
"Iblis macam apa dirimu?" Tanya Jingga sambil meringis kesakitan.
"Jianhuimie Yuzhou," panggil Jingga,
"Jianhuimie Yuzhou" imbuhnya memanggil.
Berkali-kali Jingga memanggilnya, namun pedangnya masih tidak mau keluar, semakin heran Jingga dibuatnya. Ia lalu berdiri dan,
Bruuk!
Jingga tersungkur jatuh ke tanah karena bagian kakinya dihancurkan.
"Sial!" Rutuknya.
Tak lama kemudian, bagian kakinya yang hancur kembali utuh. Jingga kembali bangkit lalu berkelebat meninggalkannya.
Sang pria iblis tidak membiarkannya leluasa bergerak, ia lalu menjentikkan jarinya menyerang Jingga.
Dhuar!
Bugh!
Jingga yang berkelebat cepat harus terkena serangan tak kasat mata dari lawannya. Ia mencelat jatuh bergulingan dengan pakaian yang hancur. Kini ia tergeletak dengan tubuh yang polos.
"Kamuflase iblis"
Dengan cepat, Jingga merubah bentuk menjadi tanah bebatuan.
Sang pria iblis tidak terpedaya olehnya, ia kembali menjentikkan jari ke arah Jingga yang sedang berkamuflase.
Siu!
Dhuar!
"Aah!" Ringis Jingga menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Sial! Bagaimana caraku melawannya?" Gerutunya.
Jingga kembali berdiri lalu berjalan sempoyongan menjauhi pria iblis.
Masih berdiri di tempat yang sama, pria iblis membalikkan badannya membelakangi Jingga.
Melihatnya, Jingga lalu mengambil pakaiannya dan langsung mengenakannya.
"Kenapa ada iblis sepertinya di alam semesta ini?" Pikir Jingga menatap punggung pria iblis.
Ia lalu mengangkat kedua tangan ke atas dengan dua telapak tangannya terbuka seperti kelopak bunga.
Bola api berwarna hitam pekat yang sekelilingnya dialiri kilatan petir keluar dari telapak tangannya. Jingga bersiap untuk menyerangnya.
"Kaa-paab, kaaa-paaab, haaa!" raungnya melemparkan bola api yang besar.
Wuzz!
Boom!
Badai api memenuhi arena Siksa Raja setelah bola apinya membentur tubuh pria iblis yang masih berdiri kokoh tidak menghindarinya.
Beberapa saat kemudian, kobaran api menghilang di arena. Jingga membelalakkan mata melihat pria iblis masih dalam posisi dan kondisi yang sama seperti sebelumnya.
"Jerat penghisap jiwa"
Seberkas energi tak kasat mata melaju cepat dari ujung kedua jari telunjuknya.
__ADS_1
Siu!
Pancaran energi hanya melewatinya saja, pria iblis tidak bergeming sama sekali mendapatkan serangan penghisap jiwa yang dilayangkan oleh Jingga kepadanya.
Kesal karena tidak berdampak sama sekali, Jingga lalu mengeluarkan banyak sihir yang dimilikinya. Namun, hasilnya sama saja. Pria iblis seperti laiknya sebuah bayangan dari tubuh tak nyata.
"Sepertinya aku harus mencoba bertarung jarak dekat dengannya," gumam Jingga lalu berkelebat mendekatinya.
Tap, tap.
Jingga berada lima langkah di belakangnya, ia lalu membentuk rantai energi dan mengayunkannya menyerang pria iblis.
Trak!
Rantai energi melewati tubuh pria iblis dan membentur ke tanah bebatuan.
"Tubuhnya tidak bisa disentuh. Apakah dia iblis bayangan?" Gumam Jingga menerkanya.
Kali ini, Jingga berdiam diri. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk melawannya. Dan untuk sekali ini, ia merasa begitu lemah tak berdaya untuk bertarung dengan lawannya, akan tetapi, ia pantang untuk menyerah. Baginya, kematian lebih baik daripada harus mengakui kekalahan.
Lama keduanya berdiam diri di tengah arena Siksa Raja dalam jarak lima langkah. Rona wajah yang datar dari keduanya tampak seperti dua sosok makhluk tanpa emosi.
Langit yang tak pernah siang di alam Siksa Raja yang melayang di cakrawala ruang hampa menjadi saksi bisu keberadaan dua iblis yang membatu.
Entah sudah berapa lama keduanya berdiam diri, sang pria iblis pun akhirnya membalikkan badan menatap Jingga.
"Aku adalah kekosongan, aku adalah nestapa, aku adalah penghancur, aku adalah dirimu" ujarnya.
Jingga masih saja terdiam, ia tidak menanggapi kalimat aneh yang dilontarkan oleh pria iblis yang akhirnya bersuara.
Diamnya Jingga bukanlah tanpa alasan, di dalam benaknya, ia merenungkan siapa dirinya, untuk apa dia hidup, dan apa yang menjadi tujuannya.
"Apa kau memahami makna seorang iblis?" Tanya pria iblis.
"Bagus, itu jawaban yang aku inginkan" timpal pria iblis lalu menjentikkan jemari tangannya.
Tiba-tiba saja muncul seorang gadis cantik yang terheran-heran melihat suasana aneh di sekelilingnya. Namun, keheranannya berubah menjadi kebahagiaan tatkala kedua matanya menatap sosok pria yang dikenalinya.
"Kak Jingga!" Serunya.
"Naninu" ucap Jingga terkejut melihat keberadaan adiknya.
Bai Niu lalu berlari memeluk Jingga dengan begitu erat, tampak terlihat ia begitu merindukan sosok kakaknya yang sangat dicintainya.
"Aku rindu Kakak"
"Ya, aku juga merindukanmu. Bagaimana keadaan Kakak iparmu dan adik Mei'er?"
"Mereka baik-baik saja, Kak. Tapi kenapa aku bisa berada di sini? Ini tempat apa, Kak?"
Jingga tidak langsung menjawabnya, ia masih bergelut dengan pemikirannya.
"Apakah benar kau adikku Naninu? Ataukah hanya ilusi saja?" Pikir Jingga terus bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, pria iblis menarik paksa tubuh Bai Niu yang sedang memeluk Jingga.
"Si-siapa kau makhluk jelek?" Tanya Bai Niu yang tercekik lehernya oleh pria iblis.
Dhuar!
Bai Niu hancur berkeping-keping dalam cekikan sang pria iblis.
Jingga membelalakkan mata melihatnya, emosinya terpancing keluar, namun ia sadar hal itu tidaklah benar. Ia lalu meredam emosi yang bergemuruh dalam dadanya.
__ADS_1
"Apa kau masih menolak dirimu seorang iblis?" Tanya dingin pria iblis.
Jingga menyeringai sinis menatapnya, lalu berkata,
"Aku tidak menolaknya, aku hanya tidak menginginkannya."
"Kau sungguh menarik, tapi apakah kau akan terus diam setelah aku membunuh semua orang yang kau sayangi?"
"Ha-ha-ha, di usia beliaku, aku sudah melihat semua keluargaku tewas. Bahkan, meski kau menghancurkan alam semesta pun, aku tidak peduli."
Tanpa diduga, seorang iblis yang begitu dingin pun akhirnya bisa tersenyum simpul mendengar jawaban pragmatis dari pemuda di hadapannya. Namun, hanya sebentar saja, ia pun kembali terdiam menatapnya.
Suasana kembali hening, keduanya kembali terdiam saling bertatapan. Tak lama kemudian, Jingga melontarkan tanya.
"Apa kita hanya akan berdiam diri seperti ini saja?" Tanya Jingga ingin tahu.
Pria iblis menggeleng pelan, sejenak ia terdiam lalu menjawabnya,
"Tunjukkan padaku kemampuan terbaikmu, aku ingin tahu, apa kau layak menjadi iblis terkuat di alam semesta?" Pinta pria iblis ingin mengujinya.
"Baiklah, tapi aku ingin kau mengajariku kekuatan aneh yang kau tunjukkan tadi." Balas Jingga balik meminta.
"Kalau kau mampu menyentuhku, akan kuberikan padamu kekuatan tertinggi bangsa iblis." Timpal pria iblis menyetujuinya.
Jingga begitu antusias mendengarnya, ia lalu melayang mundur mempersiapkan posisinya, sedangkan pria iblis tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Langkah Bayangan"
"Chuanguo Yinying"
Wuzz!
Dengan kecepatan dari jurusnya, Jingga melesak menyerang pria iblis.
Wuzz!
Pria iblis menghilang dari tempatnya dan berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain di arena Siksa Raja.
Jingga tanpa henti terus memburunya.
Wuzz! Wuzz!
Deru lesakan keduanya terlihat seperti gumpalan angin yang terus berpindah-pindah menciptakan sebuah pusaran badai di arena Siksa Raja.
Dhuar!
Tiba-tiba saja Jingga mencelat jatuh menghantam tanah bebatuan.
"Lebih keras lagi" pinta pria iblis melayang mundur menjauhinya.
Jingga kembali berdiri, ia lalu merapalkan mantra sihir untuk merubah udara menjadi partikel api yang beterbangan.
LONGJUANFENG
Jutaan partikel api dimanfaatkan Jingga dalam mengolah teknik Longjuanfeng. Beliung api tercipta setelahnya, ia lalu kembali menyerang pria iblis.
Wuzz!
Deru putaran beliung semakin besar melaju ke arah berdirinya pria iblis. Jingga yang berada di dalamnya mulai melancarkan rencana keduanya. Ia lalu menjulurkan kedua jari telunjuknya, bersiap untuk menarik tubuh pria iblis.
"Jerat penghisap jiwa" lirihnya.
Pria iblis terus berkelebat di udara, menghindari serangan dari beliung besar yang terus mengejarnya.
__ADS_1
"Sial! Dia terlalu licin." Keluh Jingga yang kesulitan menangkap tubuh pria iblis.