas pembuka pintu.


Kraak!


Sebuah lubang terbuka, ketiga pencuri keluar duluan diikuti oleh harimau di belakangnya.


"Pendekar muda, kami pamit" ucap ketiga pencuri lalu berbalik pergi ke arah hutan.


Jingga turun dari punggung harimau, ia memperhatikan lingkungan di sekitarnya.


"Neng, pergilah ke arah pelabuhan! Besok, Aa akan menyusul kalian berdua"


"Baik, A"

__ADS_1


Jingga lalu melirik harimau putih sambil mengusapi kepalanya.


"Hei kucing, jaga Adikku baik-baik atau aku akan membunuhmu"


Setelah kepergian adiknya, Jingga berbalik memasuki lorong. Ia kembali ke ruang tahanan dan langsung duduk bersila menunggu pagi hari.


Waktu yang ditunggu pun tiba, dua orang penjaga menghampirinya dan langsung membukakan pintu.


Kraak!


Jingga membuka kedua matanya mendengar pintu terbuka.


Kedua penjaga terbelalak melihat isi ruang tahanan yang hanya ada seorang pemuda saja.


"Kemana harimau dan gadis itu?" Tanya penjaga.


"Mereka sudah melarikan diri" jawab Jingga lalu berdiri.


"Hah! Kenapa kau tidak ikut kabur?" Sambung tanya penjaga.


"Suka-suka aku dong! Kenapa? Masalah?" Jawab Jingga balik bertanya.


Penjaga yang kesal mendengarnya langsung melayangkan tinjunya.


Krek!


"Aah!" Jerit penjaga menahan sakit.


Jingga menahan kepalan tangan penjaga lalu meremasnya hingga remuk tulang jari si penjaga.


Seorang penjaga satunya langsung kabur lunggang langgang melihat temannya yang meringis kesakitan.


"Ha ha, lihatlah sendiri. Temanmu kabur ketika kau menderita" sindir Jingga lalu merangkulnya dan berjalan keluar.


Beberapa tahanan yang melihatnya tampak heran, bagaimana bisa seorang tahanan terlihat begitu akrab dengan penjaga. Begitulah yang ada di benak para tahanan yang melihatnya.


Tidak hanya para tahanan, bahkan para pendekar yang berada di aula utama klan Serigala begitu heran melihat Jingga berjalan santai dengan seorang penjaga. Pemandangan yang begitu menohok dewi Serigala.


"Nyonya jelek, di mana kau akan mengeksekusiku?" Tanya Jingga dengan santai.


Dewi Serigala langsung memerintahkan anak buahnya untuk meringkus Jingga dan menggiringnya keluar aula.


Dua orang pendekar langsung mengekang tangannya dan membawanya ke luar. Tepat di luar kediaman klan Serigala, tampak ratusan pendekar sudah berdiri menunggu eksekusi yang akan dilaksanakan.


Kebanyakan pendekar saling berbisik karena tidak mengenal sosok pemuda yang ditangkupkan pada sebuah kayu eksekusi.


Seorang pria bertubuh besar yang menjadi algojo tampak bersiap menunggu perintah. Ia menggenggam sebatang golok panjang dan besar yang diarahkannya pada leher Jingga yang masih tenang tertelungkup pada kayu.


Dewi Serigala berdiri di atas podium, ia dengan pembawaannya yang anggun mampu menyihir ratusan pendekar dari berbagai aliran di pulau Emas yang sangat mengagumi kecantikannya.


"Saudara-saudara sekalian yang mengagumiku. Pertama sekali, aku sebagai pemimpin agung klan Serigala mengucapkan terima kasih yang setingginya kepada kalian semua yang dengan rasa rindu menyempatkan hadir atas undangan yang mendadak dari klan Serigala" ujarnya mengawali pidato.


Semua mata tertuju ke arahnya, suara yang lembut namun tegas dan kecantikannya yang sempurna laiknya seorang dewi yang turun dari kayangan membuat semua pendekar pria begitu fokus menatapnya.

__ADS_1


Dewi Serigala pun balas menatap semua tamunya, tatapannya begitu tajam menyapu pandangan kekaguman para pendekar, ia lalu melanjutkan perkataannya.


"Kalian pasti bertanya-tanya siapa pemuda yang akan dieksekusi dan apa kesalahannya, dia adalah pendekar yang berasal dari Tanah Para Dewa, sebulan yang lalu dia telah memporak-porandakan klan Serigala di selatan pulau Emas dan membunuh lebih dari seratus serigala termasuk ketua klan Serigala dan juga puluhan pendekar klan" ujarnya terhenti.


__ADS_2