
Mei Moshu menarik tangan Jingga untuk duduk di sampingnya.
"Kau jangan emosi setelah mendengarnya" pinta Mei Moshu sedikit ragu menceritakannya.
"Katakan saja semuanya, aku tidak akan marah padamu" balas Jingga tidak sabar.
"Kau yakin?" Tanya Mei Moshu sekali lagi.
"Ya" jawab Jingga singkat.
Ia tidak peduli kebenaran apa pun yang akan diceritakan oleh Mei Moshu, walau hatinya terasa perih sekalipun. Ia akan mencari kebenarannya nanti.
Mei Moshu lalu menceritakan semuanya, dalam penuturannya diketahui bahwa Xian Hou adalah istri dari dewa Matahari Taiyangshen, Mei Moshu terlibat dalam cinta segitiga. Di mana ia sebelumnya adalah istri pertama dewa Matahari sampai kehadiran Xian Hou membuatnya sangat membenci Taiyangshen dan memutuskan menjadi seorang iblis penjerat pria untuk melampiaskan kekecewaannya.
Xian Hou sendiri sebelumnya tidak mengetahui kalau Taiyangshen sudah memiliki seorang istri, namun karena terlanjur mencintainya, Xian Hou tidak mempedulikan keberadaan Mei Moshu sebagai istri pertama dari kekasihnya.
Perseteruan pun terjadi di antara ketiganya, beberapa pertarungan sengit tidak terelakkan di antara kedua gadis dalam memperebutkan status sebagai istri dewa Matahari.
Cinta membutakan keduanya, hingga pada puncaknya, Mei Moshu meninggalkan Taiyangshen dengan luka mendalam di hatinya, pun demikian dengan Xian Hou yang pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Taiyangshen.
"Maafkan istriku, Nona" ucap Jingga di akhir cerita Mei Moshu.
"Tidak apa-apa, itu sudah berlalu. Aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi, sekarang aku bercerita hanya untuk mengingatkanmu saja, istrimu tidak sebaik yang kau lihat" balas Mei Moshu.
"Pantas saja ketika ia menyebutkan nama dewa sialan itu, sorot matanya berubah" gumam Jingga merasa kecewa pada istrinya.
"Ha ha ha, semoga saja istrimu tidak mengkhianati dirimu" kekeh Mei Moshu.
"Apa maksudmu, Nona?" Tanya Jingga merasa heran.
"Kau akan tahu nanti, seperti yang tadi kukatakan, aku tidak ingin mencampuri urusanmu" jawab Mei Moshu lalu merangkul Jingga.
"Berapa lama lagi kita berada di sini?" Tanya Jingga.
"Kalau tidak salah menghitungnya, hanya tersisa lima hari lagi"
"Tapi kau jangan senang dulu, kau belum tentu bisa mengalahkanku. Bisa saja kau akan mati di tanganku. Sebaiknya kita menikmati kebersamaan kita di waktu yang tersisa ini" imbuhnya semakin berani menggoda pemuda yang hatinya sedang kalut.
"Ha ha ha" tawa Jingga melepaskan rasa kecewa di hatinya.
Ia lalu mencium bibir Mei Moshu dan keduanya pun melakukan kesenangan.
Empat hari kemudian, Jingga dan Mei Moshu memutuskan untuk meninggalkan gua setelah empat hari lamanya mereka seperti dua ular yang melilit.
"Kita ke mana dulu?" Tanya Mei Moshu terlihat seperti seorang istri yang melingkarkan tangannya di lengan Jingga.
"Kita ke istana kekaisaran Xiao untuk menyerahkan pedang Langit" jawab Jingga lalu membawanya melesak terbang ke udara.
__ADS_1
Tap, tap!
Jingga dan Mei Moshu mendarat tepat di halaman depan istana. Beberapa prajurit istana langsung mengepungnya.
"Siapa kalian?" Tanya seorang prajurit sambil mengacungkan tombaknya ke leher Jingga.
"Aku Jingga. Katakan kepada Tuan cantik, maksudku Permaisuri Kim Rei, aku ingin menemuinya" jawab Jingga dengan tersenyum.
Seorang prajurit langsung berlari memasuki istana.
"Yang Mulia, seorang pemuda mengaku bernama Jingga meminta untuk bertemu dengan Yang Mulia Permaisuri, mohon berikan titah" ujar prajurit yang berlutut melaporkannya.
"Bawa dia masuk" perintah Kaisar Xiao Manyue dengan tegas.
Prajurit itu bangkit berdiri dengan sikap seorang kesatria lalu berbalik pergi.
"Tuan muda dan Nona muda, mari ikuti saya" ajak seorang prajurit mengantar keduanya memasuki dalam istana.
Kaisar Xiao Manyue dan Permaisuri Kim Rei tidak henti-hentinya menatap heran Jingga yang datang bersama Mei Moshu terlihat seperti pasangan suami istri yang baru menikah.
"Apa kalian tidak mempersilakan kami berdua untuk duduk?" Tanya Jingga menyadarkan lamunan keduanya.
Keduanya sedikit terperanjat, dengan senyum aneh Kaisar Xiao Manyue meminta seorang komandan untuk membawa kedua tamunya duduk di kursi khusus tamu.
"Tuan cantik, aku kembalikan pedang Langit padamu" ucap Jingga melemparkannya kepada Permaisuri Kim Rei.
"Aduh!'
"Yang Mulia" tanggap semua pejabat istana serentak berdiri melihat sang permaisuri terjatuh dari singgasananya.
Berbeda dengan para pejabat istana, Jingga dan Mei Moshu tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Permaisuri Kim Rei lupa menggunakan energi spiritualnya menangkap pedang Langit yang beratnya seperti dua ekor gajah dewasa. Kaisar Xiao Manyue membantunya berdiri dan meletakkan pedang Langit di samping kursi singgasananya
"Maaf, aku lupa" ucap Permaisuri Kim Rei dengan wajahnya yang merona karena malu.
Setelah berbincang sedikit, Kaisar dan Permaisuri mengajak Jingga dan Mei Moshu ke halaman belakang istana. Di mana terdapat sebuah kebun yang dipenuhi oleh bunga beraneka ragam.
Keempatnya berbincang santai sambil menikmati suasana kebun, banyak hal dibahas oleh Kaisar yang sepanjang waktu tidak memberikan kesempatan ketiganya untuk berbicara.
Hingga menjelang malam, keempatnya kembali ke dalam istana. Jingga dan Mei Moshu pun berpamitan.
Keduanya terbang kembali menuju kota Lintang tepatnya ke hutan bambu merah, markas sekte Bayangan Jingga.
Tap, tap!
Jingga dan Mei Moshu mendarat di depan kediaman tetua sepuh.
__ADS_1
Beberapa murid yang berada di dekatnya langsung membukakan pintu untuk keduanya.
Suasana di dalamnya begitu ramai dengan seluruh anggota keluarga sekte sedang bercengkrama.
"Selamat datang kembali di rumah" sambut Qianli menghampirinya.
"Ha ha, Paman tidak perlu sungkan begitu" balas Jingga langsung merangkulnya.
Sring!
Terdengar suara pedang ditarik dari sarungnya, tetua Qianzhou mengacungkan ujung pedang ke leher Mei Moshu.
Jingga meliriknya lalu mengambil pedang dari tangan tetua Qianzhou.
"Paman, sudahlah. Qianyuna sudah kembali dalam keadaan sehat. Paman tidak perlu lagi memperpanjang masalah" pinta Jingga sambil menyerahkan pedang.
"Huh! Maafkan aku, Jingga. Aku masih tidak terima cucuku diculiknya" dengus tetua Qianzhou lalu berbalik pergi.
Jingga tersenyum membalasnya, ia lalu menoleh ke arah seorang gadis yang terus menundukkan wajahnya.
"Yuna, kemarilah" pinta Jingga melambaikan tangannya.
Gadis cantik itu pun menghampirinya sambil terus menundukkan wajah dan memainkan jemari tangannya.
"Jangan terus menunduk, ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu" ucap Jingga lalu mengambil sebuah kalung liontin dan memasangnya di leher Qianyuna.
"Kalung ini milik Nenek buyutmu, kau seperti reinkarnasi dirinya. Jadi aku memberikannya kepadamu"
"Terima kasih, Kak" balas Qianyuna terlihat lembab di kedua matanya.
Jingga lalu mengangkat dagunya dan langsung menyosor bibir Qianyuna, memberinya ciuman lembut.
Sontak saja semua orang terkejut melihatnya, mereka tidak menyangka keduanya memiliki hubungan yang begitu dekat.
Jingga melepaskan pagutannya, Qianyuna langsung memeluknya sambil menangis tersedu.
Setelah pemandangan keduanya berakhir, Jingga bersama Mei Moshu berbincang dengan para tetua sampai larut malam. Jingga banyak menceritakan tentang perjalanannya bersama mendiang adiknya Qianfan dan Qianmei. Semua anggota keluarga sekte begitu larut mendengarkan kisahnya.
Mereka semua begitu terharu mengetahui persahabatan yang terjalin begitu erat sampai menjadi sebuah keluarga.
"Jingga, apakah Nenek buyut kami masih hidup bersamamu?" Tanya tetua Qiandai begitu penasaran.
"Ya, Mei'er berada di alam peri bersama istriku. Kalau kalian ingin tahu bagaimana dirinya, kalian bisa melihat Qianyuna, dia begitu mirip, bahkan tidak memiliki perbedaan suatu apa pun dengannya. Makanya tadi aku menciumnya, aku begitu merindukannya" jawab Jingga melirik ke arah Qianyuna.
Perbincangan pun berakhir, Jingga dan Mei Moshu berpamitan kepada seluruh keluarga mendiang adiknya.
"Apa tidak sebaiknya kalian beristirahat di kamar mendiang Kakek kami? Besok pagi kami akan mengantar kalian" tawar tetua Qianli.
__ADS_1
"Terima kasih, Paman. Tapi kami akan bermeditasi di bale bambu dekat makam adikku. Kalian tidak perlu repot mengantarkan kami" balas Jingga lalu pergi ke area pemakaman.