
"Aku harap kau tidak akan marah-marah lagi" pinta Jingga sambil memberikan kembali pakaian kepadanya.
Juan langsung memilihnya lalu dengan cepat ia memakainya.
"Terima kasih" balasnya lalu menjulurkan tangan kanannya meminta Jingga membawanya turun.
Keduanya lalu turun ke tengah kota Luyan, keduanya terlihat tidak saling berbicara.
Jingga sendiri masih diam menahan kekesalannya pada gadis yang menurutnya lebih mengesalkan dibanding adiknya Bai Niu.
"Kenapa kau diam saja seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan?" Tanya Juan memperhatikannya.
Jingga mendelikkan matanya menatap Juan dengan rasa tidak senang.
"Pergilah, aku akan mencari penginapan sendiri" ucap Jingga mengabaikan pertanyaannya.
"Cie, marah!" Ejeknya merasa lucu melihat Jingga begitu kesal kepada dirinya.
"Yakin, kau tidak mau ikut ke kediamanku?" Imbuhnya bertanya.
"Apa urusanku mengikutimu" jawab Jingga lalu berkelebat pergi meninggalkannya.
"Huh! Dasar pria lemah" dengus Juan lalu menghentakkan kakinya karena kesal.
Tak lama Jingga kembali lagi ke hadapannya.
"Kenapa kau kembali lagi pria jelek?" Tanya Juan merasa kesal.
"Aku tidak suka hutan rimba yang merusak pemandangan alam, aku geli melihatnya" sindir Jingga lalu kembali berkelebat meninggalkannya.
"Apa maksud ucapannya?" Tanya pikir Juan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jingga.
Lama juga Juan memikirkannya, hingga sampai dirinya berada di pintu gerbang kediamannya ia baru menyadari maksudnya.
"Brengsek kau Jingga!" Teriaknya dengan keras, membuat beberapa penjaga di kediamannya langsung berlarian menghampirinya.
"Nona muda, ada apa?, Kenapa Nona berteriak seperti itu?" Tanya penjaga begitu khawatir melihat nona mudanya begitu marah.
"Kalian pria sama saja brengsek, minggir!" Bentak Juan melampiaskan kemarahannya kepada para penjaga yang langsung saling melirik tidak memahaminya.
Jingga berada di dalam kamar penginapan di kota Luyan, ia berbaring mengingat pesan mendiang kakeknya.
__ADS_1
"Apa aku harus pergi ke istana kekaisaran Xiao untuk menemui Pangeran Xiao Mai?, Tapi untuk apa?" Tanya pikirnya.
Jingga langsung memasuki dimensi alam jiwanya, ia melangkah ke arah satu pohon yang tidak memiliki dedaunan lalu duduk bersandar di bawahnya.
"Aku harus mempelajari teknik penyembunyian aura iblisku" pikirnya lalu bermeditasi di bawah pohon.
Istana Kekaisaran Xiao
Tampak Jenderal Lie Zhou sedang berbincang dengan Pangeran Xiao Mai di taman depan kediaman sang pangeran.
"Sudah bertahun-tahun cucu dari Jenderal Zhang belum bisa kau temukan keberadaannya, apakah berita tentangnya itu benar, Jenderal?" Ucap Pangeran mempertanyakannya.
Jenderal Lie Zhou tidak langsung menjawabnya, dalam diamnya ia masih merasa yakin keberadaan Jingga bukanlah suatu kabar burung.
"Hamba masih meyakini keberadaannya, semoga saja takdir bisa mempertemukannya denganku" jawab Jenderal Lie Zhou lalu berpamitan pergi kembali ke kediamannya.
Pangeran Xiao Mai terus memperhatikan langkah kaki Jenderal Lie Zhou.
"Kenapa aku merasakan firasat buruk akan pemuda yang hanya aku tahu namanya?" Gumam batin Pangeran Xiao Mai lalu memasuki kediamannya.
Alam Iblis
Ratu iblis kembali ke istana kerajaan iblis setelah menyelesaikan pelatihan tertutupnya.
"Jieru" panggilnya kepada salah satu Jenderal wanita iblis kepercayaannya.
"Hamba yang Mulia Ratu" sahutnya lalu berlutut menunggu perintah.
"Sudah waktunya kita memulai pergerakan ke alam fana, aku ingin kau membangun aliansi iblis di tiga benua, lakukan dengan senyap, jangan sampai bangsa dewa mengendus keberadaan bangsa iblis di alam fana" ujarnya memberi perintah.
"Baik yang Mulia, hamba laksanakan" sahut Jieru lalu berdiri dan melangkah meninggalkan istana kerajaan iblis.
Seminggu sudah waktu yang dilalui oleh Jingga di alam jiwanya, ia kembali memasuki alam nyata.
"Aku penasaran dengan klan mendiang kakekku, sebaiknya aku mencari kediamannya" gumamnya.
Tok, tok, tok!
"Permisi, Tuan" ucap seseorang pria di balik pintu kamarnya.
Jingga mengerutkan keningnya lalu menghampirinya membukakan pintu.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Aku mau mengabarkan nanti setelah matahari terbenam ada pelelangan di Lotus Kristal tiga blok dari penginapan, kalau Tuan berniat mengikutinya, Tuan bisa membeli token masuk padaku" tawar seorang pelayan.
Jingga terdiam sejenak, ia memikirkan apakah perlu untuk mengikuti pelelangan, walaupun ia tidak membutuhkan sumberdaya apa pun di pelelangan, tapi menurutnya mengikuti pelelangan bisa mengenal orang-orang penting di kota Luyan.
"Baiklah, apakah masih ada kamar pribadi yang bisa aku beli?" Tanya Jingga ingin mendapatkan kamar pribadi pada pelelangan.
"Ada Tuan, tapi harganya cukup mahal" jawab pelayan meragukan Jingga bisa membelinya.
Melihat raut wajah pelayan meragukan dirinya, Jingga lalu berkata.
"Kau tidak perlu khawatir soal harga, aku akan membelinya"
"Baik Tuan, mari saya antar ke ruang kerja pemilik penginapan" ucap pelayan mengajaknya.
Jingga lalu mengikutinya menuju ruang kerja pemilik penginapan yang berada di lantai tiga.
Sesampainya, pelayan langsung mengetuk pintu yang langsung disahuti oleh pemilik penginapan untuk memasukinya.
Tak lama kemudian, pelayan keluar dari ruang kerja lalu meminta Jingga untuk memasukinya.
Tampak terlihat seorang wanita berusia tiga puluhan yang terlihat begitu cantik dan berwibawa berdiri dari kursinya dengan tersenyum lembut menyambut pemuda yang datang menghampirinya. Ia langsung memintanya dengan gestur tangannya mempersilakan Jingga untuk duduk di kursi yang tersedia.
"Sepertinya Tuan muda berasal dari benua jauh, perkenalkan namaku Tang Xia He, suatu kehormatan untukku bisa menjamu Tuan muda dengan pelayanan terbaik di penginapan ini, aku ucapkan selamat datang di kota Luyan" sambut pemilik penginapan dengan ramah.
Jingga sedikit terkejut dengan nama wanita yang berasal dari klan yang sama dengan mendiang kakeknya.
"Terima kasih, Nyonya He. Langsung saja pada intinya, berapa harga yang harus aku bayar untuk mendapatkan token kamar pribadi pelelangan Lotus Kristal?" Balas Jingga langsung menanyakannya.
"Ha ha, ternyata Tuan muda orang yang tidak suka berbasa-basi, hem baiklah, karena token ini satu-satunya yang aku miliki, aku kasih harga lima juta koin emas" jawab Tang Xia He tersenyum lembut kepadanya.
Jingga langsung saja mengeluarkan koin sebanyak yang diminta oleh Tang Xia He.
"Nyonya bisa menghitungnya sebelum memberikan token kepadaku, aku akan menunggunya" ucap Jingga setelah mengeluarkan tumpukan koin emas.
"Tuan muda tidak perlu menunggu, aku percaya jumlahnya sudah sesuai" timpal Tang Xia He langsung menyerahkan token ruang pribadi pelelangan kepadanya.
"Terima kasih" ucap Jingga lalu berdiri dan melangkah pergi ke arah pintu.
"Tunggu Tuan muda, bolehkah aku tahu nama Tuan muda?" Pintanya sambil menghampiri Jingga yang berada di pintu.
"Namaku Tang Xie Jingga, jangan tanyakan kenapa aku memiliki nama klan seperti Nyonya, namaku hanya sebuah pemberian dari seseorang" jawab Jingga lalu menutup pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
Tang Xia He mengerutkan kening mendengarnya, ia merasa pernah mendengar nama pemuda yang baru saja pergi dari ruang kerjanya.
"Nama yang tidak asing, aku seperti pernah mendengarnya" gumam Tang Xia He lalu kembali ke meja kerjanya.