Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Delapan Iblis


__ADS_3

Dalam pekatnya asap yang terus membumbung tinggi ke langit berpadu dengan kabut yang semakin menipis karena panas, Jingga langsung melesat turun membantu Jirex yang terlihat semakin menikmati pertarungannya dengan para iblis yang terus berkurang setiap waktunya.


"Aku masih tidak mengerti kenapa tubuh iblis tidak lagi utuh setelah dikoyak oleh Jirex" gumamnya melihat tumpukan iblis yang tergeletak mati di rerumputan kering yang terbakar.


Jingga langsung menyemburkan api semesta untuk melebur bangkai para iblis yang berserakan.


Beberapa waktu kemudian, Jirex berhasil menyelesaikan pertarungannya.


Tatapan matanya terlihat begitu puas dengan mulutnya yang selalu menganga menghampiri Jingga yang masih sibuk meleburkan bangkai iblis.


Melihat Jirex menghampirinya, Jingga menghentikan kegiatannya.


"Kau hebat Jirex, kemampuan bertarungmu sungguh hebat" puji Jingga sambil mengusap kepala monsternya.


Tanpa diminta, Jirex langsung memasuki alam jiwa, sedangkan Jingga melanjutkan kembali peleburan ratusan bangkai iblis sampai tidak ditemukan lagi bangkai yang tersisa.


Dengan menepuk-nepuk kedua tangannya, Jingga selesai membersihkan area lembah dari bangkai iblis lalu bergegas memasuki gua.


Siu!


Dhuar!


Energi api iblis menyerangnya dengan cepat, namun Jingga berhasil menghalaunya dengan mengibaskan tangannya yang membuat energi api iblis terlempar ke tebing gunung.


Jingga berbalik melihat siapa yang menyerangnya. Sorot matanya begitu berbinar melihat lawan tanguh yang akan dihadapinya.


Delapan iblis yang berada di ranah Emperor Platinum sampai Emperor Kristal melayang menghampirinya, berbeda dari ribuan iblis yang berhasil dimusnahkannya, kedelapan iblis itu bertubuh manusia sama seperti dirinya.


"Ha ha ha, kami tidak pernah menduga ada seseorang yang berhasil memusnahkan ribuan pasukan iblis, sepertinya kau seorang dewa yang menyamar menjadi manusia fana" ujar seorang iblis lelaki bertubuh tinggi besar.


Jingga tersenyum mendengar ucapannya, lalu dengan santainya Jingga mengusap rambut poninya yang telah panjang ke belakang.


"Mereka akan terkejut kalau mengetahui diriku seorang iblis yang sama seperti mereka ha ha" gumam Jingga terkekeh dalam hatinya.


"Aku tidak peduli siapa diriku, yang penting aku bisa memusnahkan kalian untuk melepaskan dahagaku yang lama tidak menikmati pembantaian para iblis ha ha ha" ucap Jingga membalasnya.


"Ha ha ha, kau hanyalah seekor kutu yang dengan mudah kami jentik lalu mati" timpal iblis pria berkepala botak merendahkannya.


"Makanya punya rambut, biar ada kutunya. Dasar botak, jelek, bau" ejek Jingga begitu puas.


"Tidak etis menyambut tamu tanpa menjamunya, sebaiknya kita mencari tempat untuk meminum arak bersama. Bagaimana?" Imbuh Jingga menawarkan.


"Ha ha ha dasar bodoh. Serang!" Teriak pria bertubuh tinggi besar memberikan perintah.


Kedelapan iblis melesat turun dengan cepat menyerang Jingga yang masih santai menunggunya.


Dhuar!


Bruk!


Bebatuan gua hancur dan ambruk terkena hantaman keras serangan para iblis.

__ADS_1


Jingga melayang menghindarinya dengan seringainya yang tajam.


"Kalian lumayan juga, ayo lagi" tantang Jingga di udara.


Kedelapan iblis melesat kembali ke udara, Jingga menghadapinya hanya dengan berpindah-pindah tempat mempermainkan kedelapan iblis yang selalu kalah cepat darinya.


"Tidak seru kalau cepat membantainya" gumam Jingga memikirkan cara agar pertarungan bisa menjadi seru.


Jingga langsung mengambil Jianshandian dari cincin spasialnya. Tangannya sedikit bergetar merasakan sengatan energi yang terkandung di dalam pedang.


"Ha ha ha, energi petir Jianshandian menyala" ucapnya begitu senang dengan pedang yang pernah dipakainya di turnamen.


"Hei iblis durjana, kalian terlalu payah, menyentuhku pun kalian tidak bisa ha ha ha, ayolah coba lagi, kalau gagal ulangi lagi, masih gagal juga, ya pulang" ucap Jingga dengan raut wajahnya yang menyebalkan terus memprovokasinya.


Kedelapan iblis semakin naik pitam dengan ucapan Jingga yang terus memprovokasinya.


"Api panas tungku iblis" teriak kedelapan iblis menggabungkan energi api yang terus membesar ukurannya dengan panas yang begitu menyengat.


"jurus apa tuh?, lucu sekali" kembali Jingga mengejeknya.


Wuzz!


Bola api besar dilemparkannya ke arah Jingga.


Boom!


Area tebing langsung hancur menyisakan lubang besar di tengahnya.


Melihat Jingga yang tidak terkena sama sekali, kedelapan iblis langsung membentuk formasi mengelilingi Jingga yang melayang di tengahnya.


Kedelapannya kembali membentuk energi gabungan, kali ini energi iblis dari kedelapannya seperti sengatan arus listrik yang menyala berwarna hitam yang berkilauan.


"Kalian terlalu lama, aku tunggu di bawah" ucap Jingga yang begitu bosan melihat kedelapannya yang terus mengalirkan energinya.


Karena kebosanan, Jingga melesat turun lalu mengambil arak dan menenggaknya.


"Woi! sudah apa belum?" Teriak Jingga menanyakannya dari bawah.


Kedelapan iblis terus saja mengalirkan energinya tanpa mempedulikan teriakan pemuda yang sedang menunggunya sambil rebahan dengan santai.


"Aku pergi ya, kalau sudah selesai panggil saja" imbuh Jingga lalu berkelebat ke arah gua.


Wuzz!


Dhuar!


Pancaran energi menyambarnya sampai ledakan keras terdengar.


Jingga yang tidak menduganya langsung tersungkur jatuh ke arah gua.


"Dasar curang" rutuknya lalu melesat terbang.

__ADS_1


Dhuar!


Tebing gunung bergoncang hebat terkena sambaran energi dari kedelapan iblis.


Jingga langsung menghilang menghampiri kedelapan iblis yang masih melayang membentuk lingkaran.


Dengan Jianshandian yang dipegangnya, Jingga langsung menebas kedelapan iblis.


Sengatan arus energi iblis beradu dengan energi petir Jianshandian membentuk lonjakan energi yang menyambar ke tubuh Jingga.


"Hiaaa" teriak Jingga memaksakan diri menekan gelombang energi yang beradu.


Dhuar!


Dhuar!


Petir di langit menyambar kedelapan iblis yang tidak memperkirakannya.


Kedelapan iblis langsung terlempar ke berbagai arah dengan tubuh berasap terkena sambaran petir.


"Hu hu hu, pedang yang hebat, bisa menarik petir dari langit" ucap Jingga begitu senang.


Para iblis bangkit kembali dengan tubuh yang terus mengeluarkan asap. Tampak kedelapannya kehabisan energi untuk bisa menyerang Jingga yang sedang menarik pedang besar yang mana bagian ujungnya menancap di tanah.


"Kau! kami akan membalasmu, tunggu saja kematianmu Dewa Petir" ancam para iblis langsung menghilang.


"Dewa Petir" gumam Jingga memikirkan ucapan para iblis yang kabur.


"Sepertinya pedang ini milik seorang dewa" imbuhnya memperhatikan pedang yang digenggamnya lalu memasukkan pedangnya kembali ke dalam cincin spasialnya.


Jingga bergegas kembali masuk ke dalam gua.


Lebih dari seribu anak-anak tergeletak tidak sadarkan diri.


Jingga memikirkan cara untuk bisa menghancurkan segel iblis yang tertanam di tubuh anak-anak.


"Api semesta harusnya bisa menghancurkan segel iblis di dalam tubuh anak-anak" gumam Jingga langsung memancarkan api semesta di dalam gua.


Tak lebih dari dua detik, Jingga langsung menariknya kembali.


"Maafkan aku adik-adik" ucap Jingga melihat anak-anak langsung berkeringat karena kepanasan.


Setelahnya terdengar suara batuk yang bersahutan dari anak-anak yang telah siuman.


Semua anak-anak terlihat begitu ketakutan menatap pemuda yang terlihat berbeda dengannya.


"Kalian tenanglah, aku tidak akan menyakiti kalian semua" ucap Jingga langsung melambaikan tangannya yang membuat semua anak-anak kembali tertidur.


Jingga lalu kembali melambaikan tangannya dengan posisi menarik, seribuan anak-anak langsung ditariknya memasuki alam jiwanya.


"Jirex, kau jaga anak-anak, jangan biarkan para beast monster mengganggunya" pinta Jingga yang langsung dibalas Jirex dengan berderam.

__ADS_1


"Tinggal para gadis remaja" imbuhnya lalu berjalan ke area lainnya di dalam gua.


__ADS_2