
"Hallo, Para pendekar semuanya. Selamat datang di pemakaman dusun Sukamati, sesuai dengan namanya. Hanya yang menyukai kematian yang bisa berkunjung ke sini" sapa Jingga menyambutnya.
"Pendekar muda, kau berani membual di hadapan kami, apakah dirimu sudah cukup tangguh untuk menghadapi kami?" Balas seorang pendekar muda dengan ekspresi merendahkan.
Jingga menyeringai dingin menatapnya, ia lalu tersenyum kecut menanggapinya.
"Kau terlalu lemah untuk berbicara padaku, pulanglah dan bantu Ibumu memasak nasi dan menumbuk sambal kesukaan Kakekmu yang sudah bau tanah" ledek Jingga dengan melambaikan punggung tangannya.
"Kurang ajar! Sombong sekali dirimu itu anak muda" balas pendekar muda mulai emosi.
Jingga yang melihatnya terprovokasi begitu senang lalu ia kembali berkata
"Orang hebat pantas sombong, kau yang lemah tidak ada pantasnya sama sekali. Aku kasih sekali lagi kesempatan padamu. Pulanglah! Pijati Nenekmu di rumah dan jangan lupa untuk membantu Ibumu. Itu bermanfaat untukmu"
Semakin kesal pemuda itu dibuatnya, ia lalu menarik goloknya dari sarung yang terselip di pinggangnya.
Sreet!
Bugh!
Naas, baru saja tangannya menyentuh gagang golok, kepala pendekar muda itu duluan jatuh menggelinding di tanah.
Tampak beberapa pendekar yang berada di dekatnya langsung kebingungan, mereka tidak melihat kapan Jingga menebasnya.
"Hei kau! Apakah dirimu yang membuat teman kami mati?" Tegur pendekar sedikit tua menuduhnya.
"Kenapa kau menuduhku, Paman? Aku bahkan belum bergerak sama sekali. Menurutku, pemuda itu salah menggunakan lem. Jadi kepalanya langsung terlepas begitu saja. Kasihan!" Jawab Jingga dengan raut sedih yang dibuat-buatnya.
"Seraaaang!" Teriak pendekar tua tidak ingin lagi mendengar ocehan Jingga.
Trang! Trang! Trang!
Puluhan golok langsung patah ketika terkena sabetan pedang yang dilayangkan Jingga.
Para pendekar langsung mundur menjaga jarak, Jingga berada di tengahnya. Ia memperhatikan bilah pedang yang tidak tergores sama sekali. Setelahnya, pedang kembali masuk ke dalam sarungnya.
"Payah! Kenapa kalian membawa mainan dalam pertarungan?" Ledek Jingga.
Para pendekar langsung melemparkan goloknya yang patah.
"Supaya adil, aku tidak akan menggunakan pedang untuk melawan kalian. Jadi, tunjukkan kemampuan terbaik kalian" imbuhnya.
"Bajingan! Jangan sombong kau anak muda!" Pekik seorang pendekar yang bertubuh kekar.
"Ha ha ha" tawa Jingga mengejeknya.
Para pendekar langsung menyerang Jingga bersamaan, ada yang melayangkan pukulan, ada juga yang menendang. Jingga diam saja membiarkan tubuhnya terkena hantaman para pendekar.
Dugh!
__ADS_1
Hampir seluruh tubuh bagian atas terkena hantaman keras para pendekar, Jingga mendengus pelan sambil menggelengkan kepala.
"Hanya begini saja kekuatan kalian? Lemah!" Cibirnya begitu kecewa.
Ia sama sekali tidak merasakan sakit di tubuhnya, tanpa mempedulikan tatapan para pendekar yang keheranan. Jingga berbalik pergi meninggalkan lokasi.
"Apa maksud ucapannya itu?" Tanya seorang pendekar bertubuh gempal.
"Bodoh! Dia menganggap kita lemah" jawab temannya.
"Kurang ajar, kalau begitu. Kita habisi dia sekarang"
Pletak!
"Aduh, kenapa kau menjitakku?" Kesal pendekar gempal.
"Kapan kau akan pintar, Ja'i?" Tegur pendekar kekar yang menjitaknya.
"Lihatlah! Dusun Sukamati mulai terbakar, ayo kita ke sana!" Imbuh pendekar kekar lalu berlari ke tengah dusun disusul oleh teman-temannya yang lain.
Jingga berkelebat ke rumah nenek Lakanti, sesampainya ia tidak menemukan keberadaan Naray di dalamnya.
"Kemana Naray pergi?" Tanya pikirnya.
Wuzz!
Sebuah kayu yang terbakar terlempar ke atas rumah nenek Lakanti, Jingga lalu berbalik mencari orang yang melemparkan kayu bakar. Terlihat olehnya beberapa orang pendekar sedang melemparkan kayu berapi ke atas rumah warga dusun.
Siu!
Bugh!
Dengan cepat, Jingga menebaskan pedangnya ke leher lima pendekar yang tidak menyadari adanya serangan cepat yang memenggal kepalanya. Ia lalu memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya.
"Di mana Naray?" Tanya Jingga mengkhawatirkan sang gadis.
Jingga memanjat pohon tinggi dengan diameter ramping tak jauh dari tempatnya, ia terus memutar kepalanya mencari keberadaan si gadis belia.
"Itu dia" ucapnya begitu senang.
Jingga langsung melompat turun dan berkelebat menghampiri si gadis yang sedang bertarung melawan beberapa pendekar yang mengeroyoknya.
Bukan membantunya, Jingga malah duduk bersila menontonnya.
"Neng Naray! Semangat!" Pekik suara Jingga menyemangati si gadis.
Mendengar suara pemuda tak jauh dari lokasinya, Naray menyipitkan mata melihatnya. Ia lalu mengangguk dan kembali menghadang serangan para pendekar yang menyerangnya.
Bak buk, bak buk!
__ADS_1
Naray semakin terpacu adrenalinnya terus memukuli dan menendang para pendekar dengan tangan kosong.
Jingga begitu semringah menyaksikannya, lagi asyik-asyiknya Jingga menonton pertarungan si gadis. Seorang pendekar menebaskan golok ke arah kepala Jingga, dengan sedikit memiringkan pundaknya. Jingga berkelit menghindarinya.
Si pendekar terhuyung jatuh ke depan membentur tanah, Jingga dengan cepat merebut golok dari tangan pendekar dan langsung menancapkannya ke bagian kepala belakang si pendekar sampai menembus ke tanah.
Sleb!
Tanpa suara teriakan ataupun ringisan, si pendekar langsung tewas seketika. Jingga lalu menduduki punggungnya dan kembali menyaksikan pertarungan Naray yang masih terlihat seimbang.
Seiring waktu berjalan, Naray mulai mengendurkan serangannya. Ia lebih banyak menghadang pukulan, tendangan dan menghindari tebasan golok dari para pendekar yang mengeroyoknya.
Lama kelamaan, Naray mulai terpojok. Pada akhirnya ia terkena hantaman para pendekar yang terus memukulinya, bahkan bajunya mulai sobek terkena sayatan golok.
Jingga lalu berkelebat dengan menebaskan pedangnya memenggal para pendekar yang begitu brutal menyerang si gadis.
Bugh!
Belasan kepala langsung terlepas dari lehernya diikuti oleh tubuh yang ambruk, bahkan sebagiannya menutupi tubuh si gadis yang terduduk di bawahnya.
Jingga lalu melemparkan beberapa tubuh yang menindih dan langsung menarik si gadis untuk berdiri.
"Usaha yang bagus, Neng!" Puji Jingga.
Naray yang hampir seluruh tubuhnya dilumuri darah dari para pendekar yang tewas memaksakan senyumnya.
"Aa jahat, kenapa baru tolongin aku?" Protesnya.
"Nantinya tidak seru kalau aku langsung menolongmu, ha ha" kilah Jingga menjawabnya.
"Tapi Neng kelihatan keren dengan lumuran darah seperti itu. Para pendekar bakal gemetar melihatnya" imbuh Jingga.
"Sudahlah, aku ingin cepat-cepat membersihkan diri. Ayo kita bantu warga!" Timpal Naray yang langsung berlari menyerang para pendekar lainnya.
Tanpa terasa, langit mulai berubah warna. Memasuki pagi hari, para pendekar masih terus bertarung.
Jingga yang berdiri di tengah dusun memperhatikan ribuan pendekar dari kejauhan tengah siaga menunggu momentum untuk melancarkan gelombang serangan berikutnya.
"Mereka seperti para prajurit di kekaisaran yang menerapkan strategi berperang. Para warga yang semalaman bertarung tidak akan sanggup menghadangnya" gumam Jingga yang merasa kehadirannya bisa membantu warga dusun memenangkan peperangan.
"Tarian pedang Asura"
Memanfaatkan energi alam di sekitarnya, Jingga membentuk sebuah bayangan hitam berkelebat ke arah ratusan pendekar yang berada di kejauhan.
Siu!
Sret! Sret! Sret!
Tidak hanya memenggal, Jingga bahkan melayangkan puluhan tebasan ke setiap tubuh pendekar yang belum menyadari adanya serangan.
__ADS_1
Lebih dari dua ratus pendekar mati dengan tubuh terbelah. Jingga lalu memanjat ke atas pohon di dekatnya memperhatikan reaksi para pendekar yang masih hidup.
"Lihatlah! Apa yang terjadi dengan murid padepokan Buaya Merah? Kenapa mereka mati begitu mengenaskan?" Tunjuk seorang pendekar bersenjata kapak.